Beberapa minggu berlalu semenjak Sarah dengan tegas menolak tawaran menikah dari Benson. Dia sudah kembali pada rutinitas pekerjaannya seperti biasa di perusahaan itu, meski tetap merasa sedikit canggung pada atasannya tersebut. Namun Sarah mencoba untuk profesional dan tidak mengungkit lagi soal pernikahan itu.
Hingga suatu hari, Benson tiba-tiba memanggilnya ke ruangan pribadinya. Dengan perasaan sedikit was-was, Sarah menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Benson?" tanya Sarah begitu berhadapan dengan CEO tampan namun keras kepala itu.
Benson menatap Sarah lekat-lekat. "Sarah, mungkin kau akan kaget dengan apa yang akan kusampaikan. Tapi aku tetap ingin kau menjadi istriku."
Sarah membelalak, rahangnya jatuh tak percaya mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Benson. Dia mengira masalah ini sudah selesai setelah penolakan terakhirnya waktu itu.
"T-tuan Benson...apa maksudmu?" cicit Sarah parau. "Bukankah minggu lalu aku sudah menolak dan kau setuju?"
Benson bangkit dari kursinya lalu menghampiri Sarah. "Ya, tapi aku tidak bisa membiarkan gadis sepertimu lepas begitu saja, Sarah."
"Apa kali ini kau masih berbicara soal berpura-pura seperti itu?" Sarah mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.
"Tidak Sarah, kali ini aku menginginkan pernikahan yang sebenarnya," Benson meraih tangan Sarah lembut. "Menikahlah denganku, dan kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi."
Sarah menelan ludah pahit. Kehidupan nyaman dan mewah yang selama ini menjadi impiannya kini berada di depan mata begitu dekat. Namun di lubuk hatinya dia merasa gamang. Menikah dalam situasi seperti ini sungguh terasa seperti mengkhianati prinsip hidupnya sendiri.
Namun sebelum Sarah sempat memberi jawaban, Benson sudah lebih dulu merogoh saku jasnya. Dia lalu membuka sebuah kotak beludru berisi sepasang cincin emas putih berlian yang indah.
"Sarah, jadilah istriku," pinta Benson masih dengan sorot mata lembut memohon. "Akan kulengkapi semua yang kau butuhkan dalam hidup."
Tangan Sarah bergetar menatap cincin berlian itu yang sangat indah menyilaukan matanya. Ini jalan pintas yang selama ini tak terpikirkan olehnya untuk mengubah nasib pahit dalam sekejap. Namun...benarkah ini yang dia inginkan?
Sarah terdiam cukup lama, kebimbangan jelas tergambar di wajahnya. Benson masih setia menanti dengan kotak cincin tergenggam di tangannya. Momen itu terasa begitu krusial yang akan menentukan jalan hidupnya ke depan.
"Tuan Benson...mengapa engkau bersikeras seperti ini?" Sarah akhirnya bersuara dengan nada parau. "Bukankah sudah kubilang bahwa aku ingin meraih kebahagiaanku sendiri dengan perjuanganku?"
Benson menghela napas panjang. Dia menggenggam tangan Sarah erat-erat. "Sarah, aku memang tidak bermaksud memaksakan apapun padamu. Tapi sungguh, aku tulus menginginkanmu menjadi pendamping hidupku."
"Tulus? Dengan cara seperti ini?" Sarah memberanikan diri menatap Benson lekat.
"Dengarkan aku dulu," Benson menatap lembut. "Mungkin cara yang kulakukan memang terkesan mengada-ada dan terlalu cepat bagimu. Tapi percayalah, aku memang sungguh-sungguh tertarik padamu sejak pertama kali kita bertemu."
"Aku begitu terpukau dengan keberanianmu, Sarah. Kau berbeda dari kebanyakan wanita. Aku tahu kau pantas mendapatkan kehidupan lebih baik dari yang kau dapat selama ini," Benson mengeratkan genggaman tangannya. "Izinkan aku membahagiakanmu, Sarah."
Air mata Sarah mulai menetes mendengar pengakuan tulus Benson. Hatinya tersentuh meski masih ada keraguan di sana. Benarkah ini pilihannya nanti?
"Tuan Benson...aku...aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sungguh tersanjung dan terharu. Tapi...pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dan istimewa bagiku." Sarah menghapus air matanya dan mencoba tersenyum getir. "Tidak seharusnya aku terjebak dalam permainan sandiwaramu itu."
Benson mengangguk, ekspresinya berubah sedikit kecewa. Namun rupanya keteguhannya sudah hampir terkikis.
"Sarah, aku minta maaf jika cara yang kulakukan salah. Tapi kumohon, terimalah lamaranku kali ini untuk sebuah ikatan yang sesungguhnya. Kau tidak perlu lagi menjadi jalan pintas, tapi sebagai pasangan hidupku yang sebenarnya."
Sarah terenyak. Matanya memandang Benson lekat, berusaha menemukan ketidakjujuran di balik kata-katanya. Namun dia tidak menemukannya sama sekali. Hanya kesungguhan dan ketulusan yang terpancar dari mata elang Benson.
Dengan bimbang, Sarah akhirnya mengangguk pelan. Tangannya terulur untuk meraih kotak beludru di tangan Benson, lalu mengambil sebuah cincin emas putih dari dalamnya.
"Baiklah...aku akan menerimanya. Tapi Tuan Benson, berjanjilah kita akan memulainya dari awalan yang benar. Tidak ada sandiwara atau permainan apapun lagi di antara kita."
Benson tersenyum lebar dan mengangguk pasti. "Kau benar, Sarah. Terima kasih...aku berjanji akan membahagiakanmu seperti yang kau inginkan."
Pria itu lalu menyematkan cincin berlian di jari manis Sarah. Baik Benson maupun Sarah tahu, inilah awal dari sebuah kisah baru yang akan mengubah hidup keduanya secara drastis dan permanen.
Setelah memasangkan cincin di jari manisnya, Benson meraih Sarah dalam pelukan hangatnya. Dia mencium kening Sarah dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Sarah. Kau tidak akan menyesal dengan keputusan ini," bisik Benson tulus.
Sarah membalas pelukan itu dengan canggung. Hatinya masih diliputi kebimbangan, namun dia berusaha tenang. Mungkin inilah yang terbaik, pikirnya dalam hati.
Persiapan pernikahan pun segera diatur secara tergesa oleh pihak Benson. Meski awalnya Sarah merasa kurang nyaman dengan tingkat kemewahan yang akan terjadi dalam upacara sakral ini, namun Benson menenangkannya.
"Ini pantas untukmu, Sarah. Kau berhak mendapatkan segalanya yang terbaik," ujar Benson bijak.
Dalam waktu kurang dari sebulan, acara pernikahan mereka digelar secara megah di salah satu hotel berbintang milik Benson. Sarah hanya bisa terpana melihat kemeriahan pesta yang begitu mewah dan elegan itu.
Dengan gaun pengantin putih indah yang membalut tubuh mungilnya, Sarah berjalan di karpet merah menuju altar di mana Benson telah menunggunya dengan senyum sumringah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sarah merasakan perhatian dan sorot mata setiap tamu undangan yang terpana melihat kecantikannya.
Prosesi pemberkatan pernikahan berjalan khidmat dan meriah. Sarah dan Benson mengucap janji suci di hadapan pendeta dengan tekad membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka.
Selepas ritual itu, Benson menggandeng Sarah dengan mesranya menuju ruang pesta utama di mana hidangan mewah dan orkestra telah menunggu. Para tamu memberikan tepuk tangan riuh meriah menyambut kedatangan kedua pengantin baru itu.
"Sarah, mulai sekarang, kau adalah nyonya Park yang sah. Hidupmu akan selalu berkecukupan di sisiku," bisik Benson di telinga Sarah.
Tanpa bisa mencegah diri, setitik air mata haru menetes di sudut mata Sarah. Dia telah menapaki kehidupan baru sebagai istri sah seorang CEO kaya raya. Namun dalam hatinya masih terbersit keraguan, akankah dia benar-benar sanggup menjadi sosok yang sepadan untuk mendampingi kehidupan mewah Benson selamanya?
Pesta pernikahan itu berlangsung meriah hingga larut malam. Sarah harus mengakui bahwa Benson benar-benar tidak mengenal kata setengah-setengah dalam hal ini. Semuanya tampak begitu megah dan mewah, layaknya upacara pernikahan kerajaan.
Benson tak henti-hentinya mengenalkan Sarah kepada para tamu undangan yang hadir. Sebagian besar adalah rekan bisnis, klien, dan kolega penting Benson dari kalangan konglomerat kaya raya. Sarah hanya bisa menyunggingkan senyum kaku dan sesekali mengangguk sopan meski sebenarnya dia merasa sangat asing dan gugup.
"Sarah, ini adalah Tuan dan Nyonya Ким, mereka pemilik grup bisnis Kim Corporation," Benson memperkenalkan sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat anggun.
"Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga menjadi awalan yang baik bagi segala kesuksesan Tuan Park," ujar Tuan Kim ramah seraya menjabat tangan Sarah.
Sarah menelan ludah dengan susah payah. "T-terima kasih banyak atas ucapan selamatnya, Tuan Kim," sahutnya setenang mungkin.
Sepanjang malam itu Sarah merasa bagaikan pion kecil dalam sebuah permainan catur yang rumit. Dia harus beramah tamah pada setiap tamu undangan, walau sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti seluk beluk dunia bisnis dan persaingan di dalamnya.
Tepat pukul 11 malam, Benson mengumumkan bahwa acara akan diakhiri dan para tamu dipersilakan meninggalkan tempat. Sarah merasa sedikit lega mendengarnya. Dia sudah sangat kelelahan dengan segala hal yang terasa asing baginya ini.
"Terima kasih untuk semuanya. Aku harap kalian menikmati pesta ini," Benson mengucapkan salam penutup seraya melambaikan tangan pada para tamu yang masih tersisa.
Setelah semua tamu benar-benar pergi, Benson menggandeng Sarah menuju sebuah kamar suite mewah yang telah disiapkan di hotel itu untuk pengantin baru mereka.
"Kau pasti sangat lelah ya, Sarah?" tanya Benson lembut.
Sarah mengangguk pelan. "Ini...semua terasa sangat berbeda dari kehidupan yang biasa kualami."
Benson tersenyum dan membawa Sarah dalam rengkuhannya. "Tapi mulai saat ini, inilah kehidupan barumu bersamaku. Kau harus terbiasa, sayang."
Sarah menatap mata Benson lekat-lekat. Dia menemukan sebuah determinasi dan ambisi yang berkobar di sana. Benson adalah pria yang sangat tegas dan berkeinginan kuat untuk meraih apa yang dia mau.
"Bisakah aku benar-benar menjadi separuh dari hidupmu, Benson?" gumam Sarah ragu.
"Tentu saja. Aku memilihmu untuk menjadi pendampingku karena aku yakin kau sanggup," sahut Benson mantap. "Kau harus percaya pada dirimu sendiri seperti aku percaya padamu."
Sarah mengangguk dan membalas pelukan Benson. Di sudut hatinya masih terselip keraguan. Namun malam itu dia bertekad untuk mencoba percaya dan menerima takdir barunya sebagai nyonya Park, istri seorang CEO kaya raya.