Sarah terdiam dengan wajah pucat pasi mendengar pernyataan Benson bahwa dia sebenarnya ditawarkan untuk menjadi istri Benson, bukannya sekedar pekerjaan biasa di perusahaannya. Tangannya mengepal erat menahan gejolak emosi yang membuncah.
"Tidak mungkin! Apa maksud semua ini Tuan Benson?" Sarah hampir berteriak dengan nada tinggi. "Saya hanya bermaksud berterima kasih atas tawaran pekerjaan itu, bukan untuk menikah!"
Benson masih terlihat tenang dan tak tergoyahkan. "Dengarkan dulu penjelasanku, Sarah. Aku tak bermaksud memaksamu. Pernikahan ini hanya bersifat formalitas saja untuk menutupi hubungan khusus kita di depan rekan bisnis dan publik."
"Hubungan khusus? Yang benar saja!" Sarah memijat pelipisnya, tak kuasa menahan kepalanya yang terasa pening. "Kita bahkan baru saling mengenal. Saya menolak tawaran pernikahan ini!"
Benson mendesah pelan. "Sarah, menikahlah denganku. Aku akan memastikan kau tak akan kekurangan apapun di masa depan. Hubungan kita murni profesional, tapi kuharap kau mau membantuku menutupi situasi ini untuk kebaikan kita berdua."
Sarah menggeleng kuat-kuat. Dia tidak bisa menerima logika berpikir Benson yang menurutnya sangat egois ini. "Maafkan saya Tuan Benson, saya pikir saya tidak bisa melakukan semua ini. Tolong beri saya waktu untuk memikirkannya lagi."
Dia pun bergegas pergi meninggalkan ruangan Benson dengan langkah tergesa tanpa memberikan kesempatan pada Benson untuk membantah lebih jauh lagi. Kepalanya dipenuhi kebingungan yang berkecamuk.
Setelah meninggalkan ruangan Benson, Sarah terus melangkah dengan kalut menyusuri koridor kantor yang lengang. Pikirannya berkecamuk tak menentu. Tawaran menikah dari Benson benar-benar di luar dugaan. Dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan mengambil jalan sepelik ini.
Sarah kembali mengingat perjuangannya untuk bertahan hidup selama ini sebagai anak yatim piatu yang hidup miskin. Berkali-kali dia harus mengalami penghinaan dan perlakuan tak adil dari lingkungan sekitarnya. Namun dia selalu berusaha untuk tetap tegar menghadapi semua itu seorang diri.
Kini ketika kesempatan untuk mengubah nasib datang menghampiri melalui Benson, dia justru merasa ragu dan terombang-ambing. Sebagian dirinya merasa ini adalah jalan pintas untuk meraih kehidupan layak yang selama ini dinantikannya. Namun pada saat bersamaan, nuraninya mengatakan ada yang tidak benar dengan cara seperti ini.
"Menikah tanpa cinta? Aku pantas mendapatkan lebih dari itu," gumam Sarah lirih.
Dia memutuskan untuk menolak tawaran itu untuk sementara. Lebih baik dia mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat daripada menjadi boneka dalam sandiwaranya bersama Benson. Sarah bertekad untuk tetap berpijak pada prinsip hidupnya yang lurus dan penuh perjuangan meski itu artinya harus menolak jalan mudah yang ditawarkan Benson.
Dengan langkah mantap Sarah bergegas pergi meninggalkan gedung kantor itu, bertekad untuk mencari jalannya sendiri dalam meraih impian masa depan yang lebih baik dan bermartabat.
Sepeninggal Sarah, Benson masih termangu di kursi kerjanya. Dia tidak menyangka Sarah akan menolak tawarannya dengan sekeras itu. Sebagai seorang CEO terbiasa dengan kekuasaan, jarang ada yang membantah keinginannya.
"Gadis itu benar-benar keras kepala," gumamnya sambil memijat pelipis. "Tapi boleh juga sikapnya itu."
Benson kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu ketika Sarah dengan berani menyelamatkannya dari kecelakaan maut. Saat itu, di antara kepulan asap dan jeritan orang-orang, Sarah tampak begitu tegar dan tangguh meski kondisinya juga tidak baik.
Semangat dan keteguhan hati Sarah waktu itu membuatnya terkesan. Belum pernah dia melihat seorang wanita sekuat itu dalam menghadapi situasi genting. Itulah yang membuatnya tertarik untuk menawari pekerjaan kepada Sarah.
Namun niat awalnya kini berubah. Dia merasa ada sesuatu dalam diri Sarah yang unik dan istimewa. Kecantikan dan keberaniannya layak untuk mendampinginya di sisinya, bukan hanya menjadi karyawan biasa. Itulah alasan dibalik tawaran menikah yang dia lontarkan.
"Pengorbanan harus dibayar untuk mendapatkanmu, Sarah. Aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya," tekad Benson dalam hati.
Dia tidak terbiasa dengan penolakan. Kali ini dia akan menggunakan seluruh kekuasaan dan kekayaannya untuk melunakkan hati Sarah agar rencana menikahi gadis itu tetap berjalan sesuai harapannya.
Hari itu Sarah pulang dalam keadaan kalut luar biasa. Pikirannya terus berkecamuk mengingat tawaran menikah dari Benson yang menurutnya sangat mengejutkan dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang CEO kaya raya seperti Benson ingin menikahinya yang hanya seorang gadis miskin?
Di flat sempit dan kusam tempatnya tinggal, Sarah merebahkan diri di ranjang sembari menatap langit-langit dengan pandangan menerawang. Bayangan masa lalunya yang kelam kembali berkelebat. Kehidupan kerasnya sebagai anak yatim piatu yang terpaksa menggelandang sejak usia dini, menjadi sasaran intimidasi dan pelecehan, hingga akhirnya bangkit dari keterpurukan dan bertekad mengubah nasibnya sendiri.
"Aku sudah berjuang terlalu keras hingga di titik ini," gumam Sarah lirih. "Aku tidak bisa mengambil jalan pintas dengan menerima tawaran aneh itu begitu saja."
Sarah meraih kotak kayu usang di sudut ruangan, lalu membukanya perlahan. Di dalam kotak itu tersimpan barang-barang sederhana yang menjadi kenangan masa lalunya. Sehelai kain lusuh, sebuah kaleng bekas, sampai sebuah kalung mutiara kecil yang sudah pudar warnanya.
"Aku harus tetap pada prinsip dan jalan hidupku sendiri," Sarah mengeratkan genggaman tangannya. "Sekali aku melanggar hal itu, aku bisa kehilangan pegangan dan tidak akan pernah bisa bebas sepenuhnya dari masa lalu kelam ini."
Malam itu Sarah kembali mendapat keyakinan untuk menolak tawaran Benson mentah-mentah esok harinya. Biarlah dia mencari jalan hidupnya sendiri dengan penuh perjuangan. Hanya dengan caranya sendirilah dia bisa benar-benar membuktikan bahwa dia pantas mendapatkan kehidupan bahagia yang diimpikannya.
Keesokan harinya, Sarah kembali ke kantor dengan langkah mantap. Dia bertekad untuk menegaskan kembali penolakannya atas tawaran menikah dari Benson. Sesampainya di ruangan Benson, dia melihat pria itu tengah sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya.
"Selamat pagi, Tuan Benson," sapa Sarah mencoba setenang mungkin meski detak jantungnya tak karuan.
Benson mendongak dan menatap Sarah lekat-lekat. "Ah, Sarah. Silakan duduk, ada yang ingin kubicarakan."
Sarah menggeleng tegas. "Maaf, Tuan. Sebelumnya saya yang akan berbicara. Saya datang untuk menyampaikan keputusan saya secara langsung."
Benson mengernyitkan dahi, tampak terkejut dengan nada tegas Sarah. Namun dia membiarkan Sarah melanjutkan kata-katanya.
"Tuan Benson, sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa saya menolak tawaran pernikahan dari Anda," Sarah menarik napas panjang. "Saya sangat menghargai niat baik Anda, tetapi saya tidak bisa menerima nya dengan situasi seperti ini."
"Sarah, dengarkan dulu ..." Benson mencoba menginterupsi.
"Tidak, Tuan. Tolong biarkan saya menyelesaikan kata-kata saya," potong Sarah dengan sorot mata lurus menatap Benson. "Ini bukan jalan hidup yang saya inginkan. Saya tetap ingin menjalani hidup saya dengan prinsip dan perjuangan saya sendiri untuk mendapatkan kebahagian sejati. Saya hargai niat baik Anda, tetapi maaf, saya benar-benar harus menolaknya."
Ruangan itu sesaat hening. Sarah dapat melihat raut kekecewaan di wajah Benson, namun dia berusaha tetap teguh. Jika memang Benson tidak bisa menerima penolakannya, maka dia siap mundur saja dari perusahaan ini.
"Baiklah kalau itu keputusan finalmu," Benson akhirnya berkata dengan nada datar. "Saya akui saya kecewa, tetapi saya menghargai prinsipmu itu, Sarah."
Sarah mengangguk kecil merasa sedikit lega. Setidaknya Benson mau menerima keputusannya.
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan. Saya permisi dulu," Sarah memberi salam sebelum bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Di luar, dia menghela napas panjang. Setidaknya untuk saat ini, dia bisa mempertahankan harga diri dan prinsipnya dengan tetap menolak pintu jalan mudah itu. Meski dia tahu, mungkin inilah satu-satunya kesempatan untuk mengubah nasibnya.