bab 6 Rahasia Terungkap

1454 Kata
Sudah tiga minggu berlalu sejak Evelyn dan Edward memulai kehidupan baru mereka di bawah program perlindungan saksi. Selama itu, mereka digembleng habis-habisan oleh tim Richard Woodford untuk menguasai karakter baru mereka secara total. Evelyn yang tadinya kaku kini sudah semakin menjiwai perannya sebagai Evelyn Brooks, seorang wanita karir mapan yang bekerja di perusahaan Edward. Sedangkan Edward tampak mahir berperan sebagai Edward Chambers, pengusaha kaya keturunan Inggris yang baru saja membuka kantor cabangnya di kota itu. Pada suatu sore, Evelyn baru saja pulang dari kantornya. Dia sudah terbiasa dengan rutinitasnya yang baru sebagai Evelyn, sekretaris Edward yang perfeksionis. Meski terkadang merasa aneh dengan derajat kehidupannya yang melonjak, namun dia berusaha tidak memperlihatkan kekakuannya lagi. Di ruang utama safe house, Edward tengah mengadakan rapat dengan beberapa eksekutif semu yang menjadi rekan bisnis palsunya. Richard memantau dari sisi lain dengan dahi berkerut serius. Tiba-tiba saja, salah satu asistennya menghampiri dan membisikkan sesuatu di telinganya. Seketika itu raut wajah Richard berubah mengeras dan dia segera menyudahi rapat tersebut. "Maaf, ada keperluan mendesak yang harus saya urus. Permisi semuanya," Richard mohon diri dengan tegang. Edward mengernyitkan dahi melihat gelagat aneh Richard itu. Belum sempat dia bertanya, Richard sudah menarik Evelyn keluar dari sana dengan tampang serius. "Ada apa sebenarnya, Richard?" tanya Evelyn bingung begitu sudah di luar ruangan. Dengan wajah mengeras, Richard menatap tajam ke arah Evelyn. "Semuanya sudah terbongkar. Danny berhasil melacak keberadaan kalian berdua di safe house ini!" Evelyn terkesiap ngeri mendengarnya. Dia melongo kaget, sangat tidak menyangka identitas penyamaran mereka akan ketahuan secepat ini! Belum sempat Evelyn bertanya lebih lanjut, Edward sudah menghampiri mereka dengan raut cemas. "Ada apa, Richard? Apa yang sebenarnya terjadi?" Richard menghela nafas berat. "Ternyata seseorang telah membocorkan rahasia tentang identitas penyamaran kalian kepada Danny. Dia berhasil melacaknya dan kini sedang dalam perjalanan kemari!" Edward membelalak ngeri. Tidak disangka, bahaya sudah mengintai secepat ini. Danny rupanya tidak main-main untuk membalas dendam! "La-lalu... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Evelyn bertanya dengan nada putus asa. Edward dan Richard dilanda kebimbangan yang sama. Andai saja Danny berhasil menemukan persembunyian mereka, semua yang telah mereka persiapkan untuk mengecohnya akan sia-sia belaka. Ketiganya terdiam sesaat, bergelut dengan pemikiran masing-masing. Langkah apa yang harus mereka ambil sekarang? Menghadapi atau melarikan diri lagi mencari persembunyian baru? Namun waktu sudah tidak banyak tersisa. Dari kejauhan, derap langkah kaki berderap terdengar semakin mendekat. Evelyn bergidik ngeri merasakan firasat buruk yang menghantuinya. "Sepertinya sang tamu tak diundang sudah tiba..." gumam Richard memasang kuda-kuda waspada. Di balik kegelapan lorong, sebuah siluet menyeringai kejam terlihat berjalan mendekat dengan membawa sebuah tongkat besi di tangannya. "Hai, Benson dan sekretaris mungilmu. Lama tidak bertemu," Danny O'Casey menyeringai mengerikan. "Bersiaplah mempertaruhkan nyawa kalian lagi untuk kedua kalinya!" Edward dan Evelyn saling pandang dengan sorot ngeri terpampang jelas di wajah mereka. Kedatangan Danny ke persembunyian ini mungkin saja akan menghancurkan segalanya yang telah mereka upayakan selama ini! Danny O'Casey berdiri di hadapan mereka dengan seringai kejam menghiasi wajahnya yang sangar. Tatapan matanya yang bengis membuat Evelyn bergidik ngeri. Dia tak menyangka identitas penyamaran mereka akan terbongkar secepat ini. "Jadi, kalian rupanya bersembunyi di balik nama-nama baru, eh? Evelyn Brooks dan Edward Chambers?" Danny mendecih mengejek. "Berapa banyak lagi topeng yang harus kusingkap untuk menghabisi kalian berdua?!" Edward memicingkan matanya menatap Danny dengan sorot bermusuhan. "Bagaimana kau bisa menemukan kami, k*****t?!" Danny terkekeh mendengar nada mengancam itu. "Ah, ternyata orang kepercayaanmu yang membocorkan informasi ini kepadaku, Edward. Kau terlalu ceroboh mempercayai sembarang orang!" Mendengar itu, rahang Edward mengeras menahan amarah. Dia melempar pandangan bertanya pada Richard yang hanya menggeleng tidak mengerti. "Seorang pengkhianat memang selalu ada di mana-mana, iya kan, Tuan Chambers?" Danny menyeringai mengejek. Dipanggil dengan nama samarannya yang diremehkan seperti itu membuat amarah Edward semakin memuncak. Dengan ayunan tangan, dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiaga. Tak disangka, mereka malah berbalik menyerang! BUGH! BUKK! Richard dan anak buahnya tumbang tersungkur dengan cepat setelah terkena sabetan tongkat besi Danny. Evelyn memekik ngeri ketika Richard tersungkur di dekatnya dengan kepala berlumuran darah. Rupanya pengkhianat yang dimaksud adalah anak buah Richard sendiri! "Sialan! Apa yang kau lakukan pada anak buahku?!" geram Edward yang langsung menerjang Danny dengan brutal. Terjadilah perkelahian sengit antara Edward dan Danny. Evelyn berusaha membantu Richard yang terluka parah. Dia harus cepat menghubungi bantuan sebelum terlambat. Di tengah kepanikan itu, Danny berhasil mengunci tubuh Edward dan menahannya dalam posisi bahaya. Diiringi ringisan kesakitannya, Danny membisikkan sesuatu di telinga Edward. "Kau tahu, Benson...sesungguhnya inilah yang kami inginkan selama ini. Kau dan sekretarismu itu sudah lama dalam pengintaian kami." Edward membelalakkan matanya mendengar pengakuan mengejutkan itu. "Kalian? Maksudmu...?" Danny menyeringai. "Tepat sekali. Dalang di balik semua ini adalah atasan baru kami yang sangat ingin melenyapkan kalian berdua demi menghabisi seluruh aset Williams Corporation!" Edward terbelalak syok bercampur amarah. Atasan baru yang dimaksud Danny sudah pasti James Wilson, rivalnya yang baru saja diangkat menjadi CEO Williams Corporation menggantikannya untuk sementara selama Edward menjalani penyamaran. Tidak disangka, pengangkatannya adalah bagian dari rencana jahat untuk mencelakakan Edward! "b*****t! Rupanya James Wilson-lah dalang sebenarnya di balik semua ini! Dia melancarkan aksi busuk untuk menghabisiku dan merebut perusahaanku!" geram Edward mengutuki. Jadi awal dari semua penderitaan yang menimpanya berasal dari pengkhianatan rekan bisnisnya sendiri! Evelyn yang masih sibuk menghubungi bantuan hanya bisa menatap ngeri pemandangan perkelahian sengit itu. Identitas mereka terbongkar dan bahaya kematian mengancam dari orang yang tak terduga. Segalanya kian runyam seiring terkuaknya rahasia mencengangkan ini! Evelyn tak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendengar pengakuan Danny bahwa James Wilson-lah dalang di balik semua tragedi yang menimpa Edward dan putranya, Michael. Ternyata pengangkatan Wilson sebagai CEO sementara saat itu hanyalah bagian dari rencana jahatnya untuk merebut kekuasaan atas Williams Corporation. "Jadi selama ini James Wilson memang memanfaatkan Danny untuk melenyapkanku dan Michael?! Pengkhianat rendah seperti itu..." Edward menggeram murka dengan rahang mengeras. Danny tertawa mengejek. "Ya, dendamnya sudah lama terpendam karena kaulah yang selalu mengungguli prestasinya sebagai CEO. Pengangkatannya kemarin hanyalah kepalan tangan untuk merebut perusahaanmu!" Edward berusaha memberontak dari kuncian Danny, namun pembunuh bayaran itu sama sekali tidak memberinya celah. Dengan geraman tertahan, dia melempar pandangan memohon kepada Evelyn yang masih sibuk berusaha menghubungi bantuan. "Sial, sinyal di sini benar-benar buruk! Aku harus mencari tempat yang lebih terbuka!" Evelyn mengumpat kesal. Dia lalu meraih kunci mobil yang tergeletak di dekatnya. "Evelyn, jangan berbuat nekat! Danny sangat berbahaya!" Edward memberi peringatan keras melihat gelagat Evelyn. Namun Evelyn telah membuat keputusannya. Dengan nekat, dia melesat berlari menuju pintu keluar safe house mencari tempat dengan sinyal yang lebih baik. Danny yang melihatnya langsung meraih senjata dan mengejarnya dengan langkah lebar. "k*****t kecil, jangan harap bisa kabur dariku!" Evelyn berlari secepat yang dia bisa menuju area parkir mobil di luar. Jantungnya berdebar kencang mendengar derapan langkah Danny yang semakin mendekat di belakangnya. Dengan tangan bergetar, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor darurat. DOORR!! Tiba-tiba sebuah letusan senjata api terdengar, diikuti dentuman keras sebuah benda terjatuh. Evelyn menoleh ngeri dan mendapati seorang pria berpakaian preman tergeletak tidak bernyawa dengan peluru bersarang di kepalanya! "Siapa di sana?! Tunjukkan dirimu!" bentak suara Danny mengancam dari arah semak-semak. Yang muncul kemudian adalah sesosok pria berambut pirang dengan setelan necis. Pria itu menatap Evelyn dan Danny dengan sorot mata tanpa ekspresi. "Ada yang memanggil Jessica?" sahutnya tenang sembari mengokang senjata api dengan gerakan profesional seorang pembunuh bayaran. Evelyn memekik ngeri menyaksikan adegan kekerasan yang terjadi begitu cepat di depan matanya ini. Siapakah pria bernama Jessica ini? Mengapa dia muncul di saat genting seperti sekarang? Danny mendecih kesal. "Cih, rupanya masih ada pengacau lain selain si tua bangka Woodford itu!" Jessica tak bergeming, hanya menatap Danny dan Evelyn dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maaf mengecewakan kalian. Tapi aku harus mengakhiri permainan kecil kalian di sini." Dengan gerakan secepat kilat, Jessica menembakkan senjatanya tepat ke arah kepala Danny! "Arrgghh!!" Danny tersungkur dengan pekikan kesakitan hebat ketika timah panas itu menembus bahunya. Namun dia masih belum tumbang sepenuhnya. Menyadari ini kesempatan emas, Evelyn segera memacu mobilnya dan melesatkan diri meninggalkan area itu secepat yang dia bisa. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi yang pasti kini dia telah terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari apa yang dia duga selama ini! Di kejauhan, Jessica menurunkan senjatanya dan mengamati kepergian Evelyn dengan sorot datarnya. Diseretnya Danny yang terluka parah untuk kemudian dibawanya pergi dari safe house yang sudah tidak aman lagi itu. Sementara itu, di balik semak-semak, sesosok bayangan tersenyum mengerikan sembari mengamati semua yang terjadi dari kejauhan. Dia sama sekali tidak menyangka pengkhianat mungilnya selain membocorkan identitas Evelyn dan Edward, juga telah berani mengkhianatinya. "Kau berhasil lolos untuk saat ini, Sarah. Tapi lihatlah apa yang menanti nanti setelah semua yang kaulakukan memancing amarahku!" Bayangan itu menyeringai keji sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Tampaknya skenario berbahaya yang lebih mengerikan tengah mengintai di depan sana setelah rahasia di balik segalanya terkuak separuh ini!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN