Bab.2 Menjadi Asisten Yang Baik!

1365 Kata
  "Jadi, ini kamarnya." Tuan Camelyo membuka sebuah kamar di samping kamarnya.   Archy hanya bisa melongo memandangi ruangan yang cukup besar dan mewah itu. Ini bukan prank 'kan? Archy celangak-celinguk mencari kamera tersembunyi yang mungkin saja ada. Akan tetapi, tidak ada pemirsa. Ini nyata bukan prank!   Kenapa kamar pembantu harus berada di sebelah kamar Tuannya? Apa ini tidak menimbulkan pro kontra dalam kehidupan? Apakah tidak akan menimbulkan iri dengki kadas kurap kutu air ikatan ART Indonesia? Archy jadi sedikit cemas, ia takut dilabrak dan tidak sesuai standar ikatan ART!   "Kayaknya terlalu bagus deh Tuan ... biasanya kamar pembantu di belakang 'kan, dekat dengan dapur."   Tuan Camelyo mengerjapkan mata. Ia tidak begitu paham dengan jalan pikiran asisten barunya itu.   "Tapi dapur buat masak, bukan buat tidur Ar." Tuan Camelyo menekankan nada bicaranya.   Archy memandang letak dapur yang memang di design secara modern sehingga menyerupai bar. Posisinya pun langsung menghadap ke arah ruang televisi. Tidak ada celah untuk membuat kamar, dan satu-satunya letak kamar di sana adalah sebelah kamar Tuan Camelyo.   "Kalau gak mau gak apa-apa. Kamu bisa tidur di dapur, nanti saya bawakan matras." Tuan Camelyo hendak menutup pintu kamar.   Archy menahan pintu itu dan tersenyum selebar mungkin menahan senang.   "Tidak Tuan, terimakasih!" sahut Archy cengengesan.   Tuan Camelyo hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia kemudian memandang Archy seksama. Perutnya tiba-tiba berbunyi keras, tanda bahwa tuan usus dan tuan lambung meminta sesuatu masuk ke sana.   "Kamu, bisa buat gehu tidak?" tanya Tuan Camelyo.   "Gehu?"   **   Archy sibuk mengulek bawang-bawangan dan juga ketumbar di atas ulekan batu berukuran sedang. Hari itu ia akan membuat tahu isi atau Gehu (Toge Tahu) ala-ala resep dirinya sendiri. Meskipun Archy merupakan seorang mantan pekerja pabrik, ia terbilang cukup jago memasak.   Di kampungnya sang Ibu berjualan nasi dan lauk pauk untuk di jual, sehingga Archy harus turut memasak dan membantu sang Ibu dalam mengelola bahan makanan. Kesederhanaan itu telah mengubahnya menjadi sosok perempuan tangguh dan juga mandiri.   "Mau dibantu?" Tuan Camelyo yang tengah membaca buku itu menghampiri Archy.   "Tidak usah Tuan, ini mudah." Archy meneruskan ulekannya.   Baru saja Tuan Camelyo menyentuh sebutir telur, telur itu tiba-tiba retak dan hancur begitu saja dalam genggamannya. Cipratannya bahkan jatuh kemana-mana sehingga mengotori meja dan juga pakaian.   "Eh? Astaga, lagi-lagi telurnya pecah!"   Tuan Camelyo hendak mengambil lap. Archy bergegas menahannya.   "Tuan jangan, saya saja!"   Benar saja, baru Tuan Camelyo memegang lap, tubuhnya menyenggol adonan terigu yang sudah dibuat Archy hingga jatuh berhamburan ke lantai.   Hiks ... mengsedih!   "Astaga...!" Tuan Camelyo terkejut.   Jujur, Archy sebenarnya kaget melihat semua itu. Ia belum pernah melihat sosok pria tinggi besar yang sangat ceroboh seperti Tuan Camelyo seumur hidup! Apakah Tuan Camelyo adalah utusan dari planet uranus yang hendak menghancurkan bumi?   Archy hanya bisa menarik napas, mencoba tersenyum manis pada Tuannya itu.   "Tuan silakan duduk saja. Biar saya yang bereskan, ini merupakan pekerjaan saya. Anda bisa duduk tenang sambil menunggu gehu ini selesai."   Akhirnya Tuan Camelyo mengalah. Ia kemudian duduk kembali di sofa ruang tengah sambil membaca buku Franz Kafka. Archy sedikit heran, kenapa pria seusianya itu memilih tinggal sendirian dalam keadaan seceroboh itu? Tuan Camelyo nampaknya sudah kepala tiga, kenapa ia belum menikah dengan tampang yang ... yaa ... ganteng sih! Kalau di kampung, Tuan Camelyo pasti sudah seperti jajanan SD. Alias laku keras!   Apa karena kaya raya sehingga bisa membeli benda-benda yang rusak dengan mudah? Entahlah! Kenapa Archy harus capek-capek memikirkan hidup orang lain? Memang ia siapa?   Beberapa potong tahu itu kemudian dihancurkan Archy. Ulekan bawang, irisan bawang daun, toge satu genggam, satu sendok saus tiram, sejumput garam, lada, ketumbar bubuk dan kaldu ayam, diaduknya sehingga adonan itu menjadi satu.   Setelah itu, ia menyiapkan adonan basah dari tepung terigu yang sudah diberi kaldu bubuk dan saus tiram. Archy mengambil sesendok tahu itu kemudian dicelupkannya pada terigu basah dan ia menggorengnya di atas minyak panas.   Aroma harum semerbak memenuhi ruangan. Tuan Camelyo melirik Archy yang tengah sibuk memasak tersebut.   Siapa sangka pembantunya itu masih muda dan sangat cantik? Tuan Camelyo menyangka bahwa pembantunya adalah Bibi berusia empat puluhan! Rupanya baik Tuan ataupun Asisten masing-masing salah mengira. Tuan Camelyo jadi heran, dengan tampang secantik itu kenapa ia mau jadi pembantu? Andai Archy bekerja untuk pasangan suami-istri, pasti ia akan jadi bahan fitnah sang Nyonya. Untung saja Tuan Camelyo belum menikah, tentu tidak akan menimbulkan prahara.   Entah ya, semua akan berubah jika tetangganya usil!   "Tuan, apakah anda menyukai pedas?" tanya Archy.   Tuan Camelyo yang melamun bergegas menganggukan kepalanya.   "Ya, aku suka!"   Archy mengiris cabai, dan beberapa bawang merah. Ditumisnya dengan minyak cukup banyak, lalu masukan kecap manis. Diaduk, kemudian tambahkan penyedap.   Gehu ala Archy siap tersaji! Tuan Camelyo menatap seksama makanan yang terhidang itu.   "Wah, ini sepertinya enak! Apakah ini resepmu sendiri?" tanya Tuan Camelyo yang terbelalak.   Archy menganggukkan kepalanya.   "Iya Tuan! Silakan dimakan."   "Asyik, mari kita coba!"   Tuan Camelyo meraih sepotong tahu itu, namun, potongan tahu tersebut malah terlempar ke muka Archy karena masih panas saat Tuan Camelyo mencomotnya.   "Kyaaa!!!" pekik Archy.   "Aduh, maaf ... panas soalnya!" Tuan Camelyo berusaha mencari tissue.   Potongan tahu panas tadi mengenai kelopak mata Archy sehingga menimbulkan rasa pedih dan panas bagaikan di neraka. Tuan Camelyo bergegas membawakan tissue basah. Tangannya terulur menekan mata Archy supaya tidak terlalu panas.   "Jangan digosok, gak ada hadiahnya. Lap pakai ini agar minyaknya hilang!" titah Tuan Camelyo.   Aroma maskulin yang berasal dari tubuh Tuan Camelyo tiba-tiba menyeruak di hidung Archy. Archy sontak membuka matanya, menatap lekat-lekat sosok tinggi di hadapannya itu.   Deg!   Sorot mata tajam bagai seeokor naga itu tengah menatap Archy lekat-lekat. Archy menelan salivanya, menyadari bahwa Tuan tinggi besar di hadapannya itu sangat tampan!   "Udah Mas, gak apa-apa!" ujar Archy.   "Mas? Memang aku mirip tukang bakso?" tanya Tuan Camelyo.   Archy bergegas mundur. Ia mengambil garpu dan menyodorkannya pada Tuan Camelyo.   "Aku tahu kamu dendam. Tapi masa hendak menusukku dengan garpu sih?" omel Tuan Camelyo.   Archy mendengus sebal.   "Bukan, maksud saya Tuan makannya pakai garpu supaya tidak panas." Archy menatap seksama Tuan Camelyo dengan jantung yang berdetak lebih kencang.   Tuan Camelyo meraih garpu itu sambil tersenyum dengan kedua mata sipit dan lesung pipit yang sedalam palung mariana.   Astaga G-dragon. Tuan Camelyo maniisss sekali! Seandainya dia murah senyum, pasti banyak wanita akan terserang diabetes melitus.   Mulut Tuan Camelyo melahap gehu tersebut, namun ia mengernyitkan kening.   "Loh enak! Tapi agak keasinan, hmm ... kamu pengen kawin ya?" goda Tuan Camelyo.   Archy agak terkejut. Rupanya bukan Ibunya saja yang sering bilang masakannya keasinan. Karena, menurut Archy rasa asin itu pas di lidah! Tapi ternyata lidahnya yang error.   "Yah, maaf Tuan. Saya buang deh!" Archy hendak membawa piring isi gehu tersebut.   Tuan Camelyo menahan tangan Archy. Gadis itu sontak menarik tangannya.   "Bukan muhrim Tuan!" ujarnya singkat.   Tuan Camelyo terkekeh. Ia kemudian menarik piring tersebut.   "Jangan di buang! Aku tahu caranya supaya tidak keasinan."   Tuan Camelyo meraih piring plastik dengan hati-hati. Bahkan, entah kenapa Archy merasa ngeri-ngeri sedap walau hanya melihat adegan Tuan Camelyo mengambil piring. Ia khawatir piring itu akan pecah.   "Saya pake plastik, supaya tidak pecah." Tuan Camelyo mengacungkan piring tersebut.   Fiuh! Archy bernapas lega.   Tuan Camelyo mengambil nasi dari penanak. Perlahan ia membawanya ke arah meja makan.   "Lain kali, biar saya yang ambilkan." Archy menatap seksama Tuan Camelyo.   Tuan Camelyo mengibaskan tangannya.   "Aku akan melakukan apapun yang bisa kulakukan sendiri. Tenang saja!" Tuan Camelyo tersenyum. "Kalau lauk agak keasinan, lebih baik makan pakai nasi."   Seorang CEO di hadapan Archy tengah makan nasi dengan lauk gehu. Archy pikir, hanya dirinya saja sosok manusia yang mengalami kekurangan ekonomi dan sering makan dengan lauk tersebut. Ternyata, orang kaya juga sama ya?   "Mau makan gak?" tanya Tuan Camelyo yang mulai malu diperhatikan Archy saat tengah menyuap.   "Eh, enggak Tuan. Saya kenyang!" jawab Archy.   Tuan Camelyo tiba-tiba memasukan sepotong gehu itu ke mulut Archy tiba-tiba.   "F-Fuan," suara Archy kacau dalam keadaan mengunyah.   "Makan saja. Aku selama ini tidak punya teman makan. Apa kamu tidak bisa duduk di sampingku untuk makan juga?"   Archy tertegun. Apakah ada CEO sebaik itu yang menyuruh pembantunya makan bersama?   Loh, itu ada. Tuan Camelyo!   "Kok bengong? Duduk Ar!" titah Tuan Camelyo sambil menarik Archy.   Namun, Tuan Camelyo lupa, tenaganya terlalu besar untuk menarik tubuh seorang gadis! Hingga akhirnya tubuh Archy terhuyung dan jatuh ke depan.   Grep!   Kedua tangan besar Tuan Camelyo menahan tubuh Archy di bagian bongkahan kembar yang membuat gadis itu membelalakan mata.   "Kyaaaa!!!"   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN