Bab.3 Ih, Malu!

1435 Kata
  "Kyaaaa!!!"   Archy bergegas menarik mundur tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya di area terlarang itu. Napasnya terengah-engah dengan mata terbelalak. Oh sial, Tuan Camelyo adalah pria pertama yang telah memegang area tubuhnya yang paling maknyus itu!   "Astagfirullahaladzim, Tuan ini berdosa sekali!" Archy menuturkan kalimatnya dengan dramatis, bagaikan artis sinetron.   Tuan Camelyo yang sama kagetnya malah ikut menyilangkan tangan. Ia mengerjapkan matanya.   "Habisnya, saya gak tahu harus pegang yang mana. I-itu spontan tak sengaja!" Tuan Camelyo membela diri.   Archy yang merasa malu langsung berlari dan bersembunyi di balik tirai besar rumah tersebut. Entah apa tujuannya bersembunyi dibalik tirai, yang jelas ia harus menyembunyikan rona merah pipinya dari Tuan Camelyo.   "Kesucianku terenggut. Tidak!" pekik Archy sambil memegangi dadanya dan menutup mulut dengan mata terbuka.   Tuan Camelyo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengerjapkan mata memandangi kedua telapak tangannya. Ia merasa berdosa, akan tetapi naluri lelakinya berkata bahwa hal itu cukup menantang.   "Sebesar ini." Tuan Camelyo menahan semu wajahnya.   Perkenalan antara Majikan dan Asisten pada hari itu terasa cukup konyol. Archy juga tidak paham kenapa ia punya majikan yang aneh sekaligus ceroboh. Akhirnya ia melalui sepanjang hari itu dengan bersih-bersih dan merapikan banyak barang yang berserakan. Ia juga mencuci baju-baju kotor yang menumpuk sehingga waktu tersita karena pekerjaan.   "Arr ... Arrr!" panggil Tuan Camelyo.   Saat itu waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Tuan Camelyo sudah siap memakai sarung, peci, dan juga baju koko dengan senyum yang manis.   Archy menoleh kemudian mengerjapkan matanya. Betapa tampannya Tuan Camelyo dengan pakaian takwa! Ibarat ubin mesjid, bening coy!   "Saya akan ke masjid, biasanya kelar habis isya. Kalau bisa buatkan saya makan malam ya? Jangan keasinan." titah Tuan Camelyo.   Archy mengangguk, namu, ia kemudian menautkan kedua alisnya.   "Tapi Tuan, setahu saya di kulkas bahan makanan habis! Cuma ada timun sama mayones. Tuan gak mungkin makan dengan itu 'kan?" tanya Archy.   Tuan Camelyo masuk kembali ke dalam kamarnya. Kemudian ia kembali sambil membawa dompet. Perlahan tangannya meraih empat lembar uang merah.   "Segini cukup buat makan malam? Belanja aja gih, ke minimarket dekat sini. Mumpung belum maghrib, jangan lupa sholat."   Archy menatap Tuan Camelyo lekat-lekat. Siapa sangka lelaki itu orang yang taat beribadah? Apa tidak apa-apa mereka tinggal bersama dalam satu atap? Kan bukan muhriiimmm ... setan bisa lewat dari pintu mana saja!   Archy hendak menanyakan, namun, ia sangsi. Lagipula, sepertinya sang Tuan tidak punya pikiran atau pun niatan negatif sama sekali. Itu hanya praduga, entah ya kenyataannya seperti apa.   "Makasih Tuan. Mau makan dengan daging atau sayuran?" tanya Archy memastikan bahan makanan.   "Apa aja aku makan kecuali batu bata. Sudah ya!" jawab Tuan Camelyo sambil melambaikan tangan.   Tuan Camelyo bergegas keluar rumah, ia menggunakan sepeda dan pergi keluar dari halaman. Archy hanya tertegun memandangi Tuannya itu melengang pergi dengan betis tersingkab akibat menggunakan sepeda.   "Terniat sekali," komentar Archy bermonolog.   Archy meraih jaket dan mengunci pintu. Perlahan ia menyusuri jalan, mencari minimarket yang Tuan Camelyo maksud.   "Pak, minimarket dimana?" tanya Archy pada salah satu tukang parkir.   "Balik badan Neng!" titah Tukang Parkir tersebut.   Archy baru sadar, ia bertanya pada Tukang Parkir Minimarket yang tengah ia cari. Ia kemudian berderai tawa karena menahan malu atas kebodohannya.   "Maaf Pak, mata saya minus lima soalnya. Lupa gak pake kacamata!" Archy berdusta.   "Oh pantesan, awas Neng pintunya sebelah sini. Takut salah masuk ke WC!" Tukang Parkir menunjuk pintu masuk.   Archy tentu saja tahu. Ia berbohong demi menyelamatkan harga dirinya. Hehehehe.   "Selamat sore, selamat datang di Sarimin Market!" sapa petugas kasir Mini Market itu.   Archy tersenyum dan melambaikan tangan. Ia bergegas mengambil keranjang, dan berjalan ke arah daging-dagingan.   "Ada ayam, ada sapi. Manusia itu sukanya apa?" Archy bermonolog.   Saat ia menunduk hendak mengambil daging sapi, alangkah terkejutnya ia mendapati seorang pemuda berdiri disampingnya dan juga mengulurkan tangan ke arah daging.   "Kyaa!!!" teriak Archy.   Lelaki itu ikut terkejut. Ia menempelkan telunjuk di bibirnya yang merah.   "Maaf Neng, saya lagi nurunin barang!" ujar Lelaki yang merupakan petugas Mini Market.   Archy menatap seksama lelaki itu dari atas sampai bawah. Kulitnya putih bak s**u, matanya sipit, dan senyumnya manis sekali! Apakah ia personil boyband?   "Astagfirullah, Aa Suga BTS bukan?!" tanya Archy.   Ya kali Suga BTS bisa bahasa Indonesia! Lelaki itu hanya mengerjapkan mata, kemudian berderai tawa memamerkan giginya yang rapi.   Ih, sial ganteng banget!   "Bukan, tapi nama saya Agus Neng! Mirip lah namanya dikit," Lelaki bernama Agus itu berderai tawa.   Archy memandang seksama sosok Agus. Kok lucu, kok cakep, kok manis banget sih? Haduh! Hatinya langsung terpaut begitu saja pada pesona sang pria minimarket.   "Neng baru ya di sini? Baru keliatan muncul soalnya di daerah sini." tanya Agus sambil menurun-nurunkan pembalut dari dus, ia sepertinya tertarik pada Archy.   Archy mengangguk menanggapi pertanyaan itu.   "Saya, asistennya Tuan Camelyo yang baru. Archy." Archy mengulurkan tangan.   Agus menatap seksama jemari itu kemudian menyambut uluran tangan Archy, ia pun tersenyum. Wow, sebuah jabat tangan hangat!   "Oh, kerja di rumahnya Aa Iyo ya? Biasanya asisten di sana gak pada betah, soalnya A Iyo ceroboh katanya! Tapi, moga betah ya Neng." Agus tersenyum.   Tolong jangan tersenyum, damagenya sampai ke empedu!-ujar Archy dalam hati.   Archy hanya tersenyum malu. Ia sedikit geer, padahal cuma kenalan saja!   "Mau masak ya?" tanya Agus lagi. Sepertinya ia tertarik untuk terus mengobrol dengan Archy.   "Iya nih, Tuan Camelyo sukanya apa ya?" Archy berbalik tanya.   "Memang, tidak bertanya beliau suka apa?"   Archy menggelengkan kepalanya.   "Ia bilang, suka semuanya kecuali batu bata!"   "Pffftt!"   Agus berderai tawa, memamerkan gummy smile yang lucu.   "A Iyo emang suka bercanda kok. Beliau orang kaya raya, tapi sederhana sekali sikapnya. Beruntung, kamu bekerja dengan orang seperti itu!"   "Oh ya? Sudah kenal lama sama Tuan?"   Agus menautkan kedua alisnya tanda berpikir.   "Lama sih, sekitar dua tahunan. Oh iya, saya ke gudang dulu ya. Selamat berbelanja Archy! Semoga nanti ... kita bisa sering ketemu hehe."   Hidung Archy mengembang seperti Makibao. Ia suka pada Agus dalam pandangan pertama! Astaga, ia janji akan sering ke Minimarket agar bertemu Agus. Bahkan ia membeli micin pun akan ke minimarket demi kelancaran percintaan dan perpedekateannya.   Tapi, Agus sudah punya pacar belum ya?   **   Archy memutuskan untuk memasak udang dan ayam malam itu. Sehabis ibadah Mahrib ia mengeksekusi semua bahan makanan yang sudah dibelinya.   Udang saus asam manis dan ayam saus telur asin! Archy membayangkan wajah Agus yang manis sambil memasak.   "Kamu ganteng ... ganteng dari hatimu ...! Kyaaa ...." Archy berjingkrak kegirangan.   Ia menggoyang-goyangkan pinggul ala goyang ngebor sambil mengoseng bumbu. Kepalanya manggut-manggut seolah mengikuti irama musik yang berdentum hanya di kepalanya. Jadi musiknya di telinga orang lain tentu saja ghoib.   "Yang aku ingin, hanyalah dirimu saja ... hanyalah cintamu saja ... kembalilah kepadaku. Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja ... kita 'kan bersama lagi. Seperti disaat, kitaaa satuu ...!" Archy bergaya layaknya personil Girlband, tangannya terangkat dengan pinggul bergoyang ke kanan dan ke kiri dan rambut panjangnya bergoyang-goyang.   Tubuhnya kemudian berbalik sambil membawa teflon hendak menyajikan makanan. Namun, ia terperanjat ketika sosok Tuan Camelyo sudah berdiri di sana memandanginya takjub sambil menahan tawa   "Kamu ngapain?" tanya Tuan Camelyo.   Archy benar-benar malu! Ia bergegas menaruh teflon itu dan berlari ke arah gorden dan langsung sembunyi. Tuan Camelyo tidak mampu menahan tawanya.   "Haahhhahahahhha!" Tuan Camelyo tertawa puas.   Archy menutup mulutnya. Kenapa ia bisa tidak sadar majikannya itu pulang?! Ih malu banget ... mana goyangannya sangat tidak layak dipertontonkan khalayak!   "Jangan sembunyi. Di situ suka ada cicak gede ih!" tutur Tuan Camelyo seolah menakuti anak balita.   Archy bergegas keluar dari gorden sambil menatap Tuan Camelyo seksama dengan mulut terkatup rapat. Lelaki itu tertawa kecil dengan tasbih electric yang masih melekat di tangannya.   "Udah, siapin saya makan Ar. Lapar!" titah Tuan Camelyo mencoba mengalihkan pembicaraan.   Sebenarnya, pemandangan malam itu membuat Tuan Camelyo tidak bisa melupakannya. Archy benar-benar gadis paling konyol yang pernah ia temui!   Archy bergegas menyajikan makanan di meja dengan menutupi rasa malu. Tuan Camelyo kemudian kembali dengan menggunakan celana panjang training dan kaus kebesaran berwarna putih.   "Masak apa Ar?" tanya Tuan Camelyo sambil memperhatikan meja makan.   "Masak udang sama ayam, Tuan." Archy mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.   Tuan Camelyo menggebrak meja, membuat Archy terperanjat saking kagetnya. Sebagian nasi meloncat dari atas piring.   "Apa?! Udang?!" tanya Tuan Camelyo dengan mata terbelalak.   Archy mengangguk dengan bingung.   "Iya, Tuan. Apa Tuan alergi?" Archy mulai khawatir.   Tuan Camelyo meringis.   "Astaga, maafkan aku teman. Asistenku tidak tahu bahwa kalian adalah temanku!"   Archy membelalakan mata. Apa? Teman? Tuan Camelyo berteman dengan udang? Sekte apa ini!   "Memang, kenapa Tuan?" tanya Archy masih tak mengerti.   "Hewan laut itu temanku Ar, aku tidak mungkin makan teman!" jawab Tuan Camelyo sambil menahan tangis.   Archy tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Tuan Camelyo berdiri kemudian melayangkan sentilan cukup keras di ataskening Archy.   "Saya gak mau tahu, kubur mereka dengan layak!" titah Tuan Camelyo.   Archy membelalakan mata.   "Apa?!"   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN