Malam itu, di taman yang terletak di samping rumah. Archy menyekop tanah untuk membuat lubang kuburan. Entah ia bermimpi apa harus melakukan hal itu.
"Teman-teman. Maaf ya, akan ku kuburkan kalian dengan layak!" Tuan Camelyo memandangi udang asam manis itu yang sudah terbungkus kain putih.
Archy memajukan bibirnya dengan tidak ikhlas. Padahal udang itu terlihat sangat enak dan menggugah selera. Akan tetapi, Tuan Camelyo memilih untuk melakukan upacara penguburan bagi pasukan udang asam manis.
"Inalillahiwainalillahiradjiun … Ya Allah, semoga amal ibadah udang temanku diterima di sisimu." Tuan Camelyo mengangkat tangannya.
Tuan Camelyo menarik tangan Archy agar ikut berdoa seperti dirinya. Archy mendengus kesal. Kenapa ia harus mendoakan udang yang notabene halal untuk dimakan? Konspirasi macam apa ini!
"Berdoa!" titah Tuan Camelyo tegas tanpa penolakan.
Archy mengangguk. Harusnya sekalian lakukan penguburan terhadap ayam mentega yang tadi ia buat. Mereka juga 'kan mahluk hidup? Kok diskriminasi sekali!
Setelah makan malam. Archy dan Tuan Camelyo masuk ke dalam kamar masing-masing. Archy sontak menulis schedule pekerjaan yang hendak ia lakukan besok.
"Aneh banget majikan gue. Kayaknya ini alasan pembantu lama pada berhenti. Do'i aneh banget!" ujar Archy bermonolog pada tembok.
Archy berbaring di atas kasur yang sangat empuk. Bagaimana mungkin pangkat pembantu tidur di kamar layak seperti itu? Sepertinya hanya Tuan Camelyo saja yang melakukannya! Terpujilah wahai engkau Bapak Camelyo.
"Grrrrr … Grrrrr!!!"
Archy terperanjat dan memutar bola matanya. Suara apa itu?! Terdengar seperti suara gempa bumi!
Archy memegangi kasurnya. Namun, tidak ada guncangan sama sekali! Lalu itu suara apa?!
Archy bergegas keluar pintu kamarnya hendak mencari sumber suara menakutkan tersebut. Apa jangan-jangan memang telah gempa bumi tapi ia tidak sadar?! Tuan Camelyo harus diberi tahu!
Archy menatap ke arah pintu kamar Tuan Camelyo. Sumber suara dahsyat itu berasal dari sana!
"Oh, apakah terjadi sesuatu di sini? Suaranya keras banget. Jangan-jangan Tuan diterkam beruang!" pekik Archy khawatir.
Dengan cepat Archy membuka pintu kamar. Namun, di dapatinya Tuan Camelyo yang tengah tertidur dengan celana pendek gemes tanpa atasan! Tubuhnya hanya tertutup selimut bergambar Princhess Sofia.
Sepertinya ini alasan mengapa Archy dilarang masuk ke dalam kamar beliau.
"Kyaaa!!!" teriak Archy
Suara gempa bumi itu ternyata berasal dari Tuan Camelyo yang rupanya sedang mendengkur. Lelaki itu sontak terperanjat melihat Archy di ambang pintu.
"Jangan …! Jangan serang saya!" Tuan Camelyo bergegas menutupi tubuhnya dengan selimut Sofia.
"Saya kira ada gempa!" Archy membela diri.
"Gak ada! Sudah ih, sana pergi!" omel Tuan Camelyo sambil mengibaskan tangannya.
Blam!
Archy menutup pintu dan kembali ke dalam kamarnya dengan jantung berbedar kencang. Bagaimana mungkin suara dengkuran mirip gempa bumi? Bagaimana mungkin ia melihat tubuh kekar itu dengan kedua matanya?!
Oh, dear!
**
Subuh itu Archy terbangun karena alarm dan hendak menjalankan ibadah. Ternyata, sang Tuan bangun terlebih dahulu sebelum Archy. Beliau sudah menggunakan baju takwa dan juga sarung.
"Ar, saya kerja jam tujuh. Si curut kasih makan di kandangnya. Mau di bawa lagi sama yang punya!"
Archy menatap seksama Tuan Camelyo yang juga tengah memandanginya, menunggu respon.
"Loh, curut bukannya punya Tuan?"
"Bukan. Curut itu sebenernya punya temanku. Dia merupakab Dokter hewan, dan curut ini peliharaan Rumah Sakit miliknya. Dia hanya menemaniku karena tidak ada yang jaga rumah. Sekarang sudah ada kamu, jadi saya gak butuh anjing lagi."
Archy menautkan kedua alisnya heran.
"Jadi, saya anjing?"
"Heeeh … bukan gitu! Pokoknya nanti bersihin dan kasih makan aja dia, nanti temanku akan membawanya saat aku pergi kerja. Curut anjing kesayangan Rumah Sakit, jangan sampai pemiliknya kecewa."
Lah, kenapa harus kecewa? Archy baru saja bekerja dan tidak tahu menahu soal anjing. Seharusnya kalau pun kecewa, Rumah Sakit harus kecewa pada Tuan Camelyo dong.
"Nanti siapin sarapan ya. Saya ke masjid dulu."
Archy mengangguk patuh. Pantas terasa ada yang janggal, kenapa lelaki itu sampai memelihara seekor anjing? Rupanya hanya sementara sampai ada pembantu toh.
Selesai mandi dan ibadah. Archy bergegas membersihkan rumah, dan mencuci piring. Ia juga menyiapkan sarapan nasi goreng simpel.
Nasi putih, potongan ayam, kacang polong, potongan wortel, potongan buncis, pipil jagung manis, dua butir telur, sejumput garam, penyedap, saus tiram dan kecap inggris. Dimasaknya dengan penuh semangat di atas wajan.
Ia menoleh kanan-kiri hendak bernyanyi. Sudah menjadi kebiasaannya sambil memasak, ia bersenandung. Kali ini, sang Tuan jangan sampai tahu!
"Ibu-Ibu Bapak-Bapak, siapa yang punya anak bilang aku … aku yang sedang malu, sama teman-temanku karena cuma diriku yang tak laku-laku! Yo semua tangannya diatas!" teriak Archy sambil mengepalkan tangan.
Archy menggeleng-gelengkan kepala layaknya ayam mabuk. Ia memotong-motong keju untuk taburan di atas nasi goreng.
"Timur ke barat, selatan ke utara tak juga aku temukan … dari musim duren … hingga musim … musim apa ya? Kok gue lupa lirik!" Archy memukul kepalanya sendiri. "Aw!"
Nasi goreng itu terlihat mengepul di atas piring. Archy kemudian menata Nasi Goreng itu dengan cantik.
"Harusnya aku ikut Master Chef. Wah Archy, dirimu jago memasak sekali!" Archy memuji diri sendiri.
Archy tertawa girang saat khayalannya menggambarkan bahwa dirinya tengah berdiri dan berkompetisi di ajang tersebut.
"Iya Chef, Chef Junaedi ganteng!" Archy mengepalkan kedua tangan sambil menutup mata membayangkan Chef favoritnya itu memuji masakannya.
"Siapa yang ganteng?"
Lamunan Archy seketika hancur. Ia sontak terkejut mendapati Tuan Camelyo yang sudah siap memakai jas dan juga dasi. Beliau terlihat sangat tampan dan gagah dalam balutan jas!
"Tuan kapan pulangnya?!" Archy tidak menyadari bahwa majikannya itu sudah berada di rumah.
"Pas kamu masak juga saya sudah pulang. Kamu asyik nyanyi sambil joget, jadi saya gak berani ganggu. Nanti kamu ngumpet lagi di balik gorden!"
"Hehehe … maafkan." Archy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sepertinya Archy mulai kebal dengan rasa malu, sudah tanggung dilihat coy, hajar saja! Ia kemudian memperhatikan sosok Tuan Camelyo dengan seksama. Penampilannya terlihat sangat jauh berbeda ketika ia mengenakan jas dan ketika ia memakai pakaian rumah. Tuan Camelyo kini terlihat seperti CEO sungguhan!
"Enak nasi gorengnya. Masih ada gak?" tanya Tuan Camelyo dengan mulut penuh.
Archy mengangguk sambil menghampiri Tuan Camelyo lebih dekat.
"Mau nambah Tuan?" tanya Archy.
"Mau dibekal buat makan siang deh. Sama ayam goreng."
Archy mengerjapkan matanya. Wah, aneh sekali, seorang CEO bekal makan seperti karyawan biasa loh! Bahkan, biasanya karyawan biasa pun malas bekal makan demi menjaga gengsi dan mereka memilih makan di luar.
Tuan Camelyo sosok yang sederhana rupanya!
"Saya … kurang suka makanan dari luar. Jadi jangan heran kalau saya minta bekal makan. Kamu harus bisa masak dengan kreatif dan jangan masak seafood karena mereka temanku."
Archy hanya mengangguk. Ia menyiapkan tempat makan dengan kapasitas banyak. Diisinya tempat itu dengan nasi goreng, telur mata sapi, potongan ayam, daun selada, tomat, satu buah pisang dan minuman probiotik. Archy tiba-tiba berkhayal, bahwa itu merupakan bekal untuk suami.
Tapi siapa ya suaminya nanti? Apakah Aa Agus? Astaga halu lagi!
"Saya berangkat ya, nanti ada tukang sayur lewat. Kamu belanja bahan untuk makan malam. Kamu juga jangan lupa untuk makan, ya. Makasih untuk makanannya, Chy."
Tiba-tiba tangan Tuan Camelyo terulur, ia mengusapi kepala Archy seperti seekor anak kucing. Archy hanya tertegun ketika Tuan Camelyo langsung berlalu dari hadapannya selesai mengusapi.
Archy memegang rambutnya, ih mana berminyak lagi. Mau-maunya Tuan Camelyo mengusap kepala Archy!
"Apakah aku mirip Curut sehingga diusapi seperti itu?" Archy mengelus-elus kepalanya sendiri sambil melirik ke arah curut yang tengah menatapnya penuh harapan.
Tuan Camelyo pun berlalu menggunakan mobil mewah miliknya. Archy yang tengah memegang sapu hanya tertegun menatap mobil itu berlalu.
"Mobilnya ganteng banget!"
Ketika Archy sedang sibuk menyapu halaman, tak lama kemudian muncul sosok tukang sayur keliling. Archy bergegas menghampiri tukang sayur tersebut bersama Ibu-Ibu lain yang langsung merubung.
"Mang!" panggil Archy.
Nampak Ibu-Ibu itu sontak menoleh dan memperhatikan Archy dengan seksama. Archy sedikit bingung dengan tatapan Ibu-Ibu tersebut.
Baru lihat ya bidadari belanja sayur? Canda bidadari.
"Neng, dari rumah itu?" tanya salah satu Ibu tersebut.
Archy mengangguk.
"Iya." jawab Archy semanis dan seramah mungkin.
"A Iyo udah nikah? Kenapa diam-diam nikahnya, enggak rame-rame? Hamil duluan ya?" todong Ibu tersebut.
Archy menautkan kedua alisnya. Hah Tuan Camelyo menikah? Lalu mana istrinya?!
"Menikah dengan siapa? Yang mana istrinya?" tanya Archy kepo.
Pertanyaan tersebut malah membuat Ibu-Ibu tersebut bertambah julid.
"Loh, kok nanyain diri sendiri ke orang lain? Aneh!" tutur salah satu Ibu itu dengan ketus.
"Lah, saya kan pembantu. Harusnya saya tahu siapa istrinya Tuan Camelyo. Makannya saya tanya!" Archy meninggikan nada bicaranya.
Ibu-Ibu itu sontak terbelalak.
"Haaah, pembantu?!"
Ibu-Ibu itu nampak tak percaya mendengar perkataan itu. Mereka sontak memandangi Archy dari atas sampai bawah. Hih siapa sih mereka? Juri Putri Indonesia? Kok menilik-nilik Archy dengan sangat telik!
"Ngaku aja Neng, sebenarnya Neng simpanannya A Iyo 'kan? Cuma pura-pura jadi pembantu?" tutur salah satu Ibu-Ibu mengintimidasi.
Archy begitu bingung dengan pertanyaan tersebut. Kenapa Ibu-Ibu hobinya menggosip sih?!
Memang, Archy terlihat bulat seperti nugget sampai dikatai simpanan?! Hih, awas saja!
**