"Istigfar Ibu-Ibu, masa nuduh orang kayak gitu?" Tukang Sayur menengahi, ia takut melihat ekspresi Archy yang sudah berubah. Hidung Archy sudah kembang-kempis seperti lambang salah satu partai.
Ibu-Ibu itu bergegas mengusap dadanya masing-masing. Tukang Sayur menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian menatap Archy seksama.
"Maklumin ya Neng, Ibu-Ibu ini juga sama kok kerja di rumah-rumah besar sekitar sini. Kalau gak ada kerjaan emang sukanya ngegosip majikan." Kata Tukang Sayur tersebut.
Ibu-Ibu tersebut nampak tak setuju dengan mendelikan mata ke arah Tukang Sayur. Archy yang telanjur kesal, jadi malas berbelanja di tukang sayur tersebut dan memilih mengakhiri sesi belanja.
Mereka sama-sama pembantu tapi kenapa julid banget sih? Hih, udah tua bukannya hapalin doa-doa, malah nuduh orang tekdung. Archy jadi kesal karena perutnya agak buncit.
"Mang, aku beli daging aja dua kilo sama kentang sekilo." Archy menyodorkan uang, ia tidak ingin berlama-lama bicara di sana. Tukang Sayur itu bergegas memberikan dua kilogram daging sapi.
"Mau masak apa Neng?"
"Masak tumis s**********n marmot. Sudah ya Mang, nuhun!" jawab Archy jutek.
Archy melengang pergi meninggalkan Tukang Sayur di iringi tatapan julid para Ibu yang berprofesi sebagai Asisten itu.
Sepanjang ia berjalan, Archy bersungut-sungut.
"Memang menjadi Asisten rumah tangga harus tua? Justru dengan badan mudaku, aku bisa lebih gesit! Sotoy banget sih ih, mulutnya kagak pake bismillah kalau ngomong!" Archy bermonolog sambil menghentakkan keresek berisi daging.
Nampak sebuah mobil mewah memasuki area rumah Tuan Camelyo. Mobil itu sangat keren, mirip milik pengacara Hotman Paris!
Jangan-jangan ada datang Daddy Hotman? Asik, mau minta saham ah.
"Apa itu majikannya Curut? Atau Daddy Hotman ya?" Archy menautkan alis kemudian mengendikan bahu dan bergegas membukakan gerbang.
Mobil tersebut melesat masuk dan Archy bergegas menutup gerbang kembali. Gerbang yang cukup berat untuk di dorong seorang wanita. Untung Archy bertenaga kuli bangunan. Dorong gerbang segitu sih cetek!
Keluarlah dari mobil itu sosok lelaki berambut pirang dan memakai kemeja rapi yang mahal. Archy langsung terperangah. Hampir saja ia meleleh bagaikan es krim konelo.
Ganteng banget eoy! Ganteng kebangetan!!!
"Selamat pagi Archy, aku… Rey!" ujar pria pemilik senyum manis tersebut.
Archy membelalakan mata. Entah mengapa dalam bayangannya tergambar bunga-bunga berjatuhan seiring pria itu menyunggingkan senyum manis. Hih, kekuatan cogan ternyata meluluh lantakan diri Archy begitu saja.
"Rey … Reynaldi? Eyaa… Eyaa…," Archy mengingat salah satu acara televisi dan spontan mengatakannya.
Lelaki bernama Rey itu sontak tertawa terbahak-bahak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku Reyhan … kamu Archy asisten Iyo yang baru 'kan?" tanya lelaki bersama Rey dengan senyum lebarnya.
Archy langsung menganggukan kepalanya.
"Masuk saja Tuan! Saya buatkan teh manis atau apa saja boleh." Archy mengepalkan kedua tangan dan mengayunkannya.
"Saya kesini mau ambil si Alexander, apa ia baik-baik saja? Aku tidak yakin Iyo mengurusnya dengan benar."
Alexander teh saha? Archy menautkan kedua alisnya dengan bingung.
"Alexander siapa ya A? Temennya Tuan?" tanya Archy.
Rey tertegun sejenak kemudian terkekeh.
"Itu, anjing pittbul! Kata Iyo, dia sudah bilang sama kamu?" Rey berbalik tanya.
Alexander Curut. Itukah nama panjang anjing tersebut? Kenapa namanya aneh sekali? Archy bertanya-tanya namun, tak mampu mengungkapkannya.
"Oh, Curut? Iya tuh, dia udah nunggu. Baru aja makan!" Archy membukakan pintu rumah.
Rey kemudian masuk ke dalam rumah sambil tertawa kecil. Perlahan ia menghampiri kandang anjing.
"Alex … pulang yuk? Sudah saatnya kamu kembali! Tega banget si Iyo kasih nama kamu curut!" Rey mengusapi kepala anjing itu.
Archy menyimpan belanjaannya kemudian membuka kulkas.
"Tuan Rey mau minum apa?" tanya Archy.
"Yang ada apa?" Rey berbalik tanya.
Archy melirik ke arah dalam kulkas.
"Ada s**u, es batu, sirop tjampolay, pisang nangka, es krim vanilla sama apa ini … jelly jelly gitu sih. Tuan mau teh manis?"
Rey malah tertawa terbahak-bahak. Ia menghampiri Archy sambil memasukan tangannya ke saku. Dari sekian banyak jenis olahan kenapa Archy menawari teh manis?
"Ada bahan-bahan seperti itu mau kubuatkan resep yang enak tidak?" tanya Rey.
Archy mengerjapkan mata dengan mulut mengerucut.
"Memang Tuan bisa masak?" tanya Archy.
Rey terkekeh melihat ekspresi Archy yang lucu.
"Tanganku tak cuma bisa mengendalikan hewan. Tapi bisa mengendalikan angin, petir, api dan juga memasak! Mau kubuatkan?"
"Lah, harusnya saya yang buatkan!" Archy menolak.
Rey mengibaskan tangan kemudian menggulung sisi kanan dan kiri pakaiannya.
"Gak apa! Sini, bawakan aku dua buah gelas, es batu dan bahan-bahan tadi!"
Rey menaruh es batu penuh di gelas tersebut. Menyiram dengan tiga sendok makan sirup tjampolay, satu sendok jelly, beberapa potong pisang, kemudian menyiramnya dengan s**u UHT full cream. Terakhir, atasnya diberi satu scoop es krim.
"s**u pisang jadi!" Rey terlihat gembira.
Archy menatap senyuman dari bibir Rey yang sangat ceria dengan merasakan jantung berdebar kencang. Kenapa akhir-akhir ini ia bertemu dengan pria-pria lucu sih? Archy jadi bersyukur bekerja di sana!
"Minumlah!" titah Rey sambil tersenyum.
Archy menerima sodoran gelas tersebut. Ia meminumnya sambil memperhatikan Rey yang juga tengah menyeruput minuman tersebut.
Astaga, dia ganteng sekali! Pasti banyak yang membawa hewan peliharaan demi bertemu Rey semata. Orangnya sama sekali tidak membosankan kala dipandang, karena itu Archy jadi terus menerus memperhatikan.
"Enak 'kan?" Rey memastikan.
Archy mengangguk.
"Malu loh, saya harusnya 'kan menyuguhi tamu. Malah saya yang dibuatkan minum." Archy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rey hanya menanggapinya dengan tersenyum. Ia kemudian menghabiskan minuman itu dan bergegas meraih keranjang anjing yang besar.
"Ucapkan selamat tinggal Alex, sekarang kamu akan berada di klinik lagi!" Rey menggerakkan kaki Curut melambaikan tangan sebelum masuk ke kandang.
Archy ikut melambaikan tangannya.
"Selamat tinggal Curut!" Archy tersenyum.
Dari sudut matanya Rey tak bisa berhenti melirik Archy. Matanya terus menerus menatap Archy yang cantik juga lucu itu. Apa Iyo tidak akan jatuh cinta? Karena, Rey merasa betah berlama-lama di sana.
Darimana Iyo mendapatkan asisten secantik itu? Rey jadi penasaran.
"Sampaikan salamku pada Iyo. Sampai jumpa Archy."
Archy tiba-tiba mengulurkan tangan dan melakukan salim pada Rey.
"Hatur nuhun!" jawab Archy sambil tersenyum manis.
Rey hanya tertegun diperlakukan seperti itu. Ia gemas!
"Dadah Archy, kapan-kapan … kalau aku main ke sini lagi boleh gak?"
Archy mengangkat kedua alisnya.
"Izin saja sama Tuan, saya 'kan gak punya rumah ini…." ujar Archy sambil nyengir kuda.
Rey sontak mengulurkan tangan dan mengusap kepala Archy.
"Kamu lucu. Sudah ya?" Rey berjalan keluar.
Archy memegang rambutnya. Sudah dua orang yang mengusapinya seperti itu. Apakah ia sangat mirip dengan curut sehingga di usapi seperti itu?
Archy membukakan gerbang, membiarkan mobil itu pergi melesat meninggalkan rumah.
"Kenapa orang pada ganteng-ganteng amat ya?" Archy mengendikan bahu.
**
Tuan Camelyo menerima panggilan di ponselnya. Nama Rey terpampang disana. Ia menautkan kedua alisnya karena bingung. Perlahan ponsel itu menempel di telinganya.
"Ya, Rey? Apaan nelefon-nelefon gue?" tanya Tuan Camelyo ketus.
Terdengar gelak tawa dari seberang. Hih, rese bener ini manusia.
"Ketus banget lu! Ini, gue udah ngambil si Alex. Makasih udah jagain dia selama seminggu."
"Iye, sama-sama. Jangan sekali-kali lagi, mahal pakannya!"
"Dih, itungan banget hidup lo Yo."
"Biar cepet kaya! Ya udah gue balik kerja dulu Rey."
"Bentar, lo yakin kalau yang di rumah itu pembantu lo? Mukanya cantik amat anjir! Dapet darimana yang begitu? Bukan bini lo 'kan?"
Tuan Camelyo berdecak lidah. Pantas firasatnya tidak enak, sepertinya Rey tertarik pada Archy!
"Lah emang lo kira siapa? Emak gue?"
"Ya kagak, cocok juga jadi pacar gue Yo daripada jadi pembantu lo. Gue pacarin ya?"
Tuan Camelyo mendengus.
"Ya kalau dia mau sama lo silakan. Tapi gosah ngarep. Anaknya polos banget, tar lo apa-apain!"
"Negatif banget sih lo sama gue Yo. Oke deh akhir pekan gue ke rumah lo, mau ngajak jalan Archy."
Tuan Camelyo menjauhkan ponselnya.
"Terserah lo!" bentaknya.
Tuan Camelyo bergegas mematikan sambungan telefon. Ia kemudian mendengus.
"Ganjen banget lu Rey!" Tuan Camelyo bersungut-sungut.
Tuan Camelyo meneruskan pekerjaan, akan tetapi ia tiba-tiba teringat sesuatu dan menghentikan ketikan di komputer. Tangannya meraih kembali ponsel dan mengetik pesan pada Archy.
To: Archy
Chy, masak apa buat tar malam?
**