Bab.9 Ngedate

1143 Kata
  Archy membelalakan mata ketika Reyhan membuka pintu mobilnya yang super mewah. Archy belum pernah naik mobil semewah itu sebelumnya, dan ia merasa canggung.   "Yuk masuk!" ajak Reyhan.   Archy mengatupkan bibir, kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.   Buseeettt … gak ada ya wangi parfum jeruk di mobil yang bikin mual, aroma parfum mobil Reyhan lembut dan nyaman!   "Suka denger lagu gak Chy?" tanya Reyhan.   Archy menganggukan kepala, memperhatikan tangan Rey terulur dan menyalakan musik.   "Suka. Aa suka?" tanya Archy dengan kedua bola mata berbinar.   Reyhan menyalakan musik genre pop kemudian ia tersenyum manis sekali.   "Ayahku dulu penyanyi, Ibuku Sutradara. Tentu saja aku suka! Syukur deh kalau kamu gak keberatan aku setel musik."   Archy hanya mengangguk sambil mengangkat jempolnya dengan ekspresi lucu.   "Aa memang is the best!" tuturnya.   Reyhan memegang kemudi, namun, tiba-tiba tubuhnya mendekati Archy dengan jarak sedekat lima centi. Archy sontak menutup mata karena takut, Reyhan tertawa kecil dan menarik seatbealt di bangku Archy.   "Ini loh, seatbealt kamu belum dipasang! Maaf kalau bikin kaget." Reyhan menjelaskan.   Archy sontak mengelus dadanya. Fiuuhh!!! Ia kira akan terjadi pencipokan tiba-tiba seperti di drakor. Ia malu kalau itu sampai terjadi, karena belum pernah melakukan!   Dasar otak kotor! Harus dicuci pakai sunlight anti noda.   Mobil Reyhan pun melaju, meninggalkan halaman rumah Tuan Camelyo yang entah kemana hendak membawa Archy. Archy melirik Reyhan yang ganteng memakai sunglasses berwarna biru terang. Ia merutuk jemarinya diatas stir.   "By the way bus way, kita mau kemana?" tanya Archy khawatir.   Reyhan melirik kemudian tertawa kecil, memamerkan deretan giginya yang rapi.   "Laper gak Chy? Kalau lapar, kita bisa makan di restoran. Atau … terserah deh. Mau kamu apa sayang?" tanya Reyhan dengan nada yang sangat menyenangkan.   Sayang? Hidung Archy langsung kembang kempis. Apaan sih sayang sayang … 'kan jadi geer ih.   "Ih atuh Aa jangan manggil sayang, Aa tuh Dokter, orang kaya. Aku mah cuma pembantu doang Aa. Jangan gitu ah." Archy mengibaskan tangannya.   Reyhan menoleh kemudian tertawa, ia memiliki tawa dan senyum yang menyenangkan jika dipandang. Archy jadi senang!   "Ya udah jangan jadi pembantu. Sayang banget kamu tuh Chy. Cantik, mending kerja sama aku aja di klinik mau gak?" tanya Reyhan.   Archy menautkan alisnya. Jadi tukang lap keringat Reyhan apa bagaimana? Atau jadi tukang sapu di klinik?   "Jadi apa yah kerja di klinik?" tanya Archy bingung.   Reyhan terkekeh.   "Aku butuh asisten untuk memegangi binatang. Mau?" Reyhan menawarkan.   Archy menimbang-nimbang. Reyhan itu adalah Dokter Hewan. Bagaimana bila ia harus memegangi gajah? Archy tidak sanggup! Lebih baik disuruh memasak saja walaupun Tuan Camelyo meresahkan dan kadang membuatnya pusing daripada memegangi seekor gajah atau orang utan. Archy tidak mau!   "Aku pikirin lagi deh." Archy menyeringai, enggan ketika ia membayangkan memegangi hewan sebesar itu. Bisa-bisa ia berubah menjadi adonan kastengel.   "Oke Archy sayang. Kita ke Mall aja yah, mau makan apa? Suka sushi gak?" Reyhan bertanya lagi.   "Yang suka menenggelamkan nelayan?" tanya Archy polos.   Reyhan tertawa terbahak-bahak. Padahal Archy sedang tidak melucu.   "Eh, Bu Menteri itu! Bukaan, itu loh sushi makanan Jepang." Reyhan menjelaskan.   "Oh itu. Aku gak bisa makan ikan, gatal." Archy meringis.   Reyhan menautkan alis dan berpikir lagi. Cewek memang ribet kalau ditanya mau makan apa.   "Papper Lunch deh! Nanti udah makan, kita nonton, terus kamu belanja. Terserah mau belanja apa! Aku kasih buat kamu. Jangan bilang Iyo ya?" Reyhan mengedipkan sebelah matanya.   Apakah Archy hendak menolak? Oh tentu tidak. 'Kan dikasih, tidak minta. Hehehehe.   "Okeeee legow!"   **   "Liiisss… Lisss… kamu beneran gak apa-apa?" Tuan Camelyo sambil mengetuk pintu kamar mandi.   Hanya ada jawaban suara flush dari dalam kamar mandi.   "Aku mau pulang aja Yo … gak kuat nih." Lilis terdengar lirih.   "Kita ke Dokter bagaimana?"   "Gak usah, panggil taksi aja aku mau pulang."   "Gak usah aku antar?"   "Gak gak gak … aku pulang sendiri aja Yo …."   Pintu kamar mandi terbuka. Tercium aroma tidak enak yang membuat Tuan Camelyo menutup hidung. Lilis menyandarkan tubuhnya di tembok.   "Air putih, air putih!" titahnya.   Tuan Camelyo menyodorkan segelas air putih. Lilis meneguknya dengan rakus dan menghela napas.   "Sori deh ya weekend ini gak jadi jalan. Aku beneran lemes sayang."   Tuan Camelyo memeluk Lilis.   "It's okey … hati-hati dijalan ya?"   Taksi yang dipanggil Tuan Camelyo pun datang. Lilis bergegas mengambil tasnya.   "Bye-bye honey!"   Tuan Camelyo tersenyum sambil melihat Lilis memegangi perutnya. Mobil taksi pun pergi meninggalkan area rumah Tuan Camelyo.   Huft! Ia harus melakukan apa sekarang? Biasanya ada Archy, sehingga ia bisa menyuruh Archy melakukan sesuatu. Tapi asistennya itu kini tengah berkencan dengan temannya.   Tuan Camelyo bergegas meraih ponsel, melihat kontak Archy kemudian mengetik sebuah pesan.   "Duh, ngapain gue chat dia?" Tuan Camelyo menggaruk kepalanya.   Tuan Camelyo memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku dan berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, tiba-tiba alisnya bertautan.   "Ah iya, Archy belum belanja makan malam! Akan kusuruh ia pulang!"   **   Archy duduk berhadapan dengan Reyhan. Mereka memesan Papper lunch dan menunggu hidangan itu tersaji.   "Dulu kerja dimana Chy?" tanya Reyhan sambil menyeruput teh manis.   "Dulu di Pabrik. Tapi Pabriknya tutup! Maklum ya, lagi pandemi gini … jadi kerja di mana aja deh asal punya uang." Archy menjelaskan.   Reyhan mengangguk-angguk. Baru saja ia hendak bertanya lagi, ponsel Archy berbunyi.   "Dam dam didam … dam dam di daam." Suara J-Hope BTS muncul dari ponsel Archy dengan nada lagu EGO.   Archy tertegun menatap nama yang muncul dari dalam ponselnya tersebut.   "Ih, ada apa Tuan Camelyo nelefon?" Archy mengkerutkan kening.   "Coba angkat, penting kali!" Reyhan mempersilakan.   Archy menempelkan ponsel itu di telinganya.   "Anyeong," sapa Archy.   "Chy, kamu belum belanja buat makan malam loh?! Cepet pulang." Jawab suara dari seberang.   Archy mendengus.   "Aku baru pergi setengah jam masa disuruh pulang Tuan. Untuk bahan makan malam, ada di kulkas. Nanti tinggal memasak."   "Ih, apa saya gak mau Ayam atau daging lagi. Mau yang lain! Pokoknya kamu cepet pulang!"   Archy melirik Reyhan, Reyhan memberi isyarat menanyakan kenapa dengan Tuan Camelyo.   "Disuruh pulang …" bisik Archy.   "Heish, dia ini! Kemarikan ponselmu…" Reyhan mengulurkan tangan, meminta ponsel Archy.   Reyhan menempelkan ponsel itu di telinganya.   "Paan sih lu, gangggu orang kencan aja! Bukannya lu jalan sama si Lilis?!" omel Reyhan.   "Sejak kapan lu pegang hapenya Archy?!" omel Tuan Camelyo dari seberang.   "Sejak sekarang! Udah jangan ribet lu, mau makan apaan sih? Gue beliin entar!"   "Kagak usah. Gue pesen sendiri aja!" sahut Tuan Camelyo.   "Ya udah gak usah rese! Udah yaa, gua mau makan sama Archy. Bye-bye anak pungut!"   "Heh, serahin hape gue sama-"   Tuuut!   Sambungan telefon itu di matikan Reyhan. Lelaki itu kemudian tertawa kecil.   "Nanti kalau si Iyo nelefon gak usah diangkat lagi Chy. Rese dia tuh, manja banget perihal makan doang." Reyhan terkekeh.   "Kemarin aku disuruh ritual pemakaman udang masa?" adu Archy.   Reyhan tertawa terbahak-bahak.   "Emang nyebelin si Iyo tuh! Yang sabar aja ya? Nanti aku ajak jalan terus kamunya biar gak bosen. Yuk, makan!" ajak Reyhan sambil mengaduk nasi.   Archy mengangguk dan mengaduk nasi dan daging itu. Namun, otaknya tiba-tiba terfokus. Tuan Camelyo sedang bersama pacarnya, kenapa menyuruh Archy berbelanja? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu?   Jangan-jangan kompor rumah meledak?!   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN