Jegreg!
Archy membukakan pintu, kemudian menatap siapa yang berkunjung pada pukul sepuluh pagi.
Nampak seorang perempuan seksi berkulit gelap dan bermakeup tebal tengah berdiri. Ia menautkan kedua alisnya.
"Heh, siapa lo?!" tanya perempuan itu ketus.
Archy mengerjapkan matanya.
"Aku? Aku pembantu disini Mbak. Mbaknya cari Tuan?" tanya Archy.
Wanita itu mendengus, pasalnya Archy sangat cantik melebihi dirinya sehingga perempuan itu terlihat sangsi. Terasa sebuah tekanan hangat di punggung Archy.
"Lilis, udah datang?" tanya Tuan Camelyo yang berdiri di belakang tubuh Archy.
Ini orang mepet amat berdirinya! Archy bergegas menghindar ke samping untuk menghindari fitnah dajjal.
"Silakan masuk Nona, saya buatkan minum. Mau minum apa?" tanya Archy ramah.
Wanita bernama Lilis itu menautkan kedua alisnya. Ia masih tak percaya Archy ART kekasihnya yang baru. Kenapa sangat cantik seperti selebgram? Ini bukan pura-pura 'kan?!
"Baby, itu asisten yang baru? Kamu gak bohong 'kan!?" tanya Lilis.
Tuan Camelyo tertawa dan menggeleng.
"Enggak kok! Ayo masuk, aku lagi ngurus bonsai." Tuan Camelyo merangkul Lilis kekasihnya.
Lilis adalah sekertarisnya di kantor, mereka sudah berpacaran selama satu tahun lamanya. Archy mendekati mereka berdua dan membungkukkan badan.
"Nona, mau minum apa?" tanya Archy sambil otaknya terus fokus memikirkan Agus.
"Aku air teh tawar saja! Lagi diet." Lilis mengibaskan tangannya sombong.
Archy berjalan ke arah dapur, meraih pintu lemari tempat menyimpan teh dengan kesedihan karena tidak bisa kencan dengan Agus. Tapi ia yang tidak konsentrasi malah mengambil teh bermerk Herbalax. Biasanya diminum Tuan Camelyo saat susah BAB.
"Duh, pengen ketemu A Agus. Apa susul aja ke minimarket ya?"- ujar Archy dalam hati.
Terasa sia-sia sekali dandanannya pagi itu. Aish! Kenapa harus lembur segala sih?!
Archy menyajikan teh tersebut. Lilis tengah dirangkul mesra oleh Tuan Camelyo sontek menoleh. Mereka berdua menatap Archy lekat-lekat.
"Kamu mau ngeluar Ar?" tanya Tuan Camelyo.
Archy mendengus kemudian menggeleng.
"Iya tadinya Tuan. Tapi … ah sudahlah." Archy mengerucutkan bibirnya.
Pasti Archy tidak jadi jalan dengan Agus! Yes! Entah kenapa Tuan Camelyo senang.
"Ya udah kamu di rumah aja sih. Masak kek, atau nonton kek!" Tuan Camelyo mencoba memberi ide.
Archy menghela napas.
"Akan saya pikirkan Tuan. Ah ya, Tuan mau sekalian dibikinkan minuman?"
"Boleh, bikin yang manis ya?"
Archy mengangguk. Sementara itu Lilis nampak memperhatikan Archy yang cantik itu dari atas sampai bawah. Otak dan hatinya benar-benar khawatir kekasihnya itu jatuh cinta!
"Kamu gak salah ngerjain cewek semuda itu buat jadi ART?! Kenapa gak cari yang tua sih?!" bisik Lilis.
Tuan Camelyo mengangkat alisnya.
"Dia kerjanya bagus kok! Masakannya enak, semuanya rapi juga. Yang tua malah gak gesit." bela Tuan Camelyo.
Lilis tidak tahu harus mengungkapkan apa tentang kekhawatirannya. Ia kemudian mengulurkan tangan, mengusap pipi Tuan Camelyo.
"Baby, kiss me." Pintanya.
Tuan Camelyo menghindar. Entah kenapa ia tidak mau melakukannya, apalagi di hadapan Archy.
"Malu! Nanti ya?" Tuan Camelyo menghindar.
Lilis mendengus. Semuanya tiba-tiba berubah saat pembantu itu ada di rumah! Kenapa sih kekasihnya itu?
Ting Tong!
"Sebentar," Archy yang sedang memotong buah itu bergegas berjalan, tapi Tuan Camelyo menahan langkah Archy.
"Gak usah Chy, aku aja yang buka."
Sebentar-sebentar manggil Ar, sebentar-sebentar manggil Chy. Tidak konsisten! Archy hanya mengangguk dan meneruskan pekerjaannya membuat minuman buah.
Tuan Camelyo membuka pintu. Nampak sosok Reyhan berdiri di luar sambil membawa sebuket bunga. Lelaki itu nyengir lebar saat pintu dibuka.
"Ngapain lu kesini? Make bawa bunga buat gue lagi!" tanya Tuan Camelyo.
Reyhan nampak tampan dengan atasan Fila dan celana putih. Ia tertawa lebar dan memukul lengan Tuan Camelyo.
"Bangsul. Bukan buat elu! Tapi buat gebetan gue."
Tuan Camelyo kesal. Kenapa akhir-akhir ini Archy meresahkan sekali pikirannya sih?
"Archy, ini pacarmu datang!" Tuan Camelyo membukakan pintu.
Archy mengangkat alisnya kemudian mendongak. Ia mengerjapkan mata ketika Reyhan yang sangat tampan itu berdiri, menatapnya terpana sambil memegang sebuket bunga.
"Astaga! Kamu sengaja berdandan untukku? Astaga … cantiknya!" puji Reyhan sambil menghampiri Archy.
Archy tak mengerti. Dia berdandan 'kan untuk Agus! Tapi melihat sorot pandang Reyhan yang tampan itu Archy merasa jantungnya terpompa cepat.
"Hai Lilis! Maaf ganggu pacarannya." Reyhan melewati sofa dimana Lilis duduk.
"Kamu ngapain kesini? Tumben!" tanya Lilis.
Reyhan terkekeh. Ia menyerahkan sebuket bunga pada Archy.
"Mau ketemu kecengan dong! Udah sana pacaran, gak usah perhatiin gue!" Reyhan mengibaskan tangan.
Tuan Camelyo duduk di samping Lilis. Tapi sudut matanya terus mengamati Archy. Ia cemas!
"A Reyhan kok kesini? Mau minum apa A?" tanya Archy.
Reyhan menaruh tangannya di meja kemudian memandangi Archy sambil tersenyum.
"Mau ketemu kamu. Udah bilang sih sama si Iyo. Katanya boleh aku nemuin kamu."
Archy merasa hidungnya mengembang. Tapi, tunggu. Tuan Camelyo tidak berkata apapun ah!
"Tapi, Tuan gak bilang tuh." Archy menatap seksama Reyhan.
Reyhan berdecak lidah.
"Ya sudah gak apa! Sekarang akhir pekan 'kan? Kamu dikasih libur gak sama Iyo?"
Archy melirik Tuan Camelyo yang terus menerus menatapnya penuh ancaman.
Ia menggeleng.
"Tadi Tuan nyuruh aku di rumah sih."
"Oh, bagus! Iyo biasanya jalan ke Mall sama Lilis. Aku nemenin kamu di rumah deh! Kita bisa masak-masak, nonton tivi, bermain tic tac toe …-"
"Minum coklat panas, menyusun puzzle." Tambah Archy.
Reyhan dan Archy berpandangan. Mereka kemudian spontan tertawa terbahak-bahak. Suasana akrab itu membuat Tuan Camelyo sebal.
"Kamu kenapa sih? Jadi 'kan belanjain aku makeup? Udah pada habis nih!" omel Lilis yang sadar bahwa kekasihnya terus menerus memperhatikan Reyhan dan Archy.
"Heh heh, gak ada! Gak boleh! Kalau gua pergi, lu juga pergi!" omel Tuan Camelyo.
Reyhan mengendikan bahu.
"Chy, kan gak boleh di rumah. Mau gak kamu jalan sama aku?"
Archy benar-benar terkejut! Ia yang hanya pembantu itu diajak jalan oleh seorang Dokter muda yang tampan. Apa tidak memalukan?
"Jangan ah, nanti Aa minder loh." Archy menutup mulutnya.
Reyhan menggeleng.
"Archy udah cantik, rambutnya bagus … masa megang alat dapur? Mending megang tangan Aa aja, kasian ini tangannya cantik harus motongin terus makanan buat si Iyo."
"Dih, suka-suka gue dong. dia kerja sama gue!" sahut Tuan Camelyo.
Tuan Camelyo emosi. Entah kenapa! Dan dilihatnya Archy senyum-senyum saja, tanpa penolakan sedikit pun!
Archy yang sudah berdandan itu merasa tidak ingin menyia-nyiakan usahanya. Lagipula, kapan lagi ia jalan bareng dengan pria setampan Reyhan?
"Ya udah Aa, aku mau deh! Aku ganti baju dulu, gimana?" tanya Archy.
"Pake rok aja. Kayaknya lebih cocok sama rambut curly lucu ini. Ditunggu ya!" Reyhan tersenyum.
Archy menyajikan minuman buah pada Tuan Camelyo dan bergegas berganti pakaian. Ia kembali dengan sepatu Converse tinggi berwarna merah dan celana pendek sepaha. Tubuhnya yang terbalut kaus itu memakai kembali jaket jeans besar yang membuatnya terlihat sangat funky.
Apa akan ada yang menyangka Archy seorang ART? Pasti tidak!
"Duh, cantik banget! Yuk, jalan." Reyhan terlihat gembira, "Iyo … aku pergi sama Archy ya? Sampai jumpa. Selamat berakhir pekan."
Grep!
Tangan Archy digenggam Reyhan dengan hangat. Sementara itu, Tuan Camelyo memperhatikan mereka dengan perasaan tidak rela!
Ia tak mengerti. Sebenarnya apa masalahnya? Reyhan adalah pria baik. Archy pun hanya bekerja di rumahnya, Archy bukan siapa-siapanya!
Tapi, kenapa ia … jelous?
"Baby?" panggil Lilis.
Tuan Camelyo menoleh, menatap Lilis yang tengah memegangi perutnya.
"Kenapa?!" tanya Tuan Camelyo kaget.
"I-ini teh apa? Aku… aku ikut ke toilet!" Lilis bergegas berlari ke toilet.
Tuan Camelyo bergegas ke dapur dan memeriksa teh yang barusan dibuat Archy untuk Lilis.
"Herbalax?!" Tuan Camelyo mengerjapkan mata.
Namun, ia menyadari bahwa kesalahan Tuan Camelyo sendiri yang menaruh teh tersebut berdampingan dengan teh biasa. Pasti Archy tidak sadar! Ia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Archy … kamu lucu banget." -Tutur Tuan Camelyo dalam hati.
Tuan Camelyo khawatir, mereka tidak akan melakukan apa-apa di luar sana 'kan? Kenapa kepikiran ya?
**