Bab.7 Kok Ngambek?

1146 Kata
  Archy menatap bola mata Tuan Camelyo yang tengah mengintimidasinya. Ia menelan saliva, karena posisi mereka mirip adegan drama-drama Korea. Huft! Sungguh menegangkan dipandangi oleh seorang lelaki kharismatik seperti Tuan Camelyo!   "Rok mu…." Tuan Camelyo memulai pembicaraannya.   Archy mengerjap-ngerjapkan matanya.   "I-iya rok ku? K-kenapa?!" tanya Archy denganbingung.   Tuan Camelyo mendengus dan menghempaskan rok Archy dengan emosi.   "Rok kamu kependekan! Lain kali kalau keluar, gak usah lah pake-pake rok pendek! Gimana kalau digodain sama abang-abang, gimana kalau kamu di apa-apain?!" omel Tuan Camelyo.   Archy menutup mata, mendengarkan kata-kata itu tenggah menghujam pendengarannya. Ia memang sengaja memakai rok di atas lutut karena tadi celana jeansnya robek saat hendak dipakai.   "Ehhh … anu Tuan, aku 'kan cuma ke mini market sebentar." Archy membela diri.   Tuan Camelyo berdecak lidah.   "Lain kali gak boleh keluar kalau pake baju gitu! Ada-ada aja, banyak kejahatan tahu sekarang?! Gimana kalau kamu dirampok, atau diculik?!"   "Gakkan Tuan, makan saya banyak."   Tuan Camelyo yang kesal karena kalimatnya dibantah sontak menjitak kening Archy.   "Ish! Dikasih tahu malah kayak gitu! Udah ah, saya kesel … mau mandi dulu!" Tuan Camelyo terlihat marah.   Tuan Camelyo mendahului Archy masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Archy hanya tertegun dengan bibir maju lima centi.   "Apaan sih, gara-gara rok Cimol aja marah!" Archy bersungut-sungut.   Akhirnya Archy mengganti pakaiannya dengan celana training dan kaus oblong. Ia memakai celemek dan menyiapkan makan malam di meja sambil menunggu Tuan Camelyo mandi dan ibadah sholat isya.   Tangannya gatal, ia menyetel musik sedikit pelan dari biasanya sambil menunggu daging kecap buatannya panas. Archy meraih centong nasi dan bergaya layaknya seorang rapper Underground.   "Baby, watch your mouth …. It come back around! Once upon a time, we learnt how to fly … Go look at your mirror, same damn clothes … You know how I feel? How many hours do we fly? I keep on dreamin' on the cloud … Yeah, I'm on the mountain … Yeah, I'm on the bay-"   "Everyday we vibin, mic' drop, bam!"   Archy sontak terkejut karena Tuan Camelyo melanjutkan Rap lagu Mic Drop tersebut. Tidak menyangka majikannya itu tahu lagu BTS.   "Tuh dagingnya panas, nanti over cook." Tuan Camelyo menunjuk daging yang sudah mengepul dengan dagunya.   Archy bergegas menyajikan daging tersebut di meja. Tuan Camelyo hendak mengambil piring, tapi Archy menahannya.   "Saya aja, Tuan!"   Archy tidak mau mengambil resiko piring itu pecah, jadi ia bergegas mengisi piring putih itu dengan secentong nasi. Tuan Camelyo melirik Archy yang langsung sibuk mengupas apel setelah menyajikan makanan.   "Gak makan?" tanya Tuan Camelyo.   "Enggak ah, kenyang Tuan." Jawab Archy sambil menata apel kupas.   "Kenyang abis ngapain?" tanya Tuan Camelyo lagi.   Archy menoleh kemudian menyeringai.   "Kalau kenyang ya habis makan atuh Tuan, masa abis garuk-garuk kenyang?" Archy berderai tawa.   Tuan Camelyo sudah menduga sejaj awal bila Archy habis kencan dengan petugas Mini Market tersebut. Ia berdecak lidah karena kesal. Dan entah apa yang membuat Tuan Camelyo sangat kesal mendengarnya.   "Besok akhir pekan, biasanya pacarku datang." Tuan Camelyo membuka pembicaraan.   Archy menatap seksama Tuan Camelyo.   "Saya mesti masak apa Tuan?" tanya Archy.   "Gak usah masak. Nanti kita biasanya jalan ke Mall."   Archy menyeringai, asyik … berarti ia juga bisa jalan-jalan dengan Agus dong?   "Oki doki yo Tuan!" Archy hendak mengacungkan jempol, namun, pisau yang dipegangnya terpeleset dan mengiris jempol Archy. "Aaaw!"   Tuan Camelyo tertegun melihat darah yang menetes dari jemari Archy. Ia bergegas mengambil tissue dan menekan jempol Archy yang berdarah.   "Gak apa-apa Tuan, saya bisa sendiri kok!" Archy menolak Tuan Camelyo yang hendak membantu.   "Ini dalem loh lukanya, masa gak boleh saya bantu?"   "Udah biasa luka Tuan. Beneran gak apa-apa!"   Namun, Tuan Camelyo tidak mengindahkan. Ia membenamkan mulutnya di jempol Archy yang terluka. Mulutnya sibuk mengisap darah yang keluar dan menekannya dengan lidah kuat-kuat.   Kedua bola mata Archy terbelalak. Jantungnya tiba-tiba sontak terpompa dengan cepat! Tuan Camelyo melepaskan mulutnya dan mengambil kotak P3K.   "Lagian kalau lagi pegang pisau jangan ngobrol, luka 'kan?"   Archy menautkan kedua alisnya dengan bingung. Lah yang ngajak ngobrol 'kan dia?   "M-makasih Tuan."   Archy memandang plester bergambar spiderman itu dengan mulut terkatup.   Bagaimana bisa tadi jempolnya secara tidak sopan memasuki mulut Tuannya? Hah? Archy bisa gila!   **   Pagi itu memasuki akhir pekan, Archy sudah bangun sejak subuh dan beres-beres rumah. Ia berniat pergi berkencan dengan Agus jika Tuan Camelyo pergi bersama pacarnya.   Karena itu, sejak semalam ia sudah mengikat ujung rambut panjangnya dengan kaus kaki seperti tutorial di Tik Tok agar curly tanpa rusak akibat catokan.   Ia kemudian berdandan dan memakai BB cushion lokal, membingkai alis, memakai kontak lens coklat, menyapu kelopak matanya dengan shadow peach dan menambahkan eyeliner. Bulu matanya dijepit agar lentik dan ditambahkan dengan mascara. Bibir lucunya itu dibubuhkan lip cream berwarna nude, dan ditengah-tengahnya memakai warna gelap agar menjadi ombre lips.   "Cantik banget gue! Pasti Agus bangga jalan sama gue!" Archy mematut dirinya di cermin.   Tak lupa pipi dan hidungnya dibubuhi blush on peach, ditambahi shimmer di ujung hidung, atas bibir dan juga kedua sisi pipi.   "Oke, make up kencan sama Agus udah siap!" Archy membentuk tanda ceklis dengan jempol dan telunjuknya.   Ia meraih celana kulot, kaus dan jaket jeans. Kemudian meraih ponsel.   To: A Agus kasep   Aa, jadi gak siang ini pergi?   Archy menunggu jawaban, tak lama kemudian pesannya dibalas.   From : A Agus kasep   Neng, maafin. Aanya lembur sampe malam. Gimana ya? Kayaknya gak bisa hari ini. Neng jangan marah ya? Nanti istirahat Aa bawain makanan deh.   Archy duduk di tepi ranjang dengan perasaan kecewa. Ia menghela napas sedih karena dandanannya sudah sangat maksimal. Kenapa tidak mengabari sejak malam? Archy tidak perlu susah payah berdandan!   Ia membuka pintu kamar, hendak menyapu untuk melampiaskan rasa kesalnya. Terlihat Tuan Camelyo tengah menyemproti tanaman bonsai sambil senyum-senyum sendiri.   "Lia sayang, kamu kok murung?"   Archy menaikan satu alisnya. Jangan-jangan pacar Tuan Camelyo sudah datang?   "Kamu harus sehat ya, aku akan menjagamu selalu wahai Lia."   Archy mencari sosok manusia lain. Tapi tidak ada! Tuan Camelyo bicara pada siapa?   Jangan-jangan, Lia itu … Lia eden!   "Tuan ngapain?!" Archy menghampiri Tuan Camelyo, berusaha mencegah majikannya itu supaya tidak ikut ajaran sesat.   Tuan Camelyo menoleh. Ia memakai kaus oblong dan juga celana pendek, tangannya tengah memegang daun dan juga semprotan.   Lah, Archy lupa Lia itu nama tanaman Bonsai!   "Kamu mau kemana?" tanya Tuan Camelyo terkejut.   Tuan Camelyo terkesima melihat dandanan Archy yang tidak biasanya. Ia sangat cantik! Bahkan, Archy rasanya memiliki wajah yang berkelas. Tidak cocok sama sekali jika ia menyebutkan profesi sebagai asisten.   "Gak jadi kemana-mana Tuan, ya sudah saya mau nyapu!"   Archy meraih tongkat sapu sambil meringis menahan kesal. Ia ingin sekali kencan dengan Agus, tapi prepare nya sejak semalam terasa sia-sia! Ingin marah melampiaskan tapi sama siapa?   Tuan Camelyo memperhatikan Archy yang sedang sedih itu. Entah kenapa sudut hatinya membuncah. Entah karena Archy yang sangat cantik dengan rambut curly nya. Atau karena Archy yang terlihat lucu karena sedang marah-marah dengan cara menyapu.   Tingtong!   "Archy, bukain pintu!" titah Tuan Camelyo.   Archy menaruh gagang sapu. Ia kemudian berjalan ke arah pintu depan.   Kira-kira siapa yang datang ya?   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN