Bersapa

1336 Kata
Tak terasa sudah selesai akhir semester dimana ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan. Ily dengan semangat bangun dari tidurnya, ia bangun mandi untuk mempersiapkan sekolah. Ily bertekad akan mengikuti akselerasi agar bisa satu angkatan dengan sang kakak. Saya bahkan harus mengikuti beberapa tes untuk ujian selanjutnya. Aku melakukan ini karena ia tidak bisa memisahkan dengan kakaknya. Maka dari itu, mereka akan melanjutkan sekolah bersama. . . Setelah selesai menggunakan seragamnya, Ily segera turun untuk pergi ke ruang makan. "Pagi semuaaaa." "Pagi juga." Ily pun menghampiri mereka satu persatu untuk kecup sebagai salam darinya. Seperti biasa ia akan duduk di antara Sean dan Seano. "Mom, dad, kalo buat ujian nanti, Ily ikut akselerasi boleh?" "Kamu serius? ya boleh dong ... mommy akan selalu dukung anak mommy yang paling cantik ini." "Thank you mom, kalo menurut daddy, gimana?" "Daddy juga pasti akan mendukung Ily." "Yeay! thank you daddy" Ily melirik ke arah Sean dan Seano dengan wajah berharap agar mendapatkan dukungan dari keduanya juga, dengan anggukan dan senyum manis dari kedua kakak nya sebagai bentuk dukungan nya juga. "Thank you so much twins." "Iya sayang." "You're welcome baby." Mereka dengan cepat menghabiskan sarapan, kemudian setelah mereka selesai, ketiganya segera berangkat ke sekolah. Saat ini, jadwal Seano lah yang pergi bersama Ily menggunakan mobil sportnya. . . Setelah berpamitan, akhirnya mereka bertiga pergi ke sekolah. Banyak perbincangan yang dilakukan oleh Seano dan juga Ily. Sampai waktu tak terasa seperti mereka sudah sampai di sekolah. "Ayo kita turun." Ajak Seano seraya Buka sabuk pengamannya. "Yuk." Seano dan Ily turun bersamaan, jangan lupakan dengan rangkulan tangan Seano yang sekarang telah bertengger di pinggangnya saat sudah bersama Ily. "Seano!" Seseorang memanggil seano dari Arah belakang. "Ya?" "Pulang sekolah kita disuruh kumpul sama pembina OSIS buat acara Bazar dan lomba lainnya." "Oke." Kean terus menatap Ily, seolah mengerti, Seano memperkenalkan Ily padanya. "Ke, ini Willy lo udah tau kan?" "Hallo kak Kean." Sapa Willy dengan riang serta senyum manisnya. "Hai Willy, gue udah tau kok." "Terus ngapain lo terus natap dia kayak gitu?" Tekan Seano yang mulai mengubah sifat posesif nya pada Ily. "Ohh- ah— gak kok, yaudah, gue ke kelas dulu." "Iya." "Sampai jumpa lagi kak Kean." Ily melambaikan tangannya pada Kean dengan senyum yang terpatri di bibir manisnya. . . "Bang, abang liat bando Ily gak? yang warna pink itu loh ... yang ada telinga kucingnya." Seano memandang Ily dengan halis bertaut tanda ia sedang berfikir. "Emang adek punya ya?" "Ihh .. itu kan dari abang." "Oh iya? Masa sih? Tunggu, abang ingat-ingat dulu." Mereka terus berjalan melewati koridor tanpa menghiraukan semua siswa-siswi yang sedari tadi menatap mereka dengan penuh rasa ingin tau. "Ah! abang tau, kalau gak salah, yang itu rusak sama abang— hehehe" ringis nya di akhir membuat Ily membulatkan matanya tak percaya. "Yahhh ... kok bisa bang?" Desahnya dengan lesu karena barang yang ia suka telah rusak. "Waktu itu kamu pernah ninggalin bando nya di kursi, terus kedudukin deh, maaf ya sayang ... nanti kita beli lagi okey?" "Hm .. okeyyy." Akhirnya mereka pun sampai di kelas Ily. "Abang mau ke kelas ya, tapi pulangnya gak bisa bareng sama abang, gimana kalo sama Kakak?" "Emm yaudah, nanti Ily sama Kakak aja." Seano mengecup kedua mata Ily kemudian pergi menuju kelasnya. Sebenarnya banyak yang melihat adegan itu, hal yang membuat mereka iri dan juga baper sendiri, namun Ily dan Seano tidak menghiraukan itu semua, toh mereka sudah biasa. Setelah Ily memulai kelas, tak lama kemudia bel pun berbunyi. Ia belajar dengan serius, dan selalu memperhatikan guru yang sedang mengajar. Teeettt Bel peralihan pelajaran sudah berbunyi, namun guru yang mengajar tidak hadir ke kelas yang akhirnya memberi mereka beberapa tugas. Banyak siswa-siswi yang mengerjakan di kelas, sebagian ada yang mengerjakan di perpustakaan, adapula yang membawa tugas nya kemudian pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Ily dan kedua sahabatnya pergi ke perpustakaan hingga, Bruukkk "Qwe... kamu gapapa?" "Aku, gak kuat Ly-" Qwe pingsan membuat Ily dan Sasya panik, namun Ia melihat seseorang yang sedang berjalan santai. "Kak Kean, tolongin Ily." "Kenapa Ily?" "Teman Ily ada yang pingsan di sana. Ayo cepetan bantu Ily." "Iya ayo." Setelah sampai dimana Qwe pingsan, Kean segera menggotong Qwe ke UKS, Ily dan Sasya mengambil dari belakang dengan perasaan khawatir. "Terima kasih kak Kean udah mau bantu Ily." "Sama-sama Ily, kirain Ily yang kenapa-napa." Ily hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dengan lucu. "Kenapa kalian di luar?" Lanjut Kean bertanya. "Kita mau Ke Perpus kak, tapi Qwe tiba-tiba jatuh dan ngeluh kalo kepalanya pusing, terus dia pingsan deh." "Yaudah kalo gitu Ily jadi gak ke perpus nya? Ayo bareng sama kakak." "Ayo." Willy pun menatap temannya kemudian berpamitan. "Sasya, Ily mau ke perpus dulu ambil buku yang butuhin, nanti Ily kembali kesini ya." " Iya Ily, hati-hati ya." Mereka akhirnya pergi ke perpustakaan, membawa beberapa buku, kemudian Kean pun mengantarkan Ily kembali ke UKS. "Terima kasih kak Kean." "Iya, sama-sama Ily, kakak senang bantu Ily." Setelah Ily masuk ke UKS "Yes !! yes !! yes !!" Teriak Kean tanpa sadar . Tidak sadar ia sadar ada seseorang yang memperhatikannya. Saatnya. Inilah saatnya. Saya akan mengikuti ujian terpisah, tempat terpisah dan juga soal yang berbeda, beradaptasi siswa yang terlihat tampan dan tinggi, jadi mereka berdua yang akan mengikuti ujian Akselerasi. Dengan tugas tambahan serta materi yang disatukan, akhirnya mereka melakukan ujian dengan tenang, tanpa ada rasa tegang dari keduanya. Ily yang melihat kertasnya sudah terisi penuh, akhirnya diserahkan pada sang guru, tak lama setelahnya para siswa ini juga memberikan lembar tanya. "Hai Willy." "Haii... maaf, nama kamu siapa? Kok kenal Ily?" "Siapa sih di sekolah ini yang gak tau sama kamu." "Oh iya ??" "Iya, perkenalkan, namaku Sandy Ivander, kamu boleh memanggilku San atau andy seperti yang lainnya." "Eumm ... kalo Ily panggil Ivan? Boleh?" Ily menatap Sandy dengan puppy eyes nya. "Boleh dong." "Yyeeaayy makasih Ivan." "Sama-sama." Saat di pertengahan jalan, ada seseorang yang melewati Ivan, "San, di panggil bu Rukyani, kamu di suruh ke perpustakaan." "Oke makasih." "Willy maaf ya, aku gak jadi ke kantin." "Iya Ivan, gapapa, bye." "Bye Willy." Padahal itu adalah tugas seseorang agar Willy tak jalan bersamanya. Akhirnya Ily berjalan sambil menunggu kantin, saat dilihatnya sekitar kantin begitu penuh, tak ada tempat yang kosong. "Baby!" Teriak seseorang dari Arah pojokan kantin. "Princeeee..." teriak Ily sambil berlari namun tanpa curiga. Brugghh "Ahh ..." mata Ily pun langsung berkaca-kaca saat merasakan sakit pada bagian tubuhnya. "Eh..eh .. maafkan aku, gu .. gu- gue gak sengaja." "Hikss..hikss .. sakit" Ily menangis karena merasa senang sakit dan susah di gerakkan. Ily lumpuh ?? Ily akan di amputasi ?? "Hikss hikss hhuuaaahh daddy, mommy, prince ..." Ily merentangkan tangannya pada Sean yang sekarang ada di hadapan nya, dengan segera Sean mengangkat Ily dan digendong seperti koala. "Kakak, kaki Ily sakit, Ily takut, apa akan lumpuh ?? Atau kak diamputasi ?? Huaahhh Ily gak mau kakak!!!" tangis Ily makin menjadi, namun dengan sabar Sean mengelus kepala Ily. "sshhhh .. sudah, kakiknya gak akan di amputasi atau lumpuh kok, kakak sihir mau?" "Aku mengangguk setuju dengan air mata yang masih ada di pipinya yang mengembung dan mengerucut. Dengan segera Sean mengubah posisinya, Sean membelakangi Ily dan tangan Ily kini telah memeluk tubuh Sean. Ily berhasil mengatasi di punggung Sean. Sean memijat sedikit kaki Ily yang sedikit memerah karena terkilir. Pttaakkk "Aaaahhhhkkkkk kakaaaak! " Jerit Ily di punggung Sean, Sean membuka pelukan Ily dan segera membuka membantu Ily. "Coba Ily berdiri." Ily berdiri dengan bantuan Sean dengan takut. Namun beberapa detik kemudian— "kakak, Ily sembuh, walau masih ada sedikit yang sakitnya. Tapi ini lebih baik, terima kasih." Willy pun mengecup pipi Sean membuat para warga sekolah yang melihat pemandangan dari awal sampai akhir hanya bisa menjerit-jerit dan garukin meja. Ada pula yang tidak sadar menggigit sendok nya karena ikut baper dan iri. Menjerit hanya bisa dilakukan dalam hati karena sekarang mereka kerumuni adalah raja anak nakal nya AIS. Tak terasa Bel pun berbunyi kembali, namun dengan perut yang sudah terisi. Akhirnya Willy kembali ke kelas ujiannya bersama Sandy Ivander. Sekarang ujiannya MATEMATIKA dan FISIKA, waktu yang diberikan hanya 2 jam untuk dua mata pelajaran tersebut, INGAT ?? Ini kelas akselerasi, jika ingin lulus harus bisa CEPAT dan TEPAT.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN