Dela menatap bangku kosong di depannya. Afta ga masuk hari ini. Entah apa alasannya, kalau dia sakit, kemarin dia masih baik-baik saja. Malah mengantar Dela pulang. Tapi kenapa sekarang malah ga masuk. Dari awal bel masuk, rasa penasaran Dela berkecamuk di pikirannya. Sampai bel istirahat pertama berbunyi.
"Dela, kamu ikut ibu ke kantor ya.", ucap bu Risma. "Yang lain boleh istirahat."
"Baik bu.", Dela berjalan di belakang ibu Risma menuju kantor guru.
"Ada apa bu?", tanya Dela saat sudah di ruang guru.
"Ibu mau tanya, saat pertandingan basket kemarin, ada perkelahian kemarin?"
"Tidak ada bu. Semua berjalan lancar."
"Tidak ada yang aneh dalam pertandingan?", tanya ibu Risma.
"Tidak ada bu. Ada apa ya bu?", Dela mulai merasa ada yang salah.
"Afta hari ini izin karena dia masuk rumah sakit."
"Afta kenapa bu?", entah kenapa ada rasa takut di hati Dela.
"Dia dikeroyok anak Cerdas Bangsa. Itu pengakuan Afta. Ibu belum bertemu dia. Mamanya menelepon tadi pagi. Benar tidak ada yang salah pertandingan terakhir kemarin Del?", tanya ibu Risma kembali.
Dela mengingat dan menduga apa mungkin kejadian saat pulang. "Saya ragu sih bu. Cuma saat pulang, ada salah satu dari mereka yang menawarkan saya pulang bersama dia. Tapi saya tolak dengan halus. Tapi mereka sedikit memaksa, dan saat itu Afta datang menawarkan untuk mengantar saya. Karena saya takut, saya lebih memilih ikut Afta bu. Tapi masa karena itu bu?.", jelas Dela.
"Bisa jadi karena itu. Ibu coba nanti akan hubungi guru di sekolah tersebut. Sementara jangan cerita dulu ya Del. Sampai kita tahu duduk persoalannya."
"Baik bu."
" Kalau begitu kamu boleh istirahat."
"Saya permisi kembali ke kelas bu.", Dela baru mau melangkah pergi.
"Del, kalau bisa ajak yang lain jengguk Afta. Bagaimanapun dia teman baru kalian."
"Pasti bu."
Dela meninggalkan ruang guru dengan perasaan bersalah. Dia harus ke rumah sakit sore ini. Untuk memastikan keadaan Afta.
"Del, Afta kenapa ga masuk ya?"
"Katanya sakit yo. Jengguk yuk."
"Gue udah janji sama Evelyn. Lu kan tahu gue baru jadian. Yang entar dia ngambek."
"Yah, gue ajak Rina aja coba. Tuh anak mana ya?"
"Ke kantin kayaknya deh "
"Yauda ke kantin yuk. Traktir gue napa, kan lu baru jadian.", Dela menyeret Dio untuk ikut dengannya.
***
Karena Dio yang ga bisa ikutan, karena sudah keburu ada janji sama pacar barunya. Dela mengajar Rina, tapi Rina juga ga bisa karena harus nemenin mamanya pergi. Alhasil Dela pergi ke rumah sakit sendiri diantar pak Slamet.
"Tinggal aja pak. Nanti kalau Dela mau pulang, Dela telepon ya."
"Baik non."
Dela memasuki rumah sakit, dan menanyakan ruang rawat Afta. Sampailah dia di depan kamar Afta, dia mengambil kelas VIP. Dela mengetuk pintu dan masuk.
Terlihat wanita paruh baya sedang membereskan beberapa barang ke dalam tas. Afta terbaring di kasur rumah sakit dan dia tertidur.
"Maaf tante. Saya Dela teman Afta."
"Oh iya masuk. Afta baru saja tidur. makanya tante mau pulang sebentar ambil perlengkapan Afta lagi. Juga tante mau mandi dulu."
"Oh kalau gitu, Dela bantu jagain tante sambil nunggu tante balik kesini."
"Benar gapapa?"
"Gapapa kok tante. Afta kan teman Dela. Lagian dia juga lagi tidur."
"Kalau gitu tante titip sebentar ya."
Lalu mama Afta berlalu pergi. Dela melihat muka Afta penuh dengan luka lebam. Belum tangan dan kaki yg terbalut perban. Seberapa parah dia dikeroyok anak-anak itu. Dela menarik napas melihat Afta terbaring disana. Padahal dia begitu terkesima saat Afta bermain basket kemarin. Entah mengapa Dela melihat senyum Afta yang tulus saat memasukkan bola ke dalam ring.
Entah hampir satu jam mama Afta pergi, Afta juga belum bangun, akhirnya Dela malah mengantuk. Dia akhirnya tertidur disamping kasur Afta dan menggenggam tangan Afta.
Saat itu Afta terbangun, melihat gadis yang menarik perhatiannya ada di sebelahnya tertidur bagai anak kecil. Senyum terlihat di bibir Afta.
"Bagaimana bisa cewek secantik ini belum pernah pacaran.", gumam Afta. Entah mengapa Afta malah mengambil handphone dan mengambil gambar Dela yang tertidur.
Saat itu mama Afta kembali ke rumah sakit. "Kamu udah bangun Af?", tanya Mamanya saat melihat Afta yang terduduk menatap Dela.
Dela yang kaget mendengar suara mama Afta terbangun dan melihat Afta yang tersenyum padanya.
"Oh iya maaf ya, tante lama jadinya. Nama kamu siapa tadi?"
Dela dengan sigap merapikan rambutnya dan bajunya. "Dela, tante."
Tiba-tiba suster datang ke kamar, "Ibu maaf dokter mau bertemu, bisa ke ruang dokter sebentar."
"Oh iya sus. Saya kesana.", kembali tinggal Afta dan Dela di kamar itu.
"Makasih Del.", Kata Afta yang berbarengan dengan Dela. "Sorry Af."
"Kenapa sorry Del?"
"Kayanya gara-gara gue deh, lu digebukin sama anak-anak gila itu.", ucap Dela dengan nada kesel.
"Kaga kok. Mungkin awalnya iya. Tapi mungkin karena gue juga yang nyolot.", tawa Afta membuat Dela sedikit lega.
"Cepet sembuh Af. Fans lu banyak yang nyariin tuh di sekolah."
"Kalau lu nyariin gue ga?", tanya Afta dengan senyum jailnya.
"Kalau ga nyariin lu, ngapain gue sampe jenguk lu segala. Udah si Dio sama Rina kaga bisa ikut nemenin lagi. Cuma gue penasaran, takut lu parah banget digebukin mereka."
"Masa lu nyepelein gue. Mau digebukin, gue kan Afta, kecil itu mah.", katanya sambil mengangkat tangannya dan berakhir dengan ringgisan di muka Afta.
"Makan tuh kecil. sakit kan?", ucap Dela.
"Tapi gue bingung, kan lu anter gue, trus lu bilang rumah lu deket sama rumah gue, dimana lu digebukin?"
"Abis anter lu ke rumah, Baru belok di gang rumah lu, gue udah dihadang. Mereka emang udah nunggu gue. Gue awalnya cuek, cuma yah namanya satu lawan banyak, gue dihadang. Bak bik buk gue kalah lah.", Afta tertawa.
"Masih bisa ketawa dia."
"Masa iya, gue nangis- nangis. gengsi dong gue."
"Cepet sembuh, banyakin istirahat deh. Kasihan juga nyokap lu tuh. Apa perlu gue yang gantiin? Gue ngerasa bersalah banget."
"Yang ada ntar lu sama gue diseret ke KUA."
"Apa urusannya sama KUA?"
"Yah mana boleh cewe sama cowo satu kamar, kalau mereka belum nikah."
"Ini rumah sakit keles. Masa iya orang mikir sampe kesana Af."
"Yah sapa tahu lu ga perlu pacaran lagi, langsung nikah aja gitu."
"Emang gue mau gitu, Af."
"Hah, serius lu?!"
"Aduh sorry ya Dela, kamu jadi nunggu kelamaan."
"Ga apa- apa tante. Dela memang mau jengguk Afta kan."
"Jadi kalian sekelas?", tanya mama Afta saat duduk di sofa dekat ranjang Afta.
"Iyah tante. Afta malah duduk depan saya."
"Bantu dia ya Del. Biar betah di Jakarta."
"Pasti tante."
Akhirnya Dela harus pulang, karena waktu besuk sudah berakhir. Dela dan Afta sempat bertukar nomor, supaya Dela bisa mengabari tentang sekolah.
***