Afta mengenggam jemari Dela, mereka berjalan di pantai memandang senja yang indah. Mentari yang mulai memasuki peristirahatannya.
Dela sesekali memungut kerang yang indah di pesisir.
"Dulu kita jadian disini ya yang?"
"Kok tahu?"
"Dio cerita."
"Oh."
"Aku nembak kamu gimana yang?"
"Pake pistol trus dor dor dorrr.", ucap Dela santai yang menatap ke pasir mencari kerang yang indah di pesisir tersebut.
"Afta malah merangkul pinggang Dela. "Trus yang mati aku ya?", Afta meletakkan dagunya di atas bahu Dela.
"Yang mati aku. Orang yang ditembak aku."
"Kan yang nembak hati aku itu kamu."
"Gombal"
Mereka terdiam menatap mentari yang terbenam. Afta masih memeluk Dela dari belakang.
"Yang, jujur kemarin aku takut. Aku takut yang kamu ingat cuma Chelsea. Semua kenangan aku udah terhapus dari memory kamu."
"Aku udah pernah bilang, memory aku terhapus, tapi hati ini masih memilih kamu yang."
Afta mengecup pipi Dela. membenamkan wajahnya pada leher Dela, menghirup aroma khas mawar dari tubuh kekasihnya itu.
"Aku mencintaimu Dela Putri Kusuma.", bisik Afta lembut.
Afta membalikkan badan Dela. "Kok diem?"
Dela memandang wajah yang begitu dia cintai. Dia memandang mata yang dia rindukan. Dela hanya memeluk Afta. "Terimakasih karena tetap mencintai aku."
"Mungkin benar kata Dio, ribuan kali pun aku lupa sama kamu, aku akan tetap kembali mencintai kamu yang. Kayaknya aku dipelet kamu deh.", Afta mengecup kening Dela.
"Kamu yang pelet aku, wong yang pernah sakit hati kan aku. Tapi kenapa aku ga bisa ninggalin kamu, ga bisa hapus semua kenangan kita, malah semua kenangan aku yang kehapus.", Dela terlihat sedikit merenung. Afta menarik kembali kekasihnya masuk ke pelukannya.
"Janji ya. Jangan pernah ninggalin aku ya.", Dela mengangguk. "Aku cuma tahu, kalau ingatan aku tentang kamu hilang, berarti kamu cukup berharga di hati aku. Makanya Tuhan mau aku cari arti kamu lagi di hati aku. Tapi entah kenapa lihat kamu sedih, lihat kamu marah, lihat kamu nangis itu sesak di d**a aku. Maka itu, aku ga mau lepas kamu, mau aku ga inget kenangan kita. Tapi aku ga mau lepas kamu pergi dari hidup aku. Karena aku ga mau nanti aku menyesal satu hari nanti."
Dela masih membenamkan wajahnya di d**a Afta.
"Udah woiiii!! mesra- mesraan mulu!", Dio datang menghampiri kedua sahabatnya itu. "Nih hadiah buat lu berdua."
Foto yang hampir sama dengan foto yang dulu Dio ambil.
"Kayanya foto lu berdua ga jauh dari pantai.", tiga kali gue fotoin background pantai semua.
"Aduh aku mau ke wc dulu yang!", tiba tiba Afta langsung lari meninggalkan mereka.
"Ada yah orang abis makan trus buang mulu.", ucap Dio melihat sahabatnya yang udah lari meninggalkan mereka.
"Yah itu ada.", ucap Dela sambil terkekeh.
"Del, lu beruntung dapat Afta.", ucap Rina. "Meski lupa, hati dia tetap buat lu."
"Iyah Del, gue cuma bisa bilang, dia sayang sama lu. Ga perlu pikirin masalah dia kupa ingatan apa ga. Seperti gue bilang, dia mau ribuan kali lupa juga, cinta dia ke lu tuh tulus. Kayak Tuhan udah jodohin lu berdua buat sama- sama.", ucap Dio.
"Thankyou ya lu berdua selalu nemenin gue. Gue bersyukur disaat gue terpuruk, setidaknya ada kalian di samping gue."
"Dela! Dio!", tiba- tiba ada seorang pria menghampiri mereka.
"Ryan kan?"
"Gila udah lama banget!"
"Apa kabar Yan?"
"Baik Del. Lu berdua masih nempel aja. Padahal kan lu pernah ditolak Dela Yo!", terdengar gelak tawa dari Ryan.
"Yaelah, penolakan gue ga perlu dibahas juga kali. Ohya kenalin ini istri gue Yan."
"Rina,"
"Ryan,"
"Jadi Ryan ini temen aku sama Dela waktu SD SMP yang.", terang Dio.
"Trus lu udah married Del?"
"Belum Yan. Lu?"
"Gue udah. Cuma ga bawa istri anak gue. Ini lagi urusan kantor aja disini. Kok lu belum ada pendamping Del?"
"Udah punya dia. Cuma tunggu waktu aja buat dihalalin.", timpal Dio.
"Oh ga diajak kesini? Kenalin dong. Mana sih cowok yang bisa luluhin hati seorang Dela. Si cewek hati besi.", goda Ryan.
"Dia lagi ke kamar mandi bentar.", Dela menatap ke arah Afta pergi dan melihat Afta di kejauhan memegang kepalanya dan ambruk.
"AFTA!!!", Dela dan yang lain langsung menghampiri Afta.
Dio yang dibantu Ryan membawa Afta ke cottage.
"Perlu bawa ke rumah sakit ga Yo?", Dela terlihat panik.
"Kita lihat dia siuman dl Del."
Afta terlihat bergerak. "Yang kamu baik- baik aja?"
Afta menatapnya dalam diam.
"Kok diam aja? Jawab yang. Mana yang sakit?"
Afta memegang kepalanya, namun dia masih diam. Tatapan kosong di matanya.
"Af, lu bikin gue takut kalau kayak gini. Jangan bilang lu lupa lagi?"
Dela hanya terdiam melihat sikap aneh Afta, dia memandang mata Afta namun tatapan itu kosong.
"Jadi aku kehilangan kamu lagi?", ucap Dela menarik nafas panjang. "Kita pulang sekarang Yo ", setetes bulir menetes di ujung mata Dela. "Gue beresin semua dulu. Barang Afta gue beresin juga.", namun langkah Dela terhenti saat tangan Afta menariknya masuk dalam pelukannya.
"Aku ga suka lihat mata kamu seperti itu.", ucap Afta. "Aku mau menatap sebentar gadis yang menatap aku cuek saat aku baru masuk kelas dulu. Gadis yang hanya tersenyum saat aku mengajak dia pulang bersama aku. Gadis yang bisa tertawa lepas saat bermain basket dengan aku. Gadis yang cemburu dan pergi ningalin aku, bahkan gadis yang sudah aku lamar untuk jadi pendamping hidup aku."
"Kamu ingat?", Afta tersenyum. Tapi Dela malah menangis sesegukan.
"Udah dong yang. Aku kangen kamu nih. Masa nangis mulu."
"Kamu bikin aku takut tahu ga! Sebel ih!"
"Tapi kepala aku masih sakit.", Afta memegang kepalanya dan sedikit mengeryitkan kening.
"Kok bisa tiba- tiba inget Af?"
"Tadi gue lihat kalian ngobrol sama cowok. Itu buat gue inget dulu pernah liat Dela ngobrol sama cowok juga. Itu buat gue tergiang dan akhirnya blank. Pas bangun, gue sadar gue hanya melihat Dela yang panik."
"Lu gatau hidup dia porak poranda kalau liat lu aneh dikit aja. Tatapan lu aneh, langsung galau. Sikap lu aneh langsung nangis.", Dio dan Rina beranjak dari tempatnya untuk memberi ruang buat dua sahabatnya kangen- kangenan.
"Jadi pulang Del?"
"Kagak!", ucap Dela dan Afta berbarengan. Dio dan Rina hanya geleng- geleng kepala melihat kedua sahabatnya yang kompak.
***