Bab 19

1417 Kata
"Af, lu belum punya bayangan sama sekali soal Dela?", tanya Dio saat di mobil dalam perjalanan mereka ke Anyer. "Belum.", Afta dan Dio duduk di bangku depan. Sedangankan Dela dan Rina duduk di bangku tengah sedang terlelap karena mereka berangkat subuh dan perjalanan yang macet. "Gue minta jangan kecewain dia Af." "Iyah sob." "Dia sahabat gue dari kecil, gue hanya pernah lihat dia terpuruk dua kali. Dan lu mau tahu, itu karena kehilangan diri lu. Pertama, saat melihat lu dekat dengan Chelsea. Kedua saat lu kecelakaan kemarin, dia takut Af. Gue tahu dia kuat tapi gue ga mau lihat dia hancur Af. Gue mohon jangan buat dia sakit lagi Af." "Iyah sob. Gue ga mau banyak janji. Cuma jujur saat gue bangun dan lihat mata kecewa dia saat tahu gue lupa hal tentang dia. Itu kayak buat gue sakit. Gue udah denger cerita dari nyokap. Kalau dulu gue bisa mencintai dia begitu dalam, gue juga yakin gue akan dibuat jatuh cinta lagi sama dia." "Thankyou bro. Gue tadinya berharap bisa lihat lu berdua nikah tahun ini." "Kenapa ga?" "Yakin lu?" "Gue cuma yakin kalau Tuhan bisa buat gue suka sama dia lagi, berarti Tuhan juga udah rancang yang terbaik." "Gue sih berharap lu bisa inget ya. Tempat ini pertama kali lu berdua jadian. Tempat dimana lu nembak dia buat jadi pacar dia. Semoga ada setitik harapan untuk lu kembali inget." "Dela bilang ini tempat perpisahan SMA." "Dia ga mau bebanin lu kayaknya Af. Gue gatau kenapa dia bisa sayang banget sama lu." "Yo, lu ga pernah jatuh cinta sama Dela?", pertanyaan Afta buat Dio tertawa sejenak. "Dulu lu juga pernah nanya ini ke gue Af. Gue pernah dan gue ditolak." "Seriusan lu?" "Serius. Dia cuma bilang, gue sama dia akan tetap jadi sahabat. Dia ga mau kehilangan gue sebagai sahabat dia." "Awalnya sakit hati gue, gila gue ditolak. Dia setelah nolak gue tetap kayak biasa. Ga ada yang berubah. Gue yang sakit hati yah menjauh. Tapi setelah beberapa bulan, gue sadar, dia emang ga bakal bisa jadi cewek gue. Karena gue ga bakal rela kalau cewek gue terlalu baik." "Kalau gue ga bakal mau lepasin dia.", ucap Afta pelan namun terdengar oleh Dio. "Gue seneng dengernya. Gue hanya bisa bantu sebisa gue. Tapi semua tergantung kehendak Tuhan, dan tentu aja dengan keinginan lu bro." "Thankyou ya sob." "Lu juga banyak berjasa buat gue dan Rina kok Af." *** Dela menatap pantai yang indah yang pernah dia datangi beberapa tahun yang lalu. "Gila udah lama ga kesini.", Dela merentangkan tangan , membiarkan desiran angin menerpa tubuhnya. "Iyah udah lama banget.", Rina berdiri disamping Dela. "Tapi kan kemarin udah ke Bali sayang.", Dio merangkul istrinya dan memberi kecupan di kening istrinya itu. "Woi dilarang mesra- mesra didepan gue.", ujar Dela. "Lah kenapa? Gue mah udah halal.", ujar Dio disertai cubitan dari sang istri di pinggangnya. "Sial lu!", Dela menoyor kepala Dio. Tapi tiba- tiba sepasang tangan telah merangkul pinggang Dela. "Bentar lagi juga aku halalin kamu.", ucap Afta membuat Dela melongo. Dio yang melihat kejadian itu, menggandeng istrinya menjauh. Kali ini Dela menoyor kepala sang tunangan. "Kesambet ya?!" "Kok kesambet?" "Ngajakin nikah kayak ngajakin jalan- jalan." "Lah kan itu yang kamu mau, dihalalin aku", goda Afta. Dela menarik nafas yang sempat tertahan tadi. "Aku mau. Mau banget." "Kalau gitu pulang dari sini kita urus semua." "Tapi setelah kamu inget semua." "Tapi Del," "Ga ada tapi- tapian. Aku mau kamu inget dulu baru nikah. Kalau ga inget aku ga mau. Titik!", Dela meninggalkan Afta yang menarik nafas panjang dan meraup mukanya dengan tangannya. Lalu mengejar Dela kedalam. "Del", Dela terlihat duduk santai di sofa. Dia tampak biasa aja. "Mau tetep liburan atau mau bikin aku marah?" "Yaudah, tapi aku mau kita pelan- pelan siapin ya yang. Aku mau pas aku inget semua udah siap. Masa kalau aku inget tahun depan, kita nikah 2tahun lagi? Aku ga mau nanti si Dio udah punya 2anak baru kita nikah. Kalah step dong aku.", Dio tertawa mendengar kata- kata Afta. "Diem lu!", Afta melempar bantal kearah Dio. "Del, lu ga lihat itu Afta udah bucin sama lu. Udah ga kayak lagi lupa ingetan tau. Kayanya dia mau lupa ribuan kali juga kepentok cinta sama lu.", Dio langsung kabur ke kamar melihat pelototan kedua sahabatnya dan istrinya. "Aku ke kamar dulu deh Del.", ucap Rina Setelah tinggal berdua, Afta mengenggam tangan Dela. "Del, aku memang lupa semuanya. Maafkan aku soal itu. Tapi saat aku bangun dan melihat kamu menatap aku dengan tatapan yang hancur dan tangis kamu, entah kenapa itu buat hati aku hancur juga. Saat aku lihat setiap hari mata kamu penuh cinta merawat aku, hati aku damai bahagia melihatnya. Saat kamu ga datang, atau telat datang, aku pasti udah ga sabar nungguin kedatangan kamu. Maaf Del, aku memang ga bisa langsung bilang aku mencintai kamu. Aku ga mau kelihatan sedang mengumbar janji manis. Tapi aku mau kita sama- sama raih cinta kita lagi. Aku ga bilang kita langsung nikah besok. Tapi aku mau kita pelan- pelan siapin semuanya. Aku percaya bila Tuhan masih bisa membuat hati ini berdebar melihat kamu, berarti Tuhan masih punya rencana untuk kita.", Dela menatap mata Afta. "Aku mohon sayang.", akhirnya Dela mengangguk dan Afta pun tersenyum dan mengecup kening Dela. *** "Del, lu ga mau ikutan naik banana boat?", Dela menggeleng menatap yang lain sedang mengenakan pelampung. "Lupa gue ga bisa berenang?" "Kan pake pelampung yang." "Kaga mau." "Yaudah aku temenin kamu aja deh." "Udah sana maen. Aku ga bakal diculik." "Yah culik kaga, godain bisa aja.", Afta kembali melepas pelampung yang sudah dia kenakan. "Bucin dasar lu Af!" "Lah kalau bini lu ga ikut juga lu kaga ikut. Hayo taruhan sama gue?" "Udah sana ikut main. Emang ada yang bisa godain aku?" "Jelas dong. Kamu cantik sayangku, lewat aja udah pasti langsung naksir sama calon istri aku." "Lebay." "Makanya ikut yuk. Aku duduk belakang kamu, kalau kamu jatoh aku ikutan jatoh. Kamu percaya aku kan?" "Aku percaya, cuma ga mau yang." "Yaudah aku juga ga mau." "Heh cepetan jadi main apa ga?" "Kaga!!", ucap Dela dan Afta. "Kompak bener?", terlihat Chelsea datang dengan blazer putih dan celana hitam panjang. Dia tampak cantik. Dela melirik Afta yang masih menatap Chelsea. Hati Dela serasa diremas melihatnya. Kenangannya hilang, berarti yang Afta ingat adalah cintanya kepada Chelsea. "Kok bisa disini Chel?", tanya Dela. "Gue baru meeting tadi. Terus kemarin Rina bilang mau pada ke Anyer. Jadi gue rasa mampir bentar boleh.", ucapnya. Dela masih melirik Afta, dan benar Afta belum berpaling. "Gue ke dalam bentar ya.", Dela berjalan meninggalkan yang lain. Matanya terasa panas, dan hatinya sesak. Afta melihat gelagat aneh Dela malah mengejarnya. "Yang, mau kemana?", Afta meraih tangan Dela. "Ke WC. Kenapa? Mau ikut?", Dela mencoba menahan semua kesesakannya dan berpura- pura baik- baik saja. "Mau kalau boleh." "m***m!", Dela langsung berjalan meninggalkan Afta yang menatap punggung Dela. Kepalanya sedikit pening melihat punggung Dela menjauh. Tiba- tiba tubuh Afta roboh dan tak sadarkan diri. "AFTA!!", mendengar teriakan Dio membuat Dela terhenti dan menoleh ke belakang. Terlihat tubuh Afta di atas pasir diam. "Yang, bangun ah. Jangan bercanda!", Dela meraih tubuh Afta yang berat. "Dio bantuin gue! Bawa Afta masuk!" Dio membopong Afta dibantu Dela dan Chelsea. "Gue ambil minyak kayu putih dulu.", Dela masuk ke kamarnya. "Kenapa lagi sih nih anak?", ucap Dio mondar mandir melihat sahabatnya itu masih diam. "Af bangung dong." "Apa dia ketemu lu ya Chel? Dia kan ingetnya soal lu." "Yah tapi kan kisah gue udah kelar cui." Dela masih terdiam menatap wajah tampan Afta. Terlihat kerutan di kening Afta. "Af,", suara Dela parau. "Kok nangis?", tanya Afta. "Kamu kenapa? Mau pulang aja?", Afta menggeleng. "Kamu jangan pernah ninggalin aku dengan berjalan pergi. Membuat aku melihat punggung kamu menjauh dari aku." "Aku kan udah bilang mau ke WC yang." "Wait, lu inget sesuatu Af?", tanya Dio tiba- tiba. "Gue cuma inget pernah lihat punggung Dela menjauh dan gue sakit melihat dia pergi sob.", Afta memijit kepalanya. "Bagus itu!" "Apanya yang bagus?" "Itu pas Dela melihat lu sama Chelsea kan? Lu lihat Dela pergi ninggalin lu.", Dio terlihat mengebu- gebu. "Mungkin. Semua samar." Afta melirik Dela, terlihat airmata yang menetes dari matanya. "Kok kamu nangis? Aku gapapa." "Bikin aku takut aja.", Afta meraih Dela masuk dalam pelukannya. "Aku baik- baik aja sayang. Makanya jangan pernah ninggalin aku lagi. Oke?", Dela hanya mengangguk. "Gila ya! Gue kok jadi jealous?", ucap Chelsea. Tapi ketika semua mata tertuju padanya, dia meralat kata- katanya. "Maksud gue tuh gue juga pengen kaya lu Del. Punya pacar. Cariin dong!", semua tertawa mendengar celoteh Chelsea. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN