"Hai Af,", Rina yang didorong masuk duluan oleh Dio, suaminya itu.
"Kok lu sendiri Rin?", tanya Dela yang memegang gelas yang baru Afta sodorkan padanya. Dela baru selesai menyuapi Afta makan dan memberinya obat.
"Itu sahabat lu Af, dua- duanya takut masuk. Kayak bakal ketemu calon mertua aja, nyuruh gue masuk duluan. Padahal yang mau ditemuin orang amnesia. Ga bakal juga kan gebukin mereka dengan kondisi begini."
Afta tertawa renyah. "Jadi lu Rina, bener kan?"
"Yes sir. Kenalkan saya Rina, sahabat Dela dan juga istri dari sahabat anda yang bernama Dio."
"Suami lu mana?"
"Di depan noh. Ada Bambang juga."
Dela menghampiri pintu dan terlihat Dio dan Bambang yang terdorong masuk. "Lu berdua takut apaan? Noh yang lu takutin lagi duduk manis, tangan sama kaki masih diperban. Masa lu takut lawan yang begini?", Dela nyerocos membuat Afta tertawa renyah.
"Lu udah inget Af?"
"Belum sob.", Afta menggeleng. "Tapi gue mau minta tolong bantuan lu pada buat gue inget kenapa gue bisa jatuh cinta sama cewek satu ini.", Afta melirik Dela dengan senyum nakal di bibirnya.
"Lah sikap barusan itu kayaknya yang bikin lu jatuh cinta sama dia.", ucap Dio. Dia melihat sikap Afta yang terbuka, membuatnya nyaman.
"Disaat semua cewek di sekolah dulu jadi singa yang berjalan disamping lu, siap nerkam lu kapan aja. Nah cewek satu itu malah cuek bebek sama pamor lu yang jadi pangeran dadakan di sekolah.", ucap Bambang.
"Oh gue milih bebek dibanding singa ya? Untungnya bukan itik si buruk rupa. Tapi angsa yang cantik ya.", ucap Afta. Dan membuat mereka tertawa.
"Gila gue ga ngerti loh. Kenapa dulu dan sekarang lu bertiga bisa cepet akrab ya?", Dela mengeryitkan keningnya menatap tiga pria yang ada di ruangan itu. Dari dulu mereka selalu klop begini. Bercanda pun pasti bisa saling menlengkapi.
"Itu namanya sohib Del. Jadi kalau udah klop yah ga perlu waktu lama buat nemuin yang namanya chemistry.", Dela melongo mendengar kata- kata Dio.
"Barusan aja takut masuk. Sekarang bisa bilang begitu.", Afta yang gemas melihat Dela, lalu mencubit pipi Dela yang duduk disampingnya.
"Sakit yang!", Dela menatap pria disampingnya. Namun langsung sadar dan meralatnya. "Sakit Af.", kali ini terdengar lemah.
Afta terkekeh melihat tunangannya yang masih belum dia ingat. "Aku tahu sekarang kenapa bisa jatuh cinta sama kamu.", ucap Afta. "Satu lagi, kamu boleh panggil aku yang, say atau apapun yang kamu mau. Karena kenyataannya memang aku tunangan kamu."
"Bener loh Af, lu ga kaya lupa ingatan tahu ga. Apa jangan- jangan lu ga lupa, pura- pura doank.", Rina yang daritadi diam memperhatikan mereka pun angkat bicara. Dan
"Gue juga pengennya gitu."
"Ah kamu beb, bikin suasana jadi kaku lagi."
"Tuh liat muka Afta kaya baru disetrika. kaku bener.", semua kembali tertawa mendengar celoteh Bambang.
Aku berharap ini bisa membuat kamu ingat semua yang. Ingat kisah kita, ingat rancangan masa depan kita. Karena aku udah takut kehilangan kamu lagi.
***
"Jadi aku kapan boleh pulang sih ma? Bosen nih."
"Lusa baru boleh pulang."
"Dela kok ga kesini ya hari ini?"
"Kenapa? Kangen?", ledek mama Afta.
"Entah ma. Aku nyaman bersama dia. Memandang mata dia yang penuh cinta buat aku itu rasanya menyejukkan hati aku."
"Jadi meskipun lupa, kamu tetap jatuh cinta sama dia kan?"
"Bisa dibilang gitu sih ma. Anaknya gemesin aja, tapi mungkin cinta dia yang buat aku merasa dicintai."
"Dulu waktu kita pindah Jakarta, mama takut. Takut kamu ga bisa lupain Chelsea. Tapi ternyata kamu malah bisa jatuh cinta dengan Dela. Setiap hari mama melihat kamu berubah bahagia kembali setelah kita pindah dari Bandung. Sampai akhirnya kamu juga rajin sekolah, peringkat di kelas dan sampai lulus pun dengan hasil yang baik. Mama melihat hal positif yang Dela berikan ke kamu Af. Berbeda dengan saat kita masih di Bandung. Tapi tiba- tiba Dela pergi meninggalkan kamu karena Chelsea."
"Chelsea? Maksud mama, aku dan Chelsea kembali bersama?", mama menggeleng.
"Bukan begitu, itu hanya salah paham. Dela melihat kamu dan Chelsea bersama. Dia mengambil kesimpulan kamu bersama dengan wanita lain. Dia pergi dan meninggalkan status gantung buat kalian berdua. Tapi mama ga nyangka kalau kamu mau nunggu dia sampai dia balik, jelasin semua dan kamu melamar dia. Tapi sayang,"
"Sayang kenapa ma?"
"Sayang kalau aku pergi sebentar aja dan kamu kecelakaan dan lupa akan kenangan aku. Padahal aku mau nurutin semua kemauan kamu loh.", ucap Dela yang berdiri tak jauh dari ranjang.
"Kok dateng diem- diem aja.", Afta tersenyum melihat yang dia tunggu datang.
"Yah kan kamu sama tante lagi ngobrol serius."
"Nguping ya?", canda Afta.
Dela mengubris telunjuk Afta yang terarah kepadanya. Dia malah menjauh dan duduk di sofa.
"Kok hari ini ga nanya aku udah makan belum?"
"Mau diperhatiin ya?", ledek Dela balik.
"Kalian ini ada aja ya. Mama mau pulang dulu bentar. Del, tante titip Afta ya."
"Iyah tante."
Mama Afta membereskan barangnya dan beranjak pergi. "Afta inget, jangan nyusahin Dela."
Afta memutar bola matanya, "Iyah ma."
"Kamu beneran mau disana aja? Ga kangen sama aku?"
"Emang udah inget siapa aku?", Dela malah membalas dengan pertanyaan.
"Yah kan aku calon suami kamu, masa dicuekin aja."
"Lah calon suami aku kan lagi lupa ingatan, biarin aja siap tau dicuekin jadi inget gitu.", Dela masih mengetik di ponselnya.
"Lagi ngapain sih?"
"Lagi chat sama cowok lain."
"Lah kok gitu? Kan kamu bilang mau buat aku inget, kok malah chat sama cowok lain?", gurat kecewa nampak di wajah Afta.
"Udah jatuh cinta lagi sama aku ya?", goda Dela sambil menghampiri ranjang Afta.
"Aku mau mencoba dari awal. Kalaupun aku ga inget kenangan kita, kita buat kenangan baru aja ya."
Dela tersenyum, "Aku tetep mau berusaha supaya kamu inget kenangan kita. Aku mau kamu mencintai aku speenuhmya seperti dulu. Aku tetep akan nunggu kamu, karena kamu pun udah nunggu aku lama dulu. Sekarang gantin aku yang belajar setia nunggu kamu.", Dela tersenyum. "Oh iya, Dio udah sewa hotel di Anyer minggu depan. Jadi nanti kita liburan kesana ya? Biar kamu ga bosen udah seminggu di rumah sakit." Afta tersenyum mengangguk.
"Del, aku sayang kamu dengan atau tanpa ingatan alu yang dulu. Aku merasa kamu bagian penting di hidup aku. Aku akan mencoba tapi aku ga mau janji apa- apa. Karena kalau aku ga bisa nepatin, aku malah jadi pecundang. Tapi aku janji, belajar mencintai kamu dengan atau tanpa kenngan kita yang dulu.", Afta mengenggam tangan Dela. Dan ada aliran hangat masuk ke dalam hati Dela melihat senyum Afta.
Dela memeluk Afta, "Makasih ya yang."
"Makasih sih makasih yang, tapi badan aku sakit nih."
"Oh iya maaf."
"Tapi aku seneng liat kamu seneng. Selama disini yang bisa hibur aku cuma senyum kamu."
"Ih gombal"
Aku yakin kita bisa lalui ini Af.
***