Bab 17

785 Kata
Dela tetap kembali ke kamar Afta meskipun Afta tidak mengingatnya. Afta menatapnya hampa, itu membuat hati Dela sakit melihat itu. Mata yang dia rindukan, senyum yang ia ingin lihat, entah semua itu pergi kemana. "Maaf,", ucapnya saat melihat gurat kesedihan di wajah Dela. "Buat?", Dela mencoba tersenyum. "Karena melupakan kamu, dan itu membuat kamu sedih.", Dela menggeleng lemah. "Itu sangat jelas di mata kamu. Dela kan nama kamu?" "Kita kenalan dulu, aku Dela Putri Kusuma. Saya tunangan dari Alexander Dafta Wijaya yang saya kenal.", ucap Dela mantap. Afta tertawa renyah, "Mama cerita katanya aku sangat mencintai kamu. Mungkin itu yang buat aku lupa akan dirimu. Karena kamu orang yang penting buatku." "Setidaknya itu kabar baik buat aku. Aku orang yang penting di hati kamu." "Beri aku waktu, buat mengingat segalanya." "Justru aku yang mau bilang, beri aku kesempatan untuk membuat kamu jatuh cinta lagi sama aku." "Go ahead." "Jadi kamu belum makan?", Dela menatap bubur di meja yang msih utuh. "Aku suapin ya.", Afta hanya mengangguk. *** Dela tertidur disamping Afta, tangannya mengenggam tangan Afta. Afta terbangun dan melihat Dela disampingnya. Senyumnya pun terlihat jelas di bibirnya. "Af, kamu butuh apa?", mama Afta yang baru masuk pun menatap anaknya. "Ini seperti pernah terjadi ma." "Kamu sudah ingat Af?", Afta menggeleng lemah. "Yauda, gapapa Af, pelan- pelan aja ya nak. Memang dulu pernah, kamu pernah masuk rumah sakit karena digebukin siswa sekolah lain. Lalu Dela menjengguk kamu, dan tertidur juga seperti saat ini Af." "Afta mau inget semuanya ma." "Kamu pasti ingat nanti nak." "Melihatnya kuat disamping Afta, meski Afta melupakannya sudah jadi bukti kalau dia begitu mencintai Afta.", Afta memandang gadis yang masih tertidur di samping ranjangnya. "Kamu pun sangat mencintai dia Af.", ucap mama Afta sendu melihat situasi keduanya. Masih jelas dalm ingatannya saat Afta pulang dari Bali. Dia dengan antusias menjelaskan akan menikah dengan Dela. Dan saat Dela pulang dari Amerika, dia meminta mama dan papa nya untuk melamar Dela. "Kamu mencintainya, menunggu dia pulang, bahkan melamarnya. Andai kamu ga kecelakaan mungkin saat ini kalian sedang mempersiapkan pernikahan kalian." "Aku akan mencoba mengingat semuanya ma. Rasa cinta itu pasti masih ada disini.", ucap Afta memegang dadanya. Dela bergerak membuat mata Afta menatapnya. Melihat bagaimana gadis itu bangun. Entah mengapa senyum mengembang di bibirnya. "Eh kamu udah bangun?", Afta tersenyum padanya. "Kamu yang sakit malah aku yang tidur.", gerutu Dela. Mendengar itu Afta malah mengacak rambut Dela, persis seperti yang selalu Afta lakukan. "Kamu capek pasti jagain aku terus. Dulu dan sekarang selalu sama." "Dulu? Kamu udah inget sesuatu?", Tanya Dela antusias. Tapi melihat Afta menggeleng, Dela kembali kecewa. "Mama cerita kalau dulu kamupun pernah melakukan hal yang sama. Tertidur di samping ranjang, menemani aku yang habis digebukin anak sekolah lain.", terang Afta. "Iyah. Dulu kamu itu digebukin gara- gara aku.", Dela tertunduk lemah. "Gara- gara kamu?" "Iyah, dulu abis pertandingan basket, aku sempet diajak paksa sama anak sekolah lain untuk ikut mereka pulang. Tapi aku ga mau, dan kamu nyelamatin aku dari mereka. Kamu yang anter aku pulang. Dan kamu yang dikeroyok mereka. Alhasil kamu masuk rumah sakit dengan lebam dimana- mana." "Aku dikeroyok karena nganter kamu pulang?" "Iyah, itu baru masuk sekolah padahal. Kamu langsung kena masalah.", Dela menatap Afta dengan perasaan bersalah. "Berarti aku udah tertarik sama kamu, sampai aku mau masuk dalam masalah kamu." "Masa?" "Kalau aku ga tertarik, aku bukan tipe yang mau ikut campur urusan orang.", Afta tersenyum. "Ceritain gimana waktu kita pertama ketemu." "Kamu masuk dengan ibu Risma dan memperkenalkan diri. Lalu duduk di depan bangku aku. Diajak kenalan tapi malah tangan aku dibiarin gantung tanpa balasan." "Masa?" "Iyah tapi kamu mau ngomong sama kita. Kamu bahkan bisa cepat dekat dengan Dio dan Bambang." "Dio dan Bambang?" "Iyah mereka sahabat kita." "Kok mereka ga kesini?" "Udah tapi pulang lagi. Tadi aku kan di kantin sama mereka, tapi tahu kamu tidur dan ga inget sama kita, mereka pulang." "Kok pulang?" "Karena ga mau nganggu istirahat kamu Afta. Udah sekarang bobo. Kamu harus banyak istirahat biar cepet pulang. Aku juga capek liat rumah sakit mulu. Cepet sbuh nanti kita bisa jalan dan main lagi kaya dulu. Meski kamu ga inget siapa aku, tapi kamu udah janji mau kasih aku kesempatan untuk buat kamu inget lagi.", senyum Dela membuat Afta merasakan sesuatu yang hangat mengalir di hatinya. Dia memang penting buat lu Af, buktinya senyum dia bisa buat lu tersenyum. senyumnya buat hati lu hangat, bahkan lu bisa sedekat ini dengannya. "Del, kalaupun aku ga ingat siapa kamu, tolong buat aku jatuh cinta lagi sama kamu " "Iyah pasti Af. Aku juga ga mau kehilangan tunangan aku. Udah sekarang tidur. Kalau ga aku suruh suster suntik obat tidur nih.", ancam Dela membuat Afta memejamkan matanya sambil terkekeh mendengar celoteh wanita satu ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN