"Del, lu harus makan.", ucap Dio berkali-kali.
Selama tiga hari, Dela hanya duduk disamping afta, mengenggam tangan Afta berharap kelopak mata Afta terbuka memandangnya.
"Yo, kapan ya Afta bangun?", Dela terlihat lelah. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada cowok yang terbaring didepannya.
"Del, kita cuma bisa berdoa, biar Tuhan yang menentukan yang terbaik. Tapi percaya sama gue, Afta itu cowok kuat. Harusnya dia bisa lewatin ini.", ucap Dio. "Tapi lu ga mau kan saat Afta bangun, dia lihat lu dengan kondisi kayak gini."
"Gue ga nafsu makan Yo, gue ga bisa sebelum lihat dia sadar. Gue kangen dia Yo.", Rina memeluk sahabatnya seolah ingin memberi kekuatan kepada Dela.
"Dela, kamu istirahat sayang. Sudah tiga hari kamu disini. Lebih baik kamu pulang dulu sebentar. Istirahat dulu. Kalau kamu sakit juga, tante ga bisa maafkan diri tante.", mama Afta menghampiri Dela.
"Dela mau saat Afta sadar, Dela ada tante."
"Tapi kamu juga butuh istirahat, Del. Kalau kamu ngeyel, tante akan suru orang buat anter paksa kamu pulang dan ga boleh jengguk Afta.", ancam mama Afta.
"Tapi tante,"
"Del, semua kata tante Lily benar. Lu ga mau kan kalau lu sakit ga bisa jagain Afta.", Dio menimpali.
"Yaudah anterin gue pulang Yo."
"Nah gitu, nanti kalau ada apa-apa tante kabari kamu. Percaya kalau Afta pasti sadar."
"Iyah tante. Dela pulang dulu ya sebentar.", mama Afta tersenyum padanya.
***
Dela kembali menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Afta. Beberapa jam dicrumah pun tidak membuat dia bisa tertidur. Akhirnya dia memutuakan untuk kembali ke rumah sakit.
Dela memasuki kamar Afta, dan melihat dokter dan suster di kamar Afta. Dela melangkah masuk dan melihat Afta telah bangun dan mentapa dirinya. Disampingnya ada Papa dan Mama Afta menemaninya. Dela mengutuk dirinya pulang sehingga dia ga ada disamping Afta saat Afta bangun.
"Kamu udah sadar yang?", Dela berlari memeluk Afta.
"Auuuw.", teriak Afta menyadarkan Dela.
"Sorry yang. Aku terlalu senang kamu sadar.", Dela mengusap air matanya.
"Ma, siapa dia?", pertanyaan itu keluar dari mulut Afta.
"Af jangan bercanda ah.", jawab mama Afta.
"Serius ma. Terakhir bukannya Afta pacaran sama Chelsea ya. Yah sebelum kita pindah ke Jakarta.", ucap Afta santai.
"Kamu serius lupa sama aku?"
"Memang kamu siapa?"
"Dia Dela, Af. Tunangan kamu." Dela menatap mata Afta dan dia tahu mata itu bukan mata Afta yang biasa memandangnya. Dia langsung terjatuh karena kakinya lemas.
Mama Afta langsung menghampiri Dela dan mengangkatnya. "Af, udah jangan bercanda."
"Aku ga inget ma."
"Sebentar bu, pak, coba saya cek Afta dulu. Bisa tunggu di depan sebentar.", ucap dokter.
Di depan kamar Afta, Mama Afta memeluk Dela. Dia tahu sulit pasti bagi Dela.
"Dia lupa akan Dela tante.", ucap Dela lirih.
"Kita tunggu hasil periksa dokter ya Del."
"Mata itu bukan mata Afta tante.", Dela merasa hatinya diremas sakit.
"Dok bagaimana?"
"Dia mengalami amnesia disosiatif. Ada hal penting dalam hidupnya yang dia lupakan. Masih beruntung dia masih mengingat dirinya dan keluarga. karena ada beberapa yang lupa akan dirinya. Ini bisa bersifat sementara tapi kehendak Tuhan saja yang bisa mengembalikan.", Dela hanya mwnunduk terisak dalam suara yang pelan.
"Tapi ada kemungkinan untuk pulih kan dok?", mama Afta menatap dokter Handoko dengan penuh harap.
"Pasti ada bu. Semua masih tersimpan di dalam sana. Hanya kecelakaan membentur otaknya, sehingga ada kejadian yang dia lupakan. Yasudh saya permisi dulu ya pak, bu. Ada apa-apa bisa hubungi suster kembali."
"Baik dok. Terima kasih."
"Del, kita masih bisa vuat Afta ingat lagi. Kita bisa ya sayang."
Dela masih menangis dalm diam. Dia ga mau orang tahu dia terpuruk saat ini.
Entah rasanya seperti dia sedang dikurung dalam ruangan yang gelap dan sesak.
***
"Jadi Afta lupa akan kenangan lu? Semuanya?", tanya Bambang di kantin rumah sakit.
Dela hanya mengangguk.
"Dia ga inget sama sekali?", Dio menatap sahabatnya. Dia menarik nafas panjang. Bagi dia, Afta sudah seperti saudara sendiri. Dio anak tunggal, karena itu sahabat- sahabatnya ini yang menjadi teman dalam sepi dia.
Afta bagi Dio sudah seperti saudara. Teman main, teman belajar bahkan teman berantem baginya. Kalau Afta kehilangan ingatannya, maka dia juga kehilangan sahabatnya itu.
Dela menarik nafas panjang.
"Ini karma kali buat gue. Udah bikin Afta nunggu lima tahun.", ucap Dela.
"Jangan pikir kaya gitu Del. Kita cari jalan keluar sama- sama ya.", Rina memeluk sahabatnya itu.
"Yang dia lupain tuh cuma kenangan dari kenal gue Dio.", Dela terlihat hancur.
"Del, lu harus kuat dong. Kalau lu begini berarti lu nyerah gitu aja? Lu harus buat dia inget lagi Del. Lu bukan wanita lemah yang gue kenal. Ayo kita bantu lu buat bikin Afta inget lagi."
"Tapi gimana caranya?"
"Kejadian lu dan dia kan cuma lu berdua yang tau. Lu bisa buat kenangan itu lagi, biar dia inget lagi Del. Kita sama- sama bawa Afta balik kayak dulu. Gue juga ga mau kehilangan sahabat gue.", ucap Dio.
"Iyah Del, kita sama- sama buat Afta inget lagi. Dia udah bilang pas lu pulang lu berdua akan siapin buat married. Jadi dia udah yakin sama lu, gue yakin semua itu tersimpan di hati dia Del.", Rina masih memeluk sahabatnya.
"Lagian yang gue tau dia mah bucin sama lu, Del.", senyum Bambang membuat Dela tersenyum. Meski senyumnya terasa pahit saat ini.
"Oke kita mulai darimana ya?"
Tiba- tiba mereka mengingat kembali masa- masa yang sudah lewat beberapa tahun silam.
Aku akan buat kamu inget lagi Af. Aku belum siap dan ga akan pernah siap buat kehilangan kamu lagi. Kalau kamu pernah nunggu aku lima tahun, aku akan nunggu kamu sampai inget, meski itu memakan waktu yang lama sekalipun.
***