"Del, lu yakin mau balik kesono?", tanya Dio saat mereka sedang santai di ruang tv villa tempat mereka menginap.
"Iya Yo. Gue kan tetap harus balik kesana. Mau gue resign pun, gue harus ksana dulu. Urus ini ono disana.", ucap Dela.
Setelah kejutan lamaran yang Afta berikan, Dela juga kasih kejutan kalau sehari setelah mereka pulang, dia akan balik ke Amerika.
"Lu ngomong tuh sama calon masa depan lu. Ga liat dari kemarin diem aja kaya patung? Makan aja kaya ga nafsu sama sekali."
"Justru gue bingung ngeliat dia begitu.", Dela memandang sang pujaan hatinya.
"Lah kan lu udah nerima lamaran dia. Masa iya lu mau ninggalin dia tanpa ngomong apa-apa. Udah sono samperin, ngobrol dari hati ke hati. Pengen gimana kedepannya.", ujar Dio.
Dela menuruti kata sahabatnya itu, bagaimanapun dia harus ngomong sama Afta untuk kedepannya. Dia ga boleh egois lagi, Afta sudah menunggu lima tahun, bahkan dia sudah melamar Dela untuk masa depannya. Tapi Dela malah memilih pergi lagi. Sebenarnya dalam hati Dela dia sudah berencana untuk resign dan kembali. Ayahnya juga sudah ratusan kali meminta Dela meneruskan usahanya, karena beliau ingin pensiun.
"Yang, kok sendirian disini.", Dela membuka pembicaraan dan duduk tepat disebelah Afta. Dia menyenderkan kepalanya ke bahu Afta.
"Kenapa yang? Mau pergi?"
"Nggak. Kan Dio udah bilang, hari ini kita nikmatin villa aja."
"Tapi kalau kamu mau pergi, kita aja yang jalan."
"Kalau itu bisa bikin kamu ga kayak patung diem disini, aku mau.", Dela tersenyum kecut memandang pacarnya.
Afta tertawa renyah mendengar candaan Dela. "Aku cuma mikirin kalau kamu nerusin kerjaan kamu, apa aku bisa nyusul kesana?", Afta menatap air kolam yang tenang.
"Ngapain?"
"Kan kemarin itu kamu ada bilang, itu cita-cita kamu. Aku ga boleh egois minta kamu untuk pulang dan buang cita-cita kamu.", Dela menatap Afta dengan mata berkaca-kaca.
"Ih kenapa kamu nyebelin sih?"
"Loh kenapa?"
"Kenapa mikirnya cuma aku yang bahagia. kapan mikirnya kamu yang bahagia?"
"Kan aku bahagia kalau kamu bahagia.", Afta tersenyum nakal menatap Dela.
"Aku pulang kok sayang. Jadi kamu cukup duduk manis nunggu aku pulang ke Jakarta."
"Kok?"
"Ayah udah cape mau pensiun katanya, jadi suruh aku gausah jauh-jauh kerja disono. Belum lagi mereka kesepian ga ada yang nemenin."
"Jadi?"
"Iyah aku pulang setelah semua kerjaan aku kelar disana. Dan kamu harus diam duduk manis menanti aku pulang tanpa ngelirik sana sini.", ucap Dela dengan mengedipkan matanya.
Senyum Afta mengembang mendengar apa yang Dela katakan. "Lalu setelah pulang kesini, kita langsung siapin buat pernikahan kita. Titik!", ucap Afta dengan mantap.
***
Akhirnya Dela kembali ke Amerika dan mengurus semua pekerjaannya dan mengajukan resign dan sudah ada pengganti Dela.
Dela juga sudah memesan tiket untuk pulang. Satu bulan tanpa melihat langsung, memeluk dan menggandeng pacar sekaligus tunangannya itu, rasanya berat dan lama terasa. Meski setiap hari mereka pasti sempatkan untuk videocall namun rasa rindu tetap terasa di hati mereka.
Dela memang belum mengabarkan akan pulang besok. Dia hendak memberi surprise kepada Afta dan kedua orangtuanya. Hari ini dia sudah mengemasi semua barangnya dan apartemen pun sudah dia jual. Karena dia gatau kapan akan kembali, jadi dia putuskan untuk dijual. Memang waktu memutuskan untuk kuliah, Ayah sudah menghadiahi apartemen ini untuknya. Tidak terasa lima tahun dia lalui didalam apartemen ini. Rasa sakit dan rindu pada Afta dan sahabat juga keluarganya menemani didalam apartemen ini.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat wajah Dio dan Rina terpampang di layar. Dela mengangkatnya tanpa curiga.
"Ya Rin, tumben telepon gue malem-malem. Eh iya disono pagi ya.", ucap Dela.
"Del,", suara Rina bergetar. Dela tahu ada yang ga beres.
"Kenapa Rin?"
"Afta, Del.", jantung Dela serasa berhenti berdetak begitu nama Afta disebut.
"Afta kenapa Rin?", tanya Dela dengan suara pelan hampir tak terdengar.
"Afta kecelakaan Del, sekarang lagi di RS tapi kondisi agak parah Del. Dio ngotot ga mau kasi tahu lu. Cuma gue takut Del, gue takut ...", Rina terdiam. "Del, lu masih disana Del?"
"Iyah Rin.", Suara Dela mulai serak. Dia menahan airmatanya. "Seberapa parah Rin?"
"Masih ditangani dokter Del. Gue akan terus kasi tahu kondisi Afta ya. Gue rasa lu berhak tahu Del.", suara Rina mulai teratur.
"Info gue ya Rin, gue udah pesen tiket besok gue pulang. Lusa harusnya gue udah sampe sana.", Dela terdiam sejenak. "Tolong jaga dia sampe gue datang ya Rin. Gue mohon Rin."
"Iyah Del."
Dela menangis berurai airmata setelah telepon terputus. Entah seberapa parah kecelakaan yang Afta alami. Ingin rasanya Dela langsung terbang dan berada disana. Di sisi Afta.
***
Sepanjang perjalanan Dela ga bisa tidur. Pikirannya hanya tertuju pada Afta yang masih dia tidak ketahui keadaannya. Perjalanan yang panjang malah terasa lebih panjang.
Kamu harus tunggu aku yang. Kamu harus sembuh yang. Aku pulang.
Sesampainya di Jakarta, dia langsung naik taksi terdekat dan menuju ke rumah sakit tempat Afta dirawat.
Sesampai di rumah sakit, Dela langsung berlari ke ruang ICU. Dio dan Rina sedang berdiri di depannya.
"Rin,", Dela menghampiri kedua sahabatnya yang duduk di depan ruangan ICU.
"Del, Afta ...", lidah Rina serasa keluh untuk menceritakan kepada sahabatnya.
"Afta gimana Rin? Yo, cowok gue gimana? Dia baik-baik aja kan?", bulir-bulir kaca telah menetes di pelupuk mata Dela. Karena dia sudah merasa ada berita yang ga baik pastinya. Karena melihat wajah kedua sahabatnya saja, dia bisa menerka yang terjadi bukanlah hal yang baik.
"Afta koma Del.", ucap Dio lemah. Dio langsung memeluk sahabatnya itu.
Kaki Dela serasa lemas, mata Dela tiba-tiba gelap.
***