"Wah kalau gede gini mah tadi ajak si Bambang juga ", ucap Dela mengedarkan pandangannya pada villa yang disewa Dio.
"Ada lu berdua aja sebenarnya gue ga mau, apalagi rame-rame.", Dio udah merengut kesal.
"Iya, lu berdua kunci aja kamar. Ga keluar-keluar gapapa kok. Gue sama Dela bisa jalan sendiri.", imbuh Afta sambil menenteng dua koper di tangannya.
"Ah ga asiiik.", ucap Rina. "Gue pokoknya ngikut lu berdua."
"Yayang, kok gitu?"
"Lah kalau sama kamu itu seumur hidup yang, tapi kalau Dela balik kesono, aku ga bisa pergi bareng lagi.", imbuh Rina.
"Iya iya.", Dio memutar bola matanya dan menghela nafas berat.
Dela dan Afta hanya tertawa melihat kelakuan kedua penganten baru. Akhirnya mereka beresin bawaan mereka, lalu mandi.
Mereka akhirnya siap untuk pergi. Hari ini mereka akan pergi ke pantai Jimbaran. Dela benar-benar mau menghabiskan waktunya dengan liburan. Dia masih belum memutuskan untuk kembali ke Harvard atau menetap disini. Separuh hatinya meminta untuk tetap tinggal disamping Afta, namun masih banyak yang dia cita-citakan disana.
"Dela, right?", Dela menoleh mendengar namanya dipanggil.
"Hai, Thomas! What are you doing here?" (Hai, Thomas! Apa yang kamu lakukan disini?)
"I'm take a holiday trip with my family. And you?" (Saya sedang liburan dengan keluargaku. Kamu?)
"Same with you." (Sama denganmu.)
"You will back to Harvard right?" (Kamu akan kembali ke Harvard?)
"Yeah! Maybe next week." (Ya, mungkin minggu depan.)
"Okay! We,'ll see soon there." (Oke, kita akan bertemu kembali disana.)
Afta melihat dari kejauhan Dela bercengkrama dengan seorang bule. Bahkan terlihat Dela cukup akrab bahkan berfoto bersama. Afta langsung mengeryitkan dahinya dan duduk di atas tikar yang disewa mereka. Ingin rasanya dia marah, bagaimana bisa Dela akrab dengan bule secepat itu
"Yang, main ombak yuk.", ajak Dela saat menghampiri Afta. Dela mencobaenggandeng Afta.
"Ga mau ah.", ucapnya dingin. Dela menatap pacarnya dengan selidik. Kenapa tiba-btiba ketus.
"Kenapa yang? Ada yang salah?", Dela berjongkok di hadapan pacarnya itu.
"Ga ada.", jawab Afta singkat, padat dan jelas.
"Yang, kenapa sih marah?", Dela mulai kesal pada Afta yang tiba- tiba marah.
"Udah main aja sono. Siapa tau ada bule nyantol.", Dela mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Afta yang sedang ngambek. Lalu tiba-tiba dia mendaratkan ciuman di pipi Afta.
"Cemburu ya?", goda Dela.
"Kagak."
"Yaudah aku cari bule lagi aja deh kalau pacarnya manyun jutek mulu.", Afta langsung menarik tangan Dela masuk ke pelukannya.
"Kamu berani tinggalin aku lagi?", tatapan Afta terlihat serius. Lalu Afta tidak menyangka Dela malah mengecup bibirnya.
"Pacar aku gemesin kalau ngambek.", ucapnya dengan mata berbinar.
"Ngapain ngomong sama bule tadi? Mau buat aku cemburu?", Nada Afta masih agak tinggi.
"Dia temen kuliah aku di Harvard. Dia dan keluarganya lagi liburan disini. Dan asal kamu tahu, kalau dia udah married dan punya dua anak.", ucap Dela. Afta hanya melonggo mendengarnya. Dia tahu kalau di luar sana, pergaulan lebih bebas. Tapi mempunyai dua anak itu berarti memang kawin muda.
Dela hanya tertawa lalu berlari menghampiri Dio dan Rina yang asik berfoto dan bermain ombak di pantai. Afta hanya tersenyum menatap sang pujaan hati. Menatap masa depannya, dia tak ingin melepas Dela lagi, dia akan berjuang supaya semua ini tidak akan lepas dari genggamannya.
Andai lima tahun kemarin dilewati dengan tawa dan senyum, pasti banyak kenangan manis yang telah mereka buat.
Afta merongoh kantongnya, sebuah kotak yang telah ia siapkan sebelum datang ke Bali. Dia sengaja menyiapkan untuk melamar gadisnya, sebelum semua terlambat.
Dela melambai padanya seolah minta Afta menghampirinya. Afta pun berlari menghampiri Dela, menarik gadis itu masuk dalam pelukannya.
"Yo, Dela ada satu permintaan, gue minta tolong lu ya buat mengabulkan permintaannya.", Dela menatap Afta sesaat dengan mengernyitkan dahi.
"Mau apa Del?",
"Oh,", Dela teringat permintaannya di pesawat kemarin. Tapi tiba-tiba Afta berlutut di hadapan Dela.
"Dela Putri Kusuma, maukah engkau menerima aku yang bukan siapa-siapa ini menjadi bagian hidup kamu, menemani sisa hidup kamu, menjalani setiap hari bersama, melewati setiap masalah bersama, dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.", Afta menyodorkan cicin yang daritadi disimpennya di kantongnya. Dela menatap kaget, dia sama sekali ga menyangka Afta akan melakukan ini saat ini.
Dio pun ga perlu diminta sudah mengambil gambar kejadian langka ini.
Afta hanya tersenyum menatap Dela, "Mau Del? Menerima aku sebagai masa depan kamu?", tanya Afta lagi. Dela mengangguk dan senyuman Afta mendengar jawaban Dela mengembang begitu lebar.
Afta bangkit dan hanya memeluk masa depannya, mengecup kening Dela dan bibir Dela sesaat. Pipi Dela bersemu merah.