Bab13

654 Kata
Dela menyenderkan kepalanya di bahu Afta dengan mata terpejam. Mereka masih dalam mobil menuju bandara. Pak Slamet juga mau tak mau bangun lebih awal untuk mengantar mereka ke bandara. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. "Yang udah sampe, turun yuk.", Afta mengusap pipi Dela yang kembali terlelap selama perjalanan ke bandara. Setelah menurunkan koper Dela dan Afta, pak Slamet langsung pulang. Dela yang masih mengantuk, mengikuti Afta masuk ke dalam bandara. Mulai check-in dan masukin bagasi, lalu mencari kedua sahabatnya yang sudah sampai lebih dulu. Mereka sedang duduk di cafe dan menikmati sarapan yang terlalu pagi. Dela hanya bergelayut pada lengan Afta. "Sono beli roti sama kopi dulu Af. Isi perut dulu sebelum terbang.", ucap Dio. Afta pergi membeli roti dan kopi juga segelas coklat hangat untuk Dela. "Aku mau ke toilet ya yang." "Iyah sayang.", Afta menatap wanitanya pergi ke toilet sampai dia masuk. "Af, lu kalau yakin gausa lama-lama. Lamar gih. Daripada entar dia perga ga pulang-pulang lagi. Kalau ga entar disambar orang aja lu. Nyesel mah percuma.", ucap Dio. "Iya, Yo. Gue cari timing dulu yang tepat." "Jangan kelamaan Af.", celetuk Rina. "Gue ga mungkin mau kehilangan dia lagi kok. Cukup lima tahun gue nunggu dia. Tapi semua kan ga mungkin instan. Emang lu Yo, ga ada romantisnya.", canda Afta. "Eh kok lama si Dela. Coba liatin Rin.", ucap Afta. "Jiah baru juga berapa menit. Cuma udah mau masuk juga, coba cek sana yang.", Dio memberi kode ke istrinya untuk mengecek sahabatnya itu. Beberapa menit kemudian, Rina keluar tanpa Dela. "Dela udah ga ada di kamar mandi.", ucap Rina. "Kemana tuh anak?", tanya Dio melihat sekeliling. Afta langsung bangkit dari duduknya dan mencoba menatap sekeliling. Tapi gadis berkaos hitam dan diikat cepol keatas itu tidak terlihat sama sekali. Akhirnya Afta mencoba mencari ke beberapa toko yang memang ada di dekat cafe tersebut. "Afta!", terdengar suara yang sedang dicari. Afta menoleh ke sumber suara dan menghela nafas lega. Dela berdiri di depan sebuah toko batik yang memang menjual beberapa cenderamata. "Kamu kemana aja? Dicariin juga." "Aku tadi cuma liat liat kok. Kenapa?", Dela menatap wajah Afta yang terlihat lega melihatnya. "Tadi Rina ke kamar mandi tapi kamu ga ada. Bikin panik aku aja.", Afta mencubit ujung hidung Dela. "Lah dikira aku bakal nyasar.", sewot Dela. "Bukan! Takut diculik. Nunggu lama-lama diculik orang, rugi aku! ", celetuk Afta. Dela hanya tersenyum geli. "Udah ah. Udah mau masuk pesawat. Kita balik ke cafe dulu nyamperin Dio dan Rina, ambil barang trus masuk.", Afta menggandeng wanita pujaan hatinya itu dengan erat. Seolah dia takut kalau gadis itu akan pergi darinya. *** Selama di pesawat Dela kembali memejamkan mata. Posisi favoritnya sekarang adalah bersandar pada bahu Afta. dan Afta pun terlihat nyaman akan sandaran sang pujaan hatinya. "Sayang,",Dela bergumam namun matanya masih tertutup. Afta mengira kalau Dela hanya ngingau. "Yang,", Panggil Dela lagi. "Kamu panggil aku sayang?", Afta menatap Dela dekat di wajahnya. Tercium aroma mawar dari leher Dela. Membuat Afta harus menelan salivanya karena begitu menggiurkan aroma yang dia hirup. Wanita yang didambanya, wanita yang ingin dia jadikan teman seumur hidupnya. "Emang sayangnya aku siapa lagi? Pramugara di depan situ.", ucap Dela menggoda pacarnya yang melotot mendengar ucapan Dela. Dela terkekeh melihat sikap Afta. Apalagi pramugara tersebut ganteng dan gagah berdiri tersenyum di ujung lorong pesawat. "Nanti di Bali, aku mau foto kaya waktu di anyer ya. Kan pas ada pantainya yang.", gumam Dela. "Foto yang mana sayang?", Tanya Afta mengeryitkan dahinya. "Foto yang Dio kasi.", Dela tersenyum menatap Afta. "Foto yang kita gandengan tangan melihat matahari terbenam.", imbuh Dela. "Oh yang ini?", Afta mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan selembar foto dimana dia dan Dela sedang berciuman disinari cahaya mentari yang hampir tengelam. "Ih kok ini.", "Lah ini kan dari Dio juga.", goda Afta. "Tapi maunya yang gandengan." "Jadi yang ini ga mau?", goda Afta lagi. Pipi Dela hanya bersemu. "Udah ah simpen. Malu.", Dela mendorong tangan Afta untuk memasukan kembali ke dompetnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN