Bab 12

1207 Kata
"Oh jadi kemarin itu lu berdua ketemu?", Dela mengangguk menjawab pertanyaan Rina sambil mengunyah iga yang Afta berikan. "Trus lu udah jelasin semua ke Dela, Af?", sekarang giliran Afta mengangguk menjawab pertanyaan Dio sambil menyuapi Dela. "Trus kenapa kita ga diajak?", Rina memandang Dela dengan kecewa. "Biar gue yang jelasin,", Afta memandang dua sahabatnya."Karena hasilnya ga akan sama kalau ada kalian.", Afta tertawa melihat wajah kesel Dio. "Yah dadakan sayaaang,", ucap Dela ke Dio dan Rina. "Malam abis resepsi itu gue pingsan, yang anter pulang si Afta. Trus yah ada percakapan antara dia sama bunda yang buat gue memutuskan buat denger penjelasan dia. Lalu kemarin gue ketemu sama dia dan yah jelasin bla bla bla terus yah gitu deh.", ucap Dela menyedot es teh manis di hadapannya. "Lu pingsan kok gue ga tahu.", Rina kaget mendengar Dela pingsan. "Gue ga mau bikin malam pertama lu berdua kacau. Jadi gue langsung anterin pulang cewek gue ini.", Afta baru saja membalikkan sendok dan garpunya. "Yang, minum aku mana?", tanya Afta membuat Dio dan Rina melongo menatap Afta. "Oh iya aku lupa pesen.", Dela hanya nyengir menatap Afta. "Yaudah aku beli dulu deh.", Afta beranjak untuk memesan minum. "Kamu mau apalagi yang?" "Ice cream ya.", Dela tersenyum manja menatap Afta. Afta tersenyum melihat pacar yang udah kembali seperti dulu. "Aku ikut Afta deh. Minta pajak jadian lagi. Eh pajak balikan deh.", Dio merangkul bahu sahabatnya itu. "Jadi lu udah balikan?", tanya Rina saat Afta sudah menjauh. "Heem," "Kok bisa?", Rina mengeryitkan dahinya. Padahal waktu yang dibuang itu lima tahun dan mereka balikan dalam satu hari doang. "Yah ga ada nembak darderdor lagi. Cuma yah ngalir aja. Kalau kata Afta, dia ga pernah ngerasa putus sama gue. Karena gue pergi tanpa bilang putus kan, makanya selama ini dia ngerasanya masih punya pacar." "Tapi iya juga sih. Semua cewek yang mencoba ngerayu dia kaya nyamuk nging nging nging di kuping dia." "Sama aja lu kaya Chelsea. Dia juga bilang gitu." "Lu ketemu Chelsea?" "Jadi Afta bawa Chelsea buat jelasin ke gue. Dan kagetnya gue, ternyata lu berdua juga deket sama Chelsea.", Dela melirik Rina yang hanya nyengir. "Pasti lagi ngomongin kita lagi.", ujar Afta yang kepedean. "Del lu kapan balik kesono lagi?", tanya Dio tiba-tiba. Afta juga menoleh menatapnya. "Gue cuma cuti 2minggu sih. Dan kurang lebih udah seminggu sih gue cuti. Jadi minggu depan gue udah mesti balik.", Dela masih menikmati ice cream yang dibelikan Afta. "Yah cepet amet. Udah lusa gue mau ke Bali lagi." "Ngapain?", tanya Dela. "Mereka yah mau honeymoon sayang.", Afta mengelus kepala Dela. "Apa lu berdua mau ikut ke Bali?", tanya Rina. "Yah jangan dong yang. Kan jadi ga bisa berduaan.", Protes Dio. "Tapi boleh, udah lama gue ga pernah ke pantai.", Dela menatap Afta. "Tapi kamu ikut. Aku ga mau jadi nyamuk disana.", "Iyah. Tapi besok aku ke puncak dulu ya. Ada yang harus aku urus di bengkel Puncak.", Setelah lulus kuliah, Afta membuka bengkel dan lama-lama bertambah dengan toko sparepart motor dan mobil. Awalnya hanya di Jakarta, namun lambat laun Afta membuka beberapa cabang seperti di Puncak dan Bandung. "Aku ikut ya. Bis aku bingung mau ngapain juga disini.", ucap Dela. "Gila yah lu berdua. Lima tahun loh, lu berdua ga komunikasi, marah-marahan. Trus dalam satu hari udah bisa kaya ga ada apa-apa.", Dio nyeletuk melihat sikap kedua sahabatnya. "Itu artinya dia masih sayang gue meski dia marah sama gue.", Afta mengusap rambut Dela. "Dan gue bersyukur karena itu.", Afta menatap Dela yang hanya menunduk menatap ice cream. *** "Yang, kamu tunggu bentar ya.", Afta menghampiri asisten dan manager bengkel disana dan Dela duduk di sofa memperhatikan Afta dari jauh. Lah kenapa lama-lama tuh cewek nempel sama si Afta? Ganjen bener. Dela akhirnya membuka email dan mencoba mengecek apa ada hal penting dari pekerjaannya. Tapi dia ga mememukan apa-apa untuk dikerjakan. Akhirnya dia memutuskan untuk main ponsel saja. "Yang, udah yuk.", Afta sudah duduk disampingnya. "Heeem.", Dela bangkit tanpa berkomentar. Dia pun langsung masuk mobil tanpa ngomong apa-apa. "Yang, maaf kamu marah ya kalau aku kelamaan.", Afta mengenggam tangan kanan Dela dan membawa tangan Dela ke bibirnya. "Nggak kok." "Tuh kan mulai judes lagi.", Afta kembali mencium tangan Dela meskipun matanya tetap fokus ke jalanan di depannya. "Dibilang nggak malah ga percaya.", ucap Dela memandang jalanan diluar kaca mobil. "Yaudah kita mau makan apa?", tanya Afta melirik wanitanya masih diam daritadi. "Terserah." Afta menepikan mobilnya. "Kenapa sih yang? Jangan ngambek dong. Nanti cantiknya hilang loh." "Iya emang asisten kamu tuh yang cantik.", ucap Dela masih belum mau menatap pujaan hatinya. Karena dia tahu, sekali melihat Afta pasti dinding keangkuhannya pasti roboh Afta mengulum senyum mendengar jawaban kekasihnya. "Jadi aku cocok sama siapa?", goda Afta. "Nggak tahu.", Afta dari SMA susah punya pesona yang bisa langsung memicut hati wanita. Apalagi sekarang, wajahnya yang tampan, rahang yang tegas dan badan yang tegap serta kewibawaan yang di tampilkan. Semua sempurna. Semua cewek juga klepek-klepek melihat cowok satu ini. "Yang, aku nunggu kamu lima tahun, trus kamu malah cemburu sama asisten aku?" "Kamu ga liat tadi, asisten kamu tuh udah kaya rubah yang ngibas-ngibas ekornya biar kamu kepincut.", ucap Dela. "Lah aku kan udah kepincut sama ratu rubah di hadapan aku.", Afta menyentuh pipi Dela untuk menatapnya. Ada butiran kaca di mata Dela, "Kok malah nangis?", Afta mengusap air di pelupuk mata Dela. "Sayang, mau tahu kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu?", Dela menggeleng. "Karena di tengah semua wanita yang menatap aku seperti rubah yang mau mangsa aku, ada satu gadis yang malah hanya menatap aku dengan senyum tulus. Saat itu juga aku langsung kepincut sama cewek satu ini.", Afta mencubit ujung hidung Dela. "Aku bisa bertahan selama ini, karena aku tahu aku memperjuangkan seorang wanita yang pantas untuk masa depan aku. Aku mau menunggu selama lima tahun, karena aku tahu hanya kamu yang mau aku jadikan ibu untuk anak-anakku nanti. Aku ga mau melepaskan kamu, Del. Bahkan aku akan menunggu sampai kamu siap untuk memaafkan aku, mencintai aku lagi.", ucap Afta. Dela kembali meneteskan airmata. "Udah dong jangan nangis.", Afta mengecup kening Dela. "Kamu tahu, kalau bukan takut rasa penolakan, aku mau nyusul kamu kesana saat tahu kamu pergi dengan rasa kecewa saat itu. Bahkan saat semua orang melihat aku seperti orang ga waras, aku tetap bertahan untuk nunggu kamu. Aku mau kamu tahu bahwa aku sangat sayang, sangat mencintaimu Dela Putri Kusuma.", tiba-tiba bibir Afta telah mendarat di bibir Dela. Awalnya manis tapi lama-lama makin menuntut sampai Dela mendorong Afta. "Kenapa sayang?" "Malu kalau keliatan." "Ga keliatan kok kalau dari luar, lagian biarin aja. Toh yang aku cium calon istri aku.", Afta tertawa nakal melihat pipi Dela bersemu merah. "Yaudah kita makan di cafe deket sini aja ya. Ada FO nya juga. Siapa tahu kamu mau belanja, aku temenin hari ini. Biar nyonya senang.", Afta kembali mengecup cepat bibir Dela. Akhirnya mereka sempat membeli beberapa pasang baju yang samaan. Ceritanya mau dipakai ke Bali keesokan harinya. "Yaudah kamu istirahat ya sayang.", Afta baru mau mencium Dela tapi Dela malah menghindar. "Itu ada bunda.", Afta terkekeh melihat sikap Dela yang malah langsung keluar. "Besok aku jemput kamu ya. Biar pak Slamet yang anter kita ke bandara.", ucap Dela melambai dan langsung masuk kedalam rumah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN