Dela mengumpulkan semua keberaniannya dan meminta bertemu Afta keesokan hari setelah dia pingsan. Dela dan Afta bertemu di sebuah cafe.
Meski awalnya Afta memaksa untuk menjemput, tapi pada akhirnya dia mengalah untuk bertemu langsung di cafe.
Dela duduk memandang lalu lalang keramaian di depan cafe. Dia sengaja memilih tempat agak di pojok namun dekat kaca. Saat mobil Afta masuk parkiran dan Afta turun pun, Dela menyiapkan hatinya.
Tapi jantung Dela serasa ingin berheti saat melihat wanita itu ikut bersama Afta.
"Del, udah lama?", tanya Afta mempersilakan Chelsea duduk di bagian dalam dan Afta duduk di hadapan Dela.
"Baru kok. Kamu pesen minuman aja dulu.", ujar Dela tersenyum pada wanita yang ikut bersama Afta.
"Ini Chelsea, Del. Yah aku tahu mungkin kamu kaget, tapi aku mau semua clear dulu. Sorry aku ga bilang dulu mau ajak dia, karena aku takut kamu malah ga mau ketemu aku kalau ada Chelsea.", mata Afta teduh menatap Dela. Afta menjadi sosok dewasa di mata Dela.
"Iya, gapapa Af."
"Aku Chelsea, mungkin ini bukan pertemuan pertama kita. Tapi kita belum kenalan sama sekali.", Chelsea menyodorkan tangannya dan Dela menyambutnya. "Tapi percaya deh, gue udah sering denger kisah lu lewat Afta, Dio maupun Rina.", Dela yang sedang menyeruput minumnya malah tersedak mendengar nama kedua sahabatnya.
"Lu gapapa kan Del?", Dela melambaikan tangan menandakan dia baik-baik saja.
"Kaget ya? Mereka pasti ga cerita, takut lu salah paham pasti."
"Oke biar gue ga salah paham, ceritain semuanya."
Chelsea mengangguk pelan menatap Dela.
"Gue memang mantan Afta waktu SMA di Bandung. Lu pasti belum tahu kenapa Afta pindah sekolah.", Dela menggeleng. "Karena Afta dan gue ga direstui orangtua gue. Orangtua gue terlalu protektif sama gue. Alhasil Afta sempat disandra, digebukin bahkan diancam sama bokap gue.", mata Dela membola dan beralih menatap Afta. Afta hanya tersenyum menatap Dela.
Chelsea menarik nafas, "Gue sampai mohon-mohon sama bokap untuk lepasin Afta saat itu. Karena bokap gue juga salah satu donatur sekolah gue dulu, Afta dikeluarkan dari sekolah dan mereka sekeluarga pindah ke Jakarta.", Dela mendengarkan cerita yang bahkan dia ga tahu meski sudah menjadi kekasih Afta dulu.
"Singkat cerita, hari dimana lu liat gue sama Afta itu hari dimana gue kabur dari bokap gue. Bokap gue mau maksa gue married sama anak relasi dia. Dan gue mau dibawa ke luar negeri untuk kuliah disana. Tapi harus pergi sama calon yang dipilih bokap gue itu dan harus menikah dulu sama tuh cowok.Gue merasa gue ga cinta sama tuh orang, kenal juga ga, masa gue harus habisin sisa hidup gue sama dia, dan hidup jauh dari orangtua gue. Gue ga kebayang kalau gue nurut, apa gue bahagia atau ga. Kalau tuh cowok baik, kalau gue dikasarin disono, kalau dia bukan suami yang baik, gue mau lari kemana coba.", Dela menatap dengan mata sedih. "Jangan mellow dong, Del. Itu kan dulu, Nah singkat cerita gue kabur ke Jakarta, gue cari tau dimana Afta. Dan hari itu yang seperti lu liat mungkin Afta meluk gue, dan mencoba menenangkan gue. Tapi yang gue denger dari Rina lu liat Afta meluk dan nyium kening gue. Gue ga inget ada kejadian nyium kening deh.", Chelsea melirik ke Afta. Afta hanya mengangkat bahunya.
"Del, sayangnya Afta ke gue itu ga ada seujung jari sama cintanya dia ke elu. Jujur gue iri sama lu, punya sahabat baik dan sayang sama lu, punya pacar yang sayang banget sama lu, malah kabur pergi jauh ga pulang-pulang.", Chelsea menarik napas sebentar. "Intinya semua salah paham Del, Afta ga pernah selingkuh. Bahkan dari kejadian itu, deket sama cewek aja kaga. Yang ada cewek-cewek diusir kaya nyamuk yang nguing-nguing di kuping dia.", Chelsea malah tertawa. Tenyata dibalik sikap anggunnya, Chelsea itu cerewet banget. "Dan gue udah beberapa kali bilang mau telepon lu dan jelasin, tapi nih cowok oon satu ini selalu melarang dan ancam ga bakal mau ketemu gue lagi.", Chelsea mengenggam tangan Dela. "Del, please jangan marah lagi sama afta ya. Balik lagi sama dia.",
"Terus lu sama bokap lu gimana abis kejadian itu?", mata Chelsea membola mendengar pertanyaan Dela.
"Del, kita lagi bahas soal lu sama Afta loh."
"Ceritain dulu, jadi lu gimana sama bokap lu.", Chelsea menatap Afta dan Afta hanya mengangkat bahu kembali dan tersenyum.
"Bokap yah ngejer gue ke Jakarta. Setelah lu terbang ke Harvard, Afta digebukin lagi sama bodyguard bokap gue. Cuma gue ngancam bokap, gue mau bunuh diri kalau bokap ga mau nurutin semua kemauan gue. Yah setelah itu, bokap berubah pelan-pelan. Sekarang gue bebas nentuin pilihan gue. Asal semua baik, bokap nurut aja.", Chelsea tersenyum. "Cuma si Afta yang paling kasian. Udah digebukin bokap gue. Babak belur juga sma si Dio.", Timpal Chelsea dengan wajah meringgis.
"Dio?"
"Udahlah itu ga usah dibahas. Udah lewat kok.", akhirnya Afta buka suara setelah cerita panjang Chelsea.
"Wait, Dio ngapain kamu?"
"Yah kurang lebih aku bonyok kaya waktu digebukin anak Citra bangsa dulu ", Afta menggaruk tengkuknya yang ga gatel.
"Lah ini kok aku gatau?", tanya Dela dengan suara yang terdengar kesal. Dela mengeluarkan ponselnya.
"Mau ngapain Del?"
"Telepon Dio lah.", ujar Dela dengan nada kesel.
"Jadi kamu udah ga marah sama aku?", Afta mengambil ponsel Dela dan menatap gadis yang begitu dia rindukan. Dela menatap Afta, mata yang begitu mengharapkan dirinya.
"Maaf ya, aku ga percaya sama kamu.", Dela menatap Afta dengan rasa bersalah. Afta malah tersenyum melihat Dela.
"Eheeem," Chelsea membuyarkan suasana romantis yang ada. "Gue balik dulu ya. Biar lu berdua bisa ngobrol puanjaaaaang.", Chelsea bangun dari duduknya.
"Chel, thankyou ya dan sorry juga buat semuanya.", ucap Dela.
"Thankyou Chel.", timpal Afta.
"Yaudah gue balik duluan ya."
"Kita anter lu aja.", ucap Dela. "Yuk Af, ngapain juga minum lama-lama disini.", Dela langsung ikut berdiri menarik tangan Afta. Afta hanya tersenyum melihatnya.
***
Mobil Afta berhenti di depan sebuah kantor, "Sorry ya Chel gue culik pas jam kantor.", ucap Afta.
"Santai aja lagi. Yang penting lu berdua udah baikan.", Chelsea dan Dela saling berpelukan di bangku belakang. Lalu Chelsea turun dan melambaikan tangannya masuk kedalam kantornya.
Ayahnya meminta Chelsea mengurus cabang mereka di Jakarta.
Chelsea cerita setelah kejadian itu, ayahnya mulai membuka pikirannya. Mulai membiarkan Chelsea memilih yang terbaik di kehidupannya.
"Jadi nyonya Dela mau kemana sekarang?", Afta menoleh ke belakang menatap sang pujaan hatinya. Dela tersadar mereka tinggal berdua.
"Pulang.", ucapnya kaku.
"Siap nyonya.", Afta tersenyum dan mobil pun mulai jalan.
"Af, berhenti di depan.", keheningan selama sepuluh menit membuat Dela ga nyaman.
"Kenapa Del?"
"Buka pintu mobilnya.", ucap Dela. Afta binggung tapi dia tetap membuka kunci pintu mobil. Dela keluar dari mobil dan pindah ke depan.
"Udah jalan lagi.", ucapnya setelah mengenakan sabuk pengaman tanpa menoleh ke Afta. Afta hanya tersenyum melihat tingkah Dela.
Tiba-tiba ponsel Dela berbunyi. Tampak nama Rina di layar.
"Iya Rin, kenapa?"
"Lu kemana Del? Gue telepon rumah katanya pergi. Sama siapa? Lu kan lama di luar, masa pulang-pulang udah pergi ketemu sama orang lain, sama gue aja kaga ngajak-ngajak.", Rina diseberang sana sudah ngomel-ngomel.
"Woi penganten baru ga boleh ngomel-ngomel.", cerocos Dela."Gue kan kasih kesempatan buat lu berdua bikin ponakan buat gue.", tawa Dela terdengar renyah.
"Jadi lu pergi sama siapa?"
"Ada deh. Mau tahu aja.", Dela melirik ke Afta yang masih menatap ke jalan di depannya.
"Besok jalan yuk. Mau ya? Gue ga mau lu tiba-tiba udah ngacir balik ke Harvard tanpa jalan sama gue."
"Tenang aja, gue belum beli tiket pulang.", ucap Dela dan kali ini Afta melirik ke arahnya. "Yaudah besok jemput gue."
"Rina?", tanya Afta setelah telepon Dela masukan ke dalam tasnya lagi.
"Iyah."
"Besok mau jalan?"
"Iyah."
Lalu hening kembali. Tiba-tiba Afta menepi di pinggir jalan, padahal rumah Dela hampir sampai.
"Kenapa Af? Mau suruh aku jalan ke rumah?", Dela sudah mau membuka sabuk pengaman tapi tangan Afta mengenggam tangannya.
"Del, aku ga minta kamu terima aku jadi pacar kamu lagi saat ini, tapi setidaknya aku mau kita kayak dulu lagi. Ga kaku kaya gini.", Afta menatap Dela, Dela menatap dua mata yang penuh harap.
"Af, aku yang salah. Aku yang ga percaya sama kamu. Aku diam karena aku yang salah.", Dela terdiam. "Justru kamu berhak dapat yang lebih baik dari aku, Af."
"Aku ga mau.", ucap Afta mantap. "Aku cuma mau kamu, Del.", Dela menatap Afta. Tiba-tiba Dela meneteskan airmata.
"Kok nangis sih Del."
"Kamu nyebelin."
"Kenapa? Aku salah apa?", Afta menyeka airmata Dela. Lalu mencium pipi Dela. "Jangan nangis lagi ya. Aku ga bahas lagi deh.", Afta baru mau melanjutkan mobilnya. Afta kembali menoleh ke Dela. Tiba-tiba Dela mencium Afta tepat di bibirnya. Sebenarnya niat Dela mau mencium pipi Afta. Tapi karena Afta menoleh padanya. Dela yang malu langsung menarik dirinya, tapi Afta kembali menariknya dan mencium bibir Dela kembali.
***