"Rin, lu sama Dio ga honeymoon?", tanya Dela saat mereka berdua sedang duduk di sebuah resto. Hari ini Dela janjian sama Rina buat jalan-jalan di sebuah mall.
"Gimana mau pergi kalau nyonya besar sampai rela jauh-jauh datang ke pernikahan gue. Nanti gue pulang dari honeymoon, lu udah terbang nun jauh kesana lagi, gue ga bisa kangen-kangenan dong. Dio aja sampai cancel tuh tiket ke Bali."
Dela tertawa renyah mendengar ucapan sahabatnya. "Gue kira lu berdua ga peduli, yang penting kalian happy."
"Del, buat gue berdua, lu itu bukan cuma sahabat, tapi udah kaya saudara. Gue bahagia kalau lu bisa datang ke acara wedding gue. Dio aja sampai ga berhenti bilang kalau dia seneng banget lu mau pulang. Lu ga tahu aja, pas setelah lu terbang nun jauh kesana, Dio nyamperin Afta dan Afta habis dihajar sama Dio.", ucap Rina sambil menyeruput jus alpukat di depannya.
"Hah?! Trus Afta?"
"Dia cuma terima semua bogem dari Dio tanpa balas apa-apa.", Rina terdiam sejenak. "Afta bilang, dia pantes dapetin itu. Karena udah buat lu sedih, buat lu sakit."
"Kenapa sih bukan lu berdua langsung cerita aja, apa sih yang terjadi. Sama aja toh denger dari kalian juga. Lu nyimpen sampai lima tahun apa ga cape ya? Toh kan ceritanya sama yang akan gue denger."
"Yah bedalah cui.", Dio datang membawa nampan berisi makanan. Sedari tadi Dio sedang mengantri makanan untuk makan siang mereka.
"Apa bedanya coba jelasin?", ucap Dela menatap sahabatnya itu.
"Nih lu mau tahu abis gue hajar abis-abisan Afta bilang apa?", Dela menunggu kelanjutan kata-kata Dio."Dia bilang, Lu bisa berhenti bentar, biar gue jelasin dulu, kalaupun lu mau hajar gue sampai mati gue rela. Tapi seengaknya lu tahu apa yang terjadi. Jadi kalau gue pergi pun, lu bisa jadi saksi gue ke Dela. Tapi selama gue masih hidup, biar gue yang cerita jujur ke dia. Apa yang terjadi, dan siapa perempuan itu. Dan asal lu tahu, dia buat gue mau mati dengan pergi tanpa penjelasan dari gue", Dio menatap Dela. "Del, kasih Afta kesempatan, Chelsea itu hanya masa lalu Afta kok. Afta beneran sayang sama lu. Del, lu denger gue kan?"
"Hem, gila ya udah lama gue ga makan sop iga. Ini sih enak banget. Disono makanan indo tetap aja rasa beda. Pokoknya selama di Jakarta lu pada harus nemenin gue makan."
"DELA!! Lu ga dengerin gue ngomong??", Dio menaikan suaranya.
"Yo, malu tahu.", ucap Rina. "Disangka kita berantem lagi."
"Tenang Dio, sahabat gue yang paling jail, paling jelek, paling males, dan kalau kentut gatau tempat, gue denger semua yang barusan lu omongin.", Dela menaruh sendok dan garpu makannya di piring. "Gue tahu kok, Afta ga salah, Afta ga khianati gue. Gue juga tahu Chelsea bagian masa lalu dia. Dan gue tahu kalau dia masih sayaaaaaaaaaaang banget sama gue. Malah bisa dibilang cinta mati sama gue. Ya kan?", Dela tersenyum melihat dua sahabatnya melongo melihat kearahnya. "Dan sebentar lagi juga sahabat lu tercinta yang daritadi lu ceritain itu, ga sampe setengah jam nyampe kesini. Makanya gue suruh lu beli dua porsi, sop iga sama iga bakar. Serakus-rakusnya gue ga mungkin abis sama gue.", Dela kembali melanjutkan makannya dan membuat kedua sahabatnya saling menatap.
"Del, lu bikin gue bingung nih. Cerita kaga lu.", Dio masih menatap Dela yang malah asik menyantap makanannya.
"Mending makan daripada makanan lu dingin entar ga enak loh.", ucap Dela.
"Dela Putri Kusuma! Apa ada bagian yang gue gatau dan lu ga cerita ke gue?", kali ini Rina menatap Dela penuh selidik.
"Bentar ya. Biar gue nikmatin dulu makanan gue yang super enak ini.", Dela memang sengaja membuat kedua sahabatnya penasaran.
"Jadi mulai darimana ya.", Dela yang sudah menghabiskan satu mangkok sop iga itu menatap kedua sahabatnya.
"Cerita dari awal. AWAL!", Dio menekankan kata tersebut.
"Ngomongin apaan sih serius bener?", tiba-tiba Afta dateng dengan baju kaos berwarna hitam dan celana pendek warna cream.
"Ngomongin apa yang terlewatkan dari lu berdua tanpa gue sama istri gue tahu.", Dio menatap Afta meminta penjelasan. Afta malah tertawa melihat tingkah Dio.
"Sabar Yo, Iga gue kasian kalau kedinginan. Gue makan dulu ya abia ini gue ceritain semuanya.", Afta malah langsung menyantap iga bakar yang dia pesan ke Dela."Kamu mau Del?", Afta memotong sedikit daging iga dan menyuapi iga tersebut ke mulut Dela membuat kedua sahabatnya makin melongo melihat mereka.
"Ih makanan indo emang the best ya.", ucap Dela saat iga bakar sudah masuk ke teenggorokannya.
"Kamu mau makan apa, aku temenin. Kalau perlu tiap hari kita ganti-ganti tuh menu makanan sampe kamu puas.", ucap Afta.
"Woi lu berdua mau buat gue sama Rina mati penasaran?", kali ini Dio terlihat mulai kesel.
***