Bab 9

985 Kata
Dela menenteng heels dan tas kecil di tangannya dan kakinya hanya beralaskan sendal jepit, Dela berdiri menunggu jemputan pak Slamet. Afta mengulum senyum memandang punggung Dela. Tapi senyumnya memudar melihat Dela memijat keningnya. Perjalanan yang panjang kembali ke indo, belum cukup istirahat, harus jadi bridesmaid dadakan yang capek seharian, pasti melelahkan. Afta baru mau menghampiri Dela, namun langsung berlari melihat Dela jatuh pingsan. "Del, sadar del.", Afta langsung menggendong Dela. Dia bingung, mau bawa masuk ke dalam, takut yang lain jadi panik. Akhirnya dia bawa Dela ke mobilnya. Afta langsung membawa Dela pulang. Sesekali dia melirik gadis yang berada disebelahnya. Tiba-tiba ponsel Della berbunyi, Afta menepikan mobil dan mencari sumber suara tersebut. Terlihat nama pak Slamet di layar. "Iyah pak Slamet. Ini Afta pak." "Eh den Afta. Non Dela dimana den? Saya sudah sampai di lobby." "Oh pak Slamet, maaf ini tadi Della pingsan. Sekarang bersama saya di mobil dalam perjalanan pulang. Bapak pulang aja ya ketemu di rumah saja.", ucap Afta sopan. "Waduh non pingsan den. Iyah den, iyah. Tolong anter si non ya den.", pak Slamet memang sudah lama kerja dengan keluarga Dela. Beliau sudah menganggap Dela seperti anaknya sendiri. "Iyah pak. Mungkin dia kecapekan. Bapak hati-hati bawa mobil pulang. Ga perlu cemas ya pak.", ucap Afta. "Iyah den." Afta kembali memacu mobilnya sampai di rumah Dela. Dia mencoba memencet bel di pagar, dan mbok Lasmi yang membuka pintu gerbang. "Den Afta, lama ga kesini." "Iyah mbok. Saya mengantar Dela pulang mbok.", ucap Afta. "Lah si Slamet kan lagi jemput non. Kok malah den repot-repot anter si non." "Dela pingsan mbok. Jadi saya langsung anter dia pulang, tapi tadi pak Slamet ada telepon, sudah saya beritahu. Saat ini sedang perjalanan balik mungkin mbok.", Sebelum Dela memutuskan kuliah di luar. Afta memang menjadi teman yang sering mengantar Dela pulang. Sehingga dia sangat kenal betul dengan dua orang kepercayaan keluarga Dela. "Yaudah toh den, masukin mobilnya. Ibu sama bapak juga sedang di ruang bawah." "Iyah mbok." Afta mermarkir mobilnya dekat pintu rumah Dela. Sesaat dia menoleh gadis disebelahnya, terlihat raut lelah di wajahnya. Namun cantik itu tetap ada, bahkan terpancar kedewasaannya. Afta mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Dela yang tertidur di mobilnya itu. Lalu Afta mengendong Dela masuk. "Aduh Dela kenapa ini Af?", bunda Dela langsung menghampiri saat melihat Afta mengendong Dela masuk. "Maaf tante, kayaknya dia kecapekan. Mungkin masih jetlag, capek perjalanan, hari ini malah capek wedding Dio." "Yaudah tolong gendong dia ke kamarnya Af." pinta Ayah Dela. "Iyah om. Maaf sebelah mana ya tante om?" "Ayuk ikut tante.", mereka menaiki tangga dan sampai di sebuh kamar bernuansa hijau, ya Dela memang suka warna hijau. Katanya warna hijau itu teduh. Afta yang baru pertama kali masuk kamar Dela. Dia mengedarkan pandangannya setelah meletakan gadis itu di kasur. Dan matanya menangkap satu foto, foto yang diambil di photobooth sebuah mall. Foto mereka berdua sebelum kejadian itu. "Dia sangat sayang sama kamu, Af. Dia belum bisa pulang, tante rasa karena takut hatinya hancur kembali. Lima tahun waktu yang cukup sebenarnya untuk melupakan, tapi kalau sampai kemarin dia masih bilang kalau dia belum siap, harusnya hati itu masih retak.", Afta menarik nafas panjang mendengarnya. "Maafin Afta tante. Tapi semua ga seperti yang dia kira.", Afta mencoba menjelaskan. "Iya tante tahu. Dio ada cerita ke tante. Tapi Dio hanya bilang, Afta yang akan cerita secara rinci kejadian saat itu.", Bunda Dela duduk disamping ranjang Dela mengelus rambut anaknya. "Kamu orang pertama yang mengisi hati Dela, Af. Jadi kalau meskipun hati dia hancur untuk pertama kalinya, tetap tante rasa memang sulit buat dia lupain kamu." "Waktu itu terlalu cepat Dela pergi. Setelah kejadian itu, besoknya Dela sudah terbang ke Harvard. Afta ga sempat ketemu sama dia. Dio yang tahu mau cerita ke Dela tapi Afta larang tante. Biar Afta yang jelasin sendiri ke Dela. Tapi Afta ga menyangka dia pergi sampai lima tahun ga pulang.", Afta menatap gadis yang dia cintai di depannya masih terdiam. "Kenapa kamu ga coba hubungi Dela?" "Karena Afta mau jelasin didepan dia tante. Karena kalaupun lewat telepon ataupun chat, belum tentu Dela mau percaya. Jujur pagi tadi saat melihat Dela, itu membuat Afta punya harapan. Memang dia bersikap wajar tapi tatapan dia membuat Afta sedih tan. Afta sepertinya melukai dia terlalu dalam." Dela yang sudah sadar, mendengar ucapan Afta, Dela menatap wajah Afta yang menunduk lemah. "Bun, aku mau mandi dulu.", ucap Dela lemah. "Del, kamu udah sadar? Ada yang sakit?" Dela menggeleng, dia menatap wajah yang begitu dia rindukan. Meski sakit yang dia rasa di hati saat itu, tapi rasa sayangnya masih ada di hatinya. "Aku cuma butuh istirahat Af. Kamu pulang dulu ya. Makasih udah anterin aku.", ucap Dela. "Iyah Del, aku pulang dulu ya. Kalau kamu butuh bantuan, atau kalau kamu udah siap ketemu sama aku. Hubungi aku ya. Anytime aku pasti bisa Del.", Afta tersenyum lemah. "Tante aku pamit dulu ya." "Iyah terimakasih Af. Del, bunda anter Afta dulu ya.", Dela hanya mengangguk. "Baik tan." Setelah Afta pergi, Dela masuk kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri dengan air hangat. Setelah mandi dan mengenakan piyama berwana hijau senada dengan kamarnya, Dela menyandarkan kepalanya di jendela kamarnya, menatap bulan dan bintang yang terlihat sedikit disana. Ada ketukan pintu dan pintu terbuka. "Del, kamu sudah selesai?", Bunda melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. "Kenapa Del?" "Dela bingung bun. Dela denger semua tadi. Kalau semua salah paham, kenapa wanita itu ada tadi pagi datang bersama Afta saat Dela datang?" "Karena itu, beri Afta kesempatan buat jelasin semua Del, kamu ga bisa nerka apa yang terjadi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Dela takut bun.", bunda berdiri dan memeluk anak sematawayangnya. "Hati kamu itu seperti luka Del. Kalau kamu mau sembuh harus diobati, bukan dibiarkan begitu saja. Kamu menghindar pun tidak akan membuat luka itu sembuh Del. Kalaupun nanti sakit, setidaknya pasti ada obat yang bisa menyembuhkannya." Dela merenungkan kata-kata bunda. Mungkin ini waktunya untuk tahu siapa wanita itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN