Dela menaiki tangga di depan sebuah gereja. Terdengar seseorang memanggil namanya. Dela menoleh ke empunya suara.
"Dela!", Sosok Afta, pria yang dia rindukan. Tidak ada yang berubah, hanya terlihat kedewasaan di wajahnya. Tingginya dan paras gantengnya tak berubah.
"Akhirnya kamu pulang. Kamu ikut aku ya.", Afta langsung menggandeng Dela. Lalu dia berbalik menoleh ke wanita yang tadi di sebelahnya, "Chel, lu masuk sendiri bisa kan?", wanita sama yang terakhir Dela lihat bersama Afta saat itu. Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Afta menggandeng Dela dengan sedikit tergesa-gesa.
"Af, mau kemana ini? Acara udah mau mulai.", ucap Dela.
Afta membuka pintu sebuah ruangan, "Rin, Yo, ada kado spesial nih.", ucap Afta.
"DELA!!", pekik Rina.
"Weits, ga usah teriak bisa kayanya Rin. Gue bisa b***k ini.", ucap Dela.
"Udah mana baju buat Dela. Pemberkatan udah mau mulai. Nanti malah ga keburu, mana bajunya Lin?", tanya Afta.
"Baju apaan?", tanya Dela bingung
"Udah kamu buruan ganti. Nanti aku jelasin.", Afta mengambil baju dari tangan Lina, pacar Bambang. Dela memang tahu semua kisah temannya meskipun dia nun jauh disana. Jadi apapun kejadian disini, dia tahu. Hanya pria satu ini yang dia ga pernah tanyakan. Pria yang masih dia cintai.
"Rin, jangan nangis.", ucap Dela sebelum dia berganti pakaian warna tosca yang Afta berikan.
"Tuh kan pasti pas.", ucap Rina saat Dela keluar. Afta memandang Dela dengan senyum.
"Hayo semua, lima menit lagi mulai
bridesmaid dan groomsmen ikut masuk yuk.", ucap seorang WO.
Afta menawarkan tangannya ke Dela dengan senyum di wajahnya. Wajah yang ia rindukan.
Dela berjalan memasuki altar bersama Afta. Jadi Dio dan Rina memilih Afta, Bambang dan Lina.
"Kenapa aku yang dipilih?", tanya Dela saat mereka duduk disamping altar.
"Karena kamu sahabat mereka.", jawab Afta. "Mereka mengharapkan satu persen kemungkinan kamu pulang dengan menyiapkan ini."
"Kalau aku ga pulang?"
"Aku mundur jadi groomsmen. Kok dibuat ribet.", senyumnya lagi yang dia tampilkan. Itu membuat Dela sejenak lupa akan rasa sakitnya. Namun ekor matanya menangkap wajah gadis itu. Gadis lima tahun lalu bersama Afta, gadis yang menghancurkan rencana Dela bersama Afta.
"Kenapa bukan gadis itu yang bersama kamu?", tanya Dela.
"Nanti ya aku jelasin. Setelah acara Dio dan Rina selesai.", Afta memandang Dela sama seperti pandangan lima tahun yang lalu. Pandangan yang begitu Delanrindukan, Dela merasa tenggorokannya kering.
***
"Saya Fandio Sanjaya, mengambil engkau Rina Puspa Wibowo, menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu suka maupun duka, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus.”, ucap Dio. Dela terharu melihat kedua sahabatnya mengikat janji suci di hadapan Tuhan.
"Saya Rina Puspa Wibowo, menerima engkau Fandio Sanjaya, menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
"Dan dengan ini, kalian telah dipersatukan oleh Tuhan. Dan apapun yang disatukan Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia.", ucap pendeta yang memberkati pemberkatan mereka.
Dela merangkul sahabatnya setelah acara pemberkatan selesai. "Congrats dear.", Rina tersenyum bahagia.
"Makasih Del, lu mau pulang.", ucap Rina masih dalam dekapan sahabatnya itu.
"Aku bilang juga apa sayang, dia masa ga mau liat sahabat kecilnya nikah.", dengan bangga Dio membusungkan dadanya.
"Heh, gue udah beli tiket mahal, masih jetlag, jadi bridesmaid dadakan. Bayarannya apa toh?", cerocos Dela.
"Bayarannya ini aja Del.", Dio menarik Afta ke hadapannya.
"Gila.", desis Dela.
Dela baru mau menghampiri orangtua Dio dan Rina untuk memberi selamat, tapi tangannya digengam Afta.
"Kamu selalu cantik.", ucap Afta.
"Thankyou.", Dela menatap Afta dengan segudang pertanyaan.
Kenapa dia biasa aja, kenapa dia tetap perhatian, kenapa senyum itu tetap sama. Dela tersenyum sambil menahan air di pelupuk matanya untuk tidak jatuh.
"Setelah acara Dio, aku mau kita bicara. Aku minta kamu beri aku kesempatan ya.",
"We'll see ya.", Dela berjalan meninggalkan Afta yang tersenyum lemah menatap Dela yang menjauh.
***
Malamnya resepsi Dio dan Rina digelar meriah. Mereka mengambil tema outdoor, dan entah mengapa terlihat sangat indah dan romantis.
"Inilah waktu yang ditunggu, kita akan melihat pasangan yang baru saja diberkati tadi pagi di gereja. Semoga mereka akan setia sampai kakek nenek, diberkati dan cepat dapat anak tentunya.", tepuk tangan meriah mengiringi kata-kata MC.
"Mari kita sambut Orang tua dari kedua mempelai. Pertama Bapak Wahyu Sanjaya beserta dengan ibu Lastri Lesmana, orang tua dari Dio.", tepuk tangan meriah menyambut orangtua Dio. "Lalu Bapak Prapto Wibowo dan Ibu Dewi Puspa, ayahanda dan ibunda dari Rina."
"Dan sekarang kita sambut mempelai yang berbahagia dan diikuti para bridesmaid dan groomsmen. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Fandio Sanjaya dan Rina Puspa Wibowo.", conveti berbunyi di beberapa sisi dan tepuk tangan meriah mengantar Dio dan Rina ke altar pelaminan. Afta dan Dela berjalan berdampingan di belakang Dio dan Rina. Disusul Bambang dan Lina.
Acara meriah malam itu, dan kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai. Namun ada satu hati yang merasa takut, takut akan rasa sakit yang akan muncul kembali. Namun wajahnya mengulum senyum kemanapun di berjalan.
***