Rumah Indri berada di kompleks perumahan mewah yang setiap penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing. Mobil Dimas telah masuk ke dalam halaman rumah Indri. Pagar tinggi telah tertutup membuat siapa pun yang ada di dalam tidak akan bisa terlihat oleh orang di luar.
Indri dan Dimas telah keluar dari dalam mobil. Indri langsung mengajak Dimas masuk ke dalam rumahnya yang mewah tersebut.
"Sepi ya Dok ," ucap Dimas basa basi.
"Yah , beginilah Dok. Saya biasanya sendirian sama asisten rumah tangga jadi terkadang kesepian juga," sahut Indri lalu mengajak Dimas ke dalam.
Sesampainya mereka di dalam tampak seorang wanita separuh baya keluar dari arah dalam.
"Tolong siapin makan siang buat dua orang ya Bu Sum," perintah Indri langsung.
"Baik Nyah," sahut wanita itu yang langsung bergegas kembali ke dapur. Wanita tua itu sedikit heran melihat Nyonya membawa seorang pria ke rumah karena baru kali ini terjadi sebagai wanita yang berpengalaman karena pernah menjanda dua kali, Sumi tahu gelagat majikannya dengan pria itu. Senyum pengertian menghiasi wajah Sumi. Mungkin makan siang hanya alasan untuk nyonya berduaan dengan pria itu dan Sumi tidak mau ikut campur urusan Nyonya yang penting gajinya lancar, tinggal dia harus berpesan pada Karsih temannya sesama pembantu agar tutup mulut ketika melihat yang terjadi hari ini.
Indri mengajak Dimas ke ruang keluarga, terdapat sofa yang terlihat nyaman untuk di duduki. "Duduk dulu Dok, saya permisi dulu mau mengganti pakaian sebentar ," ucap Indri lalu pamit ke dalam kamarnya ketika melihat Dimas mengangguk kepalanya mempersilakan Indri berganti pakaian.
Sesampainya di kamar , Indri bergegas mengambil gaun berbahan lembut bermotif bunga kecil dengan tali tipis yg panjangnya tidak sampai pertengahan pahanya. Wanita itu menatap dirinya sendiri di depan cermin, Indri bingung memutuskan untuk tetap memakai bra nya atau melepaskannya karena gaun yg dia pakai membuat warna bra yg berwarna merah terlihat begitu membayang di balik gaun. Tetapi bila dia melepaskan bra nya , wanita itu takut terlihat terkesan terlalu mengundang.
Indri masih menatap bayangan dirinya di depan cermin. "Tetapi bukannya dirinya mengundang Dimas ke rumah ini karena memang ingin menggoda pria itu dan sekarang kenapa dirinya harus ragu."
Akhirnya dengan berani Indri melepaskan bra merah yamg dipakainya. Gaun yang dipakainya sedikit menyamarkan p****g p******a miliknya tetapi wanita itu yakin tidak butuh waktu lama bagi Dimas untuk melihatnya dan itu lah yang diharapkan oleh Indri.
Dimas duduk dengan santai di sofa, di depannya di atas meja telah ada minuman yang di suguhi oleh pembantu Indri yang usianya tadi terlihat lebih muda dari pembantu yg pertama bertemu dengan dirinya.
"Maaf Dok , lama ya " sahut suara lembut Indri di belakang Dimas yang membuat pria itu menoleh dan mendapati bahwa Indri berdiri di hadapannya begitu seksi dan cantik.
Dimas begitu terpana melihat Indri yang begitu mempesona, wanita itu memakai mini dress bermotif bunga, ketat membuat kedua bulatan di d**a Indri terlihat menonjol dan menantang, mata awas Dimas tertuju di kedua bulatan indah itu dan menyadari satu hal ternyata Indri tidak mengenakan bra di balik gaunnya itu. Dimas tahu pasti kalau Indri sengaja melakukan hal itu untuk memancing gairah Dimas dan wanita itu berhasil karena sekarang Dimas benar-benar telah terangsang hebat.
"Nyonya makan siangnya sudah siap," ucap Sumi pelan, pembantu Indri tiba-tiba muncul memutuskan sinyal-sinyal yang diberikan oleh sepasang dokter itu.
"Ayo, Dokter Dimas, kita makan dulu," ajak Indri yang telah melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
Dimas mengikuti langkah Indri dari belakang, mata pria itu sibuk memperhatikan goyangan pinggul Indri yang begitu menggoda.
"Silakan Dokter Dimas," ucap Indri setelah mereka di depan meja makan.
Indri dengan inisiatif mengambil piring Dimas dan menyendok nasi ke atas piring pria tersebut, wanita itu sengaja melakukannya agar ketika dirinya sedikit menunduk payudaranya bisa terlihat oleh Dimas karena membentuk gaunnya berpotongan leher rendah.
"Ma... Makasih Dok," ucap Dimas gugup. Pandangan mata Dimas tidak pernah lepas dari dua bulatan montok yang terpampang jelas ketika wanita itu menunduk untuk mengambilkan Dimas nasi dan lauk bahkan kalau Indri menundukkan tubuhnya sedikit lebih ke bawah lagi, Dimas mungkin bisa melihat p****g p******a Indri.
Suasana makan siang antara Indri dan Dimas begitu tegang. Gelombang hasrat begitu terasa kental sekali. Dimas dan Indri seakan seperti dua petarung yang sedang menunggu siapa yang akan memulai serangan.
"Gimana Dok, enak masakannya ?" Tanya Indri setelah cukup lama mereka terdiam seakan-akan sedang menikmati makanan di depan mereka. Padahal keduanya sedang gelisah, gairah telah menyelimuti mereka berdua tetapi Dimas dan Indri masih ragu untuk memulainya.
"Enak , apalagi kalau makannya di temani wanita secantik Dokter Indri ," sahut Dimas terus terang.
"Ah, Dokter Dimas bisa aja ," ucap Indri malu. Dalam hatinya Indri bersorak gembira karena Dimas sudah mulai berani merayu dirinya.
Setelah mereka selesai makan siang. Indri dan Dimas lalu pindah ke ruang keluarga. Indri meninggalkan Dimas sebentar untuk mengambilkan kopi sambil berpesan kepada kedua pembantu agar tidak masuk ke ruang keluarga kalau tidak ada yang penting.
Sumi hanya menganggukkan kepalanya maklum sedangkan Karsih hanya bisa diam saja karena telah diperingatkan oleh Sumi tentang kelakuan majikannya itu. Sebenarnya Karsih tidak setuju melihat kelakuan Indri Nyonya nya tetapi dia hanya pembantu di rumah ini jadi tidak berhak untuk melarang majikannya yang penting gajinya lancar di bayarkan makanya Karsih akan menutup mata dan mulutnya dan pura-pura tidak tahu kelakuan Indri Nyonya nya.
Indri membawakan kopi dan kue melangkah menuju ke ruang keluarga yang terdapat di rumahnya. Di sana telah duduk Dimas yang sedari tadi gelisah dan tidak sabar.
"Silakan Dokter, saya buatkan Dokter Dimas kopi ," ucap Indri sambil menaruh kopi dan kue di atas meja yang berada di depan Dimas. Posisinya yang menunduk untuk menaruh kopi kembali membuat Dimas bisa melihat dua bulatan montok menggantung indah di depan mata Dimas membuat pria itu langsung b*******h.
Indri lalu duduk di hadapan Dimas, dengan sengaja wanita itu menyilangkan kaki kirinya ke atas kaki kanan membuat pahanya terlihat jelas oleh Dimas.
"Di minum Dok," ujar Indri ramah.
"Eh, iya makasih " sahut Dimas yang langsung mengambil cangkir kopi. Sambil menatap Indri , Dimas meminum pelan kopinya.
"Hmm, apa tawaran pencuci mulutnya masih berlaku ?" Tanya Dimas pelan sambil menaruh cangkir kopi ke atas meja. Tatapan mata pria itu tidak pernah putus menatap Indri yang juga sedang menatap dirinya.
Tatapan keduanya penuh dengan gairah, Dimas menanti jawaban Indri yang seakan begitu lama keluar dari mulut wanita itu. Tetapi gairah seksual tersebut terputus ketika terdengar suara telepon berbunyi.
Dimas bergegas mengangkat telepon miliknya yang berbunyi.
"Ya Halo.. iya saya segera ke sana ," jawab Dimas di telepon.
Indri yang mendengar perkataan Dimas langsung kecewa karena dari jawaban pria itu di telepon berarti sebentar lagi pria itu harus pergi.
"Maaf Dokter Indri, saya harus pergi," ucap Dimas sambil meringis kecewa. Pria itu benar-benar kecewa karena kebersamaannya dengan Indri harus usai akibat telepon yang mengharuskan dirinya segera ke rumah sakit.
Indri yang mengetahui bahwa Dimas harus pergi hanya bisa tersenyum tipis dan berkata. "Tidak apa-apa Dokter Dimas."
"Terima kasih atas makan siangnya Dok, walaupun hidangan pencuci mulutnya belum sempat saya cicipin tetapi saya berharap lain waktu bisa merasakannya," kata Dimas sambil bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menuju ke pintu keluar.
Indri hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan Dimas, wanita itu tahu bila Dimas juga kecewa harus pergi tetapi Indri juga yakin bila nanti ada kesempatan buat dirinya dan Dimas kembali bertemu dan menuntaskan gairah mereka.
Setelah berpamitan Dimas segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Indri yang masih berdiri di depan pintu rumahnya memperhatikan mobil Dimas yang berlalu meninggalkan rumahnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Bagi Dian berangkat kerja sekarang terasa berat sekali, semuanya di karenakan Alex muridnya sendiri. Seperti hari ini , Dian terpaksa berangkat sendiri ke sekolah karena suaminya Dimas harus berangkat lebih pagi ke rumah sakit karena ada kasus yang harus di tanganin oleh suaminya itu dengan mengendarai motor matic miliknya Dian menuju ke sekolah dengan perasaan takut.
Wanita itu sengaja berangkat lebih siang karena rasa enggannya. Sesampainya di sekolah suasana sudah ramai. Para murid sudah berdatangan karena memang jam masuk sekolah sebentar lagi akan berbunyi.
Dian segera menuju ke ruang guru yang telah ramai dengan rekan kerjanya dan benar saja sebentar kemudian bel tanda pelajaran akan di mulai berbunyi membuat satu persatu rekan guru, Dian beranjak meninggalkan ruangan guru sehingga akhirnya meninggalkan Dian seorang diri. Kebetulan hari ini mata pelajaran biologi yang di ajarkan Dian ada pelajaran kedua sehingga satu jam ke depan Dian bisa santai dan biasanya kalau begini Dian pergi ke ruangan BP untuk menghabiskan waktu sambil menunggu jamnya mengajar.
Wanita itu sedikit heran ketika melihat pintu ruang BP terlihat terbuka padahal kuncinya ada pada Dian dengan sedikit bingung wanita itu masuk ke dalam ruangan tersebut setelah Dian berada di dalam, pintu tiba-tiba langsung tertutup dengan keras dan terdengar kunci di putar.
Dian langsung berbalik untuk melihat apa yang terjadi dan betapa terkejutnya wanita itu. Wajah Dian langsung memucat dan dirinya mundur menjauhi pintu.