Jam praktek Dimas telah selesai dan pria itu sedang bersiap untuk pulang. Walaupun pria itu tadinya berniat untuk mengirimkan pesan kepada Indri tetapi nyatanya tidak bisa dilakukannya karena kesibukannya dengan pasien, sehingga membuat Dimas akhirnya bermaksud untuk menunggu waktu yang tepat saja karena pria itu juga yakin Indri mempunyai perasaan sama sepertinya, dilihat dari gerak-gerik wanita itu yang memancing-mancing dirinya.
Dimas melirik jam tangannya dan melihat sudah pukul dua siang, waktu makan siang bahkan sudah lewat, Dimas berniat untuk mampir membeli makanan sebelum kemudian pulang ke rumah. Jam praktik malamnya nanti jam enam sore jadi masih ada waktu untuk pria itu beristirahat di rumah.
Langkah kaki Dimas begitu ringan menuju ke tempat parkir mobilnya.
"Dokter Dimas.. ?"
Terdengar suara lembut memanggil Dimas sehingga membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang tempat suara yang memanggilnya.
Di belakang Dimas berdiri Indri dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya yang cantik. Wanita itu sudah melepaskan jubah Dokter yang berwarna putih. Indri mengenakan blouse berwarna hijau dengan rok ketat berwarna coklat tua.
Wanita itu menghampiri Dimas yang masih berdiri diam. "Mau pulang Dok ?" Tanya Indri basa-basi padahal wanita itu juga tahu kalau jam praktik Dimas telah usai.
"Iya Dok, saya mau pulang," jawab Dimas cepat. Pria itu memperhatikan wajah Indri yang terlihat memerah karena terkena panas matahari yang bersinar dengan teriknya.
"Dokter Indri juga mau pulang ?" Dimas balik bertanya.
"Iya Dok, boleh saya ikut Dokter sampai ke daerah utama," sahut Indri.
"Dokter tidak bawa mobil ?" Tanya Dimas heran.
"Tadi pagi saya ke rumah sakit naik taksi jadi ya begini ini, lagi mencari orang yang mau menumpangi saya pulang," jelas Indri sambil tersenyum menggoda.
"Sial" . Dimas merasa Indri benar-benar berniat untuk menggoda dirinya. Dengan semua ucapan dan perilaku wanita itu. Dimas yang memang tertarik dengan Indri tentu saja tidak bisa menolak Indri.
"Iya tentu saja Dok, mari .. "ajak Dimas ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri. Dimas masuk ke dalam mobilnya disusul oleh Indri. Tanpa sepengetahuan pria itu yang sedang sibuk memasangkan sabuk pengaman. Indri sengaja menarik rok ketat yang dipakainya agar lebih naik ke atas sehingga sampai ke pertengahan pahanya membuat paha yang putih terlihat jelas.
Indri begitu nekat melakukan hal itu karena ingin melihat reaksi Dimas, bahkan karena kelakuannya sendiri wanita itu merasa celana G-string yang dia pakai terasa lembab akibat dirinya yang telah terangsang hebat.
Setelah memasangkan sabuk pengaman, Dimas lalu menghidupkan mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya keluar dari area rumah sakit.
"Saya belum makan siang, apakah Dokter Indri mau menemani saya makan siang dulu sebelum saya antar pulang," kata Dimas.
"Hmm, bagaimana kalau Dokter Dimas antar saya pulang , lalu kita makan siang di rumah saya saja, " ucap Indri malah berbuat nekat mengajak Dimas ke rumahnya lagi pula wanita cantik itu merasa bila mereka di rumah lebih bebas dan tidak takut akan ada orang yang akan melihat kebersamaan mereka berdua. Dan dia bisa lebih bebas menggoda Dimas.
Mobil Dimas berhenti di lampu merah, dan pria itu menoleh ke arah wanita cantik yang duduk di sampingnya itu. Ajakan Indri untuk makan siang di rumah wanita itu begitu berani dan terus terang. Sekarang tinggal Dimas yang harus menjawab ajakan Indri.
"Apa tidak mengganggu Dok ?" Tanya Dimas kembali, pria itu hanya ingin memastikan bahwa semua tidak akan menjadi masalah buat mereka berdua bila dia akhirnya menerima ajakan Indri untuk makan ke rumah wanita itu.
Indri tersenyum genit, wanita itu bergeser duduknya agak menyamping sehingga sedikit menghadap ke arah Dimas, mata Dimas memperhatikan Indri dan matanya sedikit terbelalak ketika melihat rok yang dipakai oleh rekannya sesama Dokter itu naik hingga ke atas bahkan pria itu bisa melihat warna merah dari celana dalam yang dipakai oleh Indri ketika wanita itu sedikit membuka pahanya.
Dimas membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering karena melihat pemandangan yang begitu nakal di depan matanya.
"Justru saya mengajak Dokter Dimas ke rumah saya karena kita bisa lebih leluasa di sana dari pada kita pergi ke Resto, Dokter tenang saja di rumah tidak ada siapa pun hanya ada asisten rumah tangga yang tidak berani macam-macam," jelas Indri dengan suara agak mendesah manja.
"Kalau begitu saya terima ajakan Dokter Indri untuk makan siang di rumah Dokter," sahut Dimas cepat.
"Saya harap bukan hanya makan siang saja yang saya dapatkan," ucap Dimas dengan maksud terselubung. Pria itu dengan berani dan sengaja mendaratkan tangannya di atas paha Indri yang mulus lalu mengelus pelan dan ketika Indri hanya diam saja bahkan malah membuka pahanya lebih lebar membuat Dimas semakin yakin kalau rekan kerjanya itu berniat menggodanya. Tangan Dimas lebih berani lagi mengelus paha Indri hingga ke bagian dalam paha wanita itu.
"Saya akan berikan Dokter Dimas pencuci mulut yang bisa buat Dokter ketagihan," bisik Indri dengan perkataan bercabang. Wanita itu juga dengan beraninya mengelus paha Dimas membuat tubuh Dimas langsung tegang apalagi kejantanannya yang langsung meronta ingin bebas dari himpitan celananya.
"Lampunya sudah hijau Dok," ujar Indri pelan. Ketika Dimas masih terpaku diam padahal lampu jalan sudah berwarna hijau.
"Eh, iya..." Sahut Dimas salah tingkah sambil memperbaiki duduknya karena kejantanan Dimas yang telah tegang akibat elusan tangan Indri.
Diam-diam Indri tersenyum tipis, wanita itu benar-benar menyadari bahwa Dimas telah dikuasai oleh nafsu. Mata Indri melirik ke arah tengah celana Dimas dan mengetahui bahwa tonjolan di tengah-tengah celana itu terlihat memgembung pertanda bahwa pria itu telah terangsang.
Mobil lalu berjalan pelan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Indri. Dimas terlihat begitu tegang, gairah pria itu telah bangkit semua akibat wanita di sampingnya ini.
Sementara Indri juga gelisah. Kewanitaannya terasa gatal dan p****g p******a menegang akibat gairahnya, tindakannya mengajak Dimas ke rumah termasuk nekat Karena di rumah ada asisten rumah tangganya tetapi wanita itu sudah tidak peduli lagi. Gejolak gairah seksualnya telah tidak bisa di tahan lagi dan dia butuh seorang pria untuk meredakan gairah itu dan pria tersebut adalah Dimas. Semua lebih mudah bagi Indri karena ternyata rekan sesama Dokternya itu rupanya merasakan hal yang sama.
Dimas dan Indri sudah sama-sama tidak sabar untuk segera sampai ke rumah Indri. Hasrat dan gairah membuat mereka melupakan bahwa mereka berdua sama-sama telah menikah dan mempunyai kehidupan rumah tangga yang bahagia. Semuanya tertutupi oleh nafsu dan gairah.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dian sedang duduk termenung di ruangan BP. Wanita itu sendirian kebanyakan rekan sesama guru sudah pada pulang tetapi Dian rasanya enggan untuk pulang. Padahal biasanya setelah habis mengajar wanita itu bergegas untuk pulang karena mengingat anaknya Angel yang sendirian di rumah hanya di temani asisten rumah tangga yang membantu Dian menjaga anaknya itu.
Tetapi hari ini berbeda dari biasanya. Semua terjadi gara-gara seorang pemuda bernama Alex yang membuat Dian gelisah. Ada gejolak asing yang dirasakan oleh wanita itu.
Perlakuan Alex kepada Dian seakan membuka sesuatu yang baru bagi Dian. Walaupun hati menolak tetapi tubuh Dian menginginkan kembali perlakuan nakal Alex terhadapnya.
Ancaman Alex yang awalnya membuat Dian takut tetapi entah kenapa sekarang malah membuat Dian seakan tidak sabar ingin Alex segera melaksanakan ancamannya itu.
Dian melipat tangannya di atas meja dan menunduk di atas tangan yang terlipat. Wanita itu berusaha untuk mengusir ingatannya akan perlakuan Alex tadi pagi. Berusaha melupakan bagaimana muridnya itu menghisap payudaranya.
Suara erangan terdengar dari mulut Dian, wanita itu kembali merasa gairah muncul yang membuat celana dalamnya kembali lembab.
"Tidak... Aku tidak boleh begini," sentak Dian berbicara sendiri. Wanita itu lalu berdiri dari duduknya dan bergegas membereskan barang-barang.
Dian bermaksud untuk pulang ke rumah, wanita itu berharap sesampainya di rumah dirinya bisa melupakan tentang apa yang terjadi hari ini dan berharap semoga besok semuanya kembali normal dan semuanya telah terlupakan.
Dian langsung saja masuk ke dalam taksi yang dia hentikan tanpa menyadari bahwa sedari awal wanita itu keluar dari ruangan guru sampai wanita itu naik ke taksi. Gerak-geriknya di perhatikan oleh Alex yang sedang duduk diam di dalam mobilnya.
Senyuman lebar menghiasi wajah tampan pemuda itu. "Tunggu saja Bu Dian , kita akan bermain-main nantinya," ucap Alex dengan senyuman yang semakin lebar ketika membayangkan apa yang akan dia lakukan kepada gurunya yang manis itu.