Bab 5

1592 Kata
Dimas sedang duduk dengan santai di kantin rumah sakit sambil meneguk kopi yang di pesannya. "Boleh saya temani Dok ?" Terdengar suara lembut di belakang Dimas yang membuat pria itu menolehkan kepalanya dan mendapati Indri berdiri sambil tersenyum manis. "Oh, Dokter Indri. Tentu saja boleh, silakan duduk," sahut Dimas, pria itu lalu berdiri dan dengan cepat menarik kursi disampingnya untuk Indri duduk. "Begitu cantik" cetus benak Dimas ketika melihat Indri duduk di hadapannya. Wanita itu hari ini memakai blouse berwarna hijau muda dengan rok ketat di atas lutut, pakaian itu membentuk tubuh Indri yang seksi terlihat semakin seksi. "Dokter Dimas kok melihat Saya sampai begitu sih," ucap Indri, wanita itu bukannya tidak menyadari arti dari tatapan mata Dimas tetapi Indri hanya sengaja berpura-pura tidak tahu. "Eh, maaf saya tidak bermaksud begitu," sahut Dimas jadi salah tingkah sendiri ketika di tegur oleh Indri. Senyuman manis menghiasi wajah cantik Indri. Dengan suara lembutnya, wanita itu berkata. "Tidak apa-apa Dokter Dimas, lagian wanita mana sih yang tidak senang dilihatin pria seperti Dokter Dimas," ujar Indri sengaja memancing reaksi Dimas. Sikap Indri sedikit lebih berani dan genit terhadap Dimas, wanita itu ingin melihat bagaimana Dimas menanggapi sikapnya, bila nanti pria itu biasa saja Indri akan kembali bersikap hormat kepada pria itu yang merupakan rekan sejawatnya sesama Dokter. Sejak semalam ketika dirinya m********i dengan mengkhayalkan Dimas membuat Indri tidak bisa menahan perasaannya lagi, apalagi melihat sikap suaminya yang akhir-akhir ini berubah lebih sibuk dan lebih sering meninggalkan dirinya sendirian membuat Indri terkadang butuh perhatian dan belaian seorang pria. Indri tahu, dia seorang wanita dengan nafsu libido yg tinggi. Dulu ketika hubungannya dengan suaminya masih mesra, hampir setiap waktu di kala ada kesempatan mereka selalu saja bercinta. Seks rutin menjadikan Indri menjadi lebih bersemangat menjalani hari tetapi semenjak suaminya sibuk dengan pekerjaannya dan entah apa lagi. Seks menjadi jarang terjadi dan itu membuat Indri terkadang uring-uringan. Dan sekarang duduk dihadapannya seorang pria yang pernah menggugah hati Indri. Pria yang diam-diam sering diperhatikan oleh Indri. Indri seakan telah dirasuki oleh pikiran-pikiran jahat. Wanita itu seperti mendapatkan bisikan setan. "Kenapa tidak dia goda saja Dimas, dia yakin pria itu juga menyukainya. Di lihat dari tatapan tertarik di mata Dimas ketika memandangi dirinya". Dimas sedikit terkejut mendengar perkataan Indri. Pria terdiam bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Indri barusan. Dimas takut kalau ternyata dirinya hanya salah paham atas sikap Indri walau bagaimanapun Indri adalah rekan sejawatnya dan Indri juga istri orang, takutnya bila Dimas salah menanggapi sikap Indri malah di kira wanita itu melecehkannya. "Maksud Dokter , saya pria seperti apa ?" Tanya Dimas akhirnya memberanikan diri. Indri tersenyum genit sambil menatap Dimas dengan tatapan yabg sedikit menggoda. "Hmm, ya pria seperti Dokter Dimas, mapan, pintar dan gagah. Saya yakin istri Dokter pasti beruntung mendapatkan suami seperti Dokter yang bisa memberikan nafkah lahir dan nafkah batin yang pasti membuatnya puas ," ucap Indri berucap pelan sambil mengedipkan matanya yang berbulu mata lentik. Dimas sedikit terbelalak kaget. Setelah mendengar ucapan Indri dan melihat sikap wanita di hadapannya ini. Dimas semakin yakin bila Indri memang berniat untuk menggoda dirinya. Dengan sikap genit dan ucapannya yang menyerempet ke hal-hal pribadi. "Oke , Indri kalau kamu sudah memancing begini tidak mungkin aku menolak umpan yang kamu berikan." Ucap Dimas di dalam hatinya. Pria itu lalu bersandar dengan santai di kursi yang didudukinya. Dimas sengaja menatap Indri dengan tatapan tertarik. Matanya menjelajahi tubuh wanita di depannya itu sebelum berhenti di kedua bulatan montok yang tertutup blouse berwarna hijau itu. Indri yang tahu di mana mata Dimas menatap malah semakin membusungkan dadanya. "Suka sama yang Dokter lihat ?"tanya Indri genit. Tatapan Dimas beralih ke mata Indri , pria itu bisa melihat tantangan di mata Dokter cantik di depannya ini. "Saya lebih suka lagi kalau bisa melihatnya tanpa penutup ," jawab Dimas dengan berani. Umpan yang Indri berikan sudah ditangkap oleh Dimas dan sekarang Dimas ingin melihat apakah Indri akan menarik pancingnya. Kilatan mata Indri terlihat senang ketika mendengar ucapan Dimas. Tetapi baru saja wanita itu ingin membalas perkataan Dimas, ketika tiba-tiba rekannya sesama Dokter menghampiri mereka. "Siang Dokter Dimas, siang Dokter Indri, lagi santai saja nih ?" Tanya Dokter senior rekan mereka. "Iya Dok, "jawab Dimas singkat. Sebenarnya pria itu sedikit kesal karena kebersamaannya dengan Indri terganggu apalagi pria itu masih ingin mendengar jawaban atas perkataannya tadi tetapi karena ada Dokter senior membuat Dimas terpaksa menahan diri. Sementara Indri hanya bisa tersenyum tipis memperhatikan Dimas yang terlihat agak kesal karena mereka berdua terganggu oleh Dokter senior yang datang menyapa mereka. Indri menyadari bahwa Dimas telah memakan umpannya dan tinggal sekarang bagaimana dirinya mau bertindak, apa langsung menarik pancingnya atau mengulurkan dulu agar pria itu gelisah. "Kalau begitu saya permisi dulu, Dok, masih ada keperluan lain," ucap Indri yang berdiri dari tempat duduknya. Mata Indri menatap Dimas dengan pandangan penuh arti. "Iya silakan Dokter Indri ," sahut Dokter senior dengan ramah. Dimas masih memperhatikan Indri yang berjalan meninggalkan dirinya. Goyangan pinggul wanita itu begitu menggoda Dimas membuat hasrat pria itu tergugah. "Dok... Dokter Dimas." Dimas tersentak terkejut mendengar suara Dokter senior yan memanggilnya. "Eh, maaf Dok" ucap Dimas salah tingkah karena ketahuan tidak memperhatikan Dokter senior dihadapannya itu. "Tidak apa-apa Dok, sepertinya Dokter Dimas lagi ada yang dipikirkan," sahut Dokter senior itu dengan ramah. Dimas lalu mengobrol santai dengan rekan seniornya itu. Pria itu berusaha untuk fokus dengan pembicaraannya tetapi pikiran pria itu selalu teralihkan kepada Dokter cantik dan seksi, rekan sejawatnya sesama Dokter itu, membuat pria itu tidak sabar untuk segera kembali bertemu dengan Indri. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️ Dian begitu gelisah dan cemas. Sepanjang mengajarkan mata pelajaran biologi di kelas , wanita itu begitu khawatir apalagi kelas terakhir yang diajarkannya adalah kelas Alex. Sepanjang pelajaran wanita itu menyadari tatapan mata muridnya itu yang tidak pernah lepas darinya. Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh Dian, perasaan wanita itu begitu takut karena kejadian tadi pagi. Tidak henti-hentinya wanita itu menyesalkan apa yang telah terjadi tetapi semuanya tidak bisa di ulang kembali. Penyesalan yang wanita itu rasakan sekarang tidak ada gunanya lagi karena semua sudah terjadi. Wanita itu baru bisa menarik nafas lega ketika bel tanpa waktu pulang terdengar dan pelajaran akhirnya selesai juga, segera Dian membereskan buku-bukunya. "Baik kita lanjutkan pelajaran kita Minggu depan dan jangan lupa baca bab dua puluh lima karena Minggu depan Ibu akan membahasnya," kata Dian penutup pelajaran hari ini. Setelah mendengar perkataan Dian, semua murid berbondong-bondong keluar dari kelas dan bergegas untuk pulang. Riuh suara-suara muridnya tidak terlalu di perhatikan oleh Dian karena wanita itu duduk di kursinya sambil menarik nafas lega. "Woi, Bro kalian duluan saja ," ucap Alex kepada para teman satu Genk nya. "Lho, kenapa Lex ?" "Gue ada urusan sebentar dengan Ibu Dian," jawab Alex santai. Sementara wajah Dian langsung memucat ketika mendengar ucapan Alex. Wanita itu langsung gelisah dan cemas. Padahal semestinya di usia Dian yang telah tiga puluh tujuh tahun, dirinya bisa menghadapi masalah yang dihadapinya ini tetapi sekarang Dian malah takut karena merasa masalahnya terlalu berat untuk wanita itu hadapi. Sebentar saja suasana kelas telah sepi, hanya tinggal Dian dan Alex saja yang berada di ruang kelas itu. Alex berdiri di hadapan Dian dengan tangan terlipat di depan d**a, mata pemuda itu memperhatikan gurunya dengan tatapan begitu tajam. "Mau apa kamu ?" Tanya Dian dengan gemetar. Situasi benar-benar terlihat terbalik, seolah Dian lah yang berusia lebih muda daripada Alex. Senyum puas menghiasi wajah Alex karena pemuda itu tahu bila gurunya itu takut kepadanya. Alex lalu mendekati Dian, dan membuat wanita itu lalu berdiri dan melangkah mundur. "Jangan macam-macam Alex, saya guru kamu," ucap Dian berusaha tegas. Suara tawa Alex memenuhi ruang kelas yang kosong itu. Pemuda itu terlihat tidak peduli dengan ucapan Dian malah langkah kakinya tidak berhenti semakin mendekati Dian. Ketika mereka sudah berdiri berdekatan dengan cepat Alex langsung menarik tubuh ramping Dian dan melumat bibir tipis gurunya itu dengan bernafsu sebelum kemudian melepaskan wanita itu dan melangkah mundur. Dian yang tidak menyangka apa yang akan dilakukan oleh Alex hanya bisa limbung sesaat sebelum kemudian wanita itu berpegangan pada meja untuk menahan tubuhnya. Ciuman Alex hanya sepersekian detik tetapi efeknya benar-benar di rasakan oleh Dian membuat wanita itu jadi terpaku diam. "Kejadian tadi pagi dan sekarang ini hanya permulaan Bu karena aku akan membuat Ibu takluk," janji Alex mantap lalu pemuda itu melangkah dengan santai keluar dari ruangan kelas meninggalkan Dian yang masih terpaku diam. Sepeninggal Alex, Dian duduk lemas di kursinya. Wanita itu menangkup wajahnya sendiri dengan keduanya. Dian masih tidak percaya Alex muridnya sendiri begitu berani melakukan tindakan seperti tadi. Bahkan Dian masih bisa merasakan bekas ciuman Alex tadi dan tanpa sadar wanita itu menjilat bibirnya sendiri. Entah kenapa ada perasaan lain di hati Dian. Jantung wanita itu berdebar kencang. Wanita itu lalu bersandar di kursinya sambil mengingat kembali apa yang telah terjadi pagi tadi. Jujur saja Dian merasakan perasaan yang berbeda ketika Alex melakukan hal kurang ajar terhadapnya. Di antara rasa takut, Dian juga merasakan rasa berbeda ketika tangan Dan bibir Alex menyentuh tubuhnya. Perasaan yang telah lama tidak dirasakan lagi ketika bersama dengan suaminya Dimas. Dian bisa merasakan gairah seksual muncul dengan cepat ketika Alex menyentuh tadi apalagi ketika bibir pemuda itu mengisap payudaranya membuat kewanitaannya menjadi lembab. "Tidak... Ini tidak benar... Tidak boleh terjadi lagi," ujar Dian sambil menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran nakal tentang dirinya dan Alex muridnya sendiri. Dengan langkah lulai Dian lalu melangkah keluar dari ruang kelas. Menutup pintu dan wanita itu berharap perkataan Alex tadi hanya sekadar perkataan tanpa bermaksud untuk melakukan hal yang sebenarnya karena Dian tidak yakin bila dirinya bisa menolak Alex bila pemuda itu mewujudkan niatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN