Dian turun dari mobil Dimas suaminya yang mengantarkan dirinya ke sekolah, tempat dia mengajar.
Suasana sekolah masih sepi hanya ada beberapa siswa yang sudah datang. Dengan langkah santai Dian menuju ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru hanya ada dirinya sendiri tanpa ada rekan guru yang lain. Rupanya Dian benar-benar datang kepagian hari ini.
Di sekolah swasta itu, Dian adalah guru biologi merangkap guru BP yang mengurusi siswa-siswi yang bermasalah di sekolah. Wanita itu membuka buku kesiswaan dan melihat sebuah nama siswa yang selalu menjadi biang masalah di sekolah, Alex siswa yang selalu membuat onar di sekolah tempat Dian mengajar. Sudah sering kali Dian harus memanggil anak muridnya itu untuk diberikan nasihat ataupun hukuman tetapi tetap saja Alex tidak berubah dan kembali membuat ulah membuat pusing pihak sekolah yang telah bingung harus bersikap bagaimana kepada pemuda itu.
Alex merupakan anak pengusaha sukses dan kaya raya dan tampaknya orang tua Alex juga mempunyai kuasa di sekolah ini sehingga membuat pemuda itu menjadi arogan dan merasa bisa melakukan apa saja karena ada uang dan kekuasaan untuk menyelesaikan masalah yang pemuda itu perbuatan.
Dan kemarin Dian baru saja mengetahui bahwa Alex melakukan pembullyan terhadap temannya hanya karena temannya itu tidak mau mengerjakan tugas milik Alex dan itu berarti hari ini Dian harus kembali memanggil pemuda itu untuk ke sekian kalinya bertemu dengannya untuk mendapatkan sangsi atas kelakuannya.
"Selamat pagi Bu Dian," kata rekan gurunya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi," sahut Dian ramah dan dimulailah aktivitas pagi wanita itu karena beberapa saat kemudian satu persatu rekan Dian sesama guru datang dan dimulailah obrolan antara mereka sambil menunggu waktu untuk mengajarkan mata pelajaran kepada para murid.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dian duduk di ruang BP menunggu Alex yang dipanggilnya untuk diberikan sangsi atas perbuatan pemuda itu. Ruang BP terpisah dari ruang guru karena pihak sekolah tidak ingin membuat siswa-siswi menjadi tontonan guru-guru atau pun teman-temannya sehingga dibuatlah ruangan khusus di belakang ruang guru tempat untuk guru BP memberikan nasihat ataupun teguran atas kelakuan murid-murid tersebut.
Pintu diketuk dari luar, Dian tahu itu pasti Alex yang disuruh menghadap dirinya. "Masuk " ucap Dian tegas.
Pintu terbuka dan masuklah pemuda berusia dua puluh tahun itu. Di usia Alex sebenarnya pemuda itu sudah seharusnya lulus tetapi karena kenakalannya dan sikapnya di sekolah membuat Alex harus mengulang beberapa tahun di sekolah itu, kekuasaan dan kekayaan orang tua Alex tidak membuat pemuda itu lolos, malah orang tua Alex lah yang membuat pemuda itu harus mengulang kelas beberapa kali. Rupanya orang tua Alex merupakan orang tua yang tegas.
Alex seorang pemuda berwajah tampan dengan postur tubuh tinggi tegap membuat pemuda itu begitu percaya diri. Alex benar-benar sadar akan ketampanannya apalagi di tunjang dengan kekayaan orang tuanya sehingga membuat pemuda bernama Alex itu menjadi sosok yang arogan dan sikap arogannya membuat Alex merasa bebas bertindak semaunya karena merasa semua hal bisa diselesaikan dengan uang dan kekuasaan yang dimiliki oleh orang tuanya.
"Siang Bu ," kata Alex sambil nyengir dan memasang wajah tidak berdosa.
"Masuk, dan duduk " ucap Dian.
Dengan gaya santai dan ogah-ogahan Alex duduk di kursi di depan Dian guru BP. Pemuda itu memperhatikan wanita di depannya itu dengan gaya santai, tidak ada kesan takut dari wajah pemuda itu walaupun Ia sadar baru saja melakukan kesalahan.
Alex sudah terbiasa di panggil ke ruang BP sehingga membuat pemuda itu sudah tidak peduli dengan hukuman apa yang nanti akan diterima. Justru Alex malah sibuk memperhatikan Dian gurunya yang sedang membaca catatan yang ada di atas mejanya.
Mata tajam Alex memperhatikan wajah gurunya yang terlihat ayu dan manis, pandangannya menelusuri tubuh montok Dian. "Semok sekali " ucap Alex di dalam benaknya.
Alex pemuda yang bukan saja berandalan tetapi pemuda yang pengalaman seksual telah banyak, pemuda itu malah telah melakukan hubungan seks ketika baru kelas dua SMP dengan Tante temannya sendiri dan tanpa ada yang tahu sebenarnya Alex telah lama memperhatikan Dian guru biologi sekaligus guru BP . Itu terjadi karena Alex yang terlalu sering di panggil ke ruang BP akibat ulahnya yang nakal.
Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh Alex terkadang memang sengaja pemuda itu lakukan agar dirinya selalu dipanggil oleh Dian dan sekarang di sinilah Alex harus menerima konsekuensi atas kelakuannya mem-bully temannya sendiri.
"Alex.. !" Terdengar helaan nafas berat dari mulut Dian ketika memandang muridnya yang sedang duduk di depannya ini.
"Ibu sudah pernah mengatakan bila kamu sekali lagi melakukan kenakalan, Ibu akan mengirimkan surat kepada orang tua kamu dan menyuruh mereka datang ke sekolah dan tampaknya apa yang Ibu bilang tetap tidak bisa membuat kamu mengerti jadi, ini surat yang harus kamu berikan kepada Ayah kamu," kata Dian sambil menyerahkan amplop putih yang di dalamnya ada surat yang harus diberikan kepada orang tua Alex.
Pemuda itu mengambilnya dengan santai. Amplop yang disodorkan oleh Dian kepada, dengan sengaja tangan Alex menyentuh dan meremas singkat tangan gurunya itu membuat Dian terkejut dan sontak langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Alex muridnya itu
"Jangan kurang ajar kamu," sentak Dian keras tetapi Alex yang mendapatkan teguran hanya tersenyum miring malah pemuda itu dengan sengaja menatap tubuh gurunya itu dengan tatapan kurang ajar.
Wajah Dian telah merah karena marah, wanita itu benar-benar tidak menyangka muridnya itu begitu berani berbuat tidak sopan terhadapnya yang merupakan guru.
Dian lalu berdiri dari kursinya dan bermaksud untuk membuka pintu ruang BP dan menyuruh Alex untuk keluar dari ruangan tersebut tetapi wanita itu tidak pernah mengira bahwa muridnya itu bisa melakukan tindakan begitu tidak sopan terhadapnya.
Lengan Alex merangkul pinggang ramping Dian ketika wanita itu berjalan di samping kursinya dan menarik wanita yang merupakan gurunya itu ke pangkuannya. Dengan cepat Dian berusaha keras untuk melepaskan pelukan Alex , tetapi tenaganya tidak mampu melepaskan lilitan lengan Alex yang kuat dan ketika wanita itu bermaksud untuk berteriak meminta tolong mulutnya di sumpal oleh mulut Alex yang dengan kurang ajar dan beraninya melumat bibir Dian dengan liar. Lidah pemuda itu bahkan telah menerobos masuk ke dalam mulut Dian dan menjelajahi rongga mulut wanita itu, menyapu langit-langit mulut Dian lalu menelusuri gigi wanita itu dengan liar.
Dian begitu terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh Alex muridnya itu. Mata Dian yang terbelalak bertemu dengan mata Alex yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Dian tidak bisa berkutik, usahanya untuk melepaskan diri terhentikan. Wanita itu seakan lemas tidak bertulang, diam tidak bergerak.
Terus terang selama pernikahannya dengan Dimas suaminya, belum pernah wanita itu merasakan ciuman yang begitu liar dan vulgar, bahkan air liurnya saja sudah belepotan di sekitar mulut dan dagunya. Alex seakan tidak pernah puas mencium bibir tipis Dian , pemuda itu seakan tidak peduli dengan nafas gurunya itu yang telah mulai tersendat, bahkan lidah Alex dengan nakal mengajak lidah Dian bergelut dan berbelit.
Dian yang awalnya meronta ingin bebas, lambat laun malah hanya diam saja wanita itu seakan terhanyut dan dengan sedikit ragu membalas ciuman Alex muridnya sendiri.
Pemuda dua puluh tahun yang telah berpengalaman dalam berhubungan seks tentu mengetahui bahwa guru BP nya itu telah terjerat gairah. Ada rasa puas di hati Alex karena ternyata wanita yang terlihat begitu alim dan sopan di luar bisa begitu cepat terpengaruh oleh hasrat yang awalnya dipaksakan kepadanya.
Mengetahui bahwa Dian telah takluk, pemuda itu malah semakin gencar melakukan kenakalannya. Tangan Alex telah bertengger di d**a Dian dan dengan pelan meremas p******a gurunya itu.
Ciuman usai dan bibir Alex sekarang mendarat di leher jenjang Dian memberikan ciuman dan jilatan basah di leher berwarna madu itu.
Antara sadar dan tidak , Dian malah mendongakkan kepalanya seakan memberikan kesempatan lebih bebas bagi Alex untuk menikmati dirinya. Dari mulut tipis wanita itu bahkan terdengar desahan lirih.
Entah kenapa Dian , wanita yang biasanya begitu santun dan sopan itu seakan lupa segala-galanya. Lupa bahwa dirinya seorang istri, lupa bahwa dirinya seorang Ibu, lupa bahwa dialah seorang guru dan yang sedang melakukan hal nakal terhadapnya itu adalah muridnya sendiri.
Hasrat telah membutakan Dian membuat wanita itu melupakan segalanya, hanya ada gairah yang butuh untuk di lampiaskan. Kewanitaannya bahkan telah basah membuat celana dalamnya terasa lembab.
Kemeja yang dipakai Dian bahkan telah terbuka dan payudaranya telah terpampang jelas di depan mata Alex yang menatapnya dengan tatapan penuh nafsu. Pemuda itu langsung mendaratkan ciuman di p****g kecokelatan milik Dian membuat tubuh wanita itu tersentak kejang dan mulutnya mengerang lirih.
Lidah Alex menjilati p****g kecil itu sebelum kemudian mengulumnya dan menghisapnya dengan kuat.
"Aaakhhh... Enak Bu ?" Tanya Alex parau dan kembali mengisap p****g s**u Dian seakan bayi yang sedang kehausan.
Mata Dian yg terpejam langsung terbelalak, wanita itu tersadar apa yang telah terjadi saat ini.
"Tidaakk... " Teriak Dian, wanita itu langsung mendorong tubuh Alex dengan keras dan karena kuatnya dorongan Dian malah membuat kursi yang di duduki oleh Alex ikut terjungkal ke belakang , membuat Dian dan Alex sama-sama ikut terjatuh.
"Aduuh... ". Terdengar suara kesakitan dari mulut Alex , pemuda itu berbaring di lantai dengan Dian yang menindihnya di atas.
Dian bergegas turun dari atas tubuh Alex dan berdiri dengan panik. "Apa yang telah dia lakukan ? Membiarkan muridnya sendiri melakukan hal m***m kepadanya."
Wajah Dian terlihat begitu pucat. Kerusakan telah terjadi , membiarkan muridnya sendiri melakukan hal m***m bukan tindakan yang benar, semua sangat-sangat salah.
Kekalutan Dian malah membuat wanita itu seakan lupa untuk membenahi pakaiannya yang telah terbuka, memperlihatkan payudaranya yang p****g masih terlihat basah akibat ludah Alex.
Di sisi lain Alex malah berdiri dengan santai, malah pemuda itu membetulkan kursi yang terbalik ke posisi semula. Pandangan mata Alex tidak pernah beralih dari Dian yang berdiri ketakutan. Situasi seakan berbalik. Sekarang Dian lah ada di pihak yang lemah dan Alex lah yang terlihat berkuasa.
"Mau apa kamu ?" Tanya Dian takut ketika melihat Alex mendekati dirinya.
Alex tersenyum lebar dan Dian melihat senyuman lebar Alex semakin ketakutan. "Tidak jangan," mohon Dian ketika lengan Alex kembali merengkuh pinggangnya yang ramping.
"Ibu menikmatinya tadi dan jangan berbohong karena aku tahu itu ," ucap Alex arogan. Pemuda itu bahkan dengan kurang ajarnya meremas p******a Dian dan mencubit putingnya dengan kuat membuat Dian tersentak dan meringis sakit.
"Kita akan melanjutkan di lain waktu Bu, dan bila itu terjadi, kita akan melakukannya sampai tuntas ," janji Alex, pemuda itu lalu melepaskan Dian yang masih terpaku diam. Dengan tenang Alex melangkah meninggalkan Dian. Tidak lupa dilemparkannya Kertas panggilan untuk orang tuanya ke atas meja kerja Dian.
"Aku tidak perlu ini lagi," ucap Alex lalu dengan santai pemuda itu keluar dari ruang BP meninggalkan Dian sendiri di ruangannya.
Dian luruh di atas lantai sepeninggalan Alex, wanita itu menangisi apa yang telah terjadi. Kesalahan yang begitu besar telah dirinya lakukan tidak ada lagi cara untuk menghilangkan apa yang baru saja terjadi tadi yamg tinggal hanya ada rasa penyesalan dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi nanti bila Alex melaksanakan ancaman.