Dian Rahayu menatap jam dinding yang tergantung di kamar. Sudah hampir jam sebelas malam tetapi suaminya Dimas masih belum pulang juga. Sudah kebiasaan Dian yang selalu menunggu suaminya pulang setiap malam.
Wanita itu memaklumi jam pulang suaminya yang tidak menentukan karena profesi suaminya yang seorang Dokter menuntut pria itu harus siap sedia bila dibutuhkan.
Sebelum mereka menikah saja wanita itu sudah tahu risiko mempunyai suami seorang Dokter dan Dian menerimanya. Bagi Dian cukuplah Dimas suaminya adalah pria yang bertanggung jawab dan setia kepada dirinya. Suaminya itu tidak pernah macam-macam walaupun banyak bergaul dengan Dokter atau perawat muda dan cantik tetapi Dian percaya seutuhnya terhadap Dimas. Percaya kalau Dimas tidak akan mungkin mengkhianati dirinya.
Dian, wanita berdarah Sunda berumur tiga puluh tujuh tahun, tubuhnya sedikit berisi terutama di bagian d**a yang terlihat besar ukurannya akibat pernah hamil dan menyusui membuat ukuran p******a lebih besar dari ukuran sewaktu masih gadis. Dian tidak gemuk hanya bagian tertentu saja di tubuhnya yang sedikit berisi , wanita itu masih memiliki pinggang langsing walaupun pantatnya montok dengan kulit yang berwarna seperti madu , wajahnya mencerminkan wajah lembut keibuan mungkin juga karena profesinya sebagai seorang guru yang membuat cara berpakaian wanita itu juga cenderung santun dan tertutup.
Bagi Dian pernikahannya dengan Dimas adalah pernikahan yang bahagia, wanita itu tidak menyesal menunggu cukup lama untuk menikah karena akhirnya berjodoh dengan pria seperti Dimas , seorang pria yang bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya.
Suara mobil yang terdengar masuk ke halaman rumah membuat Dian bergegas keluar dari dalam kamar , sambil menggulung rambut panjangnya dan menjepitnya ke atas wanita itu melangkah menuju ke pintu depan. Setelah melihat sekilas dari balik kaca memastikan bahwa itu benar Dimas suaminya yang pulang barulah Dian membukakan pintu rumah.
"Malam sekali Mas ," ucap Dian sambil mengambil tas dari tangan Dimas suaminya.
"Iya , tadi ada kecelakaan Bus dan banyak korban yang dibawa ke rumah sakit ," sahut Dimas menjelaskan.
"Astagfirullah, banyak korbannya Mas ?" Tanya Dian dengan nada prihatin.
"Dua korban meninggal selebihnya hanya luka ringan, Angel sudah tidur ?"
"Sudah Mas, lagian sudah malam begini. Mas mandi dulu saja biar aku buatin teh hangat," kata Dian sambil melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Dimas masih memandangi istrinya yang menghilang ke dapur lalu memutuskan mengikuti saran istrinya untuk mandi.
Keluar dari dalam kamar mandi setelah mengenakan celana pendek dan kaos oblong, Dimas melihat Dian istrinya sudah berbaring di atas ranjang dengan sebuah buku di pangkuannya. Wanita itu meletakkan buku di atas meja kecil di samping ranjang dan beranjak turun dari atas ranjang lalu mengambilkan cangkir yang berisi teh hangat.
"Di minum dulu Mas mumpung masih hangat ," suruh Dian sambil menyodorkan cangkir kepada Dimas suaminya.
"Terima kasih ," ucap Dimas lalu mengambil cangkir dari tangan Dian dan meminum teh yang dibuatkan oleh istrinya itu.
Dian hanya tersenyum manis dan kembali ke ranjang dan mengambil buku yang ditaruhnya di atas meja dan membukanya. Sesaat kemudian Dimas mengikuti Dian dengan duduk di samping istrinya sambil memainkan ponselnya.
Di liriknya sekilas istrinya yang tampak terlihat lembut mengenakan pakaian tidur batik sederhana. Gairah timbul di diri Dimas, pria itu menginginkan istrinya malam ini. Dengan lembut di tariknya buku yang sedang dipegang Dian sehingga buku itu berpindah tangan.
Dian menatap Dimas dengan bingung. "Mas mau kamu malam ini," bisik Dimas sambil mengecup singkat bibir tipis Dian.
Mendengar ucapan Dimas membuat Dian tertegun tetapi wanita itu tidak menolak malah Dian beringsut untuk berbaring di atas kasur membiarkan suaminya Dimas melakukan keinginannya.
Dimas mencium bibir Dian dengan lebih liar dan di balas Dian dengan lembut dan perlahan. Pria itu lalu mengangkat daster yang dipakai oleh Dian dan menariknya lepas dan melemparkannya ke lantai. Mata Dimas menelusuri tubuh ramping Dian yang berbaring pasrah dan diam di bawahnya. Kebiasaan Dian yang tidur tanpa memakai bra membuat Dimas langsung bisa melihat dua bulatan p******a istrinya.
Bibir pria itu turun dan mengecup puncak p******a Dian istrinya yang terlihat lebih rata karena posisinya yang berbaring. Lidahnya menjilati p****g mungil itu sambil tangannya turun untuk mengelus kewanitaan Dian dari luar celana dalamnya, sebelum kemudian menarik turun celana tipis itu dan kain tipis itu menyusul daster Dian tergeletak di lantai.
Dimas lalu bergegas melepaskan kaos dan celana pendeknya lalu kembali menindih tubuh Dian istrinya setelah mencium bibir Dian , Pria itu lalu menuntun kejantanannya untuk masuk ke dalam v****a Dian yang masih terasa sempit walaupun wanita itu telah pernah melahirkan.
"Aaakhhh... Mas Dim," desah Dian lirih, kedua lengan ramping Dian melingkar leher Dimas sementara di bawah sana p***s suaminya itu keluar masuk dengan cepat dan kuat di dalam v****a Dian.
Sementara Dimas semakin cepat menyodok v****a Dian berusaha untuk meraih kepuasannya. Pria itu menatap wajah istrinya yang sendu tetapi entah kenapa pria itu malah melihat Indri yang sedang mengerang nikmat di bawah membuat Dimas semakin bernafsu dan semakin kuat menyodok v****a Dian membuat wanita itu akhirnya mendesah lirih mendapatkan orgasmenya sementara Dimas masih mengejar kepuasannya yang telah semakin dekat dan ketika pelepasannya tiba, pria itu mengerang keras dan mengentak pinggul, menyemprotkan spermanya ke dalam v****a istrinya.
Setelah bisa menguasai dirinya , Dimas lalu menarik kejantanannya dari dalam v****a Dian dan berbaring puas di samping istrinya itu. Dimas memang puas tetapi merasa masih ada yg kurang, selalu seperti ini. Perasaan itu selalu hadir akhir-akhir ini. Seks hanya sebagai penyaluran saja tetapi biarpun kepuasan di dapat tetap saja Dimas selalu merasa ada yang kurang.
Pria itu melihat istrinya bergeser dan turun dari atas kasur, sambil memunguti daster dan dalamannya wanita itu lalu melangkah ke kamar mandi. Terdengar suara air mengalir pertanda istrinya pasti sedang membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.
Sementara Dimas hanya bisa menghela nafas pelan , pria itu lalu mengambil celana pendeknya dan memakainya di ikuti kaos oblong lalu kembali berbaring di kasur. Kedua tangannya terlipat ke atas , menyangga kepalanya.
Ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka, Dimas memejamkan matanya pura-pura telah tertidur. Pria itu merasa istrinya telah berbaring di sampingnya dan setelah merasa istrinya itu telah jatuh tertidur , Dimas membuka matanya. Pria itu memastikan istrinya telah lelap atau belum dan ketika melihat istrinya telah tertidur pulas baru lah Dimas turun dari ranjang dan dengan pelan melangkah keluar dari dalam kamar.
Dimas lalu duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, pria itu termenung diam. Pikirannya masih tidak menyangka bahwa tadi ketika bercinta dengan istri yang dia cintai, bisa-bisanya Dimas mengkhayalkan wanita lain dan wanita itu adalah Indri, wanita yang sama sekali tidak pernah ada di pikirannya bahkan mereka saja jarang bertemu walaupun profesi mereka sama-sama dokter tetapi karena kesibukan mereka dengan pasien membuat mereka otomatis jarang bertemu.
Tetapi kenapa bisa Dimas membayangkan Indri, apa mungkin karena tadi mereka baru saja bertemu tetapi pertemuan mereka juga berlangsung biasa saja tidak ada yang spesial.
Dimas masih termenung cukup lama sebelum memutuskan untuk kembali ke kamar. Pria itu berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh dan menganggap apa yang terjadi tadi hanya sekadar kebetulan saja.