"Garka!! Kamu itu kenapa sih selalu saja berantem??!! Kamu itu pintar cuma sifat kamu itu kayak berandalan!! Pagi-pagi udah berantem aja!! Ini baru hari kedua semester baru, Garkaaa!!"
Garka hanya diam saja saat di ceramahi oleh Bu Dori selaku guru BK nya. Ia menyenderkan tubuh nya di kursi sambil menatap datar guru di hadapan nya itu. Tak ada raut takut seperti kebanyakan murid saat menghadapi guru BK. Jangan kan seperti ini, menghadapi ribuan musuh seorang diri pun Garka tidak takut sama sekali.
Wajah nya terdapat luka lebam di sudut bibir dan juga mata. Pelipis nya sedikit mengeluar kan darah akibat terkena pukulan. s**l nya, semua luka itu malah membuat Garka semakin tampan saja.
Seragam nya pun jauh dari kata rapih. Kemeja putih yang lecek, bercak darah di kerah seragam nya, tidak memakai dasi, baju seragam di keluarkan dari celana nya, dan masih banyak lagi peraturan tentang berpakaian yang cowok ini langgar.
Karena peraturan ada untuk di langgar.
Mungkin seperti itulah alasan yang selalu ia berikan jika di tanya oleh guru BK perihal ulah nya.
Tadi saat ia akan masuk kelas, ia melewati lorong kelas dua belas dan tidak sengaja mendengar Bimo—Musuh bebuyutan nya yang menjabat sebagai senior nya itu menjelek-jelekan Zeus. Jadi saja Garka menghajar Bimo. Garka tidak akan berhenti jika saja Aiden dan Dami tidak menghentikan nya. Emosi Garka mudah tersulut, sedetik saja Aiden dan Dami tidak memisah kan Garka dan Bimo. Dapat di pastikan senior mereka itu akan menjumpai rumah sakit.
"Catatan BK kamu itu banyak sekali dan semua itu karena berantem dan juga bolos!! Kamu berubah semenjak Rio senior mu itu menyerahkan geng aneh itu sama kamu!!"
"Jangan hina geng saya," ucap Garka dalam.
"Saya berucap fakta!! Bisa saja kamu di keluarkan dari sekolah karena memimpin geng tidak bener ini!!"
Garka tidak dapat menahan emosi nya. Ia bangkit dari duduk nya dan menatap tajam guru di hadapan nya. Sebagaimana brutal nya pun, Garka tidak bisa melukai wanita. "Kepala sekolah tidak akan pernah berani mengeluarkan saya," ucap nya lalu pergi.
Bu Dori hanya diam dengan wajah melongo. Karena memang benar, aura mencekam ada pada diri Garka membuat nya tidak bisa berbuat apa-apa selain membenar kan letak kacamata yang bertengger di hidung nya.
Tak dapat ia pungkiri juga, nada rendah Garka yang menurut kabar menyeram kan, asli nya lebih dari sekedar menyeramkan.
****
"Ketua kemana?"
Aiden menggendikan bahu nya sambil berfokus pada layar laptop. Tangan kanan nya bergerak lincah menggeser mouse tanpa kabel itu. Sedangkan Damian yang tengah memangku gitar menjawab.
"Dia ke ruang BK tadi. Mungkin sekarang lagi bolos ke warung belakang."
Ilo mengangguk. "Sekarang jam pelajaran siapa?"
Aldi melihat jam yang melingkar di tangan nya. "Jam pelajaran Bu Gita." laki-laki itu menenteng tas nya keluar. "Gue mau nyusul Ketua bolos aja lah. Males gue belajar," ucap nya lalu berjalan keluar kelas.
"Gue juga."
"Ilo!! Tunggu gue!!" Dami membawa gitar nya beserta tas nya. "Lo ikut, Den?"
Aiden menutup laptop nya lalu memasuk kan nya ke dalam tas. "Gue belum dapet MVP," ucap nya sambil mengayunkan kaki menyusul langkah Dami.
Dari arah berlawanan, Bu Gita melihat ke empat murid nakal ini yang hendak membolos. Membuat mereka semua melotot kan mata nya dan berlari sekencang mungkin menghindari amukan nya.
"DAMIAN!! ABILO!! ALDINO!! AIDEN!! KALIAN MAU BOLOS LAGI?!! BARU MAU MULAI PELAJARAN DI KELAS SEBELAS INI KALIAN UDAH MAU BOLOS LAGI??!! SINI KALIAN!!"
Langkah mereka berempat semakin lebar. Membuat Bu Gita menghembus kan nafas kasar dan mengurut d**a menghadapi sikap mereka yang semakin parah.
Sedangkan di lain tempat. Keempat laki-laki pentolan SMA itu sedang tertawa. Minus Garka karena tidak ada, juga minus Aiden karena laki-laki itu jarang bahkan menjorok ke tidak pernah tertawa kecuali tersenyum kecil.
"Gue lama-lama liat Bu Gita, Bu Dori, Sama Pak Ujang kasian juga," ucap Ilo sambil tertawa dengan tangan memegang perut nya.
"Ya udah sana lo tobat. Banyak dosa lo makanya jadi jomblo melulu."
Aldi tertawa. "Setuju gue sama lo, Dam. Udah berapa abad si Ilo jomblo? Ngenes bawaan nya."
Ilo memukul keras punggung Aldi dan Damian yang terus menerus tertawa membuat kedua nya mengumpat pelan. "Ngehina mulu kerjaan lo berdua."
"Ngaca lo!!" ucap Dami dan Aldi berbarengan.
Aiden menggelengkan kepala nya lalu melompat dengan mudah ke atas pagar tembok belakang SMA Garuda. Tubuh Aiden paling tinggi di antara sahabat-sahabat nya jadi sangat mudah untuk nya melompat tanpa susah-susah mencari kursi atau apapun untuk menopang nya naik ke atas pagar.
"Tungguin woy!!"
Tak menghirau kan teriakan Dami. Aiden langsung loncat, turun ke belakang sekolah yang beberapa meter dari sana terdapat warung belakang atau yang biasa mereka sebut Warbel. Basecamp Legendaris turun temurun geng Zeus yang di waris kan dari para senior terdahulu nya.
Terlihat di sana sudah ada Garka yang tengah duduk bersandar dengan kaki di naik kan ke atas meja. Di hadapan nya ada sebungkus rokok dan satu buah korek gas. Bahkan, di mulut nya kini tengah menghisap barang candu itu seolah hanya barang itu lah penghilang beban nya.
Aiden duduk berhadapan dengan Garka. Satu kaki nya ia naik kan ke bangku, tangan nya mengeluarkan Laptop dari tas.
"Yang lain?"
"Otw."
Hening. Itu lah jika hanya ada Aiden dan Garka. Mereka berdua itu bagaikan es di kutub utara. Dingin dan beku.
Garka menghembuskan asap rokok nya menciptakan bentuk bulat di udara.
"Makan?"
"Udah."
Garka mengangguk. Ia merasa Aiden itu anak yang cuek dan tidak pedulian. Tetapi jauh di lubuk hati Aiden, Garka hafal betul jika Aiden itu anak yang baik dan hangat . Hanya saja, kisah hidup nya hampir mirip dengan nya. Anak broken home yang di telantar kan Papah dan Mamah nya. Maka dari itu, Garka sangat mengerti perasaan Aiden.
"Eehh, duo kutub utara udah ngaso aja di sini."
"Berisik!" ucapan Garka membuat Dami meringis.
"Lo di apain sama Bu Dori?"
"Biasa."
Ilo mengangguk lalu mengambil sebatang rokok dan menghidup kan nya. "Lo mau gimana sekarang? Bang Edgar di DO gara-gara balapan liar. Bang Rio di pindah sekolah kan gara-gara tawuran." laki-laki itu menghembuskan kan asap ke udara. "Gue gak mau ketua kita kena juga."
"Betul. Meskipun lo anak pemilik sekolah, bukan berarti lo gak bisa di keluarin dari sekolah kan?" Aldi ikut duduk di sebelah Dami dan Ilo sambil memangku gitar milik Dami.
Tak ada yang tahu bahwa Garka adalah anak pemilik sekolah. Ia rahasiakan ini rapat-rapat karena Papa nya pun meminta seperti itu.
Garka memandang datar keempat sahabat nya yang tengah menatap nya juga. Bahkan, Aiden sampai mau repot-repot mengalihkan perhatian dari laptop nya untuk nimbrung.
"Tenang aja."
Decakan terdengar dari keempat nya. Selalu seperti itu jawaban Garka. Tidak pernah memuas kan. Namun, mereka tahu bahwa Garka selalu bisa mengatasi sesulit apapun kondisi nya dengan baik.
"Lo semua gak mau bilang kalau Zeus harus bubar, kan? Kalau itu mau lo semua, duel sama gue." Garka menatap tajam sahabat-sahabat nya. "Bu Dori bilang, gue nakal gara-gara Zeus."
Aiden menepuk pelan bahu Garka yang terlihat naik turun karena emosi. Seperti nya amarah nya belum stabil semenjak laki-laki itu keluar dari ruang BK. Seharus nya mereka tidak menyindir tentang masalah ini dulu karena masalah seperti ini sangat sensitif untuk Garka.
"Maksud mereka baik. Mereka dan gue juga gak mau lo di pindah sekolah apalagi di pecat. Kita bakal kehilangan sosok ketua kepala batu kayak lo."
Memang hanya Aiden yang berani bicara seperti itu. Ucapan nya menenangkan namun menusuk dalam satu waktu.
Garka menginjak rokok yang tersisa sedikit lagi itu hingga bara api nya hilang. Ia memejam kan mata nya sejenak lalu menyugar rambut hitam nya kebelakang dengan tangan.
"Gue gak mau kehilangan keluarga gue untuk kedua kali nya. Zeus adalah keluarga yang bikin gue betah buat hidup." setelah mengucap kan itu, Garka beranjak lalu masuk ke sebuah posko yang biasa mereka pakai untuk tidur.
Damian, Aldi, Ilo, dan Aiden hanya bisa menatap sendu Garka. Di antara semua nya, yang mempunyai beban paling berat adalah Garka. Di hadap kan dengan masalah keluarga yang sangat pelik membuat nya menjadi sebrutal ini.
Zeus adalah keluarga yang sangat Garka sayangi. Bahkan ia merasa keluarga utama nya adalah anak-anak Zeus. Tanpa Zeus, Garka seperti tidak mempunyai gairah hidup. Bersama Zeus, ia masih mempunyai alasan untuk bertahan. Kehangatan yang tak dapat di berikan dari keluarga nya sendiri.
Geng beranggotakan 200 orang dengan lima orang pengurus inti ini bukan geng yang di pakai semena-mena. Memang, kebanyakan murid yang ikut geng ini adalah anak nakal dan langganan BK. Hanya saja mereka nakal secara wajar. Hanya ikut balapan liar, membolos, merokok, berantem, dan melanggar peraturan sekolah tanpa melibat kan n*****a atau hal lain nya yang sangat menyimpang.
Tak ada tanda pengenal untuk anggota Zeus yang mencolok. Mereka hanya di berikan Bandana berwarna hitam berlambang Garuda dan petir yang di ikat kan di saku atau di tangan mereka. Tidak ada yang berani mencuri atau memakai Bandana itu selain anggota Zeus.
Nama Zeus di ambil dari dewa tertinggi menurut kepercayaan Yunani. Senior angkatan jauh sebelum Garka sering mengganti nama geng mereka. Namun, akhir nya menetap lah nama Zeus ini.
Loyalitas selalu di atas.
Begitulah semboyan yang tertanam kuat di Zeus.