BAB 5

1617 Kata
"Liat!! Ya ampun!! Kak Garka ganteng banget si." "Eh, Ri. Lo dapet foto itu dari mana?" "Dari grup dong. Gue kan masuk grup Zeus lover's." "Ih, gue pengen masuk juga dong!!" "Tau tuh si Riri, gak bilang-bilang." rajuk Anin. Keyra mendengus dan memilih untuk mencatat rumus matematika yang tadi sudah di sampai kan oleh Pak Kenta. Tradisi perempuan jika sudah mengumpul lebih dari dua orang pasti sedang bergosip ria. Sudah dua hari ini telinga Keyra panas karena terus menerus mendengar nama Zeus dan Garka di perbincangkan di mana-mana. Zeus Lover's atau Zeus Maniac. Itulah mungkin nama fandom yang beredar di kelas sepuluh ini. Dari sekian banyak nya kakak kelas mereka, tetap saja mereka terus menerus membicarakan kelima pengurus utama geng itu. "Lo semua tuh apa si yang di kagumin dari Kak Garka? Dia itu bad. Bukan panutan banget. Mending lo kagumin tuh Kak Ando. Udah ganteng, pinter, ketos lagi," sewot Keyra. Memang, sebagai cewek normal Keyra akui bahwa Garka dan teman-teman nya itu sangat tampan. Tapi tetap saja ia tidak menyukai kelakuan yang menurut kabar sangat buruk itu. Untuk ukuran kelas IPA, memang kelas mereka itu cepat akrab dan gaul. Dalam waktu dua hari ini saja mereka sudah layak nya berteman tahunan. Tidak ada rasa canggung dan kaku saat mereka bercengkrama. Semua nya bersatu tanpa pandang bulu. "Keyra gak asik," keluh Wanda. Anin menarik tangan Keyra agar gadis itu mau mengalih kan perhatian nya. "Key, dengerin. Kak Garka itu bad boy berkelas. Dia itu punya pesona tersendiri yang gak bisa di elak siapapun. Sifat nya yang dingin malah ngebuat cewek penasaran dan pengen naklukin hati nya." Riri menyetujui ucapan Anin, begitupun dengan yang lain nya. "Betul tuh. Di lirik sama Kak Garka aja udah bikin panas dingin, apalagi kalau jadi pacar nya." Keyra berdecak keras. "Yang nama nya berandal atau bad boy itu gak ada yang berkelas. Gue gak suka sama anak SMA yang tampilan nya kayak preman. Apalagi dia sok banget berkuasa gitu." Semua nya melongo mendengar penuturan jujur nan pedas yang keluar dari mulut Keyra. Baru kali ini ada yang tidak mempan dengan pesona Garka. Mereka semua menyayangkan Keyra. Cewek itu sangat cantik dan imut. Padahal bila di sandingkan dengan Garka pun tidak buruk-buruk amat. "Hati-hati. Nanti lo malah suka lagi sama Kak Garka. Kan dari gak suka terus bisa jadi suka." Keyra mengetuk kan jari nya ke kepala lalu ke meja nya. "Dih amit-amit." "Ucapan gue selama ini manjur lo, Key. Jangan di remehin karena gue bukan nasi," ucap Wanda yang mengundang gelak tawa sekumpulan perempuan kelas X IPA 2 itu. "Lo jangan bilang gitu, dong." "Gue baik loh, ngedoain lo buat jadi sama Kak Garka." Riri mengangguk. "Kalau di liat-liat juga lo cocok kok Key sama Kak Garka. Lo cantik, pinter juga." "Iya dia pinter, tapi buat urusan cinta. NOL BESAR." Anin sengaja menekan kata terakhir nya untuk menyindir Keyra. Perempuan itu sudah gemas sekali kepada Keyra yang sedari menginjak bangku SMP tidak pernah dekat dengan cowok manapun. Bahkan, Keyra menolak mentah-mentah semua cowok pentolan SMP mereka dulu yang menyatakan perasaan kepada nya. "Lagian lo pada masih kecil. Udah mikir nya pacaran aja." Wanda meringis dan membenar kan dalam hati ucapan Keyra itu. "Tapi kan masa putih abu-abu cuman sekali. Ya lo kasih kenangan bagus gitu buat di ceritain nanti ke anak cucu lo." Zeta yang sejak tadi hanya mendengar kan pun ikut berbicara. "Betul tuh. Ada yang bilang kalau masa SMA itu masa paling indah. Gue sih gak mau kalau masa itu flat aja." "Heh, kok lo semua mojokin gue sih?" tanya Keyra sambil menunjukan wajah cemberut membuat semua nya tertawa. "Lo gak bakal bisa ngelawan Zeus Lover's. Bakal kalah telak lo," ucap Anin sambil mencolek dagu Keyra membuat nya mengumpat pelan. **** "Garka, bangun. Lo mau pulang?" Garka yang tengah tertidur di sofa usang yang terdapat di posko tersebut mengerjapkan mata nya merasa terganggu dengan suara dan tepukan seseorang. "Lo mau pulang? Udah sore," ulang suara itu. Tanpa menoleh sebenar nya Garka sudah tahu siapa pemilik suara itu. Ia mengusap mata nya lalu mengacak rambut nya sendiri. Ia bangkit dari tidur nya dan berjalan meninggal kan posko. Rasa nya baru sebentar ia beristirahat setelah kemarin lembur untuk mengedit jepretan nya. Garka memang mempunyai suatu pekerjaan kecil, yaitu sebagai juru kamera. Sudah banyak orang memakai jasa nya untuk mempromosikan perusahaan nya. Kadang kala, jika ada brand dengan model baru di distro mereka, Garka akan membuka masa pengenalan dengan cara mempromosikan baju itu menggunakan model. Garka sebagai fotografer nya. Tak usah di tanya hasil jepretan nya. Karena hasil nya sangat bagus dan sebelas duabelas seperti fotografer profesional. "Lo mau kemana?" seakan tahu tabiat Garka. Aiden terus menerus bertanya. Ia tahu bahwa Garka jarang pulang ke rumah nya hanya untuk sekedar tidur atau bermalam. "Distro." Aiden menyusul langkah Garka dan berjalan di samping nya. "Gue ikut. Yang lain udah balik." Garka mengangguk. Ia mengeluarkan jaket berwarna hitam dari tas nya. Motor sport ninja berwarna hitam juga terparkir di pekarangan warung bersama motor sejenis nya milik Aiden. Tangan nya memasangkan helm fullface berwarna senada dengan motor tersebut. Baru saja Garka ingin menancap gas. Getaran di saku celana nya mengurung kan niat nya itu. Dengan decakan malas, Garka membuka kembali helm nya. "Kenapa?" tanya Aiden yang sudah berada di atas motor nya. "Lo duluan. Gue ada urusan," ucap Garka sambil melihat pesan yang masuk ke ponsel pintar nya. Aiden mengangguk lalu berlalu dengan motor nya. Sedangkan Garka kembali memakai helm nya dan menancap gas menuju tujuan nya sekarang berlawanan arah dengan Aiden. Di perjalanan, Garka menyumpah serapahi dalam hati pengirim pesan itu. Tak ada wajah bersahabat sekarang. Jalanan padat kota Jakarta ia tebas tanpa mempedulikan angin kencang yang menusuk kulit tangan nya. Beberapa menit kemudian, Garka sampai di tempat itu. Ia mengarah kan motor nya ke gerbang besar bertuliskan ARGESWARA di atas nya. Satpam yang sudah tahu pun segera membuka kan pintu untuk majikan muda nya. Garka turun dari motor dan membuka helm nya setelah memarkir kan motor itu sembarangan di halaman. Kaki nya ia ayunkan untuk masuk ke dalam rumah. Rumah? Ini terlalu besar untuk di sebut rumah. Ketukan sepatu dari Garka memecah keheningan yang selalu ada setiap hari nya di sana. Pandangan nya ia edar kan, tidak ada yang berubah setelah tiga hari ini ia tidak pulang ke rumah. Sunyi dan damai. Damai? Tidak dengan penghuni rumah nya. Saat orang lain bilang jika rumah ku istanaku. Mungkin Garka akan meralat nya menjadi rumah ku neraka ku. Terlalu sepi untuk di katakan rumah dan terlalu senyap untuk ukuran rumah yang berpenghuni. "Baru pulang kamu."  Garka tak menoleh saat mendengar suara bariton itu. Ia hanya menghentikan langkah nya tanpa mau repot-repot menoleh ke belakang. "Kalau Papa tidak menyuruh kamu pulang. Apa masih ingat kamu pada rumah?" Garka membalik kan badan nya. Di tatap tajam mata serupa yang selalu memancarkan aura dingin dan tegas itu. "Baru peduli sekarang?" "Garka." "Kapan Papa peduli?" "Garka!" "Papa peduli kalau Garka buat ulah aja. Kemana Papa selama ini?" "DIAM KAMU, GARKA!!!" Garka mengatur nafas nya yang terengah. Ia takut lepas kontrol karena harus bercekcok dengan Papa kandung nya sendiri. "Anak s****n seperti kamu selalu saja buat ulah!! Papa malu punya anak seperti kamu!! Bisa nya bikin onar!! Sekolah baru saja lapor kalau kamu berantem dan bolos lagi!! Papa sebagai pemilik sekolah malu!!" Garka diam saja membiarkan Papa nya berkehendak semau nya. Sudah biasa kata-k********r terlontar dari mulut pria paruh baya tersebut. Bohong jika Garka tidak merasa sakit hati. Tentu saja Garka sangat sakit hati jika mendengar k********r itu keluar dari Papa kandung nya sendiri. "Seharus nya yang mati itu kamu, bukan nya Gevan." Reno—Papa kandung Garka mengucapkan kata menyakit kan tersebut tanpa hati. Tak peduli apa yang di rasakan Garka saat laki-laki itu mengucap kan nya. "Kamu beda sekali dengan Gevan. Anak s****n!!" "Cukup Papa!!! Gevan udah gak ada. Dan Garka gak salah!!" Garka berteriak menggema di ruangan berdominasikan cat putih itu. Ruang keluarga yang dulu hangat dan terasa menyenangkan, kini menjadi saksi bisu hancur nya keluarga itu. "Tentu kamu salah!!" teriak Reno sambil menunjuk muka Garka. "Kamu membunuh Gevan!!" "Garka tidak membunuh Gevan!! Gevan meninggal karena Papa sama Mama selalu sibuk sama pekerjaan sampai gak mentingin anak-anak nya!!" Reno berjalan mendekati Garka yang diam dengan tangan terkepal. PLAK!!  Tanpa kasihan, Reno menampar keras Garka. Luka yang tadi siang masih ada kini semakin parah. Bibir nya yang sobek kembali mengeluar kan darah. Garka tersenyum sinis sambil mengelap cairan berwarna merah itu. "KAMU YANG SALAH!! KAMU CEMBURU SAMA GEVAN DAN MEMBUNUH NYA!!" Garka menatap tajam Reno yang muka nya sudah merah karena emosi. Terlihat sorot kebencian di mata Papa nya itu membuat Garka sadar, sedari dulu saat Gevan masih ada hingga sekarang, Papa nya tidak pernah menyayangi nya. "Terserah!! Papa mau bilang Garka yang membunuh Gevan pun terserah!! Asal Papa tau, Garka benci sama Papa!!" PLAK!!  "KAMU PIKIR SAYA JUGA MAU PUNYA ANAK SEPERTI KAMU?!! GAK SUDI SAYA MENGURUS KAMU JIKA SAJA KAMU BUKAN KETURUNAN TERAKHIR ARGESWARA!!" Garka kembali mengusap bibir nya yang robek cukup parah. Reno tak pernah menyayangi nya. Itulah fakta yang harus di terima Garka selama nya. "Karena kamu. Hera jadi gila!!" "Mama tidak gila!! Papa yang gila!!" BUGH!!  Erangan tertahan dari Garka terdengar saat Reno memukul wajah nya hingga hidung nya berdarah. "ANAK KURANG AJAR!!" BUGH!! BUGH!!  Beberapa pembantu rumah tangga yang melihat kejadian itu ingin membantu Garka. Namun, mereka tidak punya kuasa sehingga hanya bisa melihat dengan sembunyi sambil memandang kasian kepada Garka yang tengah di pukuli oleh Papa nya sendiri. Reno berhenti memukuli Garka. Dengan nafas terengah dan keringat mengucur, Reno merapikan baju nya kembali. Tatapan tajam ia layang kan kepada anak bungsunya itu. "Tak ada yang mengingin kan diri mu hidup," ucap nya dingin lalu pergi. Garka meringkuk memeluk lutut nya sendiri. Mata nya merah namun tidak menangis. Wajah nya banyak terdapat lebam dan darah. Namun rasa sakit akibat luka nya kalah oleh rasa sakit di hati nya. Pandangan Garka kosong dengan hati yang terasa sesak. Ia mendudukan diri nya meskipun rasa sakit menjalar di tubuh nya. "Den Garka. Aden tidak apa-apa? Mau bibi obati?" Garka menggeleng kecil. Ia tersenyum kecil kepada kepala pembantu yang berusia kepala empat itu. "Enggak, Bi. Garka gak papa. Tinggalin Garka sendiri, ya." Bibi itu mengangguk ragu lalu meninggal kan Garka sendiri bersama luka nya. "Aku benci Papa," gumam Garka pelan sambil mengusap rahang nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN