Burung gereja bersiul merdu di atas pohon. Argata menyendiri di sudut taman kampus yang rindang. Maniknya terpaku melihat postingan media sosial Nadia.
Gadis yang penah dipacarinya bertahun-tahun itu telah melangsungkan ijab kabul hari ini. Argata menggeser beberapa pose foto romantis mereka. Raut bahagia kentara terpancar di wajah Nadia dan lelaki tampan yang mendampinginya.
Cincin kawin yang mereka pamerkan menyayat perih ulu hati. Tak terasa sembilu angin membasuh sudut mata Argata yang berair. Argata benar-benar kehilangan jiwanya.
"Hai, udah sarapan belum?"
Argata menyeka cairan basah itu ketika seseorang datang. Hasuna mengulurkan kotak bekal di depan Argata. Senyumnya meluntur saat mereka bertemu pandang.
"Are you okay?" tanya Hasuna lagi.
"Ya, nggak papa. Tadi kelilipan."
Wajah hitam manis itu tidak pintar berbohong. Tak sengaja Hasuna melirik foto pengantin wanita di layar ponsel Argata dan termenung.
"Ada apa gerangan nih? Kok aku disogok makanan lagi?" Argata tersenyum jail walau relung dadanya sesak. Ponsel itu lekas dikantonginya.
"Hehe, iseng aja. Aku buatin sandwich buat kamu," kata Hasuna.
Ragu-ragu Argata menerima kotak bekal itu. Hasuna bergeming di sampingnya seraya menyender di pembatas. Melihat sungai kecil mengalir di bawah jembatan.
"Thanks, ya. Tau aja aku belum sarapan," celetuk Argata.
"Kamu mah sarapan harapan mulu,"
"Heh, kata siapa? Sotoy."
Hasuna tertawa kecil. "Kamu masih galau, ya?"
"Enggak, biasa aja. Ngapain galau?"
"Mantan kamu udah menikah, ya? Nggak diundang?"
Argata menyumpal mulut dengan roti. Enggan menjawab pertanyaan Hasuna yang merusak moodnya pagi ini.
Hitungan hari saja tidak cukup untuk Argata melupakan sosok Nadia. Luka yang membekas di hatinya masih belum kering, terlebih mengetahui kabar pernikahan itu telah dilangsungkan.
"Ikhlaskan saja, jangan dijadikan beban. Suatu saat pasti digantikan dengan yang lebih baik. Percaya deh." Hasuna menepuk pelan pundak Argata.
"Kenapa kamu peduli?" tembak Argata.
"Karena aku tau, kamu memendam sakit itu sendiri. Aku khawatir kalau kamu nggak bisa mengendalikan itu."
"Kenapa harus khawatir?" kejar Argata.
"Ibu aku kenal sama ibu kamu, nggak salah dong kalau aku juga mau temenan sama kamu? Habis kamu baik sih waktu itu, mau kasih aku minum pas lagi haus-hausnya.."
Argata menaikkan alis, menyelami netra yang teduh berhiaskan bulu mata lentik itu. Alasan Hasuna terlalu sederhana tetapi ada ketulusan yang tersirat di matanya.
"Apalah arti seteguk air?" Argata tersenyum jenaka.
"Hei, kamu nggak tau? Air itu penting buat sumber kehidupan. Termasuk untuk memenuhi cairan tubuh. Kalau nggak minum, nanti ginjalmu mau nyaring apa? Jangan meremehkan."
Geleng-geleng kepala, Argata berjalan seraya melahab roti isi cokelat buatan Hasuna. Terbirit-b***t cewek itu menyusul. Langkahnya nampak kikuk dengan balutan rok span dengan belahan di belakang.
"Kenapa, sih? Nggak boleh ya berteman sama orang yang lagi patah hati? Apa badanku bau?" tanya Hasuna lirih. Merasa insekyur, mencium aroma tubuhnya yang wangi parfum londri.
"Kamu nggak mandi, ya? Ih, jorok," Argata tertawa.
"Ya mandi lah, enak aja. Dikiranya nggak punya air."
"Hehe, canda. Mandi apa enggak juga nggak bakal ada yang tau kalau wangi mah."
"Tapi buktinya kamu malah menghindar?"
"Kebelet, mau ke toilet. Mau ikut?"
Sneakers Hasuna mengerem cepat. Membiarkan punggung Argata bergerak semakin menjauh. Sesekali cowok itu menoleh dengan guratan wajah tanpa dosa.
"Argata kamprett."
***
Hasuna tidak bisa memudarkan senyumnya ketika menyusuri trotoar. Pipinya terasa hangat terbayang wajah Argata. Sedikit demi sedikit, cowok itu mau membagi tawa.
Pulang kampus, Hasuna melipir di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Tempat itu pertama kalinya Hasuna berbicara panjang dengan Argata.
Sebuah kertas menempel di etalase kaca tertulis lowongan vokalis untuk mengisi panggung musik. Hasuna memotret dengan ponsel kemudian mengirim ke kontak Argata.
"Lumayan lho buat jajan, kerjanya juga part time."
Hasuna menyeruput milkshake di hadapannya. Memandang Argata yang nampak bingung sejak datang.
"Tapi aku nggak pede nyanyi-nyanyi gitu, ancur suaraku," katanya.
"Nggak lah, itung-itung buat menghibur diri."
"Kenapa nggak kamu aja?"
"Aku nggak suka nyanyi, tapi aku mau dengerin kalau kamu manggung disini."
Argata merengut. "Ngapain jadi penonton doang?"
"Gih, jangan sia-siakan kesempatan."
Akhirnya, dengan sedikit paksaan, Argata memberanikan diri untuk menawarkan dirinya mengisi posisi vokalis.
Manajer kafe yang saat itu tengah membaur dengan karyawan, memberikan atensinya pada Argata dan mengetes supaya bermain alat musik.
Argata memangku gitar akustik yang berada di dekat kursi. Sedikit grogi, banyak pasang mata mengarah padanya. Argata melihat di sudut kafe, Hasuna melambaikan tangan dan mengacungi jempol.
Petikan gitar Argata mengalun sendu menggema ke seluruh penjuru. Argata menunjukkan kebolehannya walau dingin wajahnya.
Hasuna bertopang dagu. Sesekali memejamkan mata menikmati suara ngebass-nya menggetar merdu. Semakin lama, Hasuna mulai hanyut oleh perasaan Argata yang terbawa di setiap nada.
Tiba di ujung petikan, Argata melepas senar dengan hampa. Irisnya memandang kosong. Sayup-sayup tepuk tangan pun melebur diantara segelintir senyum kagum.
Selama performa Argata, caffe bertambah ramai. Bunyi lonceng di atas pintu terus berdenting akan kedatangan pengunjung. Manajer kafe melihat potensi dalam diri Argata yang mumpuni.
"Baiklah, siapa namanya tadi Mas?"
"Argata, Pak."
Hasuna menyambar tas dan berjalan mendekati ketika Argata menyambut uluran tangan pria paruh baya itu.
"Okey, Argata. Mulai besok kamu saya terima kerja disini, untuk mengisi musik," ucap bapak itu dengan tegas.
"Ah, serius Pak?" Argata nampak berbinar.
"Yaa, selesai kuliah kamu bisa langsung kesini. Soal gaji, besok kita bicarakan lebih lanjut."
"Alhamdulillah. Terimakasih, Pak."
Argata menyatukan kedua tangan di depan wajahnya yang penuh haru. Kemudian ia bersalaman sekali lagi dan pamit undur diri. Di luar kafe, Argata masih bersorak kegirangan.
"Tuh, kan. Apa aku bilang? Kamu pasti bisa." Hasuna bersidekap dengan senyum tipis.
"Makasih, ya. Kamu udah bantu aku," kata Argata.
"Sama-sama. Bye the way, tadi menghayati banget lagunya, mengandung bawang. Sampek berkaca-kaca aku dengernya."
Argata tertawa, menepis anggapan Hasuna yang terlalu baper. Seakan apa yang ia persembahkan tadi tak lagi terbawa emosinya.
"Yaa, bingung aja tadi aku mau bawain lagu apa. Cuma itu yang terlintas," akuinya.
"Yang penting kamu ada kesibukan lain. Jadi, nggak melulu ngelamun atau menggalau aja di kampus. Hidup jangan dibawa melankolis lah, kamu lebih butuh have fun daripada termewek-mewek gitu," kata Hasuna.
"Okee, bu bos. Baru kenal udah bawel ya kamu?"
"Nggak bawel, aku cuma ingin kamu nge-push diri kamu untuk nggak larut dalam kesedihan. Tenang aja, hukum karma masih berlaku kok. Siapa yang menyakiti, nanti juga dapet balesannya. So, jangan terpuruk lagi. Apapun masalahmu, hajar aja! Jangan lemah."
Tak bodoh Argata menyadari, ada perhatian kecil dari sikap gadis itu yang menumbuhkan semangatnya. Namun, Argata tidak mengharapkan apapun selain berkawan baik.
Hasuna sudah memiliki kekasih. Argata harus tau diri.