"Assalamualaikum.."
"Dari mana aja? Kenapa jam segini baru pulang?"
Baru saja Hasuna memasuki rumah, celetukan seseorang di sofa menghentikan langkahnya.
Fadly melirik jam di pergelangan tangan, pukul 19.20. Tak biasanya Hasuna pulang ketika bundanya hampir selesai menyiapkan makan malam.
"Waalaikumsalam.." jawab wanita itu.
"Tadi aku ada janji sama temen," ucap Hasuna asal pada Fadly.
"Aku disini 2 jam nungguin kamu lho. WA nggak dibales, ditelfon nggak aktif. Sengaja apa gimana?"
Fadly menghampiri dengan manik tajam. Hasuna mengidikkan bahunya acuh tak acuh.
"Maaf, tadi hape aku lowbat. Nggak sempet ngecas."
"Sepenting apa sih urusan kamu diluar? Sampai-sampai kamu nggak sempet hidupin hape kamu?"
"Pulang kampus aku bantuin temen aku cari kerjaan. Jadi ya, aku nggak kepikiran buka hape."
"Temenmu udah gede kan? Bisa jalan sendiri kan? Kenapa manja banget kudu dibantu sama kamu?"
"Tolong ya, aku capek. Nggak perlu lah marah-marah kayak begini, seakan aku ini kayak udah jadi istri kamu yang harus ijin dulu kamu kalau kemana-mana. Aku WA aja kadang nggak dibales kok."
Hasuna berlalu pergi dengan wajah kecut. Melihat bunda menjunjung mangkuk sayur dari dapur kemudian mengambil alih ditaruh di meja. Tak lupa cium tangan, Hasuna meminta maaf karena pulang telat.
"Nggak papa, Sayang, tadi siang kan udah ngomong sama ibu. Lagian masih sore kok ini, yang penting kamu udah sampai rumah. Sekarang kamu bersih-bersih dulu gih, terus kita makan malam bersama. Ya?"
"Tuh, denger kan? Ibu aja nggak marah kenapa kamu protektif?" Hasuna menatap Fadly tidak selera, kemudian melongos ke kamar begitu saja.
"Bu, kok sekarang Hasuna jadi berani gitu?"
"Sabar, Nak Fadly. Mungkin dia lagi capek. Maaf, ya?"
"Aku ini calon suaminya, lho. Nggak sopan dia ngomong kayak tadi. Iya, emang lagi pacaran, tapi kalau pacaran aja berani gitu gimana nanti-nanti?'
Fadly merasa tidak nyaman dengan sikap Hasuna. Bundanya mengusap-usap lengan cowok itu supaya lebih tenang. Kemudian mempersilahkan duduk selagi menunggu Hasuna selesai mandi.
"Masa aku baru nyampe rumah udah disembur?"
Hasuna mengadu pada Argata lewat telepon, sembari rebahan di kasur.
"Disembur sama siapa, Neng?" seru Argata di seberang, nadanya sedikit gemas.
"Sama cowok aku, udah kayak tuan rumah aja. Padahal masih jam 7, masa aku dimarahin kayak jalang abis keluyuran."
Gelak tawa Argata pecah. Tidak salah kah Hasuna mencurahkan uneg-uneg tentang pacarnya dengan cowok lain? Pikirnya.
"Aku nggak suka aja digituin, diatur-atur. Dia aja nggak bisa diganggu gugat kalau lagi mabar."
"Ya, nggak ngatur juga, mungkin aja dia kangen sama kamu."
"Kangen ya kangen, tapi nggak perlu nginjek-nginjek orang juga kan?"
"Diinjek-injek gimana?"
Hasuna menghela napas lelah. "Bukan apa-apa sih, cuma, dia ngerendahin aku seolah-olah melakukan kegiatan yang nggak faedah diluar."
"Yaudah, jangan dimasukin hati. Mungkin emosi sesaat aja."
"Resek banget, ngebetein sumpah."
"Biasanya cewek kalau lagi bete gitu lampiasinnya ke makan."
"Iya, laper aku sebenernya. Tapi males aku liat tuh orang."
"Nggak boleh gitu. Sana kamu makan biar makin gemuk."
"Oh, nyndir maksudnya?"
"Sensi amat Nyai, haha. Canda ah."
Hasuna tertawa sebelum menutup telepon. Setidaknya bercerita dengan Argata membuat pikirannya lebih ringan.
"Sayang, udah belum mandinya? Ditungguin lho sama Nak Fadly.."
Teriakan bunda di luar pintu mendesak Hasuna segera siap-siap untuk makan malam bersama. Kebetulan ayahnya juga baru pulang kerja sehingga melengkapi suasana.
***
"Argata, hari ini ke kafe kan?"
Esok harinya, Hasuna menemui Argata yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya di parkiran. Okvan menyenggol lengan Argata, mendapati kehadiran gadis manis dengan balutan pashmina di antara mereka.
"Iya, bentar lagi otw," jawab Argata singkat. Membaca beragam tatapan menggoda di sekitarnya.
"Aku nebeng kamu boleh nggak? Sekalian mau nonton."
"Ihiirrrrrrr.. Mangsa baru neeeh.."
"Akooh kamohh, ihiirrrrrr.."
Seloroh Okvan dan sekawanan lainnya seketika meledak. Hasuna mengernyit heran dengan pentingkah cowok-cowok itu menggarapi Argata.
"Bacot lo pada," sentaknya.
"Argata, aku tunggu depan halte, ya? Para cecunguk ini berisik banget.."
"Sorry, ya, maklum nih pada kurbel semua. Agak kurang belaian."
Hasuna menggeleng dengan senyum geli. Okvan CS saling bertatapan dan melongo karena penghinaan Argata. Seperginya Hasuna, mereka langsung mengeroyok Argata dengan seribu jitakan.
Meluncur dari pelataran fakultas, pengendara Scoopy hitam dengan helm retro menembus lalu-lalang mahasiswa.
Tak jauh dari sana, Hasuna sedang duduk manis di halte sambil mengemut permen. Argata memberikan helm padanya seraya Hasuna naik ke jok belakang. Tonjolan di sebelah pipi tembam cewek itu terlihat menggemaskan.
"Argata, kamu suka kucing ya?"
"Suka, kenapa?"
"Kemarin aku lihat di rumahmu, ada kucing belang lucu-lucu kok nggak ada emaknya?"
"Emaknya lagi mbolang, jarang pulang."
"Bagus tapi kucing-kucingmu, kok bisa ya coraknya beda-beda?"
"Ya beda lah, orang beda bapak."
"Kok bisa beda bapak gimana?"
"Yang putih polos, belang item, sama belang oren sodara kandung. Yang full oren sodara tiri."
"Terus, bapaknya kemana?"
"Ya ada, kucing tetangga jauh sih."
Hasuna berdehem lama. "Enak banget ya kucing kawin terus."
Sepanjang perjalanan, Hasuna tidak bisa diam. Bibir mungilnya asyik berkicau sampai hal random pun. Sesekali tawa Argata memantul di spion.
"Kamu ada pelihara kucing di rumah?" serunya.
"Nggak, sama ibu nggak boleh. Takut poop sembarangan."
"Ya nggak lah, kan bisa diajarin."
"Dulu pernah pelihara sebentar, eh, kucingnya pipis di kasur. Ibuku marah-marah deh. Sejak itu, nggak boleh pelihara kucing," ungkap Hasuna.
"Kalau aku sama ibu emang penyuka kucing. Kadang, kucing aja diajak ngomong sama ibu. Sebenernya kucing itu kalau kita ngomong, kita lagi sedih, itu dia ngerti tapi bodamat. Bahkan, kucing nganggep kita manusia itu, kayak bawahan, sedangkan dia ngerasa majikan."
Hasuna tertawa menabok pundak Argata. "Kamu ada-ada aja."
"Loh, emang begitu konsepnya."
"Pernah liat kucing kawin nggak?"
"Pernah, ya itu tadi, kucing bodoamat kalau diliatin manusia. Tapi kalau sama kucing lain bisa bubar kawinnya."
Argata senyum-senyum sendiri mendengar gemelitik tawa Hasuna bertebaran disela hiruk pikuk jalanan. Selalu saat bersama cewek itu, Argata dapat melepas duri yang menancap di hati.
"Argata, boleh stop bentar nggak depan indoapril?"
"Mau mampir?"
"Iya, pengen cimol. Sebentar aja. Nanti aku beliin kamu."
"Eh, nggak usah. Aku masih kenyang."
"Nggak papa, buat ganjel perut."
"Ih, serius, kamu aja. Aku nggak usah."
Tak sampai lima menit. Argata menunggu Hasuna di depan gerobak akang-akang pedagang cilok dan cimol. Cewek itu memberikan uang 10ribu ketika menerima kantong plastik bertabur serbuk balado pedas.
"Yakin, enggak mau?"
Argata menggeleng, kemudian mengangkut cewek itu kembali menuju Caffe Senja. Betapa menyenangkan melihat Hasuna asyik ngemil di jalan. Argata seperti merasa momen yang langka.
"Argata, aku pinjem tudung hoodie kamu ya?"
"Buat apa?"
"Buat naroh cimolku."
Plastik itu diletakkan di tudung hoodie Argata supaya tidak kabur terbawa angin. Hasuna mencolok satu per satu dengan tusuk dan melahapnya kelaparan.