Hari ini Argata membawakan lagu ciptaan sendiri. Sayup-sayup petikan gitar akustik menggema ke seluruh penjuru caffe. Seirama gemerlap lampu yang melintang di setiap sudutnya.
Di bangku pojok, Hasuna sibuk memotret performa Argata di atas panggung. Sejak Argata menyanyi di kafe itu, pengunjung semakin banyak berdatangan.
"Kamu lagi ngapain disini?"
Seseorang datang mengejutkan Hasuna. Lelaki berbalut kemeja hitam tiba-tiba menempati kursi di hadapannya.
"Fadly?" gumam Hasuna tergugup.
"Asik banget fotoin cowok itu? Suka ya?"
Senyum seduktif terbit di wajahnya, Fadly melirik Argata yang sedang bermusik.
"Kamu kok bisa disini? Bukannya lagi kerja?"
"Aku sengaja ikutin kamu dari kampus. Ternyata, ada udang dibalik batu?"
"Maksud kamu apa?" Hasuna menyimpan ponselnya di tas dan besikap tenang.
"Kayaknya aku pernah liat cowok itu, yang waktu itu nganterin pesenan ibu kamu kan?"
Hasuna mengangguk. "Ya, terus kenapa?"
"Masih nanya kenapa?"
"Aku suka nongkrong disini sambil nugas."
Fadly terkekeh sinis, "Nugas? Alesan."
"Kok nadanya nggak enak banget? Ada masalah?"
"Hasuna.. Hasuna.. Nggak usah sok polos deh. Aku liat kamu boncengan sama cowok itu dari kampus sampek kafe ini. Kamu selingkuh?!"
Brak!
Hasuna memejam mengatur napasnya. Fadly bersidekap di atas meja seraya mendekatkan wajahnya.
"Aku nggak selingkuh. Kamu jangan nuduh yang enggak-enggak."
"Halah, udah ketangkep basah masih ngelak aja. Apa, hah? Motifnya apa kayak gini di belakang aku? Kamu bosen pacaran sama aku?"
Hasuna menggeleng. "Aku nggak ada niat apa-apa. Dia cuma temen di kampusku."
"Temen? Becanda di jalan, ketawa-ketawa, segitu akrabnya, melebihi sama pacar sendiri. Wajar, eh?"
"Plis, jangan mojokin aku dengan argumen kamu yang nggak berdasar itu."
Fadly mencekal tangan Hasuna. Memaksanya menatap mata elang yang berkobar api cemburu.
"Kurang apa aku sama kamu, hm? Apapun aku kssih buat kamu, nggak pernah enggak. Pantesan aja ya kamu mulai berani nentang aku, rupa-rupanya.. karena pengaruh cowok itu?"
"Dia nggak pernah mempengaruhi aku!"
"Terus apa? Kamu pikir aku bodoh?"
"Bisa pelan nggak sih ngomongnya? Aku malu diliatin orang-orang."
"Biar aja. Biar semua orang tau kamu cuma milik aku."
"Fadly, plis. Semua bisa dibicarakan baik-baik, nggak perlu pakek otot."
"Kalau memang begitu, sekarang pulang."
"Aku masih mau disini."
"Aku bilang pulang, pulang."
Detik-detik musiknya usai, Argata terpaku memandang Hasuna di kejauhan berusaha melepaskan tangannya. Seonggok punggung di depannya berniat membawa Hasuna pergi.
Manik bening itu menatap lurus ke arah Argata seolah meminta bantuan. Tetapi Argata bingung, posisinya hanyalah teman sementara cowok itu adalah pacarnya.
"Sama cewek jangan kasar, Mas."
Dengan keberanian penuh akhirnya Argata memberanikan diri menghampiri mereka.
Fadly mendorong kursi dan berdiri. "Apa? Lo siapa?"
"Cuma mau ngingetin. Kalau dia nggak mau, jangan dipaksa."
"Bacot lo, nggak usah ikut campur urusan gua."
"Fadly, aku nggak mau pulang."
"Aku nggak butuh persetujuan kamu.. dan, sekali lagi..." Fadly menunjuk Argata murka. "Gue peringatkan lo jangan pernah deketin cewek gue lagi. Atau, gue nggak akan segan-segan untuk bikin perhitungan sama lo. Ngerti?"
Sebuah hentakan di bahu membuat tubuh Argata terdorong mundur. Tanpa pikir panjang, Fadly meraih tangan Hasuna dan menyeret pergi dari caffe itu.
Argata tidak bisa melakukan apapun. Tetapi, nuraninya tidak tega melihat Hasuna seperti tertekan berada di samping cowok itu.
***
"Buu... Ibuuu... Siapa yang ngajarin anak ini sampai berani selingkuh?"
"Kamu punya sopan-santun nggak sih? Datang ucapkan salam."
"Kamu yang nggak punya sopan-santun! Kamu jalan sama cowok lain tanpa sepengetahuan aku!"
Seisi rumah gempar. Fadly berkoar-koar seperti di hutan tidak bisa mengendalikan emosinya. Bunda Hasuna tergopoh-gopoh keluar dari pintu kamarnya dan melihat keributan yang terjadi.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berantem?"
"Lepasin tanganku! Sakit!"
Hasuna menghempaskan tangan Fadly. Tak terasa kuku-kukunya menyisakan bekas memerah di pergelangan tangan.
Hasuna berlindung dibalik tubuh ibunya. Kepala Fadly masih meletup-letup seperti air mendidih.
"Bu, ajarin anaknya yang bener! Kayaknya dia lupa siapa pacarnya!"
"Fadly, aku nggak suka kalau cara kamu kayak gini. Kalau kamu mau marah, marah sama aku. Jangan bawa-bawa ibu aku!"
"Kenapa? Nggak suka. Biar ibu itu tau kelakuan anaknya!"
"Nak Fadly, tolong duduk dulu. Hasuna juga duduk dulu. Adem ayem jangan bertengkar. Ibu ambilkan minum sebentar.."
Ibu Hasuna menuntun kedua anak muda itu terduduk di sofa. Sejurus kemudian beliau membuat dua gelas sirup orange yang dingin untuk mendinginkan kepala mereka.
"Kalian minum dulu, terus tenangkan diri kalian ya.."
Hanya beberapa teguk saja, Fadly sudah menandaskan minumnya. Namun raut wajahnya masih sangar seperti singa hendak menerkam.
"Kalau sudah membaik, silahkan cerita. Tapi jangan pakai emosi ya. Ini ada apa?"
"Aku diselingkuhin sama Hasuna, Bu! Siapa yang ngajarin begitu? Aku kerja juga buat dia, malah dia enak-enakan selingkuh!"
"Harus berapa kali aku bilang, dia cuma temen aku."
Hasuna mengusap wajahnya letih, tak tahan sudut matanya mulai berair.
"Nak Fadly, ibu tau bagaimana Hasuna. Tidak mungkin dia selingkuh. Kalaupun dia bersama laki-laki lain, itu hanya temennya. Karena setau ibu, sebelum pacaran sama kamu, memang temen laki-lakinya itu banyak. Nak Fadly bisa membedakan, antara teman dan selingkuhan kan?"
"Buk, dia mesra-mesraan boncengan motor. Aku liat dengan mata kepala aku sendiri!" Fadly masih ngotot menyalahkan Hasuna.
"Mesra-mesraan itu seperti apa gesturnya? Pelukan? Ciuman? Ibu tidak pernah mengajarkan Hasuna seperti itu. Ibu hanya mengajarkan akhlak-akhlak yang baik, dimulai dari penampilan dia yang berjilbab. Anak ibu tau hukum-hukum agama, nggak mungkin dia selingkuh dari calon suaminya. Nak Fadly paham?"
Mencerna penuturan wanita paruh baya itu, lambat laun emosi Fadly mulai meredam.
"Kamu boleh cemburu, tapi jangan bersikap kasar. Dengarkan dulu penjelasannya, kemudian saling memaafkan."
"Tuh, dengar?"
"Iya bu, aku minta maaf."
"Jangan minta maaf sama ibu, sama Hasuna."
"Udah bu, aku capek. Mau istirahat. Terserah dia mau berpikiran kayak gimana. Percuma aku ngomong sampai berbusa. Dia kan cuma mikirin diri sendiri. Menganggap dirinya paling benar."
Hasuna beranjak dari sofa kemudian berlalu pergi ke kamar. Fadly hendak menahannya, namun ibu Hasuna tidak mengizinkan.
"Biarkan dia sendiri dulu. Nak Fadly disini saja."
"Apa aku udah keterlaluan, Bu? Aku benar-benar nggak sadar udah kasar sama dia."
"Tidak apa, masih bisa diperbaiki. Nanti ibu ngomong sama Hasuna. Kamu tenang saja."
Tiba di kamar, Hasuna mengunci pintu dan membanting tubuhnya di kasur. Lagi-lagi Fadly menjadi perusak mood-nya.
Hasuna muak dengan semua ini. Hubungan yang toxic, tidak bisa musyawarah. Hasuna tidak tahan menumpahkan air matanya.