Argata mengendarai motornya dengan kecepatan pelan. Tak menyadari jalanan yang ia tempuh mengarah ke rumah Nadia.
Lambat laun roda-roda itu mengerem. Argata berhenti di bawah pohon. Tak jauh netranya memandang seseorang dibalik pagar berwarna abu-abu.
"Fajar, tunggu! Kamu mau kemana?"
Nadia mengejar lelaki yang baru saja keluar menaiki Ninja merah.
"Ada urusan bentar!" balasnya tanpa menengok.
"Aku nitip obat batuk adek aku!"
"Ya, ntar kalau inget!"
"Jangan malem-malem pulangnya!"
Tak menghiraukan gadis itu, Fajar sudah gaspol mengendarai motornya. Raut wajah Nadia nampak kesal.
"Neng, bisa cariin tukang pijit nggak? Badan ibu pegel-pegel seharian kemarin melayani tamu."
Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Nampak lelah wajah itu mempekerjakan tangannya memijat di pundak.
"Aku mau jemput temen aku dulu, Bu. Baru aja tadi sampai terminal."
"Sekalian ngelewatin rumahnya Mbok Sum yang dukun bayi itu, mampir sebentar bisa kan?"
Ponsel di genggaman terus meronta. Nadia mengangkat cepat dan mengiyakan ucapan di seberang.
"Nggak bisa, Bu, temen aku udah nungguin. Aku berangkat dulu ya!"
Nadia bergegas memakai helm dan melajukan motor N-max yang terparkir di depan garasi. Tak lama, seorang anak seusia SD keluar rumah dengan terbatuk-batuk. Hidungnya pun mengalir cairan kental.
"Bu, kakak udah beliin obat belum?"
"Kakakmu lagi pergi, tunggu nanti kalau orangnya sudah pulang ya."
"Aku mau minum obat sekarang, Buuuu!"
Anak laki-laki itu merengek. Menarik-narik baju wanita itu.
"Sayang, ayahmu belum pulang kerja. Ibu nggak bisa naik motor."
"Nggak mau tauuuu, pokoknya aku pengen obat batuk sekarang jugaaaa, Ibuuu!"
"Kamu kok nggak bisa dibilangin sih? Ibu lagi capek, Nak, mau istirahat dulu ya."
Karena tidak dituruti, anak itu menangis kencang sambil guling-gulingan di lantai. Banyak tanaman di halaman rumah dirusaknya. Daun-daun dibuatnya berantakan hingga sapu lidi dibantingnya ke sembarang arah.
"Sayang, jangan nakal! Nanti ibu bilangin ayah mau dimarahin?" omel sang ibu tak diindahkan, bahkan beliau kuwalahan menghentikan anaknya yang hiperaktif.
"Aku mau beli obat batuk sekarangggg! Uhuk, uhuk!"
"Hai, Rakaaa!"
Derum motor berhenti di depan rumah. Kedatangan Argata menghentikan keributan yang terjadi. Anak laki-laki itu mengusap ingusnya kilat, dan berlari ke arah pagar.
"Mas Argaaa!"
"Bociiiil, kamu abis ngapain?!" seru Argata gemas.
Lama tak berjumpa, bocah berusia 8 tahun itu berhambur memeluk kaki Argata. Seketika tubuh mungilnya dijunjung tinggi sambil berputar-putar hingga bocah itu tertawa lepas.
"Mas Arga kok lama nggak main kesini?"
"Iyah, Mas lagi sibuk kuliah, Dek."
"Sibuk kuliah? Kok nggak pernah telfonan sama Kak Nana lagi?"
Argata cengar-cengir, bingung ingin beralasan apa.
"Hmm, Mas Arga jarang pegang hape."
"Ohh gitu—hatchim!"
Wajahnya terkena semburan, Argata sontak memejam. Raka semakin terbahak-bahak sampai badannya diturunkan.
"Raka, nggak sopan.." tegur sang ibu yang geleng-geleng kepala.
"Hehehe, maaf, Mas, lagi pilekkk.."
"Dasar kamuuu," Argata menggosok kepala Raka dan menghampiri wanita itu untuk cium tangan.
"Siang, Bu. Gimana kabarnya?"
"Baik, Nak Arga. Kamu dari mana kok tumben?"
"Iya, Bu, tadi abis dari rumah temen. Pas lewat sini, saya liat si bocil ngamuk-ngamuk ya?"
"Tuh anak ngeyel minta obat batuk, udah dibilangin kakaknya lagi pada keluar. Ayah juga belum pulang kerja. Ngotot terus minta beli, ibu kan nggak bisa naik motor?"
"Oalahh, kebiasaan si Raka mah," Argata tertawa renyah.
Berbeda dengan Surya yang membenci Argata dan memandangnya dari segi materi, ibu Nadia justru sangat baik dan menganggap Argata seperti anak sendiri.
"Raka, beli obat batuk sama Mas Arga mau nggak?"
"Mauuuuuuu!" Raka berteriak girang dan terbirit-b***t menuju motor Argata. Seketika anak itu sudah berdiri di depan jok.
"Mas Argaaa, sekalian jajan boleh nggak?"
"Boleh, tapi jangan es krim ya soalnya kamu lagi batuk pilek."
"Okaayyy!" Raka mengacungi jempol.
"Loh, Nak Arga nggak usah repot-repot. Raka turun!"
"Nggak mauuu! Mau jajan sama Mas Argaaa!"
"Biarin aja, Bu. Nanti saya langsung anter Raka pulang kok."
"Yaudah kalau gitu, hati-hati ya. Raka jangan jajan aneh-aneh lho, nurut sama Mas Arga!"
"Siaappp, Boosss!"
Raka melambaikan tangan pada ibunya saat Scoopy hitam itu meluncur meninggalkan rumahnya. Padahal, satusnya sudah mantan, tetapi ibunya yang tidak bisa move on.
Fajar, menantunya, tidak seperti Argata yang pandai momong anak kecil. Baru beberapa hari menikah dan tinggal seatap, Fajar sering pulang-pergi nongkrong.
Setiap Raka mengajak main, pun tak pernah terkabulkan. Makanya, Raka tidak cocok dengan kakak iparnya itu, selayaknya keakraban Raka dengan Argata. Naluri seorang ibu sungguh menyayangkan hal ini.
***
"Argata, kamu sama siapa?"
Sedang muter-muter mencari cemilan di dalam indoapril, suara feminim menyeru di radius dekat. Argata menengok, Hasuna melambungkan senyumnya.
"Eh, hai, ini... adeknya temenku."
Argata menyentuh kepala Raka yang sedang mengocok benda berbentuk seperti telur. Jajanan mahal yang berisi bola-bola coklat dan hadiah mainan kesukaannya.
"Dimana-mana ya bocah doyannya begituan," gerutu Hasuna.
"Kamu lagi belanja apa? Sendiri aja?" tanya Argata.
"Sendiri lah, sama siapa lagi?"
"Yang kemarin marah-marah itu."
Hasuna mengidikkan bahu. "Hmm, nggak banget deh."
"Sorry, ya, semua gara-gara aku."
"Ehhh, nggak!"
"Pacarmu cemburu karena kamu nonton aku."
"Apa salahnya? Tempat umum bebas lah, orangnya aja yang lebay."
"Udah, kalem aja. Wajar dia marah, dia pasti takut bidadarinya diambil orang."
Bibir merah itu memberengut tidak suka. Karena gombalan Argata, lamat-lamat mengukir tawanya. Mereka berjalan bersama mengikuti Raka yang pecicilan kemana-mana mengambil makanan.
"Kamu abis nyulik anak siapa, sih? Itu jajannya banyak banget, lho."
"Nggak papa, biar seneng."
"Ya, kalau kamu ada uang lebih nggak papa."
"Belum gajian, sih."
"Terus gimana itu? Bilangin nggak?"
"Udah, jangan. Dia kalau ngamuk kayak ultramen ribut."
Melongo, Hasuna terkikik geli. "Kok bisa?"
"Tadi aja dia abis nangis sambil marah-marah sama ibunya. Tanaman punya ibunya berantakan dirusak sama dia."
"Bocil barbar banget, emang dia minta apa?"
"Cuma minta beli obat batuk doang, tapi orang rumah lagi pergi, ibunya nggak bisa naik motor. Jadilah, dia kayak kesurupan gitu. Makanya aku ajak dia pergi ke apotik terus beliin obat."
"Dan sekarang minta jajan. Kamu keliatannya peduli banget sama dia?"
Argata menyimpan kedua tangan di saku jaket dan mengulas senyum. "Udah kayak adek sendiri sih."
Selesai belanja, Argata mendorong pintu untuk Raka yang keluar membawa kantong plastik yang nampak penuh.
"Mas Arga makasih yaaa.." ucap bocah itu ceria.
"Sama-sama, Raka. Bawa ke motor dulu ya."
Sambil melangkah Argata masih membaca struk dari kasir yang menyatakan total nominal. Raka meminta mainan yang harganya melebihi jajanannya.
Tak ingin membuatnya menangis, tentu saja Argata memenuhi permintaannya. Sekarang, cowok itu lemas membuka dompetnya yang kering.
"Nggak papa, Ar. Nanti kamu dapet gantinya kok. Kamu udah ada 'niat' mau bikin dia bahagia aja, itu udah dapet pahala." Hasuna menepuk pundak kokoh itu. Mata beningnya membuat suasana hati Argata menjadi adem.