Bab 10

1016 Kata
Malam yang sunyi. Argata terdiam duduk di jendela sambil mendengar jangkrik bernyanyi. Sisi batinnya masih merasakan kedekatan dengan keluarga Nadia. Ibu dan juga adiknya, yang dulu menjadi harapan Argata diterima. Namun semua berubah karena bapaknya, bertahun-tahun Argata tak mendapat restunya. "Seandainya, lo nggak nerima perjodohan itu Nad. Tapi, gue bisa apa? Beliin rumah buat lo gue nggak sanggup." Ponsel di tempat tidur menggetar. Malas-malasan Argata beranjak mengambilnya. Incoming Call : Nadia Cukup lama Argata mendiamkannya. Nadia terus menelpon berulang kali. Momen yang sangat langka. Mau tak mau, Argata mengangkatnya. "Hallo, kenapa Nad?" "Kamu tadi kesini?" "Kebetulan lewat aja." "Kamu jajanin adek aku habis berapa?" "Nggak papa, jarang-jarang juga." "Ada bill-nya nggak? Biar aku transfer." "Nggak usah, Nad. Ikhlas kok aku." "Kenapa diturutin beli mainan? Di rumah udah banyak banget numpuk, dan itupun bosenan dia anaknya." "Yaa, biar seneng aja. Tadi abis nangis soalnya." "Nggak gitu lho, aku udah nggak biasain dia beli mainan." "Lah, kan aku yang beliin gimana, sih?" "Sama obat batuknya dia juga kan? Jadi totalnya berapa?" Argata menghela napas. Ponselnya berpindah telinga. "Aku udah ngomong kan, nggak usah. Kenapa ngotot banget sih?" "Aku nggak mau berhutang sama kamu, Ga." "Siapa yang anggep hutang? Kapan aku bilang?" "Ya, aku tau kamu masih ada tanggungan kuliah. Sayang aja duitnya kebuang-buang cuma buat beli mainan adek aku." Betapa rindunya Argata mendengar Nadia berbicara panjang. Nadanya ketika memohon. Cewek tukang marah dan ngambek yang selalu disabarinya itu. Argata hanya bisa menelan pil pahit. "Udah, Nad, aku nggak enak sama suami kamu." "Orangnya belum pulang." "Nanti kedengeran bapak kamu, aku dimarahin." "Bapakku lagi keluar, ada acara di rumah tetangga." "Tetep aja, kamu kan nggak boleh kontekan aku lagi." "Aku cuma mau ganti duit kamu, Ga. Berapa tadi yang kepake buat adek aku?" "Nadia yang keras kepala, aku bilang nggak usah ya nggak usah. Lagian aku ada kerja sampingan kok, kerja part time. Lumayan buat pemasukan." "Oh, ya? Kerja dimana?" tanya Nadia begitu penasaran. "Caffe deket kampus, main musik." "Nyanyi?" "Iyah." "Udah berapa lama?" "Baru banget, belum ada seminggu." "Berarti belum gajian dong?" "Emang belum." "Bentar, aku masih ngesave nomer rekening kamu nggak, ya?" "Buat apaaaa?" Argata mendengus kesal. "Eh, masih ada ternyata." "Nad, udah ya." "Kenapa? Aku ganggu?" "Aku mau ngerjain tugas." "Oke, Ga, makasih ya." Obrolan terpanjang untuk status mantan. Argata melempar ponselnya dan keluar kamar. Ia tidak bisa terus-terusan terjebak dalam harapan. Udara malam menyapa relung d**a yang hampa. Motor Scoopy itu melenggang membelah keramaian jalanan. Argata berhenti di sebuah angkringan langganannya. "Heh, Cok, dari mana lo? Gua telponin sibuk mulu tadi." "Dari rumah, sumpek banget." Argata bergabung dengan Okvan yang sudah mangkal disitu sejak tadi. Hangatnya wedang jahe sedikit melegakan batin yang sesak. "Eh, Cok, liat deh.." Okvan menunjukkan tampilan media sosial. Postingan foto gadis cantik dengan pashmina yang dirangkul oleh seorang lelaki tampan. "Ya, Hasuna?" "Lo sama dia ada apa? Udah ada pawang ini." "Nggak ada apa-apa, cuma temenan doang." "Ah, yakin lo?" Okvan menepuk lengan Argata tak percaya. "Hooh, serius gua." "Tapi lo akrab banget lho, ampek bonceng-boncengan pula kemarin." "Emang, malah kegep sama cowoknya." "Ya mampus dong lo?" "Kasian dia, tertekan." *** Bubar kelas pagi ini, Argata melihat anak-anak mapala yang sedang latian panjat dinding. Mereka kelihatan seru, jiwanya dekat dengan alam, dan jarang dilanda kegalauan. Seperti yang dirasakannya usai dihianati, menjadi pribadi yang melankolis seakan tidak punya semangat hidup. Argata yang dulu sering main dengan anak mapala sudah jarang lagi bergabung. "Eh, Ga, diem-diem bae lo." Seseorang menepuk pundak Argata yang terbengong, melihat cewek yang berjalan cekatan diatas bebatuan dinding. Bagas, sang ketua mapala. Argata cengar-cengir menatapnya. "Lagi nonton pak." "Eh, ntar sore sibuk nggak? Ikut kopdar yok, biar nggak menggalau doang lo!" "Anjir nyindir, ntar sore ya? Aman sih." "Okey, join yak? Nanti gue sherlok." "Sip, deh!" Argata mengacungi jempol. "Yaudah, gue kesana dulu." Tak jauh di belakang, Hasuna berjalan sembari memeluk buku-buku di dadanya. Wajahnya nampak sendu menjumpai Argata sedang fokus memperhatikan cewek tomboy yang baru saja tiba di atas dinding, kemudian meluncur turun dengan tali pengaman. Catatan perolehan waktu yang singkat membuatnya bersorak girang. Banyak cowok di sekeliling yang memberinya pujian. "Kenapa nggak ikut mapala aja?" Argata menengok, tiba-tiba Hasuna berada di sampingnya. "Hah? Nggak, males. Tapi suka ikut sih kalau naik gunung." "Ohhh." "Bawa bukunya banyak banget, nggak berat tuh?" "Nggak kok." "Habis dari perpus ya?" "Mau dibalikin." "Sini aku bantu biar enteng." "Nggak usah, lanjut nonton aja. Tuh, naik lagi ceweknya." Hasuna tersenyum paksa sebelum bernajak pergi. Argata menangkap perubahan sikapnya menjadi agak cuek dan tidak ramah. Pun, saat melihat cewek dengan kuncir rambut cepol itu. "Hasuna.. sini kubantu! Perpus masih jauh lho." Kesana-kemari Argata membuntuti langkah Hasuna melewati beberapa gedung. Argata berusaha membantu membawakan buku-buku tebal itu namun tidak dikasih. "Aku bisa bawa sendiri kok!" "Huu, dasar, anak ngeyel." "Kamu tuh yang ngeyel, orang aku nggak mau dibantu." "Kamu kenapa sih kok jadi galak gini?" "Lagi PMS! Makanya nggak usah deket-deket!" Argata tertawa, nadanya sedikit meledek. Sedikit bingung dan menerka-nerka, apakah Hasuna cemburu karena soal tadi? Argata langsung menepis pikirannya yang kepedean. Bruk! Tak sengaja di sebuah tikungan Hasuna menabrak rombongan cewek yang melangkah beriringan memenuhi jalan. Buku-buku itu terpental jatuh bersama dirinya. "Jalan pake mata dong," seru salah seorang cewek berkacamata. Mereka berlalu begitu saja enggan membantu Hasuna. "Tuh, kan, dibilangin nggak denger." Argata berjongkok di dekat cewek itu, kemudian memungut buku-bukunya. Wajah manis itu masih saja cemberut ketika Argata menuntunnya berdiri. "Sakit nggak?" Hasuna hanya menggeleng seraya menggosok kedua tangan. "Kenapa sih? Kamu belum sarapan ya, kok pucet?" "Nggak papa, lagi banyak pikiran aja." Hasuna menunduk, lantas mendahului Argata menuju perpustakaan. Tanpa perlu bercakap, Argata sudah mengetahui ada sesuatu yang terpendam di mata cewek itu. "Kemarin kamu gimana sampek rumah?" tanya Argata. "Aku bete sama cowok aku, sama ibu aku juga marah-marah." "Loh, kok ibumu dibawa-bawa?" "Iya, berani banget ngebentak. Katanya gini, siapa yang ngajarin Hasuna selingkuh, hah?!" Hasuna memperagakan ketika Fadly mengamuk. "Waduh, nggak bisa jaga emosi tuh?" Argata terkekeh. "Nggak tau lah aku, gimana nanti kalau nikah. Serem." "Yakin kamu betah? Masalahnya, ibu kamu loh, nggak dihargain sama dia. Nggak ada takut-takutnya sama orangtua." Hasuna tersenyum kecut, no komen soal Fadly.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN