Bab 2

1371 Kata
Ting! Tong! “Assalamualaikum! Spadaaaa! Permiosss!” Argata menyeru keras dengan berbagai bahasa. Bertubi-tubi ia menekan bel, tak nampak tanda-tanda penghuninya keluar. Rumah itu berdiri megah dengan taman kecil yang rumputnya basah. Pohon rambutan berbuah lebat menaungi Honda Civic yang terdampar di bawah kanopi. Sepuluh menit berlalu, Argata seperti bertamu di goa hantu. “Siapa sih berisik banget dari tadi? Dikiranya lagi di hutan apa?” Seorang cowok menggerutu di ruang tamu. Sedang seru-serunya menonton siaran Moto GP, bunyi bel terus mengganggu pendengarannya. “Diiillll, tolong keluar dong! Bentar lagi aku kelar!” Sang pacar tak kunjung lepas dari kegiatannya memoles make-up. Fadly menatap malas pintu bercat putih yang mengurung gadis itu. Belum lama tadi Ibunya Hasuna belanja ke supermarket. Beliau berpesan supaya Hasuna jangan jalan dulu sebelum pesanan dari Ibu Sania datang. Fadly menyentakkan kedua sisi jaketnya. Muka angkuhnya kentara terganggu oleh kedatangan cowok bertopi hitam yang menenteng box lumayan berat. Argata mendengus tak sabar. Hampir saja berpikiran untuk meninggalkan kotak makanan itu di pembatas taman. Persetan siapapun yang akan mengambilnya. “Eh, eh, eh! Apa-apaan ini?” Fadly melontarkan nada tinggi, mengurungkan niat Argata berlalu pergi. “Punya etika gak, buang sampah sembarangan di rumah orang?” Sambutan yang sadis. Argata sempat tercenung dan menatap nanar kardus yang dipungutnya kembali. “Maaf, Mas, ini makanan bukan sampah.” “Lho, gak salah dong gue? Lo sendiri yang memperlakukannya seperti sampah? Maen ditinggal gitu aja gak ada tanggung jawabnya.” Fadly ngotot tak mau kalah. Sebegitu hina orang itu menggunakan mulutnya tanpa tata krama. Cukup dua kali Argata dibuat merana di hari yang sama. Panas batinnya, namun Argata tak ingin ambil pusing meladeni cowok garang di hadapannya. “Saya kesini hanya mengantarkan pesanan Ibu Jenar,” ucapnya. “Orangnya gak ada di rumah,” ketus Fadly. “Kalau gitu saya titip sama Mas,” beberapa saat tidak pergerakan sama sekali. Kedua tangan Argata terdiam mengambang. Fadly hanya menaikkan alis risih, melihat bagian atas kotak itu menempel bercak minyak gorengan. “Sori nih, mau kencan sama pacar, gue gak mau mengotori tangan gue. Lo bisa bawa masuk sendiri kok.” Alih-alih menghargai, Fadly tergesa berbalik ke rumah itu dengan gestur supaya Argata mengikutinya. Kesabarannya menipis, Argata menghela napas letih. Emosinya masih terkendali untuk tidak membuang jerih payah Ibunya memasak makanan itu. "Gue taruh sini Mas, mau buru-buru!” Kala itu, Hasuna terbengong menjumpai kekasihnya ambruk di sofa tanpa membawa apa-apa. Sementara cowok di depan menaruh sebuah kotak besar di atas kap mobil. Semburat amarah tersirat di matanya saat bergeming menuju Scoopy hitam dibalik pagar. “Mas, Mas, tunggu!” Hasuna terbirit mengejar. Entah apa yang terjadi sampai pesanan Ibunya terlantar begitu saja dan Fadly tak memperdulikan. Argata menggeber gasnya hendak meluncur andai saja gadis mungil tidak menahannya. Balutan pashmina membingkai wajahnya manis dan bulat. Satu sisi jatuh di depan dan sebelahnya tersampir ke belakang. Senada dengan atasan hitam yang terlipat rapih dalam celana kulot highwaist-nya. “Maaf tadi lama, Mas yang anter pesenan Ibu saya? Berapa totalnya sama ongkosnya?” tanya Hasuna sambil membuka dompet. Argata sempat terkesima memandangnya, walau itu tak mampu meredam gejolak di d**a. “Enggak usah, Mba,” Argata menggeleng cepat. "Semua udah dibayar sama Ibunya. Saya cuma nganterin aja. Mba gak perlu bayar lagi.” “Ibunya Mas baik lho suka kasih bonus lebih, jadi gak papa anggep aja buat beli bensin, ya?” Selembar uang warna ijo melayang. Argata gencar menyembunyikan tangannya ketika Hasuna memaksa. “Paketnya saya tinggalin disitu, Mba. Saya pamit dulu.” Argata benar-benar butuh tempat untuk meledak. “Eh, Mas, tunggu,” tak mengizinkan Argata berlalu, sebuah telapak yang dingin tiba-tiba menyentuh jemari. Guratan senyum canggung perlahan memudar dari paras ayu. Hasuna menyamarkan gelagat saltingnya meski tertangkap oleh manik legam itu. “Aku gak sengaja liat, Masnya kesel sama cowok tadi? Apa dia gak sopan?” tanya Hasuna merasa tak enak hati. Was-was jika Fadly bersikap yang tidak baik dengan tamunya. “Bukan apa-apa kok, Mba. Wajar aja pacarnya ilfeel sama saya, soalnya bau gorengan.” Argata menyajikan senyum andalannya ketika Hasuna masih terbengong. Menunggu pengendara Scoopy hitam dengan spion terjungkir di bawah stang itu melenggang pergi. Selagi gerak-gerik Hasuna dipantau oleh seseorang dari jendela. Argata merasa tidak asing dengan cewek itu. Seperti pernah melihat namun ia lupa dimana. Apakah di dalam mimpi? Suara hentakan di bawah motornya menyadarkan. Argata merasa pantatnya sempat meloncat dari jok saat melewati polisi tidur. -o- Dentuman musik At My Worst menggema di sebuah toko pakaian. Membuat para pengunjungnya betah menikmati belanja. Hasuna berjalan kesana-kemari menyusuri banyak ruangan yang saling terhubung seperti labirin. Di belakangnya seorang cowok bertubuh jangkung dengan jaket bomber yang setia mengekori. Jemarinya asyik menggeluti kegiatan di hape miring yang samar-samar terdengar bunyi tembakan. Beberapa kali Hasuna meminta pendapat akan pilihan baju yang menarik atensinya, Fadly hanya berkomentar ala kadarnya. “Bagus,” sambil melirik sekilas. “Cocok,” atau yang paling panjang, “Ambil aja yang kamu suka.” Bahkan ketika Hasuna sengaja memeragakan gamis yang kedodoran sampai menyapu lantai, Fadly memujinya cantik dan pas di tubuhnya. “Hihh, kamu jangan main game terus bisa gak, sih? Nanti kesandung tau rasa, gak liat-liat jalan.” Hasuna merengek seperti bocah. Fadly baru menyadari gadisnya ngambek dan membanting hanger baju yang segede jubah itu di tempat semula. “Ya ampun, Bee, kamu ngapain sih marah-marah?” Terpaksa menyimpan ponselnya di saku. Fadly mengikuti cewek itu yang selalu berpaling ketika ditatap. Mood-nya rusak, tak henti bibir merahnya mengerucut sendu. "Siapa juga yang marah!” “Masih lama gak, belanjanya?” Fadly menilik jam tangan. Sudah hampir satu jam mereka berkelana di tempat itu namun Hasuna belum menyeretnya ke kasir. “Kalau mau pulang, pulang aja. Aku bisa sendiri,” jawab Hasuna malas. “Enggak kok, aku mau nemenin kamu,” kata Fadly. “Aku cuma minta kamu gak megang hape dulu. Sadar dong, kamu lagi sama siapa? Bebek aja jalan bareng-bareng lho, gak ada yang sok-sok sibuk sendiri.” Hasuna tak berniat melucu, namun cowok di hadapannya nampak tergelitik. “Kamu ngomong apa, sih? Kok bawa-bawa bebek?” gumamnya. “Abisnya kamu gitu, kebiasaan. Sebel tau.” “Yaudah, gak usah cemberut terus, nanti aku khilaf.” Fadly meringis saat cubitan mendarat di pinggangnya. Sebenarnya Hasuna kesal saja dengan sikap Fadly yang cuek. Segelintir lalu-lalang kaum hawa membawa gandengan namun cowoknya tidak seperti Fadly yang bikin jengkel. Bukannya Hasuna tidak suka, Fadly memang sudah bekerja, membebaskannya memborong apapun daripada ribet menghabiskan waktu. Hasuna hanya ingin dihargai sedikit, bukan dibiarkan begitu saja. Andai ia gadis matre mungkin sudah diploroti habis isi dompetnya. Hasuna mengomel dalam hati. “Eh, Dil, ada promo make-up favorit aku. Anterin kesana, yuk!” Hasuna nampak berbinar seketika melihat kerumunan di seberang. Sebuah logo kosmetik yang sering nongol di televisi terpampang di atasnya dengan tulisan Big Sale. “Halah, apaan sih gak usah!” Fadly menolak saat tangan lembut itu hendak menariknya mendekat. “Hihh, kenapa? Keburu sold out itu.” Hasuna merajuk meski tak melunturkan aura dingin di wajah pacarnya. "Lumayan lho bisa menghemat, kapan lagi lipstik kesukaan aku banting harga jadi 20ribu?” “Jangan kayak orang susah, deh. Norak tau rebutan barang murahan gitu.” Fadly mencibir tidak suka. Pandangannya agak risih melihat cewek-cewek ramai berebut alat kosmetik yang sedang diskon. “Gak boleh kesana?” rintih Hasuna. “Beli yang mahal aja kayak biasa.” Tak bisa dibantah. Tak guna terus memohon. Fadly mengalihkan perhatian gadisnya ke ruangan baju cowok, lantas meminta untuk dipilihkan kemeja yang bagus. Mereka keluar dari pusat perbelanjaan itu ketika fajar hampir menyingsing. “Sayang, aku diajakin mabar nih.” Fadly membaca pesan di ponselnya sambil berjalan. “Temen-temen aku nyusulin kesini mau sekalian nongkrong. Aku cariin kamu taksi, ya?” “Hm?” Hasuna menaikkan alis, jengah. "Tapi ini udah sore. Kamu gak mau balik dulu, istirahat?” “Gak enak dong sama mereka, lagian udah otw bentar lagi sampai. Masa aku pulang?” Giliran teman, diprioritaskan. Hasuna membatin. “Jangan pulang malem-malem.” “Iya, Sayang.” Tak lama terjun ke jalan. Fadly menyetop taksi yang lewat dan membukakan pintu agar Hasuna masuk. Paper bag yang isinya baju Fadly sekalipun, diserahkan begitu saja padanya. Hasuna tak banyak bicara saat Fadly mengecup keningnya singkat sebelum menutup pintu. Lambaian tangan mengantar taksinya melesat pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN