Bab 3

1063 Kata
“Nanti mampir tempat biasa lah, Bro. Laper gue belum kejejelan sesuap nasi!” Suara ngebas menyeru keras. “Siyappp.” Kilau terik berpendar di seluruh kota pagi ini. Kendaraan bermotor merayap di tengah kepadatan lalu lintas yang mengular sepanjang Jalan Kenangan. Dua cowok berboncengan Viksen hitam melaju kencang menembus angin. Mengenakan jaket almamater yang berkibar-kibar. Nampak bordiran logo dan tulisan di punggung Aligator University yang notabene kampus swasta ternama dan unggul. Namanya begitu garang, setara biaya kuliah yang melejit. Argata sebenarnya hanya murid pas-pasan yang kebetulan bernasib mujur. Sehingga namanya tertampung di kampus itu dengan mendapat UKT rendah. Pun, Argata tergolong mahasiswa kreatif 'kere dan aktif' yang banyak bacot di hadapan dosen semata-mata agar menyaingi murid kalangan sultan yang pemes dan belagu. Seringkali ketika diharuskan kerja kelompok, mereka suka bergerombol menyatukan kekuatan. Membuat pasukan yang menolak tercemar oleh murid bodoh. Argata sungguh muak dengan tampang mereka. Diam dianggap cupu, gerak menjadi suhu. Lantaran hari ini mendadak motornya macet, Argata nebeng temannya ke kampus. Namanya Okvan, atau biasa dipanggilnya Jembrik. Jauh memang, namun nama aslinya tidak berlaku lagi sejak berkawan dengan Argata. Masa-masa menggembel bersama di Aligator University. Saat itu menjalani orientasi mahasiswa yang kental akan senioritas, kemudian disusul malam keakraban yang sedikit kocak. Okvan menjumpai penampakan mata merah di bawah pohon yang membuat bulu kuduknya meremang. Karena penasaran, Argata menemaninya melihat lebih dekat sosok mata merah itu. Namun, belum sampai tempatnya Argata usil mendorong Okvan dan kabur ditinggalnya menjerit-jerit. Syaitoonnn! Berhubung lagi bokek, Argata mengajak Okvan mampir ke angkringan yang sesuai kantong pelajar. Sepuluh ribu sudah kenyang dapat nasi bungkus, sate usus, es teh, gorengan, dan rokok sebiji. Libur dulu ke warung geprek dekat kampus. Urat malunya menangis mengingat kelakuan Argata dengan muka temboknya sering menghutang disana. Tetapi tak masalah, si bapak yang baik hati sudah hafal dengannya. “Prihatin gue sama lo, Nder, udah anak yatim masih fakir cinta lagi. Rasanya gue pengen minta sumbangan sama lo,” tanggapan Okvan usai mendengar cerita nelangsa sahabat karibnya itu. Argata menarik sudut bibirnya tersenyum paksa, setengah miris. “Fakir cinta gundulmu? Gue mau ditinggal nikah, Brik. Gak ada geluduk gak ada pelangi, panik gak? Syok gak? Kalau lo jadi gue.” “Mungkin gue bakal semaput sambil disko,” Okvan tertawa getir disela uap rokok mengepul di hadapannya. "Lagian kok dadakan banget sih, ngomongnya? Gak pakek ancang-ancang. Udah gitu, si Nadia gak ada klarifikasi apa-apa. Niat banget bikin surpresnya.” Argata menggeram, ingin sekali menjungkirbalikkan gerobak angkringan Pak Slamet sampai rodanya copot. Wajahnya tak mampu menyembunyikan raut frustasi. "Astagfirullah, anjing. Pengen malu tapi nangis. Pengen gue santet bapaknyaaa, biar modirrr.” “Heh, Cok, lo sutres? Oalahh, masih muda udah sutres aja lo,” Okvan menepuk pundak kekar yang kerasukan itu agar sadar. “Gue Argata bukan Sutres!” sentaknya. “Itu tandanya lo dikasih tau sama yang diatas, kalau selama ini lo cuma menjaga jodoh orang. Sepahit apapun yang lo rasakan, masih pahit kopi rasa empedu, Fren," nasihat Okvan menyesatkan. “Pusing gue, Cok." Argata sejenak memejam, geleng-geleng kepala. Menyesap ududnya sedalam jurang kehancuran. Lamat-lamat menyesakkan ruang pilu di dadanya. Dunia terasa sunyi dan tergerus dalam gulita. Gadis berkacamata bulat sedang membaca buku di taman fakultas. Tatapannya menembus setiap lembaran yang tersingkap. Desau angin terus mengusiknya sejak tadi. Melambaikan ujung pashmina hitam yang menjuntai bebas di belakang jaket denim crop-nya. Ia mengenakan rok tutu hitam di atas mata kaki yang bagian bawahnya sedikit menerawang. Sekilas, tak ada yang menarik dari bacaannya. Membosankan dan bikin haus saja. Sebentar lagi pukul 9 kelas dimulai. Tidak mungkin Hasuna wara-wiri ke kantin, yang ada ia bisa telat. Sedikit lesu Hasuna memeluk bukunya sambil meratapi hiruk pikuk mahasiswa yang berdatangan dari arah parkiran. Diantara wajah-wajah itu, Hasuna terpaku pada tubuh tegap yang berjalan angkuh. Ia memegang botol minum yang tersisa setengah. Sumber mata air di jam-jam genting. Ooh, dia kuliah disini juga? Hasuna beranjak dengan wajah berseri. Membuntuti orang itu yang ternyata menuju gedung yang searah. Bertubi-tubi Hasuna meneriaki, “Hei!” namun cowok itu enggan menengok sama sekali. Justru, orang-orang yang tak ia kenal yang serentak menoleh. Sebelum kehilangan jejak, tak kehabisan akal Hasuna berpura menabrak punggung cowok itu dengan aksi jatuh dan suara buku menghantam ubin. Pemilik topi bertuliskan 'buronan mertua' itu sigap berbalik. Persis, seorang gadis meringis kesakitan terjerembab di lantai. “Sorry, sorry.” Argata merasa bersalah walau tak ada dosa yang ia perbuat. Gadis itu pelan-pelan dibantunya berdiri sambil membawakan bukunya. Tak lama, bola mata saling beradu. “Kamu denger aku gak, tadi? Mau manggil cuma enggak tau namanya,” Hasuna menggigit bibir tergugup. Alih-alih menjawab, cowok itu meresapi sistem di otaknya sedang ngelag. Bidadari ini mengejar dirinya? “Hello? Masnya kok bengong, sih?” “Oh, iya. Mba yang kemarin, 'kan? Anaknya Ibu Jenar, langganan Ibu saya. Gak nyadar ternyata sekampus." Argata nampak kikuk. Merasa tubuhnya panas dingin dihampiri oleh gadis mungil itu. “Masih pagi udah panas banget, tapi gak bawa air,” dengan polosnya Hasuna mengode. Hanya hitungan detik saja, Argata menyerahkan botol mineralnya dengan senang hati. Ucapan terimakasih yang tersipu mengiringi cairan botol itu perlahan tandas. “Mba ngejar saya cuma mau minta minum?” Argata tersenyum jenaka. Cengiran manis Hasuna lagi-lagi menyetrum luka hati. “Maaf, tadi pake acara nabrak. Emang sengaja," cicitnya disela tawa. "Gak nengok-nengok sih Masnya. Berhubung pernah ketemu aja, sama tau kamu anaknya Bu Sania. Jadi sok akrab gini. Gak bikin ilfeel, 'kan? Aku jadi overthingking nih.” Lucu sekali kalau salting, Argata terkekeh. “Santai aja kali, saya bukan orang yang risihan atau apa.” “Um, yaudah kalau gitu. Aku buru-buru nih, ada kelas. Bye, thanks, ya.” Hasuna menunduk saat melewati Argata. Masih tak lepas dari pantauan, kelas Bahasa Inggris di ujung koridor menjadi persemayaman gadis itu. Argata merekam sebaris nama yang tadi ditemuinya di buku; Hasuna Vernanda. Pertemuan kedua, Argata masih tak sempat berkenalan langsung, ataupun sekedar bertanya jurusan apa. Hitam-putih bayangan Nadia masih berkeliaran di kepala. Bahkan Argata tidak tau tujuan hidupnya saat ini. Hasuna menengok kembali saat tiba di depan pintu dan melihat di kejauhan, Argata menerima telefon. Tanpa sepatah kata terlontar dari bibirnya, pungguh gagah itu bersandar di tembok dengan lesu. Argata mencekam rambut mendengar penuturan seseorang di seberang. Derap langkah di sekelilingnya menjadi melodi yang memilukan. Hasuna tak mampu mendengar rintihan cowok itu tertutup poninya jatuh di dahi. “Aku gak mau ada keributan. Jadi, kamu gak perlu dateng ke nikahan aku besok.” Final.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN