Argata menendang kerikil di jalanan dengan frustasi. Wajahnya menggelap seperti langit sore ini. Pikirannya kacau sampai bolos kuliah.
Batinnya seperti kapal yang karam perlahan tenggelam di lautan kenangan. Hujan di hatinya kian deras mengguyurkan luka.
"Astaghfirullahalzim, kenapa gue selemah ini.." berulang kali Argata menyebut sambil mengusap wajahnya gusar. Cairan bening tergelincir di sudut pedih matanya.
Tidak tau harus mengadu kemana. Lalu-lalang kendaraan meredam sunyi dalam benaknya. Ingin rasanya menghilang dari peradaban dan melupakan sejenak pilu yang meradang di relung d**a. Meratapi sebuah nama yang setiap jeritnya mengiris-iris sukma.
Argata menghentikan langkahnya di pinggir trotoar. Tubuhnya tersandar lesu di tiang lampu jalan yang menyala remang-remang.
Lambat laun gumpalan mendung menumpahkan embun. Argata merasakan jiwanya kosong dan redup. Hingga membiarkan tubuhnya diserbu ribuan tetes air yang jatuh keroyokan seperti batu.
Basah kuyup merembes dalam jaket. Melebur letih dan resah yang mendekapnya seharian pasrah. Argata masih tidak menemukan cara untuk berdamai dengan keadaan.
Meratapi gadis yang dicintainya bertahun-tahun memilih menikah dengan lelaki lain. Nadia sudah merenggut seluruh hatinya dan membalurkan kecewa.
"Kamu kemana aja, sih, kalau jemput selalu ngaret? Janji jam berapa dateng jam berapa? Udah laper dibikin nambah kelaperan," sayup-sayup omelan Nadia mendengung dalam bayangan.
Menembus lorong waktu, ketika jaman putih abu-abu. Argata bungkam melihat Nadia memakinya. Hanya perkara setengah jam Argata datang terlambat dari agenda kencan, Nadia hampir tidak mengerem bibirnya sejak tadi. Mood-nya rusak sebab kelamaan menunggu Argata.
"Sudah kubilang, tadi repot bantu Ibuku, lagi banyak pesanan." Argata mengulang kembali kata maaf kesekian kali. Meski tak merubah wajah judes di hadapannya.
"Kamu 'kan bisa bilang mau jalan sama aku? Ibumu juga pasti ngerti. Udah dandan rapi-rapi aku sampek ketiduran cuma nungguin kamu, tau gak?" sungut Nadia. Menelan ludah kasar.
"Iya, aku minta maaf. Yang penting 'kan sudah sampai. Jangan cemberut terus kamu, nanti makin cantik," Argata berniat memasang helm di kepala Nadia, namun disentaknya dan dipakai sendiri.
"Gak usah sok muji, cantik itu pakek biaya." Nadia masih menggebu.
"Kata siapa? Tanpa biaya kamu tetep cantik."
"Skincare aku udah abis dari kemarin. Kulit udah buluk dibilang cantik, ngehina banget. Boro-boro kasih biaya buat perawatan, malah bikin insekyur."
Angin sendu menampar Argata yang berusaha lapang d**a. Nadia berucap dengan gamblang tanpa sadar sudah menusuk hati. Sejujurnya perih, Nadia selalu berprasangka buruk dan tidak menghargai setiap dipujinya sungguh-sungguh.
"Mau makan dimana?" tanya Argata di perjalanan. Nadia tak kunjung ramah hanya berucap terserah. Sesekali Argata melirik spion, gadisnya itu sibuk sendiri memainkan ponsel dibali punggungnya. Enggan mengindahkan ucapan Argata yang terus membujuknya agar mereda.
'Susah banget sih nyenengin doang!'
Nadia membuat pembaruan status di media sosil dan kurun semenit deretan chat dari cowok-cowok mengantri di messenger-nya. Satu per satu diladeninya demi memperbaiki suasana hati, tanpa sepengetahuan Argata.
"Udah lama gak makan bakso langganan aku. Kita kesana aja gimana?" celetuk Argata.
"Aku gak mau makan pinggir jalan," teriak Nadia.
"Terus maunya apa?"
"Ya, apa aja kek terserah."
"Sate ayam?"
"Kamu gak liat jerawat di muka aku? Bumbu kacangnya itu lho," ucap Nadia jengkel.
"Aku lagi pengen kebab sih, gimana?"
"Jajan kebab doang gak kenyang, aku mau makan. Tapi tempatnya yang enak, kalau bisa yang ada view-nya bagus-bagus terus instagramable, biar sekalian nonton sunset."
"Kalau gitu kenapa ngomong terserah?"
Anehnya Argata masih mengasihi pacarnya yang menguras kesabaran. Nadia hanya mengerucutkan bibir sebal. Tak sengaja motor Argata melintasi lubang di tepi jalan yang mengantar kedua tangan terdampar erat di perutnya. Menatap wajah manis bertengger di pundaknya seketika meruntuhkan kegundahan.
"Hei, Masnya baik-baik aja?!"
Suara feminim merambat disela gemuruh hujan meruntuhkan lamunan Argata. Lamat-lamat Argata menengadah pada seonggok benda berbentuk tudung yang tiba-tiba memayungi di atas kepala. Gadis mungil setinggi pundaknya memandang risau dalam balutan pashmina.
Aroma cokelat panas sedikit melegakan Argata walau sekujur tulang menggigil. Payung milik Hasuna tergeletak di emperan cafe.
Secangkir minuman penghangat yang dipesan cewek itu masih belum tersentuh. Argata justru terbenam di manik teduh yang dibingkai bulu mata lentik itu.
"Masa kecil kurang bahagia, ya? Hujannya deres banget lho, kenapa enggak neduh? Kalau ada halilintar kan bahaya," ucap Hasuna, sepintas melihat fragmen gelap di balik etalase kaca.
"Iya," hampir sepuluh menit Argata masih tidak selera berbincang.
"Maaf kalau aku bikin gak nyaman. Kayaknya lagi pengen sendiri, ya? Aku bisa pergi kok," Hasuna merasa canggung hendak pamit, namun jemari dingin menahan lengannya.
"Tempat umum, Mba, siapa aja boleh disini," Argata mengulum bibirnya yang memutih.
Hasuna terdiam menyimak cengkraman berotot itu perlahan memudar dan menyambut di depannya. "Belum sempet kenalan, Argata."
"Hasuna, gak perlu pake Mba, ya. Kayaknya seumuran kita," jawab perempuan itu. Dingin menyergap di ruas-ruas jari terasa menyengat hati, sejenak bersalaman dengan Argata.
"Namanya bagus, ngingetin sama sebuah lagu."
"Lagu apa itu?"
"Hasuna ooh na-na, half of my heart is in... ooh nananana~"
"Weitt, itu Havanaaa!"
Suasana mencair oleh kekehan geli Hasuna mendengar senandungnya. Sesuatu yang terpancar di wajah itu seolah ampuh melenyapkan belenggu hidup ini. Argata menyembunyikan senyum jenaka. Ternyata Hasuna juga menyukai musik hitsnya Camila Cabello itu.
"Kamu tau yang versi koplonya gak? Enak banget lho,"
"Jiakh, tau sih cuma jarang denger musik sebenernya."
Hasuna menaikkan alis, "Kenapa jarang?"
"Ya, suka ngantuk aja kalau lagi dengerin."
"Jadi mending gak usah denger aja, ya?"
Tawa renyah melebur seakan mengobati luka hati. Sedikit demi sedikit mereka menyesap cokelatnya untuk menghangatkan badan. Hasuna menempelkan kedua tangan di permukaan gelas sembari memperhatikan gerimis diluar.
Sempat terbesit iba dalam batinnya, menemukan Argata bertapa di bawah guyuran hujan seperti sedang mengadu kepada semesta.
Kepiluan yang terpancar di tatapan nanar seolah menyimpan masalah besar. Namun Hasuna tidak ingin terkesan kepo atau ingin ikut campur urusan orang lain.
"Kamu tadi mau kemana? Kok hujan-hujanan?" tanya Argata.
"Aku sedia payung, kamu kali yang hujan-hujanan?" Hasuna memutar fakta.
"Hemat air, biar sampek rumah gak usah mandi."
Pecah tawa Hasuna, namun tidak bodoh untuk mengetahui kesedihan yang terpendam dibalik candaan itu. Telebih, Argata berulang kali menunduk dan menyeka sudut mata. Hanya saja, sangat mustahil untuk membaca pikirannya.
"Aku tadi mau cari kendaraan umum. Soalnya cowokku gak bisa jemput," ucap Hasuna pelan. Menilik pesan terakhir Fadly di ponselnya, kalau hari ini lembur.
"Kenapa, sibuk ya?" tembak Argata.
Hasuna mengangguk malas. "Terus kamu gimana pulangnya? Bajumu basah kuyup, nanti masuk angin lho."
"Minum obat dong," Argata menggosok hidungnya, mulai bersin-bersin. "Lagipula kalau sakit, enggak ada yang peduli juga."
"Jangan ngomong begitu," Hasuna menyela.
"Kalau peduli gak bakal dicampakkan lah."
"Cie, sadboy, ya?"
Gerakan jari menari-nari, Hasuna kesenengan meledeknya. Tanpa mengorek-ngorek, Argata sudah terpancing sendiri. Betapa malunya keceplosan, Argata merutuki dalam hati. Senyum palsu yang dipaksakan semakin menggelitik batin Hasuna.
"Terkadang air mata lelaki jauh lebih tulus dari pada perempuan," ucapnya seolah mewakili perasaan. Mengingat detik-detik yang langka ketika melihat Argata menyamarkan air matanya di bawah derai hujan. Hasuna masih menahan diri untuk tidak mengganggu privasinya.
"Cowok gak bakal nangis kecuali dia benar-benar rapuh dan hancur dalam perjuangannya. Aku bukan sok tau, hanya menganalisa. Ketika seseorang merasa dirinya sangat diharapkan dan dicintai, dia bakal seenaknya.
"Gak tanggung-tanggung mau menyakiti juga, soal gampang buat dia. Jadi aku menyimpulkan, satu-satunya cara untuk mencegah risiko jatuh terlalu dalam, maka mencintai itu secukupnya saja. Kita secukupnya, dia mengimbangi secukupnya. Kalau bubar gak terlalu ambyar, kalau terus ya serius," Hasuna menuturkan dengan hati-hati.
"Aku paham, cuma kamu enggak tau seberapa jatuhnya itu, belum lagi dijatuhkan harga diri sebagai lelaki," Argata melipat kedua tangannya di meja. Menatap lekukan pashmina yang membalut indah di wajah Hasuna.
"Orang hebat mana yang menjatuhkan harga dirimu?" Hasuna bertopang dagu dan beradu pandang dengan intens.
"Manusia dengan keinginan muluk-muluk, mengandalkan egonya untuk menyetir masa depan anaknya."
Hasuna menggembungkan pipi, berusaha menafsirkan masalah Argata bagai menyusun teka-teki yang semu. Membayangkan saja sulit, apalagi menjalaninya. Namun sedikitnya Hasuna mengerti, setitik ketegaran masih singgah dalam raga cowok itu meski tidak mudah.
"Bukannya aku enggak tau seberapa sakitmu, tapi sebaiknya jangan dijadikan beban. Karena beban pasti berat, yang ringan itu ikhlas. Percaya enggak? Esok gantinya pasti lebih baik dari yang kemarin."
"Sudah terlanjur mati rasa," gumam Argata.
"Kenapa? Karena kamu masih melihat wanita hanya dia di dunia ini. Bukan begitu?" Hasuna tersenyum penuh arti.
"Kamu adalah cewek sok tau yang baru aku temui. Memang kamu pikir, ibuku bukan wanita?" kesal Argata.
"Ooh, iyaaaa, yaa!"
Tawa itu mengalir kembali. Entah mengapa Hasuna merasa terhibur disela penderitaan Argata. Bagaimana bisa, patah hatinya menjadi bahan lelucon usai berkenalan dengan Hasuna. Sudah cantik, lesung pipitnya pun menggoda disela tawa.
Pertemuan ketiga, Hasuna menjadi obat sementara.