"Akhirnya, bisa bebas juga dari cowok itu."
Hasuna berhenti menggowes di pinggir jalan. Sudah lumayan jauh dari rumah. Sepeda itu dituntun sampai di bawah pohon yang teduh.
Hasuna terduduk sambil menikmati udara segar. Mengecek notifikasi ponselnya. Panggilan tak terjawab dari Fadly dan sederet pesan memenuhi layar.
'Bagus banget kamu ya main kabur-kaburan?'
'Sopan banget, diapelin malah ditinggalin.'
'Pulang nggak?'
'Nyalain gps nya.'
Hasuna mematikan sambungan data supaya tidak diteror lagi. Tak bisa dipaksakan, Hasuna mulai ilfeel dengan sikap Fadly yang marah-marah.
Ada pedagang cimol yang mangkal di trotoar nampai ramai dikerubungi anak-anak kecil. Aroma bumbu balado menguar di penciuman. Hasuna ikut mengantri dan menukar uang lima ribuan dengan seplastik cimol.
"Ah, mantaap."
Hasuna kembali duduk dan menikmati setiap gigitan yang nikmat. Tak ingin berlama-lama di tempat itu, takut barangkali Fadly lewat sini untuk mencarinya, Hasuna kembali menaiki sepedanya.
Kesana-kemari roda-roda itu menggelinding. Hasuna menyentil lonceng yang bertengger di stang ketika sepeda itu berbelok di bawah kanopi. Dimana motor Scoopy hitam yang familiar baginya itu terparkir.
Seorang cowok yang sedang duduk di teras menengadah dari hape miringnya. Menatap perempuan manis berbalut pashmina di kepala yang tersenyum padanya.
"Spadaaaaa.."
Hasuna mulai hobi main ke rumah Argata. Tentu saja dengan tingkat kepedean cewek itu.
"Aku kirain siapa," ucap Argata.
"Dari mana mau kemana?" sambungnya
"Dari rumah, numpang lewat doang, hehehe."
Bilangnya numpang lewat tapi sepedanya diparkir. Argata menggeleng.
"Katanya cowok kamu ke rumah? Kok malah kesini kamu?"
Cewek itu berjalan gontai dan terduduk di kursi tanpa disuruh. "Aku boleh minta minum nggak? Haus nih tadi makan cimol."
"Lagi mabar aku, masuk aja ada ibu kok."
"Oke siyaapppp!"
Cewek itu kegirangan terbirit masuk ke rumah. Parfumnya melintas di hidung Argata masih harum.
"Soreee, ibuuuu!"
Seperti anak kecil, Hasuna melangkah dengan riang sambil menggerakkan tangan. Menghampiri wanita paruh baya yang sedang menbersihkan dapur.
"Ehh, Hasunaa.. soree.."
"Hehehe, aku main kesini lagi ibu nggak bosen kan liat aku?"
"Kamu ini, ya nggak lah.." Sania terkekeh pelan.
"Syukurlah kalau begitu, ibu aku boleh minta minum nggak? Padahal aku baru dateng tapi udah kehausan. Soalnya aku naik sepeda."
"Bolehhh, ambil aja sendiri. Gelasnya disitu. Mau air dingin atau panas? Kalau mau teh juga ada di toples. Tinggal dicelupin," jawab Sania sambil menunjukkan meja untuk membuat minum dan tempat air galon di sudut lain.
"Air putih aja udah cukup kok bu,"
"Memang kamu mau kemana Hasuna?"
"Nggak kemana-mana bu, cuma sepedaan aja, gabut di rumah."
"Hasuna laper nggak? Tadi ibu selesai bikin kue kesukaan Argata masih banyak,"
Hasuna baru saja memencet air galon dan meneguk minumnya. Sania membuka tuduang saji berisi gorengan yang menggiurkan.
Sekilas mirip pastel namun Sania mengatakan bukan pastel. Namanya kue panada.
"Kenyang aku bu kalau main kesini, disuruh makan terus," ucap Hasuna terkikik.
"Hei, nggak papa, anggep aja kayak di rumah sendiri."
"Tadi sebenernya aku udah makan cimol bu, tapi nambah dikit sih masih muat sih perut aku."
Sania tertawa. "Ayo cobain aja, jangan malu-malu ah. Cimol doang nggak bikin kenyang."
"Makasih ya bu, baik banget deh. Nanti aku jadi sering-sering main kesini loh."
Hasuna mengambil sebiji makanan itu dan masih hangat terasa.
"Ya boleh lah, rumah ibu selalu terbuka buat Hasuna."
"Ibu bisa aja deh, hehe."
"Kapan lagi Argata punya temen cewek yang mau main kerumah?"
"Hmm, itu mah Argata-nya aja bu, yang nggak mau ngajak. Padahal mah banyak temen ceweknya."
"Tapi cuma Hasuna yang suka wara-wiri kesini."
"Ibu suka bikin cemilan sih, jadi aku ketagihan main kesini."
"Ih nggak papa, ibu seneng malah ada Hasuna disini. Jadi rame rumahnya."
Sedang asyik-asyiknya mengobrol. Argata muncul dengan wajah innocent. Menjumpai gadis itu menyumpal mulutnya hingga penuh.
"Bu, baru dateng loh dia. Laper apa doyan tuh.." Argata menahan senyumnya.
"Hei, biarin aja, itu tandanya Hasuna betah disini."
"Bosen aku tuh di rumah, berisik.." kata Hasuna.
"Bukannya cowok kamu ngapel ya?"
"Oh, sudah punya calon kah?" sahut Sania.
Nyaris tersedak, Hasuna tergesa menelan makanannya. Argata mesam-mesem mendaratkan pantatnya di kursi.
"Makanya itu, aku nggak nyaman ada dia makanya aku kabur," Hasuna berucap lirih.
"Gimana ceritanya? Diapelin pacar malah kabur?" tanya ibu.
Hasuna memanyunkan bibirnya, lantas melirik Argata yang datar-datar saja.
"Aku ilfeel sama dia bu, cuma masalah sepele aja marah-marah terus kayak lagi pms. Aku kasian sama ibu aku. Pasti kalau ada masalah, ibu aku ikut dibawa-bawa. Aku nggak suka sikapnya kayak gitu." Hasuna menceritakannya dengan lugu.
"Terus Hasuna menghindar sekarang?"
"Aku nggak tau mesti gimana bu, aku nggak nyaman deket cowok kayak gitu. Nggak asik. Bawaannya tegang mulu, bikin naik darah."
"Terus, kalau main kesini emang asik?" sahut Argata.
"Ya asik lah, kan nggak ada orang marah-marah disini."
"Oh, gitu?"
"Iya, kenapa? Nggak suka ya? Ibu nggak suka aku udah punya pacar tapi sering main kesini?"
Hasuna menatap bergantian ibu dan anaknya. Tawa melipir di wajah mereka.
"Ya nggak lah, oneng.." sungut Argata.
"Kamu aja nggak sreg pacaran sama cowok itu. Kalau ibu jadi ibu kamu udah pasti nggak bakal ibu pertahanin anak perempuan ibu berhubungan sama cowok kayak gitu. Kan kasian kamunya jadi tertekan."
"Iya bu, makanya aku males pulang nih."
"Nanti kalau dia kesini gimana?" tanya Argata.
"Nggak bakalan, kenal aja enggak kok. Tenang."
"Aku kira cowok kamu itu kebanyakan makan daging jadi darah tinggi," canda Argata.
"Haha, nggak peduli aku lagian."
"Kamu beneran ilfeel ya sama dia? Nanti dimarahin ibu nggak kamu kabur begini?"
"Nggak, kok. Ya gimana coba, siapa yang betah kalau debat terus."
"Udah, biarkan saja. Jangan dipikirkan cowok kayak gitu. Nanti ilang moodnya. Biasanya cewek kalau udah nggak mood jadi males ngapa-ngapain, mogok makan.." gurau Sania.
"Aku nggak akan mogok makan kalau disini bu, hehe, bawaannya laper soalnya."
"Huuu."
"Maaf ya Ga, aku pecicilan di rumah kamu."
"Nggak papa lagi, ngapain jaim-jaim? Malah asik yang natural apa adanya."
Hasuna tersenyum. Ingin rasanya Hasuna berlama-lama di rumah itu. Dari pada harus bertemu Fadly. Demi apapun Seina tidak selera menyalakan ponselnya sejak tadi. Karena sudah pasti Fadly kembali menerornya.
Ketika langit menuju petang, hujan datang. Hasuna melihat titik-titik air itu membasahi halaman rumah Argata dan juga pohon rambutan di samping rumahnya.
"Nggak bisa pulang kamu, gimana?"
"Aku belum mau pulang kok, boleh kan disini dulu?"
"Kalau kamu mau, ya nggak papa. Tapi ijin ibu kamu."
"Iyah, makasih ya Ga."