Hari sudah petang, Hasuna memarkirkan sepeda di depan garasi lalu berjalan masuk sambil berucap salam.
Ayah dan ibu Hasuna sudah menunggu di ruang keluarga. Suasana rumah terasa lebih tenang tidak ada Fadly seperti tadi siang.
"Kamu dari mana aja Hasuna?" tanya sang ayah.
"Fadly seharian nyari kamu, kemana kamu menghilang?" timpal sang istri.
Hasuna menggaruk belakang kepala yang tak gatal. Baru saja pulang sudah mendengar nama itu disebut-sebut. Menyebalkan sekali. Batinnya.
"Aku dari rumah teman, Ayah, Ibu.. Aku capek mau istirahat dulu."
Hasuna hendak masuk ke kamarnya, tetapi sang ibu menahan. "Kami belum selesai bicara Nak. Tunggu dulu."
"Ada apa lagi Bu? Aku mau mandi."
"Hasuna, kamu tidak sepantasnya memperlakukan Fadly seperti itu. Apa-apaan kamu ini dia menemani kamu disini malah ditinggal pergi? Ayah tidak enak sama orangtuanya," ucap lelaki paruh baya itu nampak kecewa.
"Maaf, Yah, aku ilfeel sama dia. Dia kasar soalnya, masa masalah kemarin diungkit-ungkit terus? Aku nggak suka."
"Tapi nggak begitu caranya, Hasuna."
Cewek itu menghela napas. "Sikap dia bikin aku nggak betah, Yah. Baru pacaran udah protektif banget."
"Besok-besok jangan begitu lagi. Nanti kamu minta maaf sama dia."
"Iya, ayah. Kalau gitu aku ke kamar dulu."
Hasuna berjalan ke kamarnya dan menutup pintu. Tak peduli ponselnya meronta-ronta, Hasuna merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata.
Keesokan paginya, Hasuna bersiap berangkat kampus. Ia sudah rapih dengan sweater cokelat dan pashmina hitam.
Sudah lapar perutnya, Hasuna ingin menyantap hidangan di meja makan tetapi ibu menahannya. "Tunggu sebentar, Nak."
"Kenapa Ibu?"
"Nunggu Nak Fadly dulu, dia mau kesini."
"Loh, keburu telat aku nanti gimana?"
Hasuna melirik jam tangannya. Menunjuk pukul 7 lewat 10 menit. Ayah Hasuna sudah berangkat kerja sejak tadi padahal Hasuna ingin nebeng ke kampus karena tidak ingin berangkat bersama Fadly.
"Bu, aku udah laper. Keburu siang kalau nunggu Fadly."
"Sebentar sayang, nak Fadly sudah on the way kesini. Nggak enak dong kalau ditinggalin sarapan. Soalnya dia mau sarapan bareng katanya."
Hasuna masih sabar. Melipat kedua tangan di atas meja. Menunggu sang tamu dengan jengah. Sepuluh menit berselang, suara mobil datang dan Fadly langsung nyelonong masuk seperti di rumah sendiri.
"Pagi, buu.." sapa Fadly. "Pagi Hasuna."
"Pagi Nak Fadli, sini duduk, Nak."
Ibu mempersilahkan Fadly menempati kursi di samping Hasuna. Tak ada jawaban dari Hasuna yang menekuk wajahnya tidak selera. Fadly menatapnya tidak suka.
"Kenapa mukanya cemberut? Nggak suka ya ada aku disini?"
"Nggak, nggak papa. Buruan sarapan."
Tonjolan lidah di sisi mulut Fadly nampak tak nyaman. Hasuna mengambil nasi dan lauknya tanpa menawarkan pada Fadly seperti yang dilakukan ibu.
"Kamu kemarin kemana?" tanya Fadly.
"Nggak kemana-mana, ke rumah temen."
"Temen yang mana?"
"Temen kampus."
"Laki-laki atau perempuan?"
Hasuna tak merespon. Ia sibuk menyumpal mulutnya dengan sendok. Baginya Fadly sudah mulai posesif dan Hasuna tidak suka dengan tingkahnya itu.
"Jawab Hasuna, kenapa diem aja?"
"Fadly, ini meja makan buat makan jadi tolong jangan ganggu selera makan aku," kata Hasuna.
"Susah banget sih tinggal jawab."
"Kalian jangan berantem di rumah, nanti selesaikan di diluar saja. Lebih baik kalian segera sarapan."
Fadly menahan emosi. Tentu saja sikap Hasuna yang tidak enak dipandang membuatnya semakin curiga. Padahal pertanyaan itu hanya sepele tetapi Hasuna tidak bisa menjawabnya.
***
Selama perjalanan menuju kampus, Hasuna hanya terdiam di dalam mobil. Lagi-lagi terjadi perang dingin. Fadly yang fokus menyetir tiba-tiba melipirkan mobilnya.
"Loh, kenapa berhenti? Kampus aku masih jauh loh?" tanya Hasuna.
"Aku nggak bisa kayak gini terus sama kamu Hasuna. Kenapa sih kamu terus marah-marah? Udah ninggalin aku kemarin sekarang kamu cuekin aku?" kesal Fadly.
"Aku nggak marah kok, biasa aja." Hasuna mengelak.
"Kamu berubah. Sejak kamu temenan sama cowok itu. Kenapa sih sebenernya sama kamu? Suka sama dia?"
"Nggak kok, ngawur kamu." Hasuna mendecih malas.
"Terus kenapa kamu jadi begini? Dikit-dikit jutek dikit-dikit ngegas. Nggak kayak kamu yang dulu."
"Lagi nggak mood aja, udah ya buruan jalan."
"Tuh kan, kamu gini sekarang. Kamu tau nggak sih aku nggak enak liat kamu terus-menerus bersikap dingin sama aku!" Fadly mulai terpancing dan habis kesabaran.
"Dingin apanya? Perasaan kamu aja kali," tolak Hasuna.
"Kamu pikir aku bodoh apa? Nggak usah pura-pura."
"Pura-pura apa Fadly?"
"Kamu jadi pembangkangan sekarang!"
Cewek itu menggeleng lesu, tak habis pikir dengan tingkah Fadly. Hasuna menyangdang tas kanvasnya di sisi pundak. "Yaudah lah, dari pada kita berantem terus. Kalau kamu nggak nau nganterin aku yaudah, nggak papa. Aku bisa cari kendaraan umum."
Tanpa pikir panjang Hasuna turun dari mobil kemudian mencegat sebuah bus yang melintas di jalan itu. Tak menghiraukan teriakan Fadly, Hasuna sudah memanjat naik ke dalam bus dan pak supir melajukannya menjauhi mobil Fadly.
Hasuna mengambil tempat duduk yang dekat dengan kaca jendela. Tak disangka seseorang di seberang menengok dan mengenalnya.
"Hasuna?" sapa orang itu.
Hasuna menengok, seketika Argata berpindah tempat sambil menenteng tas ranselnya. Hasuna tersenyum tipis. "Loh, Ga, kok kamu naik bus juga?" tanya cewek itu.
"Iya nih, lagi males naik motor. Kebetulan banget kita ketemu disini."
"Iyah, tadi aku sebenernya lagi sama pacar aku. Cuma dia ngajak ribut terus jadinya aku keluar aja deh. Terus naik bus ini."
"Ribut kenapa lagi? Masalahnya belum selesai?"
"Nggak tau juga aku maunya dia kayak gimana. Diungkit-ungkit terus. Kan aku bosen jadinya."
Argata mengangguk pelan. "Iya juga sih, masa masalah gitu doang sampek diperpanjang. Apa gara-gara aku juga ya, karena waktu itu boncengin kamu naik motor?"
"Yah, itu juga sih, tapi nggak ambil pusing aku. Dia nggak berhak melarang aku berteman sama siapa aja."
"Tapi cowok kamu posesif banget, Hasuna."
"Maka dari itu aku nggak betah deket dia. Hawanya mau berantem terus."
Bus terus berjalan. Hasuna menyenderkan kepalanya di sandaran kursi hingga ferasa matanya mengantuk. Tak sadar Hasuna menjatuhkan kepalanya di pundak Argata.
Cowok itu hanya membiarkan saja, bahkan mengusap-usap rambut Hasuna. Argata tidak mengusiknya hingga bus melaju sampai kawasan kampus mereka.
"Hasuna.. bangun, bentar lagi kita sampai."
Cewek itu melenguh dan mengusap bibir. Hntung saja tidak mengiler. Hasuna merasa tidak enak sudah membebani pundak Argata.
"Ga sorry ya, tadi aku ngantuk banget."
"Iyah nggak papa kok cuma kita udah mau sampai. Kalau kamu masih ngantuk nanti dilanjut aja di kelas."
Hasuna tersenyum malu. "Ya enggaklah, kebo banget aku."
"Hehehe, nggak papa lagi. Cantik kok walaupun lagi tidur."