Bab 14

1397 Kata
Pak dosen baru saja mengakhiri kelas. Para mahasiswa berbondong mengemasi alat tulis dan keluar. Hasuna berjalan dengan mulut menguap. Sejak tadi pagi kantuknya tak kunjung sirna. "Hei, awas nabrak tiang," celetuk seseorang yang mengagetkan Hasuna. Lekas cewek itu menengok, Argata tertawa kecil melihatnya dengan mata sipit. "Apa sih Ga? Lagi ngantuk nih aku, mau tidur tapi dimana ya?" Hasuna meregangkan pegal di sekitar lehernya. "Kamu ini, cantik-cantik ngantukan," gerutu Argata. "Kayaknya kurang tidur deh semalem. Aku kebangun pagi-pagi banget." "Tidur di perpus aja, enak sambil ngadem," saran Argata. "Bener juga tuh, yaudah deh aku mau kesana. Mau ikut?" "Boleh, sambil ngembaliin buku." Argata mengangkat gulungan buku di tangan. Mereka melangkah beriringan menuju perpustakaan yang berada di gedung samping. "Argata, aku mau merem sebentar ya. Kamu jangan kemana-mana, nanti bangunin jam 1 aku ada kelas siang ini." Hasuna menduduki bangku paling pojok dan menaruh tas di atas meja. "Okey, aku bakal jagain kamu, sambil mabar," ucap Argata seraya mendudukkan p****t di sebelah Hasuna. Cewek itu kemudian melipat kedua tangan di atas meja dan merebahkan kepalanya. Lamat-lamat kelopak matanya mengatup dan terpejam lelah. Argata memegang ponselnya dengan posisi miring. Sembari bermain game online ia menjaga Hasuna yang tertidur. Sesekali Argata melirik paras cewek itu yang manis walau sedang terlelap. Ponsel Hasuna menyala di atas meja dan menampakkan sederet pesan dari kontak bernama Fadly. Pun, cowok itu berupaya menelepon Hasuna namun Argata tidak berani mengangkatnya. 'Kenapa sih kamu susah banget diajak baikan? 'Kamu selalu aja menghindar dan keras kepala! 'Mau kamu apa Hasuna? Nggak sopan kamu begitu! 'Lama-lama kamu kebiasaan tau nggak?' Beberapa pesan muncul di layar notifikasi. Argata hanya melihatnya sejenak dan tidak bernyali untuk memegang ponsel yang bukan miliknya itu. Ada apa gerangan? Kenapa mereka masih berantem? Batin Argata bertanya-tanya. Apa karena masah mereka berboncengan waktu itu? Jadi Fadly terus mempermasalahkannya dan mengira yang tidak-tidak. Dua jam berselang, Argata masih setia berada di tempat duduknya. Meski rasa lapar dan haus menyiksa, Argata tetap menunggu Hasuna bangun. "Nghh.." cewek itu melenguh karena suara adzan yang menggema seisi kampus. Hasuna mulai mengerjapkan mata dan mengangkat punggungnya supaya tegap. "Gimana tidurnya? Kayaknya tas kamu nggak banyak bukunya deh. Nggak enak buat bantalan," komentar Argata. Dilihatnya Argata masih berada dj tempat semula. Cewek itu mengambil botol di sisi tas kemudian meneguknya cepat. "Argata kamu masih disini dari tadi?" tanya Hasuna. "Iyah," jawab Argata. "Kamu nggak keluar kemana-mana dari tadi? Ke kantin atau kemana?" "Nggak, aku nunggu kamu bangun dulu kan tadi disuruh sama kamu." Hasuna tersenyum tipis dengan muka bantalnya. "Makasih ya Ga, ke musholla yuk habis itu cari makan. Aku laper banget ini." "Siap tuan putri, sekarang udah enak nggak ngantuk lagi?" Argata mempersilahkan Hasuna berjalan terlebih dahulu. "Iyah, udah kok. Eh, tadi ada yang negur nggak?" "Nggak, aman kok. Santai aja." Mereka berjalan keluar perpustakaan dan menuju musholla untuk sembahyang bersama orang-orang. Sepuluh menit berselang, keduanya jajan bersama di warung ayam geprek yang letaknya tidak jauh dari kampus. "Pak ayam dua ya!" Hasuna memesan pada si bapak yang berjualan. Tak lama menunggu, dua porsi dihadirkan di meja mereka. Hasuna seperti orang yang tidak makan dua hari. Kecepatannya melebihi Argata yang seorang lelaki. Cewek itu mengunyah dengan gesit seperti seorang kuli. *** "Hasuna, kamu ngapain sih nggak jawab pesan-pesan aku?" Pulang kampus, mobil Fadly sudah terparkir di depan gerbang.Pak dosen baru saja mengakhiri kelas. Para mahasiswa berbondong mengemasi alat tulis dan keluar. Hasuna berjalan dengan mulut menguap. Sejak tadi pagi kantuknya tak kunjung sirna. "Hei, awas nabrak tiang," celetuk seseorang yang mengagetkan Hasuna. Lekas cewek itu menengok, Argata tertawa kecil melihatnya dengan mata sipit. "Apa sih Ga? Lagi ngantuk nih aku, mau tidur tapi dimana ya?" Hasuna meregangkan pegal di sekitar lehernya. "Kamu ini, cantik-cantik ngantukan," gerutu Argata. "Kayaknya kurang tidur deh semalem. Aku kebangun pagi-pagi banget." "Tidur di perpus aja, enak sambil ngadem," saran Argata. "Bener juga tuh, yaudah deh aku mau kesana. Mau ikut?" "Boleh, sambil ngembaliin buku." Argata mengangkat gulungan buku di tangan. Mereka melangkah beriringan menuju perpustakaan yang berada di gedung samping. "Argata, aku mau merem sebentar ya. Kamu jangan kemana-mana, nanti bangunin jam 1 aku ada kelas siang ini." Hasuna menduduki bangku paling pojok dan menaruh tas di atas meja. "Okey, aku bakal jagain kamu, sambil mabar," ucap Argata seraya mendudukkan p****t di sebelah Hasuna. Cewek itu kemudian melipat kedua tangan di atas meja dan merebahkan kepalanya. Lamat-lamat kelopak matanya mengatup dan terpejam lelah. Argata memegang ponselnya dengan posisi miring. Sembari bermain game online ia menjaga Hasuna yang tertidur. Sesekali Argata melirik paras cewek itu yang manis walau sedang terlelap. Ponsel Hasuna menyala di atas meja dan menampakkan sederet pesan dari kontak bernama Fadly. Pun, cowok itu berupaya menelepon Hasuna namun Argata tidak berani mengangkatnya. 'Kenapa sih kamu susah banget diajak baikan? 'Kamu selalu aja menghindar dan keras kepala! 'Mau kamu apa Hasuna? Nggak sopan kamu begitu! 'Lama-lama kamu kebiasaan tau nggak?' Beberapa pesan muncul di layar notifikasi. Argata hanya melihatnya sejenak dan tidak bernyali untuk memegang ponsel yang bukan miliknya itu. Ada apa gerangan? Kenapa mereka masih berantem? Batin Argata bertanya-tanya. Apa karena masah mereka berboncengan waktu itu? Jadi Fadly terus mempermasalahkannya dan mengira yang tidak-tidak. Dua jam berselang, Argata masih setia berada di tempat duduknya. Meski rasa lapar dan haus menyiksa, Argata tetap menunggu Hasuna bangun. "Nghh.." cewek itu melenguh karena suara adzan yang menggema seisi kampus. Hasuna mulai mengerjapkan mata dan mengangkat punggungnya supaya tegap. "Gimana tidurnya? Kayaknya tas kamu nggak banyak bukunya deh. Nggak enak buat bantalan," komentar Argata. Dilihatnya Argata masih berada dj tempat semula. Cewek itu mengambil botol di sisi tas kemudian meneguknya cepat. "Argata kamu masih disini dari tadi?" tanya Hasuna. "Iyah," jawab Argata. "Kamu nggak keluar kemana-mana dari tadi? Ke kantin atau kemana?" "Nggak, aku nunggu kamu bangun dulu kan tadi disuruh sama kamu." Hasuna tersenyum tipis dengan muka bantalnya. "Makasih ya Ga, ke musholla yuk habis itu cari makan. Aku laper banget ini." "Siap tuan putri, sekarang udah enak nggak ngantuk lagi?" Argata mempersilahkan Hasuna berjalan terlebih dahulu. "Iyah, udah kok. Eh, tadi ada yang negur nggak?" "Nggak, aman kok. Santai aja." Mereka berjalan keluar perpustakaan dan menuju musholla untuk sembahyang bersama orang-orang. Sepuluh menit berselang, keduanya jajan bersama di warung ayam geprek yang letaknya tidak jauh dari kampus. "Pak ayam dua ya!" Hasuna memesan pada si bapak yang berjualan. Tak lama menunggu, dua porsi dihadirkan di meja mereka. Hasuna seperti orang yang tidak makan dua hari. Kecepatannya melebihi Argata yang seorang lelaki. Cewek itu mengunyah dengan gesit seperti seorang kuli. *** "Hasuna, kamu ngapain sih nggak jawab pesan-pesan aku? Nggak jawab telepon aku maksudnya apa? Kamu masih marah sama aku?" Pulang kampus, mobil Fadly sudah terparkir di depan gerbang. Cowok itu mencegat Hasuna yang berjalan seorang diri di tengah keramaian. "Aku nggak buka hape, Fadly. Kamu ngapain sih dateng-dateng udah marah-marah?" kata Hasuna. "Kamu mau pulang kan? Yuk buruan masuk." "Nggak, aku nggak mau pulang bareng kamu." Hasuna melipat tangan di d**a dan menolak keras. Kepalanya menengok ke belakang beberapa kali. Hasuna menunggu Argata yang tak kunjung menampakkan diri. Tadi Hasuna sudah berjanji untuk melihat perform Argata di kafe itu. Dan Hasuna berniat membonceng sekalian ke tempatnya. Namun Fadly menggagalkan rencananya. "Kamu mau pulang bareng siapa hah? Aku pacar kamu Hasuna," ucap Fadly memberi penekanan. "Iya kamu pacar tapi kamu nggak baik buat dijadiin calon," Hasuna berucap dengan lantang. "Maksud kamu apa? Kok kamu ngomongnya jahat banget sih?" Fadly memprotes. "Sorry ya Fadly aku nggak suka cowok yang keras. Aku nggak nyaman aja deket kamu akhir-akhir ini." Hasuna mengatakan ddngan gamblang. " Tak bisa lagi memaksakan hati. Hasuna melepaskan genggaman Fadly pelan. Bertepatan dengan itu Argata baru saja keluar mengendarai motonya. Hasuna melambaikan tangan pada cowok itu. "Argata!" teriaknya. "Aku nebeng dong?" Cowok itu berheni dan mendapati tatapan mata Fadly yang memandangnya nyalang. Argata sempat ingin menolak demi kesejahteraan hubungan mereka tetapi Hasuna sudah terbirit membonceng di jok belakang. "Ayo, buruan," desaknya. "Itu cowok kamu gimana Hasuna?" "Udah biarin aja aku males sama dia." Fadly mendekat dan menggapai tangan Hasuna. "Turun, pulang sama aku." "Nggak Fadly, aku nggak mau. Nggak usah ngurusin aku." Hasuna terus mendesak Argata supaya melajukan motornya cepat. Fadly berteriak murka melihatnya. Kedua sejoli itu melenggang pergi dengan motor matic yang membelah keramaian. Entah mengapa Hasuna mulai menemukan kenyamanan bersama Argata dari pada pacarnya sendiri, Fadly. "Argata, sorry ya. Aku nggak tahan sama cowok aku." "Harusnya nggak gini Hasuna, semua bisa diomongin baik-baik." "Tapi dia enggak, Ga. Dia cuma mikirin diri sendiri doang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN