Hasuna duduk di bangku kafe sambil menyeruput milkshake. Melihat Argata sedang manggung membawakan sebuah lagu yang menarik pengunjung datang.
Seseorang diluar etalase kaca mengamati cewek itu. Kini Hasuna sudah mulai berani menentangnya. Fadly mengepalkan tangan kesal.
Lantunan gitar Argata mengalun bersama suara ngebassnya. Cowok itu sesekali menengok ke arah Hasuna. Terbesit perasaan tidak enak karena ulahnya tadi yang blak-blakan membonceng Argata di depan Fadly.
Argata takut cewek itu disakiti lagi oleh pacarnya itu. Mengingat sikapnya yang overprotektif dan posesif. Pun, tak sengaja manik Argata menemukan bayangan cowok itu dibalik kaca. Argata hanya bisa berharap semoga Fadly tidak merusuh lagi di tempat itu.
Denting di atas pintu masuk menghadirkan seseorang. Mencuri perhatian Argata, seorang perempuan dengan sweater cokelat berjalan dengan flatshoesnya menuju sebuah bangku yang cukup dekat dengan panggung musik.
Cewek itu melepas kacamata dan terduduk. Seorang pelayan datang menawarkan buku menu padanya. Setelah memesan, perempuan itu kembali fokus menatap ke arah Argata.
Jreng~
Usai di penghujung musiknya, Argata mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penghuni kafe. Cowok itu beranjak turun dan seseorang menahan tangannya.
"Argata.." sapa lembut cewek itu, yang belum lama tadi datang.
Setengah tergugup sejak tadi karena diperhatikannya, Argata hanya tersenyum masam saat disuruh untuk menemani cewek itu.
"Duduk dulu, Ga, sini."
"Iyah," Argata menarik kursi dan mendaratkan p****t.
Sementara di penjuru lain Hasuna terbengong. Argata sedang bersama siapa disana? Mengapa cewek itu terlihat tepesona dengan Argata? Apakah mereka sudah mengenal sebelumnya?
"Kamu darimana Nad? Kenapa bisa disini?"
"Aku dari rumah, mau ketemu temen disini. Tapi orangnya belum dateng," kata Nadia.
"Ohh."
"Kamu nyanyinya bagus tadi." Nadia memujinya, Argata terlihat biasa saja dengan senyum tipisnya.
"Kamu nggak sama suami kamu?"
"Nggak, aku sendiri aja. Suami aku belum pulang kerja. Oh iya, aku juga mau bilang terimakasih sama kamu karena waktu itu kamu udah ajak adik aku jajan sama beli obat."
"Iyah, santai aja," kata Argata.
"Sebagai ucapan terima kasih aku mau traktir kamu mau nggak?"
"Nggak usah repot-repot, Nad. Lagian aku udah kenyang kok, kamu juga mau ketemu temen kan," tolak Argata.
"Kenapa sih kok kamu kayak ngehindar gitu, aku cuma mau bales budi aja soalnya aku nggak enak sama kamu."
Argata menaikkan alis. "Nggak enak kenapa?"
"Ya, karena adek aku udah minta jajan sama kamu waktu itu. Kan nggak seharusnya kamu jajanin sampek sebegitunya, sampek beli mainan juga."
"Aku udah bilang kan? Nggak papa selagi ada duit mah."
"Kenapa sih Ga ayolah," Nadia tampak memohon-mohon. Sembari menyentuh kedua tangan Argata di atas meja.
Sejak tadi Hasuna mengamatinya. Bergegas Argata menuju bangku cewek itu pojok ruangan. Tentu saja Argata tidak tega membiarkannya sendiri apalagi untuk bertemu seorang mantan yang sudah menyakitinya luar dalam.
Argata tidak ingin perasaan yang sudah dilupakannya itu kambuh lagi. Beberapa hari ini kehadiran Hasuna menjadi pengalihan baginya. Pun, Hasuna sudah berjasa bagi Argata.
Hasuna yang mencarikan pekerjaan itu untuknya. Rela bertengkar dengan pacarnya untuk menemani Argata di kafe itu. Namun sekarang Argata tidak lagi melihat cowok itu berada di luar.
"Tadi itu siapa Argata?" tanya Hasuna.
"Cewek itu?" Argata tersenyum perih. "Mantan."
"Mantan kamu yang katanya ninggalin kamu nikah?" Hasuna melongo.
"Iyah."
"Dia mau ngapain tadi? Kok tau kamu disini?"
"Mau ketemu temen, ya kebetulan aja mungkin."
Hasuna manggut-manggut mengertinya. Melirik cewek itu yang juga melihat ke arah mereka berdua. Nadia nampak tak suka Argata menjauhinya ternyata demi cewek lain.
"Kamu baikan lagi ya sama dia?"
"Nggak, lagian aku lansung kesini juga kan? Tadi mau traktir aku katanya, tapi aku nggak mau."
"Traktiran dalam rangka apa?" tanya Hasuna.
"Waktu itu aku ketemu adeknya, dan aku ajak dia jalan-jalan. Ya, mantan aku jadi nggak enak gitu mau bales budi. Tapi aku nggak mau lagi deket dia."
"Kenapa? Takut jatuh cinta lagi?" Hasuna terkekeh.
"Hmm, yakali ah. Nggak kayak gitu orangnya aku. Sesekali udah enggak ya selamanya nggak."
"Wesseh, aku juga gitu. Anti balikan pokoknya."
"Ah, masa?" Argata tersenyum kecil. "Berarti kalau pacaran sama kamu jangan sampek putus ya?"
"Tergantung lah, kalau cowoknya nggak nyaman lagi ya buat apa dipertahankan?"
Argata menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. "Iya juga, tapi kamu nggak berniat putusin cowok kamu kan?"
"Nggak tau, dia ngeselin orangnya." Hasuna mengidikkan bahu acuh tak acuh.
"Oh iya, dari tadi aku lihat cowok kamu ngikutin kesini deh. Takutnya nanti malah jadi kayak kemarin. Aku nggak bisa liat cewek dikasarin kayak begitu seriusan."
"Maka dari itu Ga, aku risih aja sama dia karena sikapnya itu."
"Tapi Hasuna, kalau bisa diperbaiki lagi hubungan kamu. Aku nggak mau kalau sampai cowok itu mikir aku udah ngerusak hubungan kamu sama dia."
Hasuna menggelengkan kepalanya. "Nggak tau aku, liat nanti aja. Baru pacaran aja udah begitu, gimana nanti kalau nikah? Aku nggak bisa bayangin hari-hari aku penuh sama emosi dia."
"Ya nggak akan ada emosi lah, kalau nggak ada masalah. Ngomong aja dulu baik-baik jangan kabur-kaburan kayak tadi. Aku sebagai cowok juga ngerti perasaan dia gimana."
Hasuna tersenyum simpul. "Iyah, sorry ya Ga. Aku udah ngerepotin kamu."
"Nggak kok Hasuna. Aku cuma ngarahin aja biar nggak terjadi pertengkaran yang lebih besar lagi. Cowok itu cinta banget sama kamu makanya dia cemburu."
"Tapi dia kasar banget Ga, kamu lihat kan waktu itu?" Hasuna nampak berat hati sebenarnya. Argata menyuruhnya berbaikan kembali dengan Fadly.
"Itu hanya emosi sesaat, Hasuna. Jangan terus kamu pikir nanti dia begitu seterusnya. Sikap orang juga bisa berubah kok."
"Iya sih, kamu bijak banget Ga. Oh iya, tadi keren nyanyinya."
"Ah, nggak lah, biasanya juga begitu."
Sekitar pukul 7 malam, Argata mengantar Hasuna sampai depan rumahnya. Cewek itu langsung masuk rumah usai mengucapkan salam padanya.
Tak lama Argata melakukan kembali motornya dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Argata melihat dari kaca spion mobil itu membuntutinya sejak dari lampu merah.
"Siapa sih resek banget!"
Tak ingin berurusan dengan orang tak dikenal itu. Argata bergegas menggeber motornya dan melenggang pergi dengan kecepatan penuh.
Argata berbelok melewati gang kecil sehingga mobil itu tak dapat mengikutinya lagi. Seseorang di dalam memukul stir dengan kesal.
"Awas aja ya, lo nggak akan lepas dari gua."
Fadly sudah menandai cowok itu yang mengganggu hubungannya dengan Hasuna. Dia harus disingkirkan. Batin Fadly.