Bab 16

1041 Kata
Hasuna sedang rebahan sambil mengerjakan sesuatu di laptop. Bukannya fokus, Hasuna malah teringat Argata. Tepatnya, seorang perempuan yang bertemu di kafe itu. Seorang mantan. Hasuna melihat tatapan cewek itu yang tidak bersahabat saat memandanginya bersama Argata. Apa jangan-jangan dia tidak suka dengan kedekatan mereka? Sudah membuat sakit hati Argata, masih juga cewek itu berani menampakkan diri di hadapannya. Hasuna menggeleng pelan. Kembali melanjutkan kegiatannya namun ketukan pintu menginterupsi. "Hasuna kamu sudah tidur?" suara sang ibu memanggulnya. "Belum, bu, masuk aja.." interuksi Hasuna. Tak lama kemudian ibu Hasuna membuka pintu dan berjalan masuk. Raut wajahnya masih tidak seperti biasanya. Nampak ada beban yang dipendam wanita paruh baya itu. "Ada apa ibu?" tanya Hasuna. "Kamu sedang apa Nak?" "Aku lagi ngerjain tugas Bu." "Ibu mau bicara sama kamu, tapi kamu jangan marah ya." Hasuna mengangguk samar. Ibunya memegang pundak Hasuna dan mengelusnya pelan. "Kamu kenapa sekarang makin jauhin Nak Fadly? Bahkan terang-terangan kamu deket sama cowok lain." Ah, sudah kuduga. Batin Hasuna. Pasti Fadly menceritakan kejadian di kampus tadi siang. "Aku bukannya jauhin Fadly bu, cowok yang sama aku itu cuma temen di kampus. Nggak lebih dari itu. Ya, aku kesel aja sama Fadly yang sukanya maksa-maksa. Yaudah deh, aku mending pergi sama temen aku itu." "Yakin hanya temen?" sang ibu meragukannya. "Iya ibu temen, emang kenapa?" "Tadi Nak Fadly cerita sama ibu, dan dia kecewa banget sama kamu. Tolong Hasuna jangan seperti ini, ibu kasian sama Nak Fadly. Keluarga dia sudah baik sama keluarga kita, ibu malu kalau kamu begini." Hasuna menunduk seraya memeluk lutut. "Iya bu. Nanti aku ngomong sama Fadly ya." "Iya ibu tau Nak Fadly mungkin agak kasar dan emosian belakangan ini. Dia itu cemburu banget kamu deket sama temen kamu itu," jelas Ibu Hasuna. "Dia itu cowok baik-baik bu, aku suka deket dia karena dia nggak seperti Fadly. Dia ramah, menghibur, nggak emosian, apalagi ibunya juga baik banget sama aku. Pokoknya kalau ibu ketemu sama dia, pasti ibu juga suka." Tak lama kemudian Hasuna terdiam, seperti ada yang kelupaan. Hasuna menjentikkan jarinya cepat. "Oiya, dia itu anaknya tante Sania ibu. Aku baru ngeh, ya ampun. Iyah, temen aku itu anaknya tante Sania yang sering ibu pesen katering." Wanita itu terperangah dan mengangguk-angguk. "Oalahh, anaknya ibu Sania? Kenapa kamu nggak bilang sih? Udah pasti lah kalau anaknya Ibu Sania ibu kenal. Nak Argata kan?" "Loh, ibu tau namanya juga?" "Iyah, ibu pernah kenalan waktu dulu mesen kue kesana. Anaknya ganteng kan?" Hasuna tertawa geli. "Kenapa ibu jadi antusias banget?" "Ya, nggak gimana-gimana ibu tau aja sedikit kalau anaknya ibu Sania itu. Emang anaknya ramah dan sopan santun banget. Beda jauh lah sama pacar kamu sekarang." Tiba-tiba saja jadi labil. Sepanjang malam dua wanita itu bercerita dan bertukar pikiran layaknya sahabat. Hasuna tak henti tertawa karena ibunya yang semula membanggakan Fadly jadi berpihak kepada Argata. Keesokan paginya. Hasuna berdiri di pinggir jalan untuk menunggu bus lewat. Jalanan nampak ramai lalu lintas. Baru sepuluh menit Hasuna berdiri di trotoar, sebuah mobil melipir di dekatnya pelan-pelan. Mobil hitam yang tidak asing di pandangan matanya. Seseorang di dalam menurunkan kaca dan menyuruh Hasuna masuk. "Kamu kan mau berangkat kerja? Sana." Hasuna malah mengusir cowok itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Fadly. "Ayo naik, aku mau ngomong sama kamu. Jangan marah-marah terus." Tak ingin lebih lama lagi menunggu bus, Hasuna bergegas membuka pintu mobil dan duduk di dalam. Tak lupa memakai sabuk pengaman. Fadly lekas melajukan mobilnya membelah jalanan. "Kamu kenapa sih marah terus sama aku? Udah dong jangan begini, aku kangen sama kamu tau nggak?" kata Fadly. "Iyah, maafin aku juga kemarin ya.." kata Hasuna. "Kamu jangan kesel terus sama aku, aku sadar sekarang kok. Aku nggak bakal kayak gitu lagi sama kamu. Maaf ya." "Iya udah lupakan aja." "Kamu kok masih jutek sih sama aku?" Hasuna berusaha tersenyum walau dipaksakan. Fadly menengok padanya dan menggenggam tangan Hasuna sembari menyetir. "Aku sayang sama kamu Hasuna, jangan kayak gini lagi ya. Aku nggak bakal menghalangi kamu deket sama cowok manapun selagi itu kamu hanya berteman." "Oh ya? Masa?" Hasuna mencium ada yang tidak biasa dari seorang Fadly yang cemburuan. Mendadak dia jadi sabar dan berbicara seperti itu seolah-olah dia mulai mengerti Hasuna. "Iyah, Hasuna. Yang penting kamu bisa jaga hati aku, aku nggak akan bersikap kasar lagi sama kamu." "Yaudah deh kalau kamu udah sadar sekarang." "Kamu beneran udah nggak marah lagi sama aku?" Fadly tersenyum senang dan Hasuna mengangguk pelan. Walau sisi hatinya masih waspada dengan perubahan sikap Fadly menjadi lebih lembut padanya. Tiba di kampus, Hasuna kemudian turun dari pintu dan pamit masuk. Namun sebelum itu Argata baru saja datang dan melipir di kejauhan. Argata melihat Fadly menahan Hasuna dan menggenggam tangan cewek itu. Fadly mengeluarkan sebuah coklat dari saku jaketnya. "Biar kamu mood lagi," kata Fadly. "Jangan marah-marah lagi ya, Cantik." "Iya, Fadly makasih ya. Kamu hati-hati." Hasuna menerima cokelat itu dan membiarkan Fadly memasuki mobilnya lalu tancap gas. Setelah Fadly pergi, Argata lekas menghampiri cewek itu dengan motor maticnya. "Hei, Hasuna. Naik yuk sampai parkiran." Hasuna berhenti dan menengok. Melihat Argata menawarkan jok belakang padanya. Jaraknya dari gerbang ke parkiran lumayan jauh sehingga Argata tidak tega melewatinya begitu saja. Sehingga Argata mengajaknya aja bersama. "Okey, makasih ya Ga." Hasuna terduduk di jok belakang kemudian Argata melajukan motornya ke parkiran. Kebetulan saja ada beberapa teman yang sedang nongkrong. Mereka serentak langsung menyoraki Argata yang datang membonceng cewek. "Cieee, ihirrr.." "Apaan sih kalian, biasa aja kalik," seru Argata. "Udah Ga nggak usah dipikirin, aku ke kelas duluan ya." "Eh, Hasuna tunggu.." Sorakan semakin kencang saat Argata tergesa memarkir motornya dan mengejar Hasuna ke kelas. Argata hanya mengacungkan kepalan tangannya kesal pada mereka. "Kamu kayaknya lagi seneng yah tadi?" tanya Argata pada Hasuna sambil melirik sebatang coklat di tangan cewek itu. "Ah, nggak biasa aja," kata cewek itu. "Kamu udah baikan sama cowok kamu?" "Iyah, mau nggak mau ya baikan." Argata mengernyitkan dahinya heran. "Kok kayak terpaksa gitu sih kamu?" "Nggak juga, kan apapun masalahnya harus dijalani. Aku cuma ngikutin alur aja kok," kata Hasuna. "Oh iya, Ga, soal mantan kamu kemarin gimana? Dia ada kepo gitu nggak kemarin liat aku sama kamu? Soalnya aku liat dia kayak nggak suka gitu." "Ah, nggak, biasa aja, aku juga nggak peduli lagi kok. Ngapain juga liat masa lalu kan? Dia udah sama orang lain juga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN