Bab 17

1009 Kata
Tiba waktunya jam istirahat, Hasuna sedang duduk di satu bangku di kafetaria sambil menghabiskan makanannya. Argata berjalan dari arah pintu masuk dengan kawan-kawan namun tidak mendapat bangku. "Hei!" Hasuna melambai disana. Isyaratnya menunjuk kursi di hadapannya yang masih kosong. Tak lama kemudian Argata berjalan ke arahnya diikuti teman-temannya. "Boleh aku duduk sini?" tanya Argata. "Boleh dong duduk aja," Hasuna tersenyum pada teman-teman Argata juga. Beberapa dari mereka terbatuk dan salting seperti disengaja. Hasuna hanya tertawa kecil. "Kenapa sih kalian? Nggak pernah duduk bareng cewek cantik apa?" sindir Argata. "Ya, nggak gitu juga dong, Ga..." "Kalian ada apa sih sebenernya? Pacaran ya?" "Nggak, cuma temenan aja. Yakan Hasuna?" Cewek itu mengangguk. "Iyah, kalian udah pesen makan belum?" "Belum, biar aku kesana dulu. Kalian mau makan apa?" tanya Argata pada teman-teman. "Samain aja lah bro.." Argata berlalu pergi dan menuju ke pantry. Sementara Hasuna ditemani tiga cowok itu yang mesam-mesem canggung. "Hasuna kok mau sih deket sama Argata? Awas loh dia baru aja patah hati dari mantannya," si Rendi mengompori. "Loh emang kenapa?" tanya Hasuna. "Yaaa kali-kali aja cuma dijadiin pelampiasan." Hasuna tertawa mendengar alasannya. Seketika jitakan mendarat di kepala Rendi. Okvan dan Leo menyemburnya dengan sengak. "Temen sendiri digibahin, maksud lo apa?" "Ya nggak gitu juga maksud gue Bro, was-was aja." "Nggak papa, jangan berantem. Lagian aku udah ada pacar kok." "Loh?" para cowok itu ternganga. "Hasuna udah ada pacar kenapa malah deket sama Argata?" tanya Okvan. "Temenan kan bebas ya sama siapa aja?" kata Hasuna. "Iya juga sih, kenapa lo jadi ngelarang dia emang lo maknya dia?" seru Leo menoyor kepala Okvan. "Tapi aku nggak suka sama pacar aku." Kedua kalinya para lelaki itu terperangah. "Gimana ceritanya punya pacar tapi nggak suka sama pacarnya?" Belum sempat Hasuna menjawab, Argata sudah kembali membawa sebotol minuman teh. Argata nampak heran melihat teman-temannya begitu kompak dengan wajah penasaran mereka pada Hasuna. "Ada apa ini?" tanya Argata. "Kok kayak mau makan Hasuna gitu liatnya?" "Nggak bro, tadi Hasuna bilang dia punya pacar tapi nggak suka sama pacarnya lah kan gue penasaran kok bisa begitu?" kata Okvan. "Iyah, bro, aneh aja rasanya." Argata melirik Hasuna. "Kamu kenapa cerita sama mereka? Awas nanti jadi bahan gibah lho." Hasuna terkikik seraya menelan makanan di mulutnya. "Nggak papa kok, Ga, cuma ngobrol-ngobrol doang. Lagian aku biasa aja nggak gimana-gimana. Orang mereka tadi aja gibahin kamu kok." "Ohya? Bilang apa mereka?" Ketiga cowok itu meringis tanpa dosa. "Nggak kok bro, becanda doang kita." "Awas ya lo pada jelekkin gua depan Hasuna." Cewek itu menepuk-nepuk pundak Argata seraya tersenyum geli. "Nggak kok santai." "Beneran kamu Hasuna? Mereka nggak bilang yang nggak-nggak tentang aku?" "Nggak kok Ga, kenapa jadi takut gitu kamu?" Serentak mereka tertawa. Argata mendadak salah tingkah menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Selesai menghabiskan jam istirahat, Hasuna pergi ke perpustakaan dan berjalan-jalan di lorong rak yang tinggi. Hasuna membaca buku sekilas dan mengembalikan di tempat semula. Usai menemukan buku yang dicarinya, Hasuna membawa duduk di bangku yang tersedia. Cewek itu membaca dengan khidmat isi buku tersebut. Argata menyaksikan dari luar jendela sebelum akhirnya datang menghampiri. "Hai, rajin banget." Argata melepas tasnya di meja. Hasuna menengadah dan tersenyum tipis. "Oh, hai, Ga. Kamu dari mana?" "Habis dari musholla. Kamu nggak solat ya?" "Hm, iyah lagi dateng bulan, hehe.." "Oh, gitu, yaudah lanjut aja baca bukunya aku cuma mau ngadem kok disini." "Kamu ada kelas nanti siang?" tanya Hasuna. "Iyah, nanti jam 1 kok." Hasuna mengangguk-angguk. Melihat awan diluar perlahan meredup dan mendung. Argata merebahkan kepala di atas meja dan memejamkan matanya. Hasuna menatap wajah cowok itu nampak damai dengan rambut yang sedikit basah. Argata tidak tertidur, ia merasakan pergerakan jemari yang mengentuh di pelipisnya. Hasuna seakan terlarut dalam lamunannya. Wajah tampan itu nampak polos saat terdiam seperti itu. Argata perlahan membuka mata dan Hasuna terkejut menarik kembali tangannya dengan canggung. Argata menegakkan duduknya. "Maaf, Ga, aku nggak maksud ganggu tidur kamu." "Aku nggak tidur cuma agak pusing aja tadi makanya aku merem." "Oh, kirain aku kamu tadi.." Hasuna menggigit bibir mendadak kehabisan kata-kata. Buku di depan meja tiba-tiba berdiri menutup wajahnya yang tersipu. "Kenapa kamu Hasuna? Kok jadi nggak fokus? Buku kamu kebalik." "Hah?" Hasuna menurunkan bukunya dan terbengong. Sampul bukunya menghadap ke bawah menambah rasa malunya. "Oh, iyaa, aku lupa.." "Kamu cuci muka dulu sana kalau ngantuk," Argata terkekeh. "Aku nggak ngantuk kok. Hm, kamu kali yang ngantuk." "Kalau aku ngantuk udah tidur dari tadi, lagi pula aku nggak biasa tidur siang." "Kenapa emang?" "Jarang aja." Argata mengidikkan bahu. "Oh iya, Ga nanti kamu ke kafe nggak?" "Nggak, aku ambil libur dulu, soalnya habis kuliah aku disuruh ibu nganter pesenan." Argata menyilangkan tangan di d**a. "Hm, kamu berbakti banget yah sama ibu kamu?" Hasuna merasa tersanjung dengan cowok itu. "Yah, udah sewajarnya kan." Ponsel Hasuna bergetar tanda panggilan masuk. Nama Fadly terpampang disana. Setengah malas-malasan Hasuna meminta izin pada Argata untuk mengangkat telepon itu di sampingnya. "Angkat aja nggak papa kok," kata cowok itu. "Hallo, Dil, ada apa?" ucap Hasuna sambil mendekatkan ponsel di telinga. "Sayang, nanti habis kuliah ada acara nggak?" tanya Fadly. "Hm, nggak ada emang kenapa?" "Kamu ikut aku ke rumah ya? Soalnya mama aku mau ketemu sama kamu." Hasuna memainkan jemari seraya berdehem. "Okey, nanti aku ikut kamu yah? Palingan sekitar jam tiga aku selesai kuliah." "Baiklah, nanti aku jemput kamu yah?" "Iyah." "Okey, sampai nanti." Fadly mengirim ciuman dari jarak jauh namun Hasuna tidak membalasanya. "Yaudah, aku lanjut kerja dulu. Kamu semangat yah Sayang kuliahnya." "Kamu juga semangat kerjanya, bye." Hasuna menutup telepon dengan wajah datar. Argata menahan senyum melihat wajah kecut cewek itu. "Kenapa? Kok sepet gitu mukanya?" "Nanti mau diajak ke rumahnya cowok aku, mau ketemu sama mamahnya." "Oh, mau dikenalin yah?" "Nggak, udah kenal lama kok." Argata memajukan bibirnya mengiyakan. Hasuna nampak tidak selera entah mengapa. Rasanya masih ilfeel dengan sikap Fadly yang mudah marah. "Udah, jalani aja. Bersyukur loh kamu harusnya punya pacar udah mapan. Udah bisa cari duit sendiri. Minta apa aja pasti dikasih kan?" "Iyah.. ya aku sedang berusaha nerima dia kok." Argata mengusap-usap bahu mungil itu. Argata paham ada sisi hati Hasuna yang masih ragu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN