Tiba di perpus, Argata membantu Hasuna mengembalikan buku-buku itu sesuai raknya.
Cewek itu masih saja murung wajahnya. Mengingat kemarahan Fadly kemarin, takut jika nanti-nanti Fadly akan membatasi pertemanannya.
"Jangan terlalu dipikirin, jalani aja," komentar Argata.
"Jalani apa? Aku nggak suka sifatnya."
"Cuma salah satunya, pasti ada sifat-sifat lain yang positif."
Hasuna mengidikkkan bahu. "Nggak tau, aku jadi ilfeel aja sejak kejadian kemarin."
"Ya, aku paham. Cewek mana sih, yang nyaman deket cowok arogan gitu."
"Sebenernya, cowok itu pilihan ayah aku, bukan aku."
"Maksudnya?"
Hasuna bergeming di dekat jendela. "Dia itu, anak sahabat ayah aku, yang udah bantu banyak di keluarga aku. Dari dulu, aku belum mau pacaran, belum kepingin berkomitmen. Tapi, cowok itu terus aja ngejar aku."
"Ouh, ya, nggak papa. Kan udah keliatan bibit bebet bobotnya."
"Aku ngomong sama ibu, aku nggak suka dideketin sama cowok itu. Tapi, ibu bilang, jangan. Nggak enak sama keluarganya."
"Jadi kamu terpaksa, pacaran sama dia?"
"Hm, mungkin seperti itu, tapi aku mencoba asyikin aja. Aku coba jalanin dulu sama dia. Semakin aku kenal, semakin aku nggak suka sama sifatnya."
"Sifat apalagi?"
"Selain cemburuan, temperamen, dia juga nggak ramah lingkungan. Itu yang paling nggak aku suka."
"Nggak ramah lingkungan?" Argata terkekeh. "..dalam artian apa nih?"
"Apa-apa harus mahal, boros untuk perfeksionis."
"Dia kan udah kerja, yaa, boros pake duit sendiri bebas aja kan?"
Hasuna menggeleng. "Nggak tipe aku banget."
"Terus tipe kamu yang kayak gimana?" tanya Argata.
"Yang sederhana, yang nggak gampang marah-marah, yang menghargai perempuan, yang menghormati orangtua, yang punya sopan santun, kalau disingkat jadi apa ya?"
"Paket komplit?"
"Ihh, cowok kayak begitu maksudnya tipe apa?"
"Cowok alim?"
"Iyaa, tapi nggak terlalu alim banget juga sih."
Argata tertawa. "Ya, itu alim namanya, yang lempeng-lempeng aja."
"Pokoknya begitulah."
"Iya, iya, aku ngerti kok. Soalnya aku ngerasa banget, by the way."
"Ngerasa apa?"
"Ngerasa yang disebutin sama kamu semuanya aku punya."
Hasuna menaikkan alis, senyumnya mengembang meremehkan. "Pede banget kamu."
"Bukannya pede, kamu yang bilangnya ngepas aja."
Sejurus kemudian, Hasuna berlalu begitu saja. Argata membaca wajah itu sempat tersipu.
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor. Keramaian di sekitar seakan sunyi di benak Hasuna.
"Oh, ya, nanti malem aku mau kopdar sama anak mapala. Kamu ikut nggak?"
"Hah? Aku kan bukan anak mapala, kok diajak?"
"Ya, nggak papa, aku juga bukan anak mapala. Tadi diajak sama pak ketua."
"Emang boleh aku ikut?"
"Boleh, kan aku yang ngajak."
Ting!
Ponsel Hasuna menggetar, notifikasi muncur di layar.
Fadly: nanti sore aku ke rumah
Mendadak saja mendung menyelimuti wajah Hasuna saat melihat pesan itu. Argata menyadarinya.
"Kalau nggak bisa nggak papa," kata Argata.
"Aku sebenernya mau, tapi cowok aku mau ngapel."
"Yaudah, jangan. Nanti dia ngamuk-ngamuk lagi. Maaf ya, lupain aja lah."
"Kok minta maaf?"
"Ya, nggak semestinya aku ngajak-ngajak kamu."
"Ehh, nggak papa, loh. Kenapa sungkan banget sih?"
"Bukan apa-apa, aku udah ganggu acara kamu."
"Males aku ketemu Fadly, tuh."
"Jangan males, disyukuri aja punya pacar. Ya nggak papa prosesif. Dari pada aku, ditinggal nikah."
"Hmm.. Iya juga sih, nggak bisa ngebayangin aku jadj kamu. Mungkin udah stres."
"Jangan dibayangin, cukup dijalani."
***
Sore ini, Hasuna duduk termenung di bangku meja belajar. Fadly memintanya untuk tidak pergi kemana-mana karena sebentar lagi ia datang.
Tentu saja, mood Hasuna masih belum membaik usai kejadian kemarin. Melihat wajah cowok itu begitu tidak selera.
"Sayang, itu cowok kamu dateng. Temui sana."
Seruan di pintu menginterupsi lamunan Hasuna. Ibu datang menyuruhnya keluar.
Mau tak mau, Hasuna segera angkat p****t. Wajahnya masih cemberut ketika menghampiri Fadly di ruang tamu.
"Sore, Sayang.."
"Iya."
"Lagi apa kamu?"
"Nggak ngapa-ngapain."
"Udah makan belum?"
"Udah."
"Aku bawain kamu martabak."
"Iyah."
Fadly bergerak lebih dekat dengan ceweknya itu. Hendak mengusap kepalanya, namun ditepisnya cepat.
"Jangan sentuh aku."
"Kenapa sih kok jutekin aku?"
"Minggir sana."
"Ngomong dulu kamu kenapa? Aku dateng kesini baik-baik tapi muka kamu nggak seneng banget ada aku."
"Ngantuk dikit."
"Oh, gitu? Mau tidur? Sana tidur."
Hasuna terdiam tak menjawab.
"Masih marah sama aku gara-gara kemarin? Aku kan udah minta maaf. Sama ibu juga. Kenapa kamu malah kayak gini? Kamu yang selingkuh, kamu yang marah."
"Selingkuh apa? Dibahas lagi?" Hasuna mulai terpancing.
"Kamu yang mulai duluan. Kalo udah clear masalahnya, yaudah gitu lho. Ngapain pake jutek-jutek segala? Biar apa? Apa aku harus mohon-mohon bertekuk lutut di kaki kamu biar dimaafin gitu?"
Fadly menatap tajam, seakan bola matanya ingin menggelinding keluar.
"Kamu ngomong apa sih?"
"Jujur aja, kamu nggak mau ketemu aku kan?"
"Ngga kok."
"Kenapa? Kamu ilfeel sama aku?"
"Biasa aja."
"Halah, banyak drama. Gara-gara b******n itu kamu jadi begini."
"Fadly! Jaga omongan kamu!" Hasuna naik pitam.
"Apa? Nggak suka?"
"Dia cuma temen aku, kenapa diungkit-ungkit lagi?"
"Temen apa? Kamu naksir kan sama dia?"
"Capek aku ngomong sama kamu tau nggak."
Tak ingin berdebat, Hasuna beranjak dari sofa dan kembali mssuk kamar. Fadlu mengejar dan berniat menahannya. Hasuna sudah mengunci pintu terlebih dahulu.
"Hasuna, buka! Resek banget kamu ya, aku udah rapih-rapih kesini tapi kamu nggak mood gini! Mau kamu apa hah?"
"Mending kamu pergi aja! Aku mau tidur!" balas Hasuna.
"Ohh, gitu ya? Berani cuekin aku kamu?!"
Pintu itu digedor-gedor dengan kencang. Mendengar keributan yang terjadi, bunda Hasuna yang sedang memasak di dapur tergopoh-gopoh menghampiri.
"Ada apa ini, Nak Fadly?"
"Ibu bisa ajarin Hasuna sopan santun nggak sih? Seenaknya dia kayak gini sama aku?"
Ibu Hasuna menggeleng, kemudian mengetuk pintu kamar Hasuna berulang kali.
"Hasuna, keluar nak. Tolong jangan begini. Semua bisa diselesaikan baik-baik, dengan kepala dingin!"
"Aku nggak mau ketemu Fadly dulu buuu! Aku mau sendiri dulu!" kata Hasuna dari dalam.
"Kamu keluar atau aku dobrak pintu ini?" ancam Fadly tak main-main.
"Dobrak aja kalau bisa!" ucap Hasuna.
"Kamu nantang aku hah?!"
Benar-benar tidak habis pikir, Fadly begitu ngotot dan tak mau kalah. Hasuna kebingungan harus berbuat apa. Ia membuka jendela lebar-lebar dan memanjat meja untuk membantunya turun keluar.
Sebelum Fadly berhasil mendobra pintu itu. Hasuna sudah terbirit berlari di halaman samping kemudian menaiki sepeda yang berada di depan garasi.
Hasuna menggowes sepeda itu cepat-cepat. Ia sudah tidak perduli lagi dengan hubungan dengan Fadly. Cowok itu tidak membuatnya nyaman, dan Hasuna tidak bisa berpura-pura untuk itu.