Fadly menghentikan mobilnya di depan rumah. Hasuna menggenggam sabuk pengaman dengan lamunan di kepalanya. Sesaat Fadly menatap cewek itu hanya terdiam seribu bahasa.
Hasuna mencoba meraba-raba perasaan yang tersisa di hatinya untuk Fadly. Alih-alih menemukannya justru Hasuna malah teringat Argata.
Otak kanan dan kiri cewek itu seakan membandingkan sosok Fadly dan Argata yang berbeda jauh. Fadly yang lebih dewasa dan mapan bisa memberikan semua apa yang dimaunya tetapi Hasuna tidak menyukai sifatnya yang emosian dan memaksa.
Sementara itu tentang Argata, cowok itu mungkin seusia Hasuna dan belum bekerja. Argata pun hidupnya hanya pas-pasan dengan latar belakang keluarga sederhana. Tetapi sisi batin Hasuna merasa nyaman dan asyik ketika berada di dekat cowok itu.
Walau hanya mengendarai motor matic, Hasuna masih teringat betapa serunya bercanda sambil diterpa angin. Dari pada naik mobil dengan Fadly dengan benteng kerasnya ego yang membatasi keduanya.
"Sayang kamu nggak mau turun?" tanya Fadly yang sudah berulang kali namun tidak didengar oleh cewek itu yang masih termenung menatap kosong halaman rumah.
"Hasuna.." tepukan mendarat di bahu cewek itu seketika saja mengejutkannya. Hasuna mengerjapkan mata dan menengok.
"Iyah, maaf.." gugupnya.
"Kita udah sampai rumah aku," kata Fadly lagi. "Ayo turun."
"Eh, iya, ayo."
"Kamu lagi mikirin apa? Dari tadi aku panggil kamu nggak nyaut," wajah Fadly berubah menggelap. "Kamu mikirin cowok lain?"
Urung membuka pintu, Hasuna menaikkan alis tidak paham. "Cowok lain siapa? Aku nggak mikirin siapa-siapa kok."
"Jujur aja deh, kamu lagi sama aku loh, bisa-bisanya kamu begini yah?"
Mulai lagi, Fadly nampak cemburu dengan wajah kesalnya. Hasuna ingin sekali memukul kepala cowok itu namun takut dosa. Jengkel di hatinya kambuh lagi setiap melihat Fadly yang kekanakan seperti itu.
"Udah lah Dil, nggak usah diperpanjang. Aku tadi kepikiran sama kuliah aku tadi. Dosen aku nggak masuk, terus tugas aku numpuk."
"Oh, ya? Beneran mikirin tugas?" Fadly nampak tak percaya.
"Iyah, udah ayok keluar."
Hasuna mendorong pintu mobil dan menjejakkan kakinya di halaman rumah. Fadly lekas turun dan merangkul cewek itu masuk.
Di rumahnya bibi sudah memasak banyak sore ini. Mama Fadly keluar dari kamar dan senyumnya mengembang mendapati putranya sudah datang bersama calonnya.
"Hai, mah.." sapa Fadly.
"Hallo, tante.." Hasuna meraih tangan wanita paruh baya itu dan menciumnya di kening.
"Hai, Hasuna.. tante kangen banget sama kamu, lama nggak main kesini."
Hasuna tersenyum sekilas. "Iyah, tante. Kuliah aku padet akhir-akhir ini soalnya mau uas."
"Ohh, begitu, yaudah yuk. Kita ke ruang makan sambil ngobrol-ngobrol."
"Kamu sama mama dulu ya, aku mau ganti baju dulu."
Fadly melepaskan Hasuna bersama mamahnya sementara Fadly beranjak ke kamar untuk mandi.
Wanita itu merangkul Hasuna menuju ruangan lain. Hasuna mengikuti saja dibawa ke tempat itu dimana sudah banyak hidangan tersaji.
"Sisi duduk Sayang," mama Fadly menarikkan kursi untuk Hasuna.
"Terimakasih ya tante," kata cewek itu.
"Iyah sama-sama," jawan beliau.
"Kok rumahnya sepi yah? Adiknya Fadly kemana?" tanya Hasuna.
Memang, Fadly mempunyai seorang adik perempuan yang juga sedang menimba ilmu di sebuah universitas yang berbeda.
"Orangnya lagi pergi sama temen-temen, mau ngeamp katanya sama temen-temen. Berangkatnya baru aja kemarin sore."
"Ohh, ada acara apa tante?" tanya Hasuna.
"Kalau nggak salah, ada ulang tahun temennya siapa gitu."
Beberapa saat menunggu Fadly selesai membersihkan diri. Cowok itu keluar kamar dengan wajah segar. Hasuna sibuk mengetukkan jemari di atas meja menahan perut yang mulai keroncongan.
Acara makan sore ini berlangsung khidmat. Hasuna berbincang hangat dengan mama Fadly. Tidak seperti sang mama yang begitu ramah dan mengerti, seakan Fadly bebeda jauh. Entah sifatnya yang emosian menurun dari siapa. Padahal papanya begitu sabar seperti sang mama.
"Makasih ya, kamu udah mau dateng ke rumah," kata Fadly ketika mengantar Hasuna sampai rumahnya.
"Iyah, sama-sama.." jawab cewek itu.
"Aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu?"
Hasuna menengok saat Fadly menggenggam tangannya. "Jangan kecewain mama aku ya, kamu liat sendiri kan mama aku berharap banget sama kamu."
Tercenung, Hasuna menunduk dan perlahan menganggukkan kepala. "Iyah, Fadly, maafin sikap aku kemarin ya."
"Aku juga minta maaf kalau aku udah ngerusak suasana hati kamu sampai ilfeel deket aku."
Hasuna tersenyum sekilas dan melepaskan tangannya. "Yaudah kalau gitu, aku masuk dulu ya."
"Iyah, tidur nyenyak ya, jangan begadang."
"Kamu hati-hati pulangnya."
Fadly melambaikan tangan dari dalam mobil. Hasuna menunggu hingga kendaraan itu menghilang dari pandangannya. Bulan yang bertahta di langit malam menerangi jiwanya yang bimbang.
Hasuna bergegas membuka pagar dan berjalan ke rumah. Jarum jam menunjuk pukul 8 malam. Hasuna langsung bersih-bersih dan merebahkan dirinya di tempat tidur.
Hening malam ini. Hasuna membuka ponselnya dan melihat postingan di media sosial hingga kantung matanya terasa berat.
'Gimana acanya tadi sore?'
Mendadak saja getaran keras membangunkan Hasuna. Cewek itu membuka mata spontan. Melihat sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Argata mengirim pesan singkat padanya.
'Lancar aja, Ga.' Hasuna mengetik cepat. 'Kamu kok belum tidur?'
'Iya, nih, abis ngopi tadi.' balas Argata.
'Pantesan. Aku baru aja mau tidur.'
'Waduh, aku udah ganggy kamu dong tadi?'
'Nggak kok, santai aja.'
'Yaudah Hasuna, kamu lanjut tidur aja. Maafin aku yah.'
Cewek itu tertawa kecil. 'Apaan sih kok minta maaf segala? Orang nggak salah apa-apa kok."
'Ya, aku nggak enak aja pasti kamu capek kan?'
'Dikit sih, bentar lagi juga tidur kalau udah ngantuk banget.'
'Good night ya.'
Hasuna melepas ponselnya dan memeluk guling. Fadly saja tidak pernah mengucapkan seperti itu padanya.
Keesokan paginya hujan deras menyambut di luar rumah. Argata baru saja selesai sarapan kemudian berjalan keluar dan melihat halaman rumahnya sudah diguyur air dari langit.
'Ga, hujan nggak disitu?' sebuah pesan masuk di ponselnya. Argata menengok nama Hasuna disana.
'Iya, nih. Hujan deres disini.' Argata membalasnya.
'Kamu lagi apa disana? Gabut nih aku.'
Sebelah alis Argata terangkat sambil menduduki kursi di teras dan mengetikkan balasan pada Hasuna. 'Pagi-pagi kok udah gabut gimana sih?'
'Iyahh, ajakin aku mabar dong.'
'Loh emang kamu suka game?'
'Aku baru aja download nih tadi, tapi nggak tau gimana cara mainnya. Ajarin aku dong. Aku minta bantuan sama cowok aku pelit banget mana ngremehin lagi.'
'Kenapa gitu?' Argata sengaja membalas singkat dan cewek itu masih saja terpancing sendiri menjawab dengan panjang lebar padanya.
'Iyah katanya percuma aku nggak bakalan bisa main nggak usah sok-sokan. Aku juga disuruh uninstall malahan. Takut ketemu cowok-cowok gamer. Padahal aku nggak ada niat cari cowok. Kan overthingking banget. Orang cuma ngobatin gabut doang ini.'
Argata tertawa begitu saja membacanya.