Desau angin berhembus sejuk di lingkungan kampus. Hasuna terduduk di bawah pohon sembari melihat lalu-lalang mahasiswa.
Hasuna melihat Argata sedang bersenda gurau bersama anak mapala. Lagi-lagi Argata menonton cewek yang sedang memanjat dinding.
Cewek tomboy itu yang dikenal memiliki prestasi. Tidak selembut penampilan Hasuna. Dia begitu asik, enerjik, dan easy going berbincang dengan para cowok.
Nampaknya dia primadona di organisasinya. Entah mengapa terbesit perasaan lain dalam batin Hasuna. Argata mengajak ngobrol cewek itu sembari tertawa bersama.
Cukup lama Argata berada di sana. Tak sengaja matanya meruncing saat menjumpai keberadaan Hasuna yang sedang terduduk sendiri. Mendadak saja cewek itu memutar badan dan berpura sibuk mengerjakan sesuatu.
"Eh, gue kesana dulu, ya." Argata pamitan dengan cewek bernama Putri tersebut.
"Jangan lupa besok, persiapan buat hiking!"
"Okey! Siap!" Argata mengacungkan jempol kemudian undur diri dari hadapan cewek itu.
Argata berjalan mengendap-endap di belakang Hasuna kemudian menepuk bahu mungil itu dengan wajah isengnya. "Dorrrr!"
Tidak terkejut sama sekali, Hasuna menghela napas jengah. "Kayak anak kecil aja sih ah."
Argata meringis garing kemudian beringsut di samping Hasuna. "Kamu lagi apa? Sendiri aja?"
"Yaa, nggak lagi apa-apa."
Hasuna kembali mengarahkan fokusnya dengan hape miring yang berada di tangan. Lambat laun Argata menahan tawanya, Hasuna masih ngotot saja ingin bermain game online tersebut dengan skill abal-abalnya yang membuat Hasuna selalu kalah diserang musuh.
"Apa sih ketawa-ketawa? Kamu sama aja kayak cowok aku, ngeremehin kemampuan orang mulu." Hasuna mengerucutkan bibir merahnya. Tak ambil pusing, kedua jempolnya masih terus bergerak-gerak di atas layar.
"Bukannya ngeremehin kemampuan, tapi kamu emang nggak jago main Cantikkk..." Argata merasa gemas ingin mencubit pipi cewek itu yang seketika berubah cemberut.
"Tuh, kan. Aku dikatain lagi nggak bisa main. Aku kan lagi berusaha tau.. pengen ngerasain aja kenapas sih cowok aku sampek rela ngeluarin duit berjuta-juta cuma buat main ginian. Buat apa sih beli berlian ya?"
"Iyah, buat ganti skin. Kalau aku sih main cuma main doang nggak sampek ngeluarin duit begitu. Yakali, mending buat jajan aku mah. Kenyang."
Hasuna mengantongi ponselnya, enggan menatap permainan itu lagi.
"Kenapa nggak dilanjutin?" tanya Argata kemudian.
"Bosen ah nggak asik," gerutu Hasuna. "Dari pada main cuma diledekin sama kamu."
"Hehhh... aku nggak ngeledek tau, habis lucu aja aku liat kegigihan kamu main itu." Argata tersenyum jenaka.
"Kegigihan apaan bilang aja aku amatiran yang sok-sokan mau jadi gamer." Hasuna berdecak malas.
Tawa renyah Argata membuat oksigen di bawah pohon itu melambai-lambai terpesona. Tak berapa lama keduanya terdiam, Argata menyilangkan kaki di atas lututnya.
"Oh iya, besok lusa Minggu aku diajak naik gunung sama anak mapala kamu mau ikut nggak?" ucap Argata seraya mengugar poni rambutnya.
"Apa? Naik gunung? Pasti cewek itu yang ngajakin kamu ya?"
Argata sedikit terbengong. "Cewek mana?"
"Cewek yang ngobrol sama kamu tadi, yang cantik dan tomboy." Hasuna memutar bola matanya malas.
"Ohh, si Putri. Iyah, dia ngajak aku. Kok kamu kayak envy gitu sih ngomongnya?" Argata menyembunyikan cengiran jailnya.
"Ah, nggak biasa aja."
Sudah dua kalinya Argata mendapati sikap aneh Hasuna karena cewek mapala itu. Argata menepis pikirannya jauh-jauh. Hasuna sudah memiliki pacar, tidak mungkin cemburu padanya.
"Emang boleh ya kalau nggak ikut mapala tapi ikut kegiatannya gitu?" tanya Hasuna membuyarkan lamunan Argara.
"Yah, boleh lah. Makanya aku ajak kamu kalau mau."
"Nggak ah, nggak enak. Takut ngerepotin. Lagian aku gampang capek orangnya. Apalagi buat manjat gunung yang tingginya ribuan kaki." Hasuna menggeleng pelan. Tak bisa membayangkan nantinya malah merepotkan Argata disana.
"Lagi pula aku juga nggak kenal sama anak-anak mapala juga. Kamu kalau mau ikut yaudah kamu aja." Hasuna menghembuskan napasnya jengah.
"Yakin nih? Padahal seru loh, eh tapi.. kamu nggak bakal dibolehin ya sama pacar kamu? Ah, maaf-maaf.." Argata menepuk jidatnya yang t***l.
Hasuna tertawa kecil. "Kenapa sih? Jangan dipukulin kepalanya."
"Aku lupa kamu udah ada cowok, aku kira masih jomblo." Argata tergelak sejenak. "Sorry ya.. Nggak seharusnya aku ngajak-ngajak kamu. Malah cari masalah aja."
"Nggak kok, Ga, santai aja. Cowok aku udah nggak ngungkit itu lagi. Udah baik sekarang, ya meskipun aku rada ilang feeling sama dia."
"Hah, kok bisa gitu?" Argata memutar duduknya menghadap cewek itu. Selalu saja adem dalam batinnya melihat balutan pashmina sederhana yang menghias indah di kepala cewek itu.
"Yah, aku nggak tau. Perasaan aku kayak menghilang aja, sejak dia marah-marah waktu itu sampai bawa-bawa ibu. Sampek nyalahin ibu yang nggak bisa mendidik aku sopan santun. Nggak tau, risih aja gitu.." Hasuna menggembungkan pipi kemudian menoleh. Maniknya bertemu dengan mata elang Argata.
"Kayak nggak seru aja rasanya aku deket sama dia," imbuh Hasuna kemudian.
"Ohh, jadi kamu maunya cowok yang seru? Emang yang kayak gitu gimana sih orangnya?" tanya Argata penasaran.
Sejenak Hasuna mengulum bibirnya dalam. "Kayak kamu."
Batin Argata menggetar. Menatap wajah bening di depan matanya seperti bidadari. Hasuna betul-betul cantik dengan kulitnya yang seputih s**u tanpa noda sedikitpun di wajahnya.
"Aku ngerasa seru deket kamu, nggak tau kenapa."
"Kok jadi aku sih? Orang gabut kayak aku dibilang seru."
"Seru lah, buktinya kamu bisa berdiri tegar walaupun kamu udah disakitin sama mantan kamu. Kamu bisa menguatkan diri kamu sendiri. Kamu bisa ketawa lagi dan nggak pusing-pusing mikirin mantan kamu yang udah ninggalin kamu dan menikah sama orang lain."
Panjang lebar bibir mungil itu berucap. Ada rasa kagum terselip di iris cokelatnya. Argata tersenyum jenaka. "Kamu ini.. dari mana unsur serunya coba?"
"Yaaa, seru aja.. kamu nggak melo-melo, kamu bisa buktikan pada dunia kalau kamu itu jantan banget."
Lagi-lagi dipuji sampai sebegitunya, Argata terkekeh-kekeh hingga wajah Hasuna memerah tersipu.
"Kenapa? Aku berlebihan ya? Hmm, maaf.. emang nggak jelas sih dasar aku, lupain aja Ga."
"Nggak papa, kamu lucu aja ngomong gitu tadi."
"Hehe..."
Burung gerjea berterbangan di atas pohon seakan menyoraki. Hasuna tertangkap basah mengagumi Argata. Rasanya bimbang, Argata nampak berbeda di matanya. Hasuna masih bisa menanam rasa kagum pada cowok lain ketika dirinya sudah memiliki seorang pacar.
"Entah ya, aku sama cowok aku kayak datar-datar aja. Ganteng sih ganteng tapi kayak nggak ada yang bisa bikin aku merasa wahhh gitu loh." Hasuna mencurahkan lagi isi hatinya.
"Jangan begitu, nanti dia juga yang jadi pendamping kamu kan?" tanya Argata.
Hasuna menunduk, terjadi perubahan raut wajahnya seolah ucapan Argata adalah sebuah kalimat yang tak ingin didengarnya.
"Hmm, maaf aku salah ngomong ya?"
Hasuna menggeleng dan kembali dirundung bimbang.