Bab 21

1030 Kata
Sore ini Hasuna melipir di sebuah warung bakso untuk mengisi perut. Letaknya tidak jauh dari kampus dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Saat gerimis mengundang di luar sana. Cewek itu melahap bola-bola daging itu seorang diri. Rasa hangat menguar di perutnya seakan mengobati kegundahan hati. Belum lama tadi Fadly mengatakan ingin menjemputnya padahal kerjaan belum selesai. Sementara Hasuna sudah lebih dulu pulang kampus kemudkan memberikan titik lokasinya saat ini. Belum habis makanan itu, sebuah mobil hitam terparkir di depan warung bakso. Fadly turun dan menghampiri, seketika melihat gadisnya berada di warung kaki lima yang tidak elit membuat matanya sedikit gatal. "Kamu ngapain sih makan di tempat kayak gini? Aku nggak suka kamu jajan sembarangan Sayang." Fadly mengomel saat duduk di hadapan cewek itu. Maniknya melihat sekitar dengan risih apalagi mangkuk-mangkuk kotor yang tergeletak di meja di belakang Hasuna sedang dipungut oleh sang pemilik warung untuk dibawa ke tempat cucian. "Aku nggak jajan sembarangan Fadly, sebelum kenal kamu emang aku suka makan bakso disini. Habis enak banget sih," kata Hasuna. "Udahlah, buruan makannya terus pergi dari sini." Fadly mendesaknya. Ia seperti merasa alergi berada di tempat itu. "Ya sabar dong, dikit lagi selesai." Hasuna masih sibuk menyeruput kuah bakso yang pedas dan manis hingga kuahnya habis. Fadly tak selera melihatnya. Buru-buru cewek itu digenggamnya supaya lekas pergi. Fadly meninggalkan uang limapuluh ribuan di meja. "Fadly sabar dong jangan narik-narik aku," Hasuna melepas sedotan es teh di mulutnya ketika tubuhnya terseret keluar. "Neng... sebentar kembaliannya.." si bapak tergesa mengambil uang itu dan membuka lokernya. Tetapi Hasuna sudah terbirit dibawa pergi masuk mobil oleng sang lelaki. Mobil itu melesat cepat meninggalkan warung bakso itu. Fadly menginyaskan tangan di depan wajah seakan ingin muntah. "Kamu kenapa sih? Gitu banget? Orang aku yang makan kok kamu yang nggak suka gitu," Hasuna menggerutu malas. "Kamu masih bau bakso," kata Fadly dengan wajah masam. Disela menyetir cowok itu menyemprot parfum di sekeliling ruangan dalam mobil untuk menghilangkan aroma tubuh Hasuna yang membuatnya eneg. "Uhuk, uhuk," Cewek itu tersedak karena bau menyengat dari botol kecil itu. Menggunakan tasnya untuk membungkam hidung. Hasuna menurunkan kaca supaya aromanya keluar terbawa angin. "Kenapa sih Fadly kamu segitunya banget? Kayak aku ini bau apaan aja," ucap Hasuna tak nyaman. "Lagian kamu dibilangin ngeyel, aku itu nggak suka kamu jajan pinggir jalan gitu. Kamu nggak ngerti sih kadang gitu nggak higienis." "Nggak higienis apanya sih? Orang tinggal makan loh, mikirnya kemana-mana." Hasuna menyilangkan tangan di d**a. "Loh kamu ini ngerti kesehatan nggak sih? Nggak liat tadi bapaknya nyuci piring cuma dalam satu ember doang? Gitu aja kamu nikmat banget," Fadly mendengus kesal. "Ya ampun, orang laper mana merhatiin sih.." Hasuna menekuk wajahnya cemberut. "Makanya aku bilangin sama kamu, nggak usah makan disitu lagi. Aku kan bisa ajak kamu ke kafe atau restoran," kata Fadly. "Hmm.. terserah lah." Selalu ada saja yang diributkan. Hasuna tak ambil pusing menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Tidak akan menang melawan Fadly. Mobil itu terparkir manis di sebuah pusat perbelanjaan. Fadly menggandeng tangan Hasuna saat kaki mereka menginjak di eskalator yang membawa tubuh mereka berjalan naik. Tadi Fadly meminta Hasuna untuk menemaninya membeli baju. Kesana-kemari Hasuna membantu pacarnya itu menyusuri toko pakaian pria yang ramai dikunjungi. Beberapa pilihan Hasuna mencoba dipasangkan di tubuh Fadly namun tak satupun menarik minatnya. "Kamu gimana sih aku udah kasih pilihan banyak loh kenapa nggak ada yang cocok satu pun?" kesal Hasuna. "Baju yang kamu pilihin kegedean buat aku Sayang. Terus yang tadi itu nggak rapih jahitannya. Mending cari tempat lain aja." Cowok itu menarik tangan Hasuna keluar toko dan berpindah ke toko lainnya. Fadly tidak mudah menyukai sesuatu hal, bahkan hanya sekedar baju pun. Ada satu celah yang mengganjal di matanya pun sudah tidak akan lagi dilirik oleh cowok itu. Tak berapa lama ketika mereka sedang mengintari tempat itu tiba-tiba saja Fadly berjumpa dengan seorang kawan. Cowok dengan kemeja hitam yang sedang berjalan dengan wanitanya. "Hei, bro, lo disini juga?" Fadly menepuk bahu cowok yang dikenalnya. Bertepatan mereka bertemu dengan satu baju yang cocok. "Eh, Dil, hahaha, gue kirain siapa?" Hasuna melihat mereka berpelukan sambil menepuk bahu satu sama lain. Fadly mengatakan bahwa cowok itu bernama Fajar, salah seorang teman sekolahnya dulu namun sudah lama tidak berjumpa sejak perpisahan. "Ini pacar gue, Hasuna.." kata Fadly sembari merangkul Hasuna kemudian bersalaman dengan temennya itu. "Oh, hai, gue Fajar.." "Hasuna.." "Masih pacaran apa udah merried nih?" tanya Fajar. "Oh, belum, masih pacaran dulu. Yah doain aja kalau dia udah lulus kuliah nanti sih rencananya, hehehe.." kata Fadly. "Ouh masih kuliah? Okey, ini istri gue kenalin, Nadia.." Fajar menarik perempuan di sampingnya. Memegang sebuah pilihan kemeja, seketika perempuan itu berbalik dan matanya bertemu dengan sosok perempuan berbalut pashmina yang tidak asing di matanya. "Kenalin Nadia, ini Hasuna, pacarnya temen aku, Fadly.." "Oh, hai, salam kenal, Nadia.." Perempuan itu berjabat tangan dengan Hasuna dan Fadly. Senyum kecil mengembang di wajah Hasuna, merasa pernah bertemu dengan perempuan itu tetapi dimana? Ah, iya, bukannya dia yang di kafe waktu itu? Hasuna teringat sosok mantan Argata yang ditemuinya kemarin. Jadi, mantan Nadia menikah dengan teman Fadly. Hasuna juga teringat sebaris kisah percintaan Argata yang mengungkapkan mantannya dijodohkan dengan anak orang kaya yang bisa lebih menghidupinya dan memberikan semua apa yang diinginkan dari pada Argata yang masih kuliah. Argata pun bilang harga dirinya diinjak-injak oleh ayah dari mantannya itu karena dibandingkan dengan sosok suami dari anaknya. Ah, betapa jahatnya orang itu. Hasuna merasa perih teringat Argata. Bisa-bisanya wanita itu memilih orang yang lebih mapan dari pada cinta yang selama bertahun-tahun menjaga hatinya. "Ehh, kita makan bareng yuk? Mumpung ketemu disini," ajak Fajar dan Fadly langsung mengiyakannya. Mereka berjalan bersama dengan pasangan masing-masing menuju sebuah foodcourt di mall itu. Fadly dan Fajar terlihat berbincang akrab ketika pasangan mereka nampak tidak bersahabat. Nadia memandang Hasuna berbeda, teringat Hasuna adalah perempuan yang bersama Argata kemarin. Perempuan yang ternyata menonton Argata perform di kafe itu. Dan, Argata lebih memilih menemani Hasuna dan menolak ajakan Nadia untuk mentraktir. "Eh, kalian kenapa diem aja cewek-cewek? Lagi pada sariawan apa?" tanya Fajar iseng. "Ehh, haha, nggak kok. Hasuna kamu semester berapa bye the way?" tanya Nadia spontan. "Hmm, semester enam Mba." "Ohh, di kampus mana?" "Universitas Aligator." Nadia mengangguk-angguk dengan wajah kecut, ternyata sekampus dengan sang mantan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN